Kebetulan itu ada bermacam-macam. Dan Aya harus membenci kebetulan ini. Setelah sekian lama melanglang buana, dia harus bertemu orang yang tidak ingin ia temui. Damn! She hates it.
Bertemu di tempat seperti ini. Saat ada arisan ibu-ibu. Seharusnya Aya gak usah ikut. Jika tahu akan bertemu Adong disini. Dia dipaksa ibunya sebab sudah seharian gak pergi kemana-mana. Anak gadisnya itu bukannya bergaul malah mengurung diri di kamar. Walau kerjaan kantor banyak, seharusnya dia menggunakan weekday untuk bersenang-senang.
“Sial!”
“Kenapa Ay?”
“Gak apa-apa, bu. Aku keluar bentar ya.”
“Iya. Jangan lupa makan. Ibu bawa kamu kesini biar gak rugi. Ambil yang banyak.”
“Iya, iya.”
Aya berjalan gontai sambil melihat isi handphonenya. Dia malas ada di dalam sana. Jengah melihat wajah Adong yang menyebalkan itu. Padahal dulu dia gak begini. Entah setan apa yang merasuki cowok itu.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Yang lagi dipikirkan malah datang. Bukan untuk memberi kesan baik, tapi sebaliknya. Aya menatapnya datar sambil mengernyitkan dahi. Wajah cowok itu masih datar.
“Kenapa?”
“Kamu dekatin Tommy buat apa?”
“Hah?”
“Kalau buat mengusik aku, gak usah seperti itu. Kau mau mempermainkan orang lain, hah? Ngasih nomormu sama dia pasti bikin dia senang sampai ke langit ke tujuh. Kau gak sadar?”
Aya kesal banget. Demi apapun, Adong benar-benar gak tahu diri. Dia membuat emosi di dadanya meluap-luap hendak keluar. Dia meredamnya saat melihat ibunya melambaikan tangan.
“Jadi itu yang kau pikirkan tentang aku?”
“Apa itu salah?”
“Engga. Itu benar banget.”tegas Aya.
Dia udah gak peduli. Mau dicap sebagai playgirl, biarin ajalah. Tidak perlu memikirkan perasaan Adong. Siapa dia? Dia bukan siapa-siapa. Gak perlu dikhawatirkan. Bodo amat.
“Dan lo gak tahu apa yang dipikirkan semua orang sama lo? Teman? s**t! Josen aja menyesal punya teman kayak lo.”
“Aku tidak masalah.”
“Oke. Aku juga tidak masalah dengan berteman sama Tommy. Siapa lo sampai harus gue turutin?”
Aya berniat hendak pergi. Adong malah mencegahnya. Wajah cowok itu bikin Aya muak. Sangat menyebalkan. Pengen nge-kill rasanya.
“Kalau untuk main-main, jangan gunakan temanku.”
“It’s not your business!”tegas Aya. “Dan lagi, Tommy pasti sedih dipanggil teman sama orang sepertimu. Orang yang akan mengkhianatinya suatu hari nanti.”
Aya bergegas masuk rumah. Minta izin sama ibunya biar pulang duluan. Dia benar-benar gak suka ada disana. Bukan hanya karena ibu-ibu rempong disana, tapi juga karena Adong.
Dengan naik motor, ia menyusuri tempat yang sepi. Memikirkan hal yang baik saja. Dia kepikiran banget sama Adong. Benci dan kesal. Tapi kangen juga iya. Gimana cara menghilangkan pikiran ini? Tidak adakah cara?
“Aya? Ngapain disini?”
Seseorang datang. Avius. Argh, Aya jadi lega banget. Setidaknya ia punya orang yang bisa diajak ngobrol.
“Baru nganterin ibu arisan. Kau ngapain?”
“Ada urusan di restoran yang itu. Urusan bisnis.”
“Ah, I see.”
Keduanya melihat pantai dengan hati yang tenang. Semilir angin menyejukkan hati yang panas dan berapi-api. Keduanya saling memikirkan masalah masing-masing. Kalau dulu sih cuma mikirin tugas sama mau makan apa. Sekarang semua terasa lebih rumit. Lebih memusingkan.
“How’s your day?”
“Biasa aja.”
“Sama dong.”
“Ay, kalau kau jadi aku, sebaiknya bagaimana?”
“Apanya?”
“Menanggapi hidup kayak gini. Jujur aja, aku jadi lebih takut bertemu orang. Takut dicap negatif karena pernikahan yang gagal ini.”
“Argh, kau selalu mengajarkanku untuk bersyukur, Av.”
“Kau ada masalah?”
“Tidak. Tapi aku punya pendapat.”
Aya tampak memikirkannya dengan baik. Baginya, Avius sudah seperti saudara. Teman yang pasti ada disisinya. Semoga saja dia tak ikut pergi seperti Adong.
“Jalani hidupmu dengan baik. Soal omongan negatif itu, anggap saja angin lalu.”
“Gimana caranya? Aku selalu sedih kalau diungkit masalah pernikahan.”
“Cara terbaik adalah bersenang-senang sama aku, Lovi dan Josen.”
“Adong juga?”
“Kenapa jadi ke dia?”
Beberapa hari yang lalu, Avius mendapat sebuah DM dari Adong. Mengajaknya untuk semangat setelah pernikahan itu gagal. Aneh memang, itu jadi pesan pertama setelah bertahun-tahun. Avius cukup kaget, tapi dia yakin kalau itu adalah salah satu bukti kepedulian.
“Itu cuma iseng. Ya, formalitas.”
“Tapi engga, Ay. Dia menulis banyak banget kata-kata. Udah bisa jadi satu artikel. Tapi intinya, dia percaya sama aku.”
“Bulshit! Jangan ngomongin dia di depanku.”balas Aya marah. Bikin Avius tampak siaga. Cewek kalau udah marah, bumi yang sebesar ini bisa terbelah. Marahnya melebihi kekuatan halilintar.
“Oke, Ay. Sorry.”
Cukup lama mereka disana. Melihat anak sekolah yang kerap bermain. Ya, mengingatkan mereka akan kenangan. Dulu juga mereka pernah mengalaminya. Masa indah yang kini terasa suram. Suram banget karena udah gak bisa balik ke masa itu.
***
Perempuan itu bangun dari tidur siangnya dengan wajah polos. Dia kaget melihat sudah pukul 4 sore. Ternyata tidurnya kelamaan. Katanya, tidur siang itu cukup 15 menit. Kalau lebih bisa bikin sakit kepala. Dan mitos itu terbukti bagi Lovitha Rasella.
“Lov, beliin minyak goreng dong!”
Baru bangun, ia langsung mendapat tugas agung nan mulia. Bikin kesal, tapi mama yang nyuruh. Dia gak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Berjalan sempoyongan menuju warung gede yang ada di pinggir jalan.
Tiba disana, ia membeli banyak sekali. Gak cuma minyak goreng, tapi ditambah sama kukis, cereal hingga minuman dingin. Meski di desa dingin, siang hari kerap menampilkan matahari terik yang menusuk.
Dia duduk sambil melihat mobil berlalu-lalang. Pemandangan sore yang sedikit mengurangi kebosanannya.
“Loh? Datang dari mana?”
“Tadi main sama si Jono di dalam.”
Josen ini seperti setan ya. Bisa muncul tiba-tiba. Bikin kaget aja. Lovi tertawa setelahnya. Josen duduk dan menikmati segelas kopi panas. Di sore hari, tempat itu lumayan sepi.
“Gak mau cerita apa-apa?”
“Apaan sih?”
“Cowok yang kemarin jemput kamu?”
“Ah, itu.”respon Lovi sambil berpikir. Dia tersenyum tipis. “Cuma kenalan. Gak sengaja ketemu.”lanjutnya.
“Masa sih? Kata Aya kalian sering pergi bareng.”
Sial! Aya adalah sumber bencana baru dalam hidupnya. Cewek yang membuatnya gak punya privasi. Hey, walau itu Josen, harusnya Aya gak perlu memberitahu. Dia bikin Lovi jadi gak bisa berkata-kata.
“Sebut saja, pedekate.”
“Hey, serius?”Tanya Josen gak percaya. “Gak mungkin kau bisa pacaran semudah itu kan? Kau picky banget milih cowok.”
“Siapa yang bilang?”
“Avius. Kata Avius, kalian putus karena hal seperti itu.”
Baiklah, sekarang Avius ikut campur. Walau begitu, Lovi tetap bersyukur. Setidaknya Avius gak ngasih tahu yang sebenarnya. Alasan mereka putus hanya karena keegoisan Lovi. Egois dan tidak bisa melupakan Josen. Masa yang sulit baginya.