Cukup lama Aya menunggu, tapi Lovi gak balik-balik. Dia menemukan cewek itu malah sama Edgar. Oke, sekarang dia mengerti. Orang yang pedekate gak bagus jika dihalangi. Antara Edgar yang demen atau malah Lovi? Who knows? Lovi juga gak terlalu terbuka soal masalah itu.
Istilahnya, dia tidak mau menceritakan soal siapa yang dia taksir. Terakhir dia jujur tentang Josen. Setelah itu, dia gak cerita apa-apa lagi. Well, dia lebih suka cerita tentang hal menarik yang cocok untuk bersenang-senang. Dasar!
“Mbak, saya mau ke toilet. Nitip bentar ya?”
“Iya, Cah.”
Yang paling menyebalkan dari orang-orang itu adalah memanggil Aya dengan Cah. Demi apapun, Aya gak suka. Dia lebih suka dipanggil Aya. Mau ditekankan berapa kalipun, mereka tetap gak mau. Katanya sih udah menempel nama Cahaya-nya.
Aya buru-buru ke toilet. Dia sudah tidak bisa menahannya. Setelah lega, dia bergegas keluar. Dan hell, dia malah melihat segerombolan manusia berseragam. Dan jelas, ada Adong disana. Tak ada pintu keluar selain itu.
Setelah berpikir keras, dia memutuskan untuk mengambil resiko. Hello, dia gak salah apa-apa. Apa yang harus ditakuti? Santai saja. Toh, mereka juga udah gak ada hubungan apa-apa.
Jangan jadi pengecut, Aya. Siapa dia sampai harus dihindari?
Aya berjalan dengan level percaya diri di atas rata-rata. Dia berusaha untuk menghindari tatapan mata Adong. Well, perempuan diberi kemampuan seperti itu kan? Pura-pura cuek padahal aslinya kepikiran pake banget.
Semua berjalan lancar, sampai seseorang mengeluarkan suara.
“Loh, kamu bukannya yang kemarin di bandara ya?”
Aya berhenti dan melihat orang itu. Kenapa harus ada dia sih? Cowok itu tersenyum kayak baru ketemu teman lama. Hey, kita gak saling kenal.
“Eh, iya. Kok ketemu disini sih?”ucap Aya sok asik.
“Bukannya kamu yang titip salam sama Adong? Ini orangnya.”
Adong tampak tidak nyaman. Bahkan dia memalingkan wajahnya. Demi apapun, Aya semakin benci. Benci sampai ke tulang-tulang. Jika kebencian bisa diukur, maka benci di hati Aya sudah sebesar gunung.
“Astaga, aku lupa banget. Dulu pernah ngefans sama dia. Cuman, kita gak terlalu kenal sih. Cuma kenal gitu doang.”
“Oh iya? Kok Adong gak pernah ngasih tahu ya?”
“Dia pasti lupa. Orang kami gak terlalu dekat.”
Aya memasang senyuman lebar. Berakting seolah gak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia hendak pergi sambil melambaikan tangan. Tapi cowok itu malah mengulurkan tangan.
“Kenalan dulu dong. Namaku Tommy.”
“Ah, Cahaya. Panggil aja Aya.”
Mereka berkenalan cukup lama sampai cowok itu berusaha untuk akrab. Semua berakhir saat Aya dipanggil oleh atasannya. Aya langsung pergi begitu saja.
“Jangan tertarik sama dia.”tegas Adong setelah kepergian Aya.
“Dong, dia itu cantik, pintar, dan kerja disini. Dibanding tertarik, aku sangat-sangat terpesona.”
“Kamu gak tahu apa-apa soal dia.”tegas Adong dengan nada marah.
“Loh, kok marah?”
“Kenapa sih bro?”
“Dengar ya, Dong. Kalian tidak terlalu dekat. Mungkin kau yang kenal dia duluan. Bisa saja aku yang bakal dapetin dia.”
Adong terlihat tidak suka dan pergi. Semua ini bikin suasana jadi gak enak. Sikap Adong yang berlebihan padahal dia bukan siapa-siapa.
“Aku gak paham sama dia.”
“Lagi sensi kali. Udah, santai aja.”
Tommy mendapat dukungan dari teman-temannya. Jelas saja, sebagai pria sejati, menyukai seseorang tidak salah. Apa salahnya jika Tommy suka sama perempuan itu?
***
“Ayo double date.”ucap Nadya tiba-tiba. Mereka lagi makan siang di kantin. Perkataan itu bikin Lovi keselek sampai gagal menikmati makanan enak di piringnya.
“Hah?”
“Kamu sama Edgar.”
“Wah, gila. Kamu kira saya suka sama dia? Kami itu cuma teman, Nad.”
“Masa sih? Sayang banget. Padahal Edgar itu boyfriend material.”
“Tahu dari mana?”tanya Aya kepo.
“Dia kaya tujuh turunan. Dibanding pacarku, dia jauh lebih kaya. Punya perusahaan di mana-mana. Dan yang paling seru, dia anak tunggal.”
“Wow! Anak tunggal kaya raya. Incaran semua wanita.”
“Betul, Cah.”
“Stop calling me Cah.”
“I can’t”
“Udah-udah. Stop ngomongin dia.”tegas Lovi dengan muka galaknya.
Jika ditelusuri dari riwayat chattingan, Edgar memang bertujuan untuk mendekatkan diri. Tapi bukan berarti itu bukti keseriusan. Dia hanya sedang gabut. Lovi tahu hal itu. Pria yang dari kota besar pindah ke kota kecil. Mereka hanya bisa melupakan kegiatan rutin di perkotaan. Kegiatan yang tak bisa mereka lakukan di tempat ini.
“Hmm, ya sudahlah. Aku pergi aja kalau gitu.”
Nadya melipir pergi. Kedatangannya selalu bikin perkara baru. Sepeninggal Nadya, mereka berdua menarik nafas panjang. Gak tahu kenapa, dunia yang di sebelah sini malah sama rumitnya dengan dunia sebelumnya. Mereka kira kampung halaman tak akan separah Jakarta. Ternyata sama saja.
Dewasa membuat mereka cepat overthinking. Mikir yang engga-engga soal sesuatu. Dan ya, membuat hal yang biasa jadi luar biasa. Hal kecil saja bisa jadi sumber permasalahan.
“Jadi gak cuma aku yang lagi galau?”Tanya Lovi.
“Argh, apa kita balik ke Jakarta aja? Walau disana banyak cobaan, setidaknya kita gak harus ketemu orang-orang aneh.”
“Emang masih ada yang mau nerima kita disana?”
“Nah, itu dia.”
Membenci Adong tak semata-mata bikin Aya melupakannya. Semakin dia kesal, semakin sering cowok itu hinggap di pikirannya. Mereka baru beberapa bulan pindah kesini, tapi terlalu banyak kejadian yang gak disangka-sangka.
“Hai guys!”
“Avius!”
“Kok bisa disini?”
“Aku lagi ada urusan sama seseorang. Terus gak sengaja ngeliat kalian.”
“Astaga. Anak tampan. Sini, biar mama traktir.”lawak Aya sambil tertawa. Avius langsung memasang muka masam. Suasana jadi gak suram saat Avius datang. Disamping Aya bisa ngisengin dia, semua juga jadi sadar diri. Penderitaan sederhana yang mereka rasakan tidak lebih parah dibanding apa yang dialami Avius.
Dari mereka semua, Avius yang paling menderita. Cowok yang bahkan tak sempat merasakan indahnya dunia pernikahan. Gak kebayang kalau kejadian itu terjadi pada mereka. Mungkin ada keinginan buat mati kali ya. Atau setidaknya melarikan diri.
“Bagusnya kita rencanain buat jalan-jalan deh.”
“Setuju! Ayo!”
“Hmm, ada apa nih? Kok kau jadi suka jalan-jalan?”tanya Lovi kepo. By the way, selama ini Aya yang paling malas diajak main. Maunya sih di rumah aja. Main handphone atau gak nelpon mantan pacarnya yang masih sering ngirimin dia uang. Ya, semua itu lebih menenangkan.
Aya terdiam. Akhir-akhir ini, dia gak bisa tidur. Rasanya kalau pergi karyawisata akan membantunya untuk kembali tidur nyenyak seperti dulu.
“Pengen aja. Manusia bisa berubah kan, Lov?”
“Hmm, jadi kita mau kemana?”
“Kemping.”
“Mau!”
“Apa gak ada jalan-jalan yang lebih menarik? Misalnya nginep di hotel bintang 5?”
“Aish, itu gak seru Ay. Gak asik. Benarkan Lov?”
“Setuju. Kalau kita kemping, ada rasa tenang gitu loh.”
“Jadi gimana?”
“Ajak Josen juga lah.”
“Iya, nanti aku bilang.”
“Oke. Deal.”
Semua tampak bersemangat untuk mengawali hari yang benar-benar dinantikan. Tentu saja Lovi sangat menunggunya. Dia udah merancang harus bagaimana nanti kalau kemping. Demi apapun, ini akan jadi kemping pertamanya seumur hidup. Tak disangka, dia malah menjalaninya di usia matang. Ya, daripada tidak sama sekali.