Saat tiba di rumah, ia mendapat tamu yang tidak diundang. Josen menunggu dengan sekotak pizza dan minuman bersoda. Mungkin dia lagi butuh sandaran. Kebetulan mama dan papa sedang ada urusan. Mereka ke rumah sakit dan menginap di rumah keluarga. Rumah sakitnya cukup jauh dari rumah. Ya, sebab fasilitas di sana lebih baik daripada di rumah sakit kota ini.
“Jos, kok tiba-tiba?”
“Ayo pesta kecil-kecilan.”
“Oke. Kamu tunggu disini ya. Aku ganti baju dulu.”
Setelah beberapa saat, ia keluar rumah. Duduk di tempat yang dirancang agar cocok untuk duduk santai.
“Sibuk banget kayaknya. Sering banget pulang malam.”
“Wah, diam-diam kamu kepo juga ya?”
“Hahaha. Gak sengaja lihat, Lov.”
“Dasar.”
“Gimana kerjaannya?”
“Hmm, lumayan lah.”
Memandang langit yang gelap tak bikin bosan. Setelah seharian bekerja, istirahat menjadi momen paling menyenangkan. Ketenangan ini emang kadang bikin bosan, tapi tidak jika bersama seseorang. Seseorang yang begitu berarti.
Jika dulu Lovi dituntut pertanyaan, kita temenan, hendak kemana? Sekarang dia udah bisa menemukan jawabannya. Temenan itu gak perlu mau kemana. Teman adalah seseorang yang selalu ada. Dan itu dapat ia temukan dalam diri teman-temannya. Gak cuma Josen. Aya, Adong dan Avius juga. Mereka semua punya makna yang dalam di hati Lovi.
“Jos, kita jalan-jalan yuk?”
“Hah?”
“Kita. Sama Aya dan yang lain.”
“Ah, oh itu maksudnya?”
“Emang kamu pikirnya apa?”
“Ah, engga.”
“Gimana?”
“Boleh aja sih. Tapi semua lagi sibuk sekarang.”
“Gak dalam waktu dekat ini kok. Kapan-kapan aja. Asal, kamu jangan nikah dulu.”
“Hey, kenapa ngomongin nikah?”
“Kalau punya pacar itu kenalin sama temannya. Kamu malah sembunyiin.”
Josen tampak berpikir. Melihat wajah Lovi yang tampak memucat karena dinginnya di luar sini. Mengenakan jaket tebal juga tak terlalu berguna. Sebab dinginnya sangat menusuk. Tinggal di kaki gunung punya kelemahan yang seperti itu.
“Lain kali ya. Pasti dikenalin kok.”
“Hmm, okelah. Gak usah terbebani gitu.”
“Kalau gitu, aku pulang ya. Ini udah malam banget.”
Lovi mengangguk.
Josen berjalan gontai. Sampai di rumah ia jadi kepikiran. Pacar yang ia miliki sekarang tak seperti masa depannya. Dia gak yakin akan menikah dengan perempuan ini. Bukan apa-apa, mereka sering berantem untuk masalah yang tidak jelas. Dan yang lebih parah, cewek itu matre parah. Seakan diporotin, keuangan Josen kian hari semakin buruk saja.
“Jos, baru pulang? Bantu bapak mindahin barang.”
“Iya, pak. Sebentar.”
Bapak masih saja harus membawa barang-barang itu untuk dijual. Bekerja keras demi hidupnya juga. Bukan karena tidak punya uang, ia suka sekali punya kesibukan sendiri. Orang tua yang gak mau diam saja. Lebih baik lelah bekerja daripada lelah karena tidak bekerja. Bonusnya adalah tidur nyenyak dan bangun dengan segar. Ya, hidup sederhana memberi makna yang lebih dari sekedar uang.
***
Tak terasa, pernikahan Avius telah tiba. Momen yang sangat ditunggu-tunggu. Dengan tampilan yang luar biasa, mereka datang bersama. Josen, Aya dan Lovi. Aya dan Lovi berdandan sangat cantik. Sampai banyak orang yang pangling. Termasuk Josen.
Dengan kekuatan tangan milik Aya, Lovi dibuat begitu memukau dibalik dress mewah yang ia pakai.
“Gila sih. Bahkan aku aja suka sama penampilanmu, Lov.”
“Lebay.”
“Beneran. Iya kan, Jos?”
Josen tampak berpikir keras. Butuh waktu untuk memikirkan jawaban yang jelas. Jawaban yang tidak membuktikan apa-apa. Ya, jawaban netral dari seorang sahabat.
“Argh, dia udah anggap aku kayak saudara sendiri. Di mata kami berdua, gak ada hal kayak gitu.”
“Masa sih? Aku bisa kok menilai penampilan abangku. Cakep atau malah jelek.”
“Cantik kok.”balas Josen tiba-tiba.
“Tuh, kan. Berarti aku gak salah. Dandanan kayak gini memang cocok sama mu.”balas Aya dengan sumringah. Dia tampak gembira dengan hasil karyanya. Lovi tersenyum walau hatinya sedikit berdebar. Dikatain cantik sama Josen seperti mimpi di siang bolong. Hellow, ini pertama kali sepanjang sejarah kehidupan.
Panggung tampak meriah. Pernikahan ini masuk dalam jajaran pernikahan mewah. Wajar saja, Avius dengan pekerjaan yang bagus dan calon istrinya yang merupakan anak dari orang kaya di kota ini. Pernikahan jadi ajang eksistensi diri.
“Selamat ya! Semoga langgeng.”
“Congrats. Cepat dikasih momongan.”
“Selamat. Doain aku nyusul!”
Teriring doa dari ketulusan hati. Semua mengucapkan selamat hingga berfoto bersama. Katanya sih mereka bakal honeymoon ke Thailand. Tempat yang menarik sebab disana juga mirip dengan Indonesia.
“Kata Av, Adong diundang kok. Tapi sampai sekarang gak kelihatan.”ucap Lovi sambil menikmati makanan yang baru saja dia ambil.
“Tuh kan, emang dia makin sombong.”
“Setuju, Jos. Aku juga ngerasain kayak gitu. Tapi Lovi ini terlalu positif thinking. Dia tetap berpikir kalau Adong ada problem.”
“Ya, kita harus melihat dari sisi Adong juga dong.”
“Gak. Aku sih percaya yang kulihat aja.”
“Kita sama Ay.”
Bahkan Josen dan Aya tos-tosan bareng. Sekarang mereka ada di kubu yang sama. Sedang Lovi seorang diri membela Adong. Ini sangat menyebalkan. Namun dia tetap terpacu untuk membuktikan yang sebenarnya. Dia akan mencari di mana Adong. Ya, meski tidak sekarang. Pasti ada waktu yang secara kebetulan mempertemukan mereka.
Pesta pernikahan memberi mereka pandangan baru. Yups, beginilah kira-kira jika mereka menikah. Semua akan terasa meriah dan menyenangkan. Dan ditambah dengan sumpek dan repot. Tentu saja, membuat acara tak semudah membalikkan telapak tangan.
“Jadi gimana, Aya? Ada rencana nyusul Avius?”
“Ada banget. Tapi calonnya gak ada. Kau mau gak?”
“Idih,,”
“Hahaha. Pacar terakhir ketinggalan di Jakarta. Ya emang, aku putusin dia karena memang putus aja.”
“Bosan?”
“Engga. Dia selingkuh. Tapi aku gak bakal ngaku kalau udah tahu. Biarkanlah, takutnya membebani dia.”
“Kok bisa kau masih mengasihani orang yang selingkuh?”
“Soalnya dia royal. Aku dikirimi uang mulu.”
“What the hell.”
“Beneran. Bahkan sampai sekarang, dia masih sering ngasih gift gitu. Katanya mau berhubungan baik sama aku.”
“Gila.”
Aya tertawa. Emang aneh sih, tapi dia juga sadar diri. Dia gak begitu menggairahkan untuk cowok itu. Niat ingin memanfaatkan tapi Aya jadi kebablasan. Dia jadi berteman baik dengannya. Bahkan ketika tahu cowok itu udah punya pacar, Aya mengaku senang. Padahal Aya tahu persis, cewek itu adalah selingkuhan yang kini jadi pacar.
“Makanya jadi cewek, biar bisa morotin cowok.”
“Astaga, Ay. Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu?”tanya Lovi tegas. “Kau kok jadi gini sih?”
Aya terkekeh. Josen juga ikutan. Dari dulu, Lovi orang yang lurus-lurus aja. Jarang bolos, rajin belajar, hingga mematuhi setiap perintah. Well, kesannya memang kaku. Tapi ada anak yang membuat sifat itu jadi mendarah daging.
“Makanya aku gak mau ngomongin itu. Lihat reaksi Lovi.”ucap Aya pada Josen. Lovi sedang pergi menemui seseorang.
“Tapi itu salah, Ay.”
“Terus, aku harus apa?”
“Jangan bohongi dia. Kasih tahu aja yang sebenarnya. Aku rasa, dia juga akan merasa bersalah. Dan mungkin, kamu masih akan dikirim kado ulang tahun.”