.35. Rencana

1286 Kata
Perempuan itu berpenampilan cantik dengan dress panjang yang berwarna cerah. Baru saja tiba di bandara sudah dihadang oleh kakak laki-lakinya. Dia emang spesial untuk urusan itu. Dapat pelukan dari keluarga rasanya sangat menenangkan. Mengingat betapa kuat ia menyendiri di ibu kota sana. “Udah sih, pelukan mulu.” “Kangen tahu,” “Tapi kita ganggu orang.” “Hmm, kita makan dulu yuk. Disini ada resto kesukaan mama.” “Ya udah, ayo.” Mereka rame-rame ke restoran itu. Tempat makan yang menunya sangat variatif.  “Ay, katanya gak mau pulang. Kok tiba-tiba?” “Hmm, pengen aja.” “Pasti ada alasan.” “Soalnya, teman aku juga masuk situ.” “Siapa? Teman kuliah kamu?” “Teman SMA, ma. Mama ingat Lovi gak?” Mama kayak lagi berpikir keras. Coba ingat siapa Lovi. Kan udah lama banget waktu mereka SMA. Ternyata mama masih ingat. “Yang pernah datang ke rumah waktu hujan deras kan?” “Akhirnya mama ingat.” “Jadi dia diterima di pemda juga?” “Iya. Jadinya aku gak terlalu peduli sama soal korporat pemerintah yang agak ngeselin. Setidaknya aku punya Lovi. Iya kan?” Mama dan abang pasti senang bukan kepalang. Mereka tuh udah ngebet biar Aya pulang aja. Sebab Aya udah kemakan hasutan anak ibu kota, dia gak terpikir untuk kembali. Kehadiran Lovi bikin dia sadar akan beberapa hal. Orang tua itu punya umur yang terbatas. Fakta yang harus diterima dan disadari. Aya gak mau bersenang-senang disaat orang tuanya lagi proses menuju tua. Dia gak mau menyesal di masa depan. “Ma, aku ke toilet dulu ya.” Aya merasa ini seperti mimpi. Kembali ke tempat yang dulu ia kenal dengan baik. Argh, udaranya juga sangat sejuk. Benar-benar menenangkan hati. Saat hendak sampai ke toilet. Ia malah terpaku pada seseorang yang pernah ia kenal. Bahkan pernah singgah di hatinya untuk waktu yang lama.  Adong.  Pria itu mengenakan seragam dan terlihat tertawa dengan teman-temannya. Meski banyak yang berubah dari Adong, Aya masih mengenalnya dengan baik. Dia terdiam dan hendak senyum saat mata mereka bertemu. Bukannya mendapat balasan, Adong malah mengacuhkan wajahnya. Buru-buru dia meninggalkan temannya yang tampak mengobrol. Aya jadi kepikiran. Well, mereka memang putus dengan agak dramatis. Tapi itu bukan alasan untuk bersikap kayak nggak kenal. Apalagi, mereka pernah bersahabat. Kenapa cowok itu jadi sejahat ini. Sepanjang mengantri, Aya memikirkan hal itu. Dia benar-benar marah dan kesal. Saat sudah selesai, pria-pria itu masih tetap ada disana. Bikin Aya menemui mereka. “Maaf, apa kalian kenal Adong?” “Ah, i-iya. Dia masih di dalam sih? Kamu temannya?” “Bukan. Bilang aja, tadi ada yang nyariin. Makasih ya.” Aya gak mau melarikan diri. Dia gak salah apa-apa. Dan yang terpenting, Adong harusnya sadar kalau dia gak boleh begini. Ya kali permasalahan bertahun-tahun lalu dibawa sampai sekarang?  “Balik-balik kok jadi bete gitu?” “Ngak bang. Cuma culture syok.” “Lebay. Kamu kan asalnya dari sini. Ngapain culture syok segala?” “Hahaha, bercanda.” “Cepetan ayo. Biar gak kelamaan sampai rumah.”ucap mama menyarankan. Aya jadi kepikiran pake banget. Dia gak paham. Ada yang terlalu berubah sampai sulit untuk dipahami. *** Dunia berjalan begitu cepat. Setelah bersenang-senang, Aya dan Lovi harus rela merasakan kenikmatan jadi seorang CPNS. Bukan hal baik sebab rasanya seperti berjalan mundur ke belakang. Mereka yang sudah lama bekerja di perusahaan swasta pasti akan tahu gimana rasanya. “Aku benar-benar gak habis pikir. Kita dikasih kerjaan macam itu.” “Hah, menyebalkan.” “Apa kita resign aja?” “Gila kali. Nikmati aja Ay, ini sudah terlanjur. Kalau berhenti sekarang, rasanya gak banget.” “Jadi kapan ketemu sama Adong?” “Entar di nikahannya Avius. Kata Av, dia bakal datang.” “Dia bakal gituin kamu juga pasti.” “Jangan negatif thinking dong.” “Masalahnya, Josen sama Av juga digituin. Ya kali kamu dianggap spesial?” “Maka dari itu, aku bakal nyamperin dia duluan. Kalau kalian kan gak nyamperin langsung.” “Wah, Lovi yang sekarang sudah berani ya.” Keberanian muncul karena tujuan yang sudah bulat dan mantap. Semakin ingin mencapai sesuatu, semakin berani seseorang. Itu juga yang bikin Lovi ada di posisi sekarang. Dia berhasil mencapai beberapa hal yang ia inginkan dengan keberanian. “Entar abis ngantor main yuk?” “Wah, gila nih. Masa ngajak yang gak bener.” “Kamu kan bawa motor? Kita motoran sampai ke danau. Abis itu baru balik.” “Ngaco. Kita udah tua, Lov. Masak mau disamakan sama anak SMA?” “Umur boleh tua, jiwa harus tetap muda. Ayolah, Lov. Kamu gak kangen.” “Kangen sih, tapi…” “Please,” Aya merasa tidak nyaman melakukan hal itu. Entahlah, mungkin bukan masanya lagi. Bermain seperti itu hanya membuang-buang waktu. Ketika waktu adalah uang, dan uang itu dihabiskan dengan foya-foya. Bukankah ini terasa salah? “Okelah. Karena dipaksa.” Bodo amat. Lovi tampak sangat bersemangat. Dia buru-buru menyelesaikan tugas yang dikasih sama senior. Bukan tugas yang sulit, tapi cenderung banyak. Sesuatu yang sulit tapi sedikit sama saja dengan mudah tapi banyak. Keduanya punya kesusahannya sendiri. Dengan trik menarik dari seorang lulusan IT, Lovi mampu mengelola tugas itu dalam waktu singkat. Dia menggunakan aplikasi untuk menghandle data yang lumayan banyak. “I’m done.” “Gak mungkin.” “Cepetan ya, aku tunggu di depan gorengan Ibu Lala.” Aya sangat syok mendengarnya. Tapi dia coba sabar. Mengikuti keinginan Lovi yang rada-rada itu. Antara masa lalu yang kurang bahagia atau emang kangen aja.  “Ini motor abangku loh. Kalau rusak bakal ditabok akunya.” “Tinggal ganti aja, apa susahnya?” “Sial. Mentang-mentang baru beli mobil baru.” “Heh, kamu pasti punya tabungan kan Lov. Beli motor sendiri aja.” “Gak punya.” “Kok bisa?” Sudah seharusnya orang dewasa punya  tabungan. Anehnya, Aya menghabiskan uang untuk bersenang-senang. Makan yang banyak, belanja hingga liburan. Kegiatan yang menghabiskan uang tapi menyenangkan. Terutama soal makanan. Aya bisa memesan makanan tiga kali sehari dari restoran terkenal. Jadilah uangnya habis untuk itu. “Gila. Jadi itu serius?” “Iya. Namanya juga masa muda, Lov. Aku baru nabung sedikit karena uangnya cuma buat makan.” “Oke, mulai sekarang aku yang bimbing kamu biar rajin nabung.” “Makasih loh.” Senang sekali bisa melihat pemandangan yang indah. Bikin Lovi kangen masa-masa dulu. Argh, semuanya seperti melintas lagi dalam pikirannya. “Jadi kamu jomblo gara-gara masih berharap sama Jos?” “Ih, kok jadi ngomongin itu?” “Jos bukannya udah punya pacar?” “Udah. Dan itu bukan urusanku kali.” “Galak amat.” “Makanya jangan lagi bahas masa lalu. Jangan lagi bicarakan sesuatu yang udah berlalu. Aku jadi malu pernah ngaku suka sama dia.” Aya menertawai nya. Sial banget emang. Itulah masalahnya membicarakan gebetan sama sahabat. Sampai dunia kiamat bakal diingat. Menyebalkan. “Ibu, mau indomie pake dua telur.” “Aku indomie biasa aja.” Muncullah anak SMA yang kayaknya baru pulang dari suatu tempat. Mereka langsung duduk hendak makan. Terdengar suara tawa dari setiap orang. Bikin Lovi dan Aya teringat masa lalu. Argh, masa yang menyenangkan itu memang sangatlah menarik.  “Kangen ya, Lov.” “Banget.” “Aku pengen banget kita kumpul kayak dulu. Tapi kok susah banget ya?” “Aku juga. Makanya Adong harus dibikin sadar.” “Hmm, oke. Sekarang kita pikirin Adong. Baru yang lain.” “Oke.” Mereka menikmati makanan yang baru dihidangkan itu. Wanginya saja sudah bikin selera naik dua kali lipat. Argh, benar-benar enak. Mie instan emang gak pernah salah. Bahkan orang yang gak punya kemampuan memasak sangat bisa membuat makanan enak. Mereka disana hingga larut malam. Lovi gak jadi pulang dan menginap di rumah Aya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN