Hari senin adalah hari yang memusingkan sekaligus menyebalkan. Setelah dibuat bahagia oleh dua hari libur, datanglah hari dimana setumpuk beban memenuhi kepala. Kepala yang berukuran kecil ini dipaksa menahannya sedemikian rupa.
Tak seperti hari lain, senin memberi semua orang syok terapi. Ada saja kejadian aneh terjadi. Case buruk tentang sesuatu yang jarang terjadi. Memaksa setiap orang untuk berjuang keras. Tak ada waktu untuk berleha-leha.
Tepat pukul 6, Lovi membentangkan tangannya hendak pulang. Demi, ini benar-benar waktu yang panjang. Semua terasa sulit dan melelahkan. Baru juga satu hari, dia sudah merasa seperti seribu tahun.
“Pstt, mau pulang?”tanya Aya dengan suara pelan. Masih ada banyak orang di tempat itu. Orang dengan perasaan yang sama. Perasaan campur aduk akan pekerjaan yang tak kunjung usai.
“Hooh, kenapa?”
“Tungguin. Aku lapar.”
“Makan aja sendiri.”
“Ayolah, kita harus bersenang-senang abis ini.”
“Argh, okelah. Aku tunggu di depan.”
“OKE!”
Aya tampak bersemangat mendengar jawaban itu. Jawaban yang diharapkan. Lovi menunggu di balkon lantai 2. Melihat pemandangan malam yang sepi. Tak semeriah ibu kota, kota ini akan seperti kota hantu saat malam tiba. Semua orang memilih untuk berdiam diri di rumah. Hanya daerah tertentu saja yang masih ramai.
Lovi mengecek lagi handphonenya. Dia belum bisa membalas pesan dari Edgar. Sulit rasanya melakukan itu. Argh, kenapa dia harus segitu picky-nya menghadapi hal seperti ini? Bukankah ini hal yang sering terjadi pada orang dewasa? Lovi menarik nafas panjang.
“Ayo!”ajak Aya sambil tersenyum.
“Udah beres?”
“Yups. Kamu yang bikin semangat balik lagi. Emang ya, semua orang itu butuh pecutan biar bisa menunjukkan yang terbaik.
Mereka berjalan bersama menuju ke sebuah tempat yang ramai. Hanya butuh waktu tiga puluh menit dari kantor Pemda. Mereka hanya hening sebab tidak tahu harus bicara apa. Dan yang terutama, mereka sudah terlalu lelah dengan hari ini.
“Saya mau pecel ayam 2, udang asam manis, nasi 2, tahu tempe sama teh tawar 2.”
“Baik, ditunggu sebentar mbak.”
Tempat itu sudah semakin ramai. Bahkan ada yang baru saja datang dan segera pergi. Tak ada tempat lagi untuk mereka.
“Kita beruntung, Lov.”
“Berterima kasih sama ayang ku.”
“Ayang?”
“Itu.”ucap Lovi sambil menunjuk ke mobilnya. Bikin ekspektasi Aya langsung turun. Sial. Dia akan lebih senang kalau Lovi beneran punya pacar. Ya, di usia matang ini, pacaran tak perlu berlama-lama. Pacaran hanya jembatan untuk menikah. Ya, anggap saja probation sebelum jadi pegawai tetap. Ada kriteria yang lagi diuji. Jika ternyata tidak lolos seleksi, tinggal dipikirkan bagaimana cara mengakhirinya.
“Sial.”
“Jangan kecewa gitu dong.”
“Argh, diamlah. Makanannya sudah datang.”
Makanan itu disajikan dengan kondisi baru mateng. Jadi pasti panas banget. Keduanya sudah sangat lapar. Dan segera, menikmati makanan itu dengan lahap. Badan loyo akan kembali bugar. Atau sebaliknya, kantuk yang akan datang.
“Aku kemarin ketemu Adong.”ungkap Aya sambil meneguk teh tawar di gelasnya.
“Dimana?”
“Di tempat arisan.”
“Kok bisa sih kesana? Aku baru tahu kamu suka acara seperti itu.”
“Diam! Aku dipaksa ibu.”
“Hahaha. Terus gimana?”
“Argh, menyebalkan.”
Aya menceritakan semua yang terjadi. Fakta bahwa ia semakin membenci Adong. Sayangnya, benci itu dibarengi dengan ingatan akan dia. Seakan cowok itu terus menguasai pikirannya. Bikin hidup Aya jadi susah. Dan bikin dia berpikir untuk pergi dari kota ini.
“Dia ngomong gitu?”
“Ya, dia berpikir kalau aku dekatin Tommy karena kesal sama dia. Demi apapun, Tommy yang minta nomorku, Lov.”
“Aku tahu. Aku percaya padamu.”
“Sialan. Mentang-mentang sekarang hidupnya lebih makmur, dia jadi semena-mena menilai orang lain. Apa dia kira statusnya itu bisa menjamin segalanya?”
“Ay, tenanglah.”
“Aku gak akan bisa memaafkan dia.”
“Aku akan beri dia pelajaran, jadi kasih aku nomor Tommy.”
“Hah?”
“Berikan sekarang.”tegas Lovi dengan isyarat tangan. Aya memberikan handphone itu. Dan Lovi memasukkannya ke dalam kontak. “Aku akan tanya nomornya Adong. Biar aku yang bicara sama dia.”
“Argh, gak ada gunanya.”
“Kan belum dicoba. Percayakan padaku. Biar itu jadi urusanku.”tegas Lovi.
Dia menikmati sisa udang yang masih banyak. Lapar mata memang bikin manusia maruk. Seakan semua sanggup dihabiskan.
“Berhenti mikirin dia. Pacaranlah sama orang lain.”ucap Lovi ngasih saran.
“Ngaca dong, Lov. Kau juga sama.”
“Hahaha.”
Memang paling nyaman deep talk sama sahabat. Tak ada sakit hati dengan sesuatu yang menyakitkan. Anggap saja sebuah peringatan untuk berubah. Yups, biar gak jomblo dan bisa nikah.
“Aku juga mau cerita.”ucap Lovi setelah sekian lama hening di antara mereka. Hujan gerimis turun. Tempat itu mulai sepi walau ada beberapa pelanggan yang datang untuk membungkus makanan. Jadi tidak masalah jika meja itu mereka gunakan berlama-lama.
“Apa?”
“Aku gak mau kepedean. Tapi kurasa ini agak aneh.”
“Apa?”
“Aku termasuk orang yang peka. Menurutku ini ada maksud tertentu.”
“Ah, sial.”balas Aya menyerah. Bukannya langsung ke inti pembicaraan, Lovi malah bertele-tele. Gimana caranya Aya bisa mengerti? Konteksnya saja tidak dijelaskan. Bahkan sekelas profesor akan gila mendengar penjelasan Lovi.
“Edgar ngajak aku pergi lagi.”
Aya melongo dengan mulut terbuka lebar. Dia kira ini akan jadi berita ngaco yang tidak menarik. Ternyata ini jauh lebih menarik daripada ekspektasinya. Setelah sekian lama, Lovi jadi orang yang mengandalkannya untuk jadi tempat curhat. Aya merasa sangat terharu.
“Kapan?”
“Malam minggu ini.”
“Sudah dibalas?”
“Belum.”
“Balas sekarang!”
“Balas apa?”
“Iyain dong. Kapan lagi ketemu pria muda kaya raya, Lov?”
“Menurutmu, apa aku yang kepedean?”
“Jelas tidak!”tegasa Aya. “Diajak cowok malam mingguan bareng artinya bendera merah putih.”
“Hah?”
“Perjuangan!”
“Tapi aku,,,”
“Stop ngandelin cinta. Dicoba dulu. Kalau ngandelin cinta, sampai sepuluh tahun lagi juga gak bakal nemu. Contoh tuh si Nadya. Katanya mereka sudah ready mau nikah.”
“Emang iya?”
“Iya. Mungkin udah dipelet sama cowoknya.”balas Aya sambil tertawa keras. Lovi ikut menikmatinya. Dari segi wajah, Nadya terlalu cantik untuk pria itu. Tapi ayolah, wajah tak lagi jadi penentu untuk mendapatkan seseorang. Ada printilan lain yang juga jadi pemicu. Baik uang, kepribadian hingga pesona. Semua itu sangat mungkin masuk dalam kriteria.
“Pokoknya di terima ya.”
“Dipikirin dulu deh.”
“Eh, Josen!!”panggil Aya tiba-tiba. Ternyata cowok itu baru mau makan. Dia memesan dan langsung duduk di meja yang sama dengan Aya dan Lovi. Josen tampak sempurna dengan setelan seragam seorang guru. Sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya di masa lalu. Ya, takdir memang tidak ada yang tahu.
“Apa kabar, Ay?”
“Baik dong. Kau gimana?”
“Baik.”
“Eh, kalian pulang bareng aja. Kau gak bawa kendaraan kan?”
“Hmm, kebetulan engga.”
“Nice.”
“Jadi, kalian sengaja kesini atau emang ada urusan?”
“Sengaja. Mau bicarain kencan Lovi sabtu ini.”
Aya benar-benar mulut beracun. Gak bisa diajak kerjasama. Mulutnya ngerocos terus. Udah kayak p****t ayam. Josen tampak penasaran dan melihat ke arah Lovi.
“Cowok yang waktu itu jemput kamu?”
“What? Jemput? Kok gak ngasih tahu aku?”
“Udah. Aku kan bilang kalau kami ke mall bareng nyari diskon-an.”
“Tapi kamu gak bilang di jemput loh.”
“Lupa.”balas Lovi sambil tertawa. Dia kesal sampai memukul kaki Aya. Menyuruh cewek itu berhenti membicarakan Edgar.