Malam selalu memberi kesan tersendiri. Entah ketenangan atau malah suasana suram. Mobil melaju kencang di tengah sepinya jalanan. Dua orang itu hanya diam saja. Sebab dari tadi sudah menghabiskan energi untuk bicara banyak hal. Ya, Aya berhasil bikin suasana lebih hidup.
“Kamu beneran mau ngedate?”tanya Josen tiba-tiba.
Lovi langsung tertawa mendengarnya. Bahkan hal itu tak bisa dikatakan sebagai dating. Edgar cuma ngajak ketemuan. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Bisa saja Lovi yang kepedean dengan radarnya. Berpikir kalau Edgar menyimpan maksud lain. Padahal, bisa saja tidak.
“Enggak kok. Jangan percaya sama Aya.”
“Terus?”
“Ya, cuma ketemuan aja. Ngabisin malam minggu.”
“Itu artinya ngedate.”
“Hmm, ya udah kalau kamu mikir gitu.”balas Lovi mengalah. Ayolah, semua hal di dunia ini bisa dilihat dari bermacam-macam perspektif. Bisa saja benar jadi salah. Baik jadi tidak baik. Dan sebagainya.
“By the way, kapan jadinya kemping bareng? Kok semua pada sibuk gitu? Kayak gak pernah menjanjikan sesuatu.”
Semua orang semakin sibuk. Ada yang mau acara keluarga, reunian, hingga tidak enak badan. Jika ditelusuri, seakan semua orang tidak berminat. Padahal, Lovi udah ngebet banget mau pergi kemping.
“Kapan-kapan.”
“Ish, kalian semua ngeselin.”
“Gak hanya kami yang bentrok jadwal. Kamu juga kan? Semisal kita pergi minggu ini, kamu kan mau ngedate.”
“Sialan.”
Sekarang malah Lovi yang disalahin. Lovi agak kecewa. Entahlah, dia berharap sekali jika hal itu terjadi. Saat dimana mereka bisa mengabadikan segalanya di masa kini. Dan mengingat masa lalu yang tentu saja menyenangkan.
“Jangan ngambek gitu dong.”
“Ya, engga. Aku bakal mengusahakan semuanya. Aku pastikan, kita akan merealisasikan itu.”
Terlihat sekali wajah Lovi berambisi. Bikin Josen terkekeh. Josen memarkirkan mobil di depan rumah Lovi. Dan setelahnya dia pulang ke rumah. Wajahnya murung. Setelah tahu Lovi mengalami peningkatan ke arah dating, kenapa dia merasa tidak nyaman ya?
Jelas ini bukan cemburu. Hanya saja, Josen merasa tidak suka. Tidak suka jika Lovi dekat cowok lain. Sekali lagi, ini bukan cemburu. Inilah yang ia pikirkan. Dia menarik nafas panjang. Mengirim pesan pada pacarnya sebagai sapaan malam.
“Josen, kamu beli apa lagi?”tanya Bu Mantri kesal. Josen melipir mencari paketnya. Sebuah kotak besar yang ia beli dari pulau seberang. Bodo amat deh. Walau ongkos kirimnya cukup mahal, yang penting barang itu sampai di tangannya.
“Itu barang penting, ma.”
“Kamu cuma ngabis-ngabisin uang.”
“Udalah, ma. Anak muda itu banyak kebutuhannya.”dukung Pak Mantri.
“Betul, pa.”
“Eh, makan dulu baru buka paket.”tegas Bu Mantri.
Josen mengangguk. Dia segera ke kamar. Menaruh paket itu di atas meja dan menyusul untuk makan malam. Dia sengaja gak ngasih tahu kalau sudah makan. Ini hari penting untuk kedua orang tuanya. Perayaan untuk setahun Josen mengajar. Mama sengaja memasak banyak sekali makanan. Gak mungkin dong Josen melupakannya. Kasih dari orang tua harus diapresiasi dengan baik.
“Makan yang banyak ya, nak.”
“Makasih ma, pa.”
“Mama tuh pengen banget kamu cepet-cepet nikah.”
“Apaan sih?”
“Kata Lovi kamu udah punya pacar. Kalau begitu, kenalin sama mama dong.”
Josen menarik nafas panjang. Ternyata Lovi membuat percakapan gak jelas sama mamanya. Lihat saja, Josen harus balas dendam.
“Lain kali aja ma. Kalau sudah yakin.”
“Kapan yakinnya? Kalau jadi pria jangan plin plan.”ucap Pak Mantri menambahi.
“Iya, pa.”balas Josen singkat.
Ketika dewasa, beban akan bertambah banyak. Salah satu hal yang pasti adalah soal pernikahan. Budaya timur yang masih melekat. Memaksa semua orang harus menikah. Jika tidak menikah maka akan sama dengan nol. Semua yang sudah dicapai seperti tidak berguna. Argh, sangat memusingkan.
Josen langsung ke kamar setelah makan malam usai. Perutnya semakin membesar. Tadinya dia cuma pengen makan sedikit di tempat pecel lele. Siapa sangka ia malah ketemu Lovi dan Aya. Jadilah dia makan banyak. Lupa kalau di rumah ada yang nungguin.
Hendak tidur, mata Josen melihat paket besar itu. Dengan semangat, dia langsung membukanya. Perlengkapan kemping. Sangat lengkap mulai dari tenda hingga alat masaknya. Josen terkekeh. Dia juga menantikan hari itu. Mungkin bukan sekarang, pasti ada waktu yang tepat untuk mereka.
“Dia pasti senang kalau tahu ini.”gumamnya bangga.
Setelah itu, ia tertidur pulas. Besok harus berangkat pagi-pagi sekali. Sebagai seorang pekerja, hidup memang diburu waktu. Untuk liburan saja harus direncanakan dari jauh-jauh hari.
***
Jari tangannya mengetuk meja berkali-kali. Dia berpikir keras, haruskah melakukan hal ini? Berdasarkan testimoni dari orang sekitar, bicara dengannya akan menghancurkan hati. Lovi melihat nomor itu. Nomor yang diberi nama Adong Doi.
Setelah berpikir keras dengan kepala menunduk, dia menekan tombol panggilan. Ayo, bicara saja dengannya. Apapun yang dia katakan, jangan dimasukin hati.
“Hallo,”
“Hello, ini dengan Adong kan?”
“Iya.”
“Ini aku, Lovi.”
“Ah, i-iya?”
Setelah mendengar nama Lovi, nada suara ringan dan ramah itu berubah jadi suram. Damn! Kenapa Lovi jadi sakit hati sih? Seakan Adong gak pengen kalau Lovi nelpon dia.
“Apa kita bisa ketemu?”
“Aku sibuk.”
“Ayolah, sekali saja.”
“Tidak bisa. Maaf ya.”
Panggilan dimatikan. Sial. Rasanya Lovi ingin mencabik-cabik wajah cowok itu. Padahal dulu, dia yang paling ramah di antara yang lain. Kenapa sekarang jadi begini sih? Kesambet apa sih dia?
Lovi menelpon lagi. Dia sudah berjanji akan bodo amat dengan reaksi Adong. Dan kali ini, Lovi mau menggunakan cara kekerasan. Dilembutin gak mau, oke, mari saling baku hantam.
“Dengar ya! Jangan sok tahu soal Aya. Dan kalau mau dia gak dekat sama teman lo, lo suruh tuh si Tommy. Jangan dekati dia. Dia juga gak selera sama abdi negara kayak kalian. Gue harap, lo bilang ini sama Tommy! Gak ada alasan buat nyalahin Aya.”
Lovi kayak lagi ngerap. Bicaranya banyak banget dan cepat. Dan mungkin sudah bikin telinga Adong tersiksa.
“Udah gitu aja. Bye!”
Lovi langsung meneguk minuman di gelasnya. Dia merasa sangat panas. Kesal sebab amarahnya semakin besar. Ya, lumayan bikin puas juga. Daripada dipendam, mending langsung diungkapkan.
Setelah itu, Lovi tertidur pulas. Tidak ingin memikirkan apapun, biarlah besok jadi hari baru yang penuh tantangan dan rasa penasaran. Dia masih berharap sama Adong. Meski kelihatan benci, Lovi pengen banget cowok itu ikut kemping. Satu-satunya jalan adalah dengan mendamaikan hatinya.
Tiba-tiba dia ingat Visi. Ya, Visi adiknya Adong. Bukankah lebih baik bertemu adiknya dulu? Mungkin Visi tahu sesuatu. Sesuatu yang membuat Adong jadi seperti sekarang. Pria sombong dan pengecut yang seperti sengaja memusuhi teman-teman lamanya.