.38. Lebih Suka Yang Mana

1365 Kata
Dewasa itu rumit dengan segala permasalahannya. Tak banyak yang terjadi, tapi selalu ada yang aneh dan bikin gempar. Masalah Avius bikin Lovi dan Aya bertemu di kafe yang sama seperti dulu. Mereka menemukan Avius yang tanpa gairah. Cowok yang biasanya penuh tawa itu malah terlihat murung dan mengenaskan. “Itu gak bener kan, Av?” Avius cuma diam. Tentu saja, dia pasti masih tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Hal yang biasanya hanya terlihat dalam drama lebay. Dan ini terjadi dalam hidupnya. Beberapa hari yang lalu, geger kabar bahwa sepulang honeymoon di Thailand, pasangan yang baru menikah itu berpisah. Perpisahan aneh yang membingungkan. Kabar menyebutkan kalau si cewek minggat dan pulang ke rumah. Menyebar sebuah informasi aneh tentang Avius. Semua orang berpikir kalau Avius itu pria yang tidak normal. Ya, mungkin saja. Bulan madu harusnya jadi tempat bersenang-senang bagi pengantin baru. Kenapa yang terjadi malah perpisahan? Cukup lama waktu yang dibutuhkan Avius bisa pulih. Dan sekarang dia mau bertemu dengan teman-temannya. Setelah bujuk rayu yang dibuat sama Aya dan Lovi.  “Udah. Mending kita makan dulu. Demi apapun, aku pribadi percaya sama kau.”tegas Josen untuk membuat tenang. Avius gak bisa langsung cerita. Dia juga butuh waktu. Ada momen dimana mulut tak bisa berkata. Dan ada momen ketika bersama orang yang dipercaya, jujur jadi tidak masalah. Setelah menikmati makanan dengan suasana yang tidak enak, Avius akhirnya bercerita. Semua tuduhan dari Naisha tidak dapat dibenarkan. Avius pribadi tidak tahu apa alasan cewek itu. Semua terjadi begitu saja. Terjadi cekcok ringan, tapi itu gak bisa dijadikan alasan untuk berpisah. Apalagi, belum genap satu bulan mereka menikah. Ini gila! Sebagai mantan pacar Avius, Lovi tentu tidak percaya jika cowok itu dikatain tidak normal. Dia itu sosok pria yang kalau kata anak jaman sekarang, suamiable. Bukan karena Lovi teman baiknya Avius. Ini semua kenyataan. “Aku di pihakmu, Av.”hibur Lovi. “Ini beneran. Aku percaya kau bukan cowok yang gak bertanggung jawab. Kau cuma salah memilih cewek.” “Aku juga!”tegas Aya. “Kita udah kenal dari 2009. Gak ada yang gak kami ketahui soal kamu.” “Makasih, teman-teman.” “Kau gimana Jos?” “Ahhh, aku juga percaya sama Josen.” Avius masih terlihat sedih. Walau sudah berpisah, sulit baginya melupakan Naisha. Ekspektasinya ketinggian soal pernikahan. Hal itu bisa bikin trauma. Entahlah, dunia ini terlalu mengombang-ambingkan hati. Sebuah perkara bisa dengan mudah diselesaikan. Hanya saja, selalu ada hati yang hampa sesudahnya.  Untuk bisa melupakan hal buruk, tak mudah. Seperti kotoran yang menempel berhari-hari. Ya, butuh usaha keras agar kotoran itu benar-benar hilang. “Hmm, hari ini aku yang traktir.”ucap Josen. “Kenapa?” “Aku baru dapat bonus. Kalau nanti kalian dapat juga, baru traktir aku.” “Oke.” “Terus, ada kabar bahagia.”Josen terlihat sumringah hendak mengatakannya. “Aku terpilih jadi wakil kepala sekolah.” “What? Gak mungkin.” “Kenapa gak mungkin Lov?” “Jadi ketua kelas aja dia gak becus. Gimana mau jadi wakil kepala sekolah.” “Astaga, masih ingat aja.” “Tapi benar sih,”ucap Aya mendukung pernyataan itu. “Dia sering jadi ketua kelas. Tapi gak pernah becus.” “Sialan.” “Sekarang kan beda sama yang dulu. Kalian ini.” Akhirnya Avius bisa tertawa. Betapa berat beban cowok itu. Dianggap aneh sama orang sekitar. Apalagi mereka tinggal di tempat yang masih terpencil. Kabar tentang satu orang bisa tersebar ke telinga setiap orang. Dicap aneh sama sebagian orang. Itu gak enak.  *** Berangkat pagi-pagi sekali menjadi kegiatan yang membosankan bagi Lovi. Mau bagaimana lagi, dia bersikukuh untuk tidak ngekos. Ngekos itu sama saja dengan merantau. Keinginan Lovi berada di kota ini adalah untuk membantu mama dan bapak. Ada saja kejadian yang  tidak diinginkan. Contohnya saja diserempet mobil lain. Atau bahkan macet parah. Dan hari ini, Lovi harus merasakan yang namanya mogok. Ini gila banget sih. Dia langsung memanggil derek untuk membawa mobilnya. Dia menunggu di sisi jalan untuk mencari mobil. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya. Bikin dia tidak nyaman. Entahlah, dia punya trust issue pada orang lain. Takut diculik misalnya. Oke, Lovi emang orang yang lebay. “Eh,” “Lo mau ke kantor?” “AH, i-iya.” “Bareng gue aja.” “Tapi,,,,” “Gue berhutang budi sama lo. Iya kan?” Akhirnya Lovi mengikuti. Lagian, Edgar kenal sama pacarnya Nadya. Dia gak mungkin menculik Lovi kan? Apalagi, dia seorang dokter. Oke, hilangkan semua persepsi negatif. “Gak bawa mobil?” “Argh, tadi mogok. Udah di derek sama bengkel.” “Oh, pantes.” “Boleh ngasih saran?” “Tentu saja.” “Jangan pakai gue lo disini. Gak cocok.” “Tenang aja. Teman-teman semua paham kok. Itu kebiasaan yang susah diubah. Tapi gue, ah aku, lagi berusaha.” “Good choice.” Jalanan makin macet saja. Lovi merasa beruntung ketemu Edgar. Cowok yang terlihat berbeda dibanding kemarin. Sekarang dia tampak sempurna dengan jas mahalnya. Bahkan mobil ini terbilang mahal untuk ukuran orang kampung. Bisa saja dia memang sudah kaya dari nenek moyang. Kerja di kota kecil hanya untuk menghabiskan waktu atau mencari ilmu baru.  Orang kaya di jaman ini memang rada-rada. Sering kali melakukan hal aneh hanya untuk bersenang-senang. Mereka bekerja bukan demi uang, tapi demi menghabiskan waktu. Padahal, di luar sana, banyak yang mempertaruhkan hidup bahkan nyawa demi uang. Bisa dilihat betapa kontrasnya kasta membedakan tiap manusia. “Jadi, gimana yang kemarin?” “Yang mana?” “Nadya.” “Ah, mereka sudah pacaran. Udah mau dua bulan.” “Really? Gak ada  tanda-tanda mau putus?” “Wah, lo nungguin mereka putus?” “Gak gitu. Soalnya terakhir ketemu Nadya, dia bilang gak suka sama senior lo itu.”  “Sekarang kayaknya udah suka. Beberapa hari yang lalu dia datang ke rumah sakit. Bawain kopi untuk semuanya.” What the hell! Bisa-bisanya Nadya malah suka? Ini gila sih. Harusnya gak ada cinta yang bisa dipaksakan. Bahkan ketika Lovi terpaksa pacaran sama Avius, dia tetap gak bisa mencintai cowok itu. Ini aneh sih. Aneh banget.  “Thanks, Edgar.” “Ah, Lovi. Boleh minta nomor lo?” “Buat apa?” “Kayaknya gue bakal dikerjain lagi sama senior.” “Big no! Kamu mau nyuruh aku lagi? Gak mau.” “Ini bukan tentang Nadya. Beberapa hari lagi, kami mau penyuluhan disini.” “Lah, emang iya?” Edgar bilang akan ada penyuluhan dari pihak rumah sakit. Maraknya Covid 19 membuat banyak hal terasa sulit. Masyarakat umum perlu diberikan pengertian terkait peraturan yang akan berlaku. Pihak medis juga akan memberikan prosedur untuk penanganan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lovi berjalan sambil berpikir. Ia berpapasan dengan Lovi yang menatapnya tajam. “Kenapa?” “Siapa yang nganterin kau?” “Ah, Edgar.” “Siapa Edgar?” “Dokter di rumah sakit sebelah.” “Jadi, kamu lagi pedekate sama dokter. Gila, Lovitha. Ini sih progres luar biasa. Aku harus ditraktir fiks.” “Diam! Mobilku mogok, makanya aku nebeng dia. Lagian ya, kami ketemu karena masalah Nadya kemarin. Jadi ini bukan pedekate.” “Argh, gampang banget sih hancurin mood bagus ku.” “Lagian lebay.” Seseorang berlari mendekat ke arah mereka. Cewek yang paling ceria di kantor ini. Selain ramah, baik, dia juga cantik. Lovi dan Aya selalu heran. Kok ada ya manusia sesempurna itu? Seperti tidak mungkin. “Guys, hari kamis bakal ada penyuluhan.” “Terus kenapa?”tanya Aya datar. “Dokter ganteng di gedung sebelah bakal datang. Kalian gak tahu? Cewek di kantor ini selalu menanti-nantikan itu.” “Aku engga.” “Aku juga.” “Ish, kalian belum lihat aja. Mereka itu suami idaman. Gak cuma itu, polisi juga bakal datang. Banyak yang masih single and available.” “Ih, apalagi itu. Aku gak tertarik pake banget.”tegas Aya. Dia teringat sama Adong. Demi apapun, dia kesal setengah mampus sama cowok itu. Jika ditanya siapa yang paling Aya benci. Adong adalah orangnya. “Aku juga.”balas Lovi. Mereka langsung masuk ruangan. Dokter dan polisi emang idaman para wanita. Terkhusus Cahaya, dia lebih suka pria kaya dengan pekerjaan seorang pengusaha. Sedangkan Lovi, dia suka pria pintar. Of course, punya pendidikan tinggi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN