"Sayang, yuk berangkat. Semua barang yang kita perlukan selama disana, udah aku masukin kedalam bagasi," ucap Alexandro berjalan masuk kedalam apartemen, setelah tadi ia dari parkiran bawa tanah, untuk membawa barang-barangnya dan juga Bianca untuk ke Villa keluarganya.
"Bentar Andro," ucap Bianca sambil berjalan keluar dari kamar, dan menghampiri Alexandro yang kini sedang duduk santai di sofa.
"Yuk berangkat," ucap Bianca setelah ia telah berdiri di dekat Alexandro. Pria itu bukannya berdiri dari duduknya, tapi ia malah menarik lengan kekasihnya itu agar jatuh tepat di pangkuannya. Alexandro langsung memeluk erat perut Bianca, agar wanita itu tidak bisa pergi kemana-mana.
"Kayak gini dulu bentar, nanti kalo udah di Villa kita nggak akan ada kesempatan buat bersama terus," ucap Alexandro sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Bianca.
"Astaga, kan kita tiap hari ketemu. Kamu emang nggak ada bosannya apa? Kerjaannya nempel terus sama aku selama di apartemen?" decak Bianca, tapi satu tangannya ia gunakan untuk memainkan rambut Alexandro yang masih betah pada posisinya itu.
"Kalo aku bosan sama kamu, itu artinya aku nggak cinta sama kamu," ucap Alexandro sambil menatap wajah Bianca dari samping.
"Masa? Yakin nggak bakal bosan sama aku nantinya?" Tanya Bianca yang langsung di angguki dengan cepat oleh Alexandro.
"Buat apa aku bosan, sama seseorang yang udah buat hidup aku jadi lebih berwarna, dan rasanya makin indah setiap hari, ketika ada kamu yang selalu di samping aku. Kamu itu segalanya buat aku, kamu yang udah buat pandangan aku tentang dunia ini jadi berbeda. Karena kamu udah tau sendiri, seperti yang udah pernah aku ceritakan kalo di keluarga aku, yang mereka pentingkan hanya pekerjaan terus. Sama sekali nggak ada kasih sayang di dalam keluarga itu," ucap Alexandro yang memang benar adanya.
"Udah-udah, kok jadi bahas tentang keluarga kamu jadinya sih. Mendingan sekarang kita berangkat yuk, kan kasihan yang lain pasti udah di jalan menuju Vila, dan kalo kita belum ada disana jadinya nggak enak dong," ucap Bianca mengubah topik pembicaraan.
"Ngapain harus nggak enak sih? Villa-nya kan milik keluarga aku, dan mereka juga nanti makan gratis disana, karena semuanya udah aku siapin," ucap Alexandro yang membuat Bianca hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini kebiasaan deh. Bisa nggak kamu itu berhenti boros? Uang itu nggak gampang di cari," ucap Bianca mulai mengomel.
"Uang keluarga aku nggak akan habis sayang, kamu tenang aja. Nanti juga setelah kita menikah, apapun yang pengen kamu beli, dan berapapun harganya akan aku beliin. Dan tentunya itu pakai uang hasil kerja aku dong," ucap Alexandro dengan penuh kepercayaan dirinya itu.
"Kalo kamu masih boros kayak gini, aku harus mikir banyak kali nanti buat nikah sama kamu," ucap Bianca dan setelah itu melepaskan pelukan dari Alexandro yang agak melonggar di tubuhnya.
"Udah ayo berangkat," ucap Bianca dan terlebih dahulu berjalan keluar dan meninggalkan Alexandro yang masih dalam posisi duduk itu.
"Tunggu Bi," teriak Alexandro sambil mengejar Bianca yang sama sekali tidak mau menoleh ke arah belakang, dan hanya melambaikan tangannya ke atas.
Kini mereka berdua telah berada di dalam mobil, setelah tadi Alexandro harus mengejar Bianca yang meninggalkannya sendiri di dalam apartemen mereka.
"Nanti selama disana, aku mau tidur bareng teman-teman aku ya?" Ijin Bianca saat mobil mulai berjalan meninggalkan area apartemen.
"Terus aku?" Tanya Alexandro sambil melihat sekilas ke arah Bianca, sebelum ia kembali melihat ke jalanan di depan.
"Ya terserah, mau tidur sendiri atau tidur sama teman-teman cowok kamu. Yang penting, awas aja kalo aku sampai tau kamu tidur sama cewek lain, aku nggak akan dengan mudah maafin kamu," ucap Bianca yang di akhiri memberi ancaman pada Alexandro yang kini terkekeh karena akhir kalimat kekasihnya itu.
"Aku mana mungkin sebodoh itu, tidur sama cewek lain di saat aku udah punya kamu," ucap Alexandro sambil mengambil satu telapak tangan Bianca, dan memberikan beberapa kecupan disana.
"Baguslah kalo kamu sadar diri," ketus Bianca sambil memainkan ponselnya.
"Ya ampun sayang, jangan ketus-ketus ngomongnya. Entar aku gigit bibir kamu baru tau," ucap Alexandro yang langsung membuat Bianca menatap tajam ke arahnya.
"Dasar m***m. Gigit kayu atau batu aja sana," kesal Bianca karena ucapan Alexandro sama sekali tidak bisa di filter.
"Tapikan, aku cuma m***m sama kamu doang," ucap Alexandro membela dirinya sendiri.
"Iyain biar cepat," ucap Bianca dan setelah itu ia kembali memainkan ponselnya, dan membiarkan Alexandro menyetir mobil dengan tenang. Hingga tiba-tiba Alexandro menghentikan mobilnya saat mereka telah berada di jalanan yang kurang kendaraan berlalu lalang.
"Kok berhenti sih? Villa-nya masih jauh loh," tanya Bianca dengan keheranan yang bersarang di kepalanya.
Alexandro tidak langsung menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu, ia membuka sabuk pengamannya dan juga sabuk pengaman dari Bianca terlebih dahulu. Setelah itu ia menatap dalam mata kekasihnya yang tampak kebingungan itu.
"Aku lupa melakukan hal, yang nggak akan bisa kita lakukan saat kita ada di villa nantinya," ucap Alexandro penuh teka-teki.
"Kamu mau lakuin-," ucapan Bianca menggantung karena Alexandro yang tiba-tiba menciumnya itu. Mata wanita itu langsung membola karena tidak menyangka jika yang di maksudkan oleh kekasihnya adalah menciumnya. Tapi tidak berlangsung lama, karena setelah itu Bianca ikut membalas ciuman dari Alexandro.
Setelah beberapa menit kemudian, Alexandro melepaskan ciuman mereka, tanpa menjauhkan jarak mereka sama sekali. Dahi mereka berdua sama-sama saling menempel, dengan deruan nafas yang sama-sama saling berderuh.
"I love you, Bianca ." Ucap Alexandro.
"I love you more, Alexandro Melviano." Balas Bianca yang membuat senyuman manis terpatri di kedua sudut bibir pria di depannya itu.
***
Hari sudah malam, semuanya yang telah di undang untuk datang ke villa milik keluarga Alexandro, semuanya tampak menikmati party yang di buat dengan begitu meriah. Mereka berpesta bakar-bakar barbeque. Dan selama pesta berlangsung, Alexandro selalu mencari kesempatan untuk bisa dekat dengan sang kekasih, yang kini sangat sibuk dengan teman-temannya, dan sama sekali tidak mau mempedulikan keberadaan dirinya. Untung saja, semua teman-teman kekasihnya itu adalah seorang perempuan, jika itu adalah pria, sudah dari tadi mungkin ia menghabisi mereka semua.
"Udahlah bro, biarin cewek lo nikmati kebebasan sama teman-temannya sekarang. Selama ini emang lo nggak ngerasa kasihan sama Bianca, pas pacaran sama lo, yang ada di dunianya itu cuma lo doang," ucap Andi sambil menepuk bahu sahabatnya itu untuk bersabar. Ia tahu sendiri bagaimana bucinnya sahabat baiknya ini setelah berpacaran dengan seorang Bianca Kimberly.
Alexandro tidak memberikan jawaban apapun pada perkataan Andi itu. Karena pandangan matanya terus melihat ke arah Bianca yang terlihat sangat bahagia saat bersama dengan teman-temannya itu.
"Nih minum dulu," ucap Reno tiba-tiba menghampiri Alexandro dan juga Andi dengan membawa gelas berisi minuman beralkohol.
"Jangan gila Reno, Alexandro lagi kayak gini malah lo sodorin minuman kayak gitu," decak Andi dan ingin merebut gelas itu dari Reno, tapi ia kalah cepat karena Alexandro terlebih dahulu mengambil gelas itu dan langsung meminum isi dari gelas tersebut dengan sekali tegukan. Karena merasa tidak puas, pria itu malah pergi meninggalkan kedua sahabatnya dan mengambil minuman beralkohol lagi, dan lebih parahnya Alexandro langsung meminum minuman tersebut langsung dari botolnya.
"Gue nggak tau apa-apa ya, kalo nanti Andro mabuk, jangan bawa-bawa gue nanti. Karena nanti Bianca bakal marah-marah pas tau Andro mabuk nantinya," ucap Andi tidak ingin ikut di bawa-bawa nantinya.
"Tenang aja, lagian Bianca mana mungkin marah," ucap Reno dengan santai sambil melihat ke arah Alexandro.
"Tenang aja? Lo emang lupa apa yang dilakukan sama Bianca sama gue dulu, karena udah buat Alexandro pulang ke apartemen dalam keadaan mabuk?" Tanya Andi yang langsung membuat Reno seketika bergidik ngeri ketika mengingat apa yang pernah terjadi dulu.
"Mendingan kita buat tuh anak berhenti minum, biar keadaan nggak jadi kacau nantinya," ucap Andi lagi yang di iyakan oleh Reno. Kedua pria itu menghampiri sahabat mereka.
Sedangkan Bianca, ia sangat menikmati waktu mengobrolnya bersama dengan teman-temannya itu. Tapi pandangan matanya sesekali melihat ke arah dimana tadi ia melihat Alexandro sedang bersama dengan teman-temannya. Hingga saat ia kembali melihat ke arah tersebut, ia tidak menemukan Alexandro ataupun teman-teman dari pria itu. Seketika Bianca mulai di landa oleh rasa khawatir jika teman-teman dari kekasihnya itu sampai membuat pria itu mabuk lagi.
"Guys, gue ke toilet dulu ya," ucap Bianca dan tanpa menunggu persetujuan dari teman-temannya itu, ia langsung berjalan mencari kemana saja, yang penting ia bisa menemukan keberadaan dari Alexandro berada.
Bianca mencari keseluruhan halaman yang digunakan untuk party malam ini, tapi ia sama sekali tidak menemukan dimana Alexandro berada.
"Bi," panggil Reno ketika melihat kekasih dari sahabatnya itu, seperti sedang mencari seseorang. Bianca langsung melihat ke arah asal suara tersebut, dan menemukan Reno dan juga Andi yang berada tidak terlalu jauh darinya. Dengan cepat wanita itu, langsung berjalan menghampiri kedua pria itu.
"Andro mana? Nggak usah bohong, karena gue liat sendiri kalo Andro sama lo berdua tadi," tanya Bianca menuntut jawaban.
"Dia udah di dalam villa, lagi istirahat karena kebanyakan minum," ucap Reno mencoba menjawab dengan santai.
"Minum? Siapa yang udah buat Aksa minum?" Nada bicara Bianca seketika naik satu oktaf, ketika tahu jika apa yang sedang ia khawatirkan telah terjadi.
"Bukan gue, Reno yang udah mancing Alexandro buat minum tadi," ucap Andi memilih untuk menyelamatkan dirinya, daripada akan berakhir kena tendangan atau pukulan dari wanita di depannya itu.
BUG
"Berani-beraninya, lo udah buat Andro mabuk," ucap Bianca sambil memberikan sebuah pukulan tepat di perut Reno, dan setelah itu wanita itu pergi dengan cepat untuk mencari Alexandro di dalam villa.
Bianca terdiam kaku ketika di depan matanya sekarang, seorang pria dan wanita yang tertidur di sebuah tempat tidur dengan keadaan tidak berbusana. Dan yang membuat ia tidak habis pikir lagi, pria yang terlihat tertidur dengan bekas keringat di pelipisnya itu adalah Alexandro. Rasa sesak dan sakit bercampur menjadi satu di hati Bianca.
"Tega kamu sama aku. Apa ini balasan dari semua yang udah aku kasih ke kamu selama ini?" Batin Bianca sebelum ia akhirnya kembali menutup pintu yang tadinya ia buka. Ia memilih untuk pergi dan beranggapan seakan tidak melihat apa-apa.
Keesokan paginya....
Alexandro bangun dengan rasa sakit kepala yang melanda dirinya. Ia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam, dan ketika ia ingat jika ia mabuk membuat ia merasa menyesal sendiri. Karena itu artinya ia tidak tahu apapun yang terjadi semalam, setelah ia benar-benar mabuk. Pandangan mata Alexandro seketika mengarah ke arah samping ketika merasakan ada seseorang yang tidur bersama dengan dirinya.
"What the f**k!" umpat Alexandro ketika melihat siapa yang sedang tidur di sampingnya itu. Tidak mungkin ia telah melakukan hal itu dengan perempuan di sampingnya ini kan? Ia tahu ia tidak akan sampai segila itu melakukannya, walaupun ia dalam keadaan mabuk sekalipun.
Dengan terburu-buru Alexandro beranjak dari tempat tidur, dan langsung mengenakan kembali semua pakaiannya. Ia harus pergi dari kamar itu, sebelum kekasihnya itu tahu, dan semuanya berakhir kacau. Setelah kepergian Alexandro yang terburu-buru itu, wanita yang berpura-pura tidur itu bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia tersenyum penuh kemenangan sambil menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.
"Rasain itu Bianca. Jika seorang Gemini Karina, nggak bisa bersama dengan Alexandro, tentu lo juga nggak akan bisa," Batin Gemini merasa telah menang sekarang. Ia tahu jika semalam Bianca datang dan telah melihat apa yang telah ia lakukan. Sebenarnya tidak terjadi apa-apa padanya dan juga Alexandro semalam, karena ia hanya membuat ia dan juga Aksa tidur dalam keadaan tanpa busana saja.
"Gue yakin, setelah ini kalian nggak akan bisa bersama lagi. Dan tentunya, gue akan punya kesempatan untuk bisa bersama dengan Alexandro setelah itu," ucap Gemini, dan setelah itu ia tertawa begitu bahagia di atas penderitaan orang lain.