.39. Pertemuan Kembali

1176 Kata
Sebab ini hari jumat, pegawai dibolehkan mengenakan baju bebas. Tak ada aturan khusus asal masih menjunjung sopan santun. Sebagai instansi pemerintahan, hal itu memang sangat ditekankan. Lovi berhenti di depan sebuah rumah besar. Rumah yang sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Keluarga Avius mengalami peningkatan taraf hidup yang cukup signifikan. Cowok itu melambaikan tangan dan terlihat buru-buru. Mungkin gak enak kalau Lovi menunggu lama. “Sorry banget. Tadi mama ngomel panjang lebar.” “Ngomelin apa?” “Hmm, sepertinya kau perlu tahu.” “Tahu apa?” “Naisha pengen rujuk.” Ini gila sih. Cewek yang pergi tanpa penjelasan seenaknya mau kembali. Dia sudah membuat banyak gosip tentang Avius. Bikin cowok itu dianggap berbeda oleh para ibu-ibu. Dan gak mudah jadi dia. Sebulan sudah berlalu dan dia masih saja dihantui perasaan tidak tenang.  Seperti muncul pertanyaan, apakah ada yang salah denganku? Pria yang ditinggal begitu saja. Siapapun pasti penasaran. Ada apa sebenarnya? “Cewek gila. Kau gak boleh ngalah. Kalau pisah ya pisah.” “Kamu sama aja kayak mama.” “Jadi gara-gara itu tante ngomel?” Avius mengangguk. Avius tidak tahu harus bagaimana. Daripada menyalahkan Naisya, dia lebih ingin menyalahkan diri sendiri. Sebagai pria, sepertinya ia berbuat salah sampai Naisya pergi. “Jangan menyalahkan diri sendiri. Itu salah dia. Jadi jangan mau kembali.”ucap Lovi seperti membaca pikiran Avius.  “Tapi kan,,,” “Awas aja kalau kembali. Aku pastikan kita gak akan pernah bertemu. Aku akan sombong kayak Adong.” “Sialan!” “Aku serius.” Avius malah tertawa. Lovi mengantarnya ke tempat kerja karena memang selalu ia lewati tiap pergi ke kantor. Setelah itu, ia buru-buru menyelesaikan beberapa hal penting. Dan ya, Aya sudah lebih dulu tiba disana. Dia tampak bersemangat untuk menuntaskan tugas itu.  Mereka gak sabar menikmati makanan dari stand-stand yang sudah dibuat sejak kemarin. Stand makanan hingga perlengkapan. Kalau kerjaan udah beres, mereka tinggal menikmati sisa waktu dengan bersenang-senang. Ya, walau akan ada penyuluhan yang sangat membosankan. “Sisa berapa?”tanya Lovi kepo. “Tinggal satu.” “Sial. Jadi aku nih yang paling banyak? Perasaan kemarin kamu masih banyak.” “Aku kerjain di rumah dong. Jadi sekarang lebih tenang.” Mereka berpacu melawan waktu. Tak seperti para senior yang memilih bersantai dan menunggu sampai deadline tiba. Ya, biarkan saja. Mereka akan dibuat hectic nanti sore. Lupakan tentang pulang cepat.  “Yash! I’m done!” Aya terlihat bangga dengan kemenangan ini. Dia bahkan ngisengin Lovi. Jiwa iseng yang sudah ada dari dulu. Dengan kesabaran ekstra, Lovi berhasil menyelesaikannya. Dan tiba-tiba ada pengumuman kalau mereka harus segera menuju lapangan. Sebab acara sudah mau dimulai. “Demi, kita udah beresin kerjaan.” “Padahal dulu kau yang paling rajin. Sekarang kok terbalik?” “Ish, baru juga kalah sekali. Gak usah sok hebat.” Setelah adu bacot, mereka jalan bareng menuju lapangan. Dua orang yang tak akan terpisah sebab barisnya juga sebelahan. Edgar tampak melihat Lovi dan menyapa dengan anggukan dan senyuman.  “Widih, jadi sekarang sama dokter?” “Ngaco ih. Temenan doang.” “Tapi ganteng kok, Lov. Cocok.” “Jangan gila ah.” “Kalau aku jadi kau, udah langsung sikat.” “Sikat sikut. Ada-ada aja.” Mereka kembali fokus. Mendengar ceramah dokter yang kadang gak masuk otak. Bukan karena b**o, tapi keduanya malas mendengarnya. Dia sudah tahu semua informasi itu dari media sosial. Kiat-kiat menghadapi pandemi hingga reaksi pertama ketika ada orang disekitar yang kena Covid 19. “Guys!”Nadya datang tiba-tiba. Dia tersenyum lebar. Mereka gak terlalu dekat sama Nadya, tapi entah kenapa, Nadya bertingkah seolah-olah mereka sahabat dari jaman baheula. “Kenapa Nad?”tanya Aya gemas. “Pada kepo gak yang mana pacarku?” Idih, jadi Nadya mau pamer. Oke, dia emang cewek cantik yang kelewat polos. Walau begitu, dia termasuk orang yang pintar di divisinya. Paling diandalkan dalam mengelola keuangan. Waktu diselidiki, ternyata dia mantan pegawai bank swasta terkenal di Indonesia. Alasan dia ikut PNS hanya untuk memenuhi keinginan orang tuanya. Yah, begitulah hidup orang dewasa. Tidak sejalan dengan pikiran orang tua seperti durhaka. “Ah, iya. Yang mana?”tanya Lovi pura-pura excited. For your information, dia itu gak terlalu peduli sama pacar orang lain. Kecuali untuk teman terdekatnya.  “Itu di samping Edgar. Dia udah senior disana. Dan aku benar-benar cinta sama dia.” “Hmm, ganteng sih.” “Tunggu dulu, kamu benar-benar cinta? Kok bisa?”tanya Lovi penasaran. Daripada wajah pacarnya, Lovi lebih penasaran bagaimana Nadya bisa cinta sama cowok itu. Mereka baru pacaran satu bulan. Kok bisa perasaan itu berubah dalam waktu singkat? “Ternyata dia orang yang baik, romantis dan kita punya hobi yang sama. Tadinya aku udah mikir bakal putus. Tapi persepsi aku berubah setelah kenal sama dia.” “Itu namanya cinta karena terbiasa, Nad.”seru Aya. “Eh, iya kah?” “Hooh. Semoga langgeng ya. Sana pergi, pimpinan ngeliatin kita dari tadi.” Tak hanya siswa SMA yang ditatap tajam, pegawai seperti mereka juga. Apalagi para generasi millennial yang emang hobi ngegosip. Mereka akan jadi pantauan mata tajam dari para senior.” Semua berjalan lancar kecuali sinar matahari yang semakin terik. Rasa lelah tak bisa dihindari. Bikin dahaga dan sebagainya.  Tiba-tiba Lovi menyenggol Aya. Dia seperti melihat hantu di siang bolong.  “Kenapa sih? Lagi ngelawak?” “Adong, Ay. Itu.” Aya melirik ke arah kanan. Tampak pria berseragam sedang berdiri sambil memantau semua orang. Rupanya dia ditugaskan kesana. Melihatnya, Aya mengalihkan pandangan.  “Benar kan?” “Iya, gak usah panik gitu. Dia itu cuma orang yang gak sengaja kita kenal.” “Ih, kok gitu sih?” “Stop talking about him.” Lovi terdiam. Dia melirik ke arah Adong yang tetap stay cool. Dia tampak lebih ganteng dibanding dulu. Well, dari segi postur tubuh saja sudah sangat berubah. Rasanya pengen ngobrol. Lovi adalah yang paling berambisi untuk menyatukan mereka semua. Sebab hal itu masuk dalam daftar keinginannya. Bertemu dan kembali bersenang-senang dengan mereka semua. Secara utuh. Ya, jangan ada satupun yang ketinggalan. Saat semua sudah usai, tibalah pembagian nasi kotak. Well, nasi kotak selalu jadi makanan utama acara seperti ini. “Ay, aku ke toilet bentar.” “Mau ditemenin?” “Gak usah.” Lovi bisa melihat ketegasan di wajah Aya. Ketika dia berkata tak mau membicarakan Adong, dia akan serius dengan perkataannya itu. Wajahnya bisa dilihat dengan jelas. Mana yang serius dan mana yang bercanda.  Dia berjalan mencari Adong. Dia harus bicara. Dengan menarik nafas dan menghembuskannya, Lovi menguatkan diri. Ayo, dia pasti bisa. Walau Adong dikerumuni oleh teman-temannya dan itu bikin Lovi jadi enggan.  Saat kakinya hendak melangkah lebih jauh, seseorang memanggilnya. Edgar. “Lov, mau kemana?” “Ah, gak kemana-mana.” “Sini deh, gue mau nunjukin sesuatu.” “Tapi,,,” “Udah, ini lebih penting daripada jalan-jalan gak jelas.” Edgar membawanya ke tempat merchandise gratis. Hanya dengan menunjukkan kartu identitas, mereka bisa memilih barang mana yang mau diambil. Tentu saja, orang yang duluan datang akan lebih diuntungkan. Edgar ada-ada saja. Tapi dia berhasil bikin Lovi melupakan Adong. Damn!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN