.36. Terima atau Tolak

1114 Kata
Kangen gak sih memainkan permainan anak kecil? Anak kecil jaman sekarang udah jarang main benda fisik. Maunya main di game online. Well, begitulah zaman. Kita tak bisa stuck di tempat yang sama selamanya. Selalu ada momen yang bikin kita harus ikut berkembang dan berubah. “Ini pak,” “Terima kasih, Lovi. Kamu sangat handal ya. Kamu bisa istirahat sekarang.” “Baik, pak. Terima kasih.” Sebagaimana Lovi susah payah menghandle tugas bosnya, dia juga mendapat pujian. Dia menerapkan sisi rajin dalam bekerja. Anak sekolah yang rajin bisa saja mendongkrak nilainya. Walau mereka gak jenius kayak orang-orang pintar lainnya. Benar kan? “Mbak, boleh minta tolong?”tanya seorang cowok yang terlihat baru di tempat ini.  “Iya?” “Bisa tolong berikan ini pada Christin Nadya?” Dia ngasih bunga. Ah, Lovi jadi ingat. Ini hari valentine. Hari yang gak bakal berarti bagi jomblo seperti Lovi. Pernah sih menghayal dikasih bunga,. Tapi itu cuma sebatas khayalan. Gak pernah kejadian. Miris ya? “Kenapa gak ngasih langsung aja, mas?” “Saya juga dititipin sama orang lain.” “Lah, bukannya ini dari mas?” “Bukan. Saya pegawai baru di rumah sakit sebelah. Terpaksa ngasih ini.” “Hmm, ya udah.” Cowok itu malah mengambil uang dari dompetnya. Dia hendak ngasih sama Lovi, tapi langsung ditolak. “Apa-apaan kamu?” “Ini saya mau ngasih imbalan.” “Cuma ngasih doang gak butuh imbalan.” “Soalnya, saya punya permintaan lain.” “Hah?” Lovi gak paham dengan pria itu. Ribet banget sih sampai acara punya permintaan. Dia bilang, butuh jawaban dari cewek itu. Argh, bikin susah aja. “Udahlah. Kamu ngasih sendiri.” Lovi mau ngasih bunga itu, tapi dia malah menjauh. Kayak bunga itu benda keramat yang najis untuk dipegang. “Apaan sih?” “Saya mohon. Bantu saya kali ini aja.” “Kali ini saja? Kamu kira kita akan ketemu lagi?” “Please, please banget.” “Argh, sialan.” Kasihan juga liat muka cowok itu. Dia tampak tersiksa. Orang gila mana yang bikin dia harus begini? Harusnya orangnya datang langsung. Ini malah melimpahkannya pada orang lain. Kenapa cowok jaman sekarang gak gentle ya? Pengecut semua. “Baiklah.” “Ah, terima kasih, terima kasih.” “Kumu tunggu disini.” Lovi membawa bunga besar itu. Bunga yang ukurannya menutupi wajah Lovi. Dia masuk ke ruangan Mbak Nadya, bagian keuangan. Kedatangannya bikin semua orang bertanya-tanya. Ternyata Valentine juga ajang pembuktian cinta bagi perempuan.  Saat Lovi menaruh bunga itu di meja Nadya, semua orang kaget dong. Tak sesuai ekspektasinya. Mereka kira Lovi lagi demen sama salah satu pria lajang di tempat itu.  “Tadi ada yang nitip.” “Lah, siapa?” “Itu ada namanya.” Nadya mendapat sorakan menggemaskan dari teman-temannya. Bahkan mereka bersorak sedemikian rupa. Bikin Lovi ikut bertepuk tangan. “Gimana? Apa jawabnya?” “Kamu yang disuruh nunggu jawabannya?” “Hmm, iya. Ayolah, jawab sekarang.” Nadya menariknya ke toilet. Dia kelihatan malu mendengar ejekan dari orang-orang itu.  “Jadi gimana?” “Tunggu dulu, kamu bagian mana sih?” “Data.” “Oh, anak baru ya?” Lovi mengangguk. “Tapi kita seumuran, jadi panggil nama aja ga apa-apa kan?” “Tentu saja. Aku masuk sini juga baru tahun lalu.” “Oke, apa jawabannya?” “Argh!” Nadya terlihat stress. Oke, disukai sama seseorang emang bikin stres. Atau mungkin dia gak suka sama cowok itu? Tapi ini butuh effort yang lumayan loh. Ngirimin bunga segede gaban. Harusnya pria itu patut di apresiasi.  “Daripada lama, kasih tahu aku deh. Apa yang jadi masalah?” Nadya tampak berpikir. Dia memperhatikan Lovi dari atas sampai bawah. Mungkin sedang menerawang, apakah berbagi informasi padanya adalah pilihan yang tepat? Manusia memang perlu berjaga-jaga. Penting sekali berhati-hati pada orang lain. Banyak orang yang terlihat baik ternyata tidak. Sampul cantik tak menjamin isinya. “Sebenarnya, aku baru beberapa kali ketemu sama dia. Tapi aku belum ada rasa.” “Ini kali pertama dia nembak?” “Dia udah nembak sih minggu lalu, tapi aku bilang mau mikir-mikir dulu. Gak nyangka malah sekarang.” “Argh, kalau kamu gak suka mau gimana. Gak mungkin dipaksain kan?” “Jadi, aku tolak aja ya?’ “Hmm, iya.” Tiba-tiba pintu toilet terbuka. Bikin mereka berdua mendongak kaget. Ternyata ada orang lain selain mereka. Dan dari bilik itu keluar sosok wanita yang dikenal betul sama Lovi. Ya, Cahaya alias Aya. “Terima.”ucap Aya begitu saja. “Apa kamu gak terpesona dikasih bunga segede gaban gitu?” “Kok mau tahu?” “Tadi saya lihat. Kebetulan lewat  ruangan kalian.” “Ay, jangan ikut campur hubungan orang.” “Dengar Kak Nadya, anggap saja kamu lagi pedekate. Terima dulu sekarang, kalau nanti gak cocok baru tolak.” “Argh, udahlah. Kamu jangan bikin orang lain bingung. Udah ya Nad, kamu pikir beberapa menit. Kita ketemu di depan.” Lovi membawa Aya keluar dari tempat itu. Mereka punya pendapat yang berbeda. Tapi itu bisa mempengaruhi keputusan Nadya. “Apa-apaan sih, Ay?” “Sudahlah. Aku harus kembali. Tugas belum kelar. Dah.” Lovi geleng kepala melihat kepergiannya. Dia menunggu sambil melakukan scrolling di handphonenya. Tak lama, Nadya datang. Dia tersenyum dan kelihatan lebih tenang. “Lov, tunggu sebentar ya.” Dia masuk ruangan dan menulis beberapa hal. Dan dia memberikannya pada Lovi.  “Boleh kepo gak?” “Apa?” “Jawabanmu apa?” Walau surat itu ada di tangan Lovi, dia gak mau membukanya. Gak etis cuy, mending tanya langsung.  “Hmm, yes.” “Hah? Gara-gara temanku yang tadi?” “Mungkin. Tapi aku udah mikirin matang-matang.”lanjutnya. “Thanks ya, Lov.” Lovi berjalan gontai keluar dari gedung itu. Cowok yang tadi masih nungguin. Dia terlihat khawatir. Bisa dilihat dari wajahnya yang cemas-cemas tak menentu.  “Ini.” Wajahnya langsung sumringah. Dia hendak memeluk Lovi, tapi Lovi langsung pasang muka tidak nyaman. Oke, dia akhirnya sadar. “Sorry, gue gak bermaksud.” “Kamu dari Jakarta?” “Kok tahu?” “Itu bahasanya pakai lo gue.” “Iya.”balasnya sambil menggaruk kepala. “Ini hari pertama masuk rumah sakit. Dokter baru yang harus melakukan semua suruhan seniornya.” “Kamu dokter ternyata. Kok penakut?” “Soalnya kata Kak Rey, Nadya itu menyeramkan.” “Fiks, kamu cuma di takut-takutin. Nadya orangnya baik banget.” “Ah,,” “Ya sudah.” “Terima kasih.” “Sama-sama.” “Boleh tahu nama kamu siapa?” “Penting banget?” “Aku harus traktir makan kalau berhasil merebut hati Kak Rey.” “Hmm, Lovi.”ucapnya sambil mengulurkan tangan.  “Edgar. Salam kenal ya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN