.41. Seperti Takdir

1259 Kata
Lagi dan lagi, sang mantan yang kaya raya itu mengirimkan sebuah paket untuk  Aya. Sebab ini hari minggu, Aya semakin tidak sabar untuk mendapatkan paket itu. Dia memutuskan untuk pergi ke tempat pengiriman barang. Ayolah, orang yang beli sesuatu pasti gemes banget mau buka paketnya. Kayak ada rasa semangat yang luar biasa. Aya bergegas dan mendapati paket itu berukuran besar. Perutnya keroncongan dan coba untuk mencari makan. Nanti saja paketnya dibuka. Sudah pasti isinya sangat surprise dan berharga. Meski mantannya selingkuh, Aya baru tahu kalau dia sudah putus sama selingkuhannya. Entahlah, Aya merasa bersyukur. Bukannya pengen balik lagi sama dia, tapi Aya merasa bahwa hubungan dari perselingkuhan itu tak akan langgeng. Seakan karma siap-siap menerkam. “Ibu, mau nasi uduk.” “Boleh.” Dia menerima sepiring nasi yang wanginya semerbak dan bikin nafsu makan meningkat. Saat dia hendak mencari duduk, seseorang melambaikan tangan. Oh my gosh, kenapa lagi cowok itu ada disini?  Inilah yang Aya benci dari kota kecil. Mau gimana pun, akan ada pertemuan yang tidak diinginkan. Dia melihat sekitar. Untung saja cuma Tommy yang ada disana. Bahkan dia tak mengenakan seragam. Seragam kebanggaan yang kerap bikin abdi negara di incar sama cewek-cewek jaman sekarang. Argh, membayangkan saja bikin males. “Hai, Tom.” “Duduk disini aja.” “Ah, makasih.” Aya menikmati makanan itu tanpa mempedulikan Tommy. Walau dia temannya Adong, biarin ajalah. Mau bagaimana lagi. Dia terlanjur bertingkah aneh waktu di bandara. Harusnya dia jaga jarak saja. “Ngomong-ngomong, kamu sering makan disini?”tanya Aya mencairkan suasana. “Rumahku gak jauh dari sini.” “What? Kok bisa?” “Kok bisa apanya?” “Aku juga orang sini. Kok bisa kita gak kenal selama ini.” “Aku SMA 2.” “Wah, I See.” “Jangan berpikir yang engga-engga. Walau lulus dari SMA 2, aku gak sepintar yang aku bayangkan.” “Masa sih?” “Beneran. Aku beruntung saja waktu itu.” Aya tertawa mendengarnya. Okelah, orang ini orang yang sangat down to earth. Banyak manusia sombong di muka bumi ini, contohnya Adong. Damn! Kenapa Aya jadi ingat dia lagi sih? “Ngomong-ngomong, kamu pernah dengar cerita kalau ada anak SMA 1 yang melempar anak SMA 2 pakai air?” Pertanyaan itu bikin Aya makin ngakak. Gimana nggak, Adong adalah salah satu pelaku perbuatan laknat itu. Bisa dipastikan kalau cowok itu belum mengaku. Makanya Tommy gak tahu. “Kenapa tertawa sih? Ngeledek?” “Enggak, Tom. Soalnya lucu aja.” “Lucu darimana? Waktu itu aku harus balik asrama buat ganti baju. Damn. Kata guru sih mereka sudah dihukum, tapi dendamnya masih sampai sekarang.” “Namanya juga anak nakal. Mungkin sekarang udah pada bertobat.” “Gak yakin.” “Atau mungkin ada yang jadi polisi juga?” “Hah?” “Bercanda.” Seru juga ngobrol sama Tommy. Selain ramah, dia juga punya pandangan yang bagus tentang sesuatu. Cukup menghibur Aya di pagi yang membosankan ini. “Thanks, Tom. Udah nemenin aku makan.” “Welcome. Oh ya, aku traktir ya?” “Eh, gak usah.” Tommy langsung membayar tanpa menunggu persetujuan Aya. Aya jadi gak enak. Untuk menerapkan jiwa sopan santun, Aya terpaksa mengatakan sesuatu yang seharusnya dipendam saja. “Lain kali aku yang traktir deh.” “Boleh. Minta nomor mu dong.” “Ehm, buat apa?” “Cocokin jadwal. Biar entar kita makan bareng lagi.” Gimana coba menolaknya? Gak bisa kan? Terpaksa Aya ngasih nomornya. Dia merasa terjebak tapi mau gimana lagi. Meskipun Tommy terlihat cowok baik-baik, Aya gak mau terlalu dekat dengannya. Dia benci pekerjaan itu dan ditambah lagi, fakta bahwa Adong temannya. “See you next time.” Aya mengangguk. Dia langsung menelpon Lovi. Dia benar-benar risau, gundah dan stress. Menceritakan semuanya sama Lovi. Bukannya menerima rasa iba dan kasihan, Lovi malah menertawainya. “b**o! Dijebak kan.” “Nah itu, aku gak punya jawaban lain. Entar dikira gimana.” “Udah gak apa-apa. Lagian kamu bilang dia orang baik. Bahkan lulusan SMA 2. Dia sempurna, Ay.” “Dia gak sempurna di mataku.” “Dasar. Pokoknya santai aja. Gak usah dipikirin yang gak penting.” “Yah, mau gimana lagi.” “By the way, aku mau pergi sama Edgar.” “Damn! Serius? Pergi kemana?” “Berburu diskon di mall kota.” “Gelo. Kata Nadya, si Edgar kaya. Kok kayak orang miskin gini.” “Parah banget sih. Siapa tahu dia emang pengen main juga. Mau ikut gak?” “Gak ah. Entar jadi nyamuk.” “Sialan.” Aya berjalan dengan nafas tak beraturan. Kesal dengan dirinya sendiri. Memikirkan banyak hal tapi berusaha untuk positif. Auranya kembali senang saat melihat paket di tangannya. Saatnya unboxing. *** Lovi menunggu di depan rumah. Menunggu kedatangan Edgar yang akan menjemputnya. Dia melambaikan tangan saat melihat Josen melintas. Cowok itu malah berhenti. Oke, dia sedang bersama seorang wanita. Wanita yang Lovi lihat di profil picture w******p-nya. Baiklah, cewek itu pacarnya Josen. “Mau kemana?” “Ke mall.” “Sekarang?” “Iya. Ini kan weekend. Kamu mau kemana?” “Mau ngedate.” “Ah, udah sana. Kapan ngenalin pacarnya sama kami?” “Kapan-kapan ya.” “Okelah.” Josen berlalu dan tak lama, Edgar tiba. Cowok itu mengenakan kacamata hitam. Well, penampilan yang unik tapi semakin memperlihatkan ketampanannya. Dokter muda dengan segala kemewahannya. “Lo gak penasaran kenapa gue pake kacamata?”tanya Edgar saat mobil sudah melaju beberapa menit. “Kenapa?” “Argh, gue lagi stres. Bokap marah besar sama gue. Semua kartu kredit diblokir. Gak ada lagi uang buat belanja.” “Emang lo salah apa?” “Datang kesini adalah kesalahan.” Menjadi dokter di kota kecil seperti pelanggaran hebat bagi keluarga Edgar. Tidak heran, seharusnya dia bisa bekerja di kota besar. Bahkan di Jakarta sekalipun. Dan bodohnya, dia malah melamar ke tempat seperti ini. “Terus, alasan kamu kerja disini apa sih sebenarnya?” “Bosan aja sama Jakarta.” “Kamu kan bisa jalan-jalan. You have money and power.” “Jalan-jalan gak akan bikin aku betul-betul kenal sama suatu daerah.” “Iya juga sih.” Tiba-tiba Lovi mendapat sebuah pesan. Dari Josen. “Lov, kamu dijemput cowok? Lagi pedekate? Kok gak ngenalin sih?” Lovi gak membalas. Dia memutuskan untuk mendengar cerita Edgar yang cukup menarik. Tentang dia ingin mencari barang diskon biar bisa hemat. Dia harus mengubah pola hidup agar gajinya cukup untuk bertahan hidup. Sesekali Lovi tertawa. Dia berusaha untuk tidak mempedulikan Josen.  “Jangan beli semuanya, Ed.” “Mumpung diskon.” Lovi menarik tangannya menjauh dari keramaian. Kalau begini, Edgar gak akan bisa hemat bahkan menabung. Edgar harus menentukan mana barang yang dibutuhkan. Ya, bukan barang yang diinginkan. Lovi jadi mengajarkan cara mengelola uang. Dan ternyata, uang simpanannya cukup banyak. Bahkan bisa membeli mobil baru. Dia saja yang merasa itu sedikit. Ya, tentang banyak dan sedikit, setiap orang punya takarannya masing-masing. “Oke?” “Baiklah.” “Sekarang, beli yang dibutuhkan aja.” Mereka berburu barang penting. Dan sesudahnya, mereka makan untuk melepaskan rasa lapar. Bagi Lovi, Edgar orang yang asyik. Bahkan lebih seru daripada teman-temannya sekarang. Edgar itu kayak cerminan orang-orang di masa lalu. Ketika mereka masih muda dan suka menikmati hidup. Kenapa sekarang semua orang tak bisa seperti itu ya? Kenapa mereka begitu sibuk dan serius menjalani hidup? Tak bisakah kembali seperti dulu? Menganggap segalanya hal yang funny dan bisa dibuat jadi tawa? Argh, mungkin sudah tidak bisa. Dewasa mengubah setiap manusia. Dewasa memaksa untuk menjadi pribadi yang lain. Pribadi yang serius.  Aku rindu masa itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN