Perempuan itu datang dengan plastik besar. Dia menaruh pesanan di atas meja. Sebagai manusia baik hati, mereka sering gantian beli makanan. Ya, anggap saja simbiosis mutualisme. Kali ini Aya yang melakukannya.
Dia menaruh nasi padang, minuman dan gorengan di kubikelnya Lovi. Lovi menghentikan aktivitasnya dan hendak makan. Terkadang, rasa bosan menyerang kalau makan di kantin. Jadi beli di luar kadang lebih menggiurkan.
“Lov, ada berita baru.”
“Apaan?”
“Bos besar selingkuh. Istrinya baru datang dan ngacak-ngacak ruangannya.”
“Serius?”
“Ho Oh. Selingkuh-nya sama Bu Lasri.”
“Bu Lasri yang ono?”tanya Lovi dengan mata melotot. Aya mengangguk. Gila banget. Bahkan di daerah sekecil ini, selingkuh sudah jadi hal lumrah. Lovi masih ingat kalau dulu hal seperti ini jarang terjadi. Hmm, atau mungkin saja dia tidak tahu. Yang pasti, hanya orang bermental baja yang sanggup melakukan itu. Mungkin mereka tidak lagi memikirkan harga dirinya dan keluarganya.
“Terus sudah gimana? Pasti heboh banget.”
“Katanya bakal dilaporin ke dinas. Gila sih.”
“Jangan gitu ya, Ay.”
“Sialan. Punya suami aja belum.”
Lovi tertawa mendengarnya. Dia menikmati makan siang itu dengan lahap. Semakin siang, tempat itu makin sepi. Rata-rata pergi ke kantin untuk makan.
“Kemarin aku telpon Adong.”
Aya melongo dengan mata melotot. “Bilang apa?”
“Ngasih pelajaran dong. Dia gak boleh gituin sahabat aku.”
“Ah, aku sayang banget sama Lovitha ini.”goda Aya sambil genit. Bikin Lovi agak menjauh karena geli. Ayolah, persahabatan mereka itu cukup dengan perbuatan. Gak usah ada kata-kata manis yang kerap bikin geli. Iyuh.
“Kalau memang sayang, kita harus kemping.”
“Kapan-kapan ya.”balas Aya singkat. Menyebalkan.
Lovi mengerjakan beberapa hal yang datang. Email dari kepala yang mengharuskannya bekerja cepat. Walau masih jam istirahat, Lovi ingin mengusahakannya.
Hari-harinya penuh kegundahan. Mengingat minggu ini ia harus pergi bersama Edgar. Ayolah, dia gak perlu melarikan diri. Hidup memang harus dijalani. Tidak elok rasanya menolak dengan alasan yang tidak masuk akal.
“Ayo, fokus-fokus.”tegasnya pada diri sendiri.
Tepat pukul 16 WIB, dia menyerahkan tugas itu. Dan tentu saja menunggu jika ada revisi yang dibutuhkan. Dengan minum segelas kopi panas, ia menunggu di kursi lantai 2. Melihat pemandangan membosankan yang jadi makanan sehari-hari. Dunia gak akan berubah, yang berubah hanya cara pandang manusianya.
Di awal kerja disini, Lovi merasa sangat senang dan nyaman. Lega sebab masih bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan yang asri. Sekarang? Jangan ditanya. Lovi muak dengan semua ini. Ingin rasanya pergi keliling dunia. Menjelajahi segala tempat.
“Lovi,,,”
“Selamat sore, pak.”
“Kebetulan sekali. Tadinya saya mau ke ruanganmu.”
“Ah, i-iya pak.”
“Hasil kerja yang kamu kirim bagus banget.”ucapnya membuat perasaan Lovi senang. Ayolah, siapa sih yang gak senang dipuji sama atasan? Ini sih tanda-tanda baik yang tak boleh dilewatkan.
“Terima kasih, pak.”balas Lovi sambil tertawa lebar.
“Oleh sebab itu, saya butuh kamu untuk melakukan sesuatu.”
Damn! Harusnya dia disuruh pulang. Kok jadi begini sih? Lovi tuh sengaja cepat biar mendapat pujian dan apresiasi. Bukan sebaliknya. Kenapa malah dikasih tugas tambahan sih?
“Tapi pak, saya selesaikan buru-buru karena mau pulang cepat. Jadi…”
“Saya tahu. Tapi kerjaan kamu rapi dan bagus. Tugas ini bukan buat hari ini, tapi masih seminggu lagi.”
Pria itu memberi tanggung jawab pada Lovi untuk ikut mempersiapkan sebuah seminar. Lovi tak perlu menjadi pembicaranya. Dia hanya perlu mempersiapkan materinya.
“Ada dana yang lumayan. Jadi kamu bisa dapat segini.”
Anjir! Malah ditawari tambahan gaji lagi. Gimana gak tergiur? Baiklah. Mungkin ini yang disebut rejeki nomplok. Lagian ya, bikin materi gak sesusah itu. Lovi sudah biasa menulis hal-hal seperti ini.
“Ah, baik pak.”
“Kamu bisa pulang. Nanti saya kirim tema dan hal-hal terkait materinya.”
“Siap, pak. Terima kasih.”
Lovi bersenandung dan bersiap untuk pulang. Bikin Aya ketar-ketir.
“Gak adil! Kok pulang duluan?”
“Dikasih privilege sama bos. Bye!”
Lovi bersiap untuk pulang. Dia senang banget. Kemungkinan besar bisa tiba di rumah saat hari belum gelap. Semangat banget sampai bikin moodnya naik. Tercipta seulas senyum di wajahnya. Argh, senang banget.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sampai akhirnya, dia harus berhenti karena ada beberapa orang polisi yang meminta surat-surat. Tak seperti biasanya, ada acara besar di sebuah gedung. Sepertinya ada kunjungan dari petinggi negara. Biasalah, kota ini selalu jadi langganan orang sana. Mungkin karena tempatnya yang masih asri yang punya pemandangan cantik.
“Permisi kak, kami boleh minta surat-suratnya?”
“Ah, baiklah. Tunggu sebentar.”
Lovi mencari dompetnya. Dia mengecek sampai berkali-kali. Dan gak ketemu. Dia lupa mengambilnya dari laci meja. Oh my God, dia melirik ke polisi yang tampak menunggu. Tiba-tiba matanya melihat seseorang. Seseorang yang sedang sibuk merapikan kursi untuk acara di gedung itu.
“Bentar pak!”ucapnya tegas.
Dia bergegas menemui Adong. Menarik tangan cowok itu, hingga membuat dia heran.
“Dong, please, bantuin aku.”
“Hah?”
“Dompetku ketinggalan di kantor. Dan aku bakal ditilang karena gak nunjukin SIM dan lain-lain.”
“Argh,”
“Ayolah. Please, kali ini aja.”ucap Lovi sambil meraih lengan Adong. Bikin Adong tak berdaya untuk menolak. Akhirnya dia bicara dengan temannya. Lihat kan, selain membuat sisi buruk, orang dalam juga punya sisi positif. Lovi sangat lega. Adong berusaha keras untuk membuat orang itu percaya.
“Makasih ya.”ucap Lovi saat mereka duduk di sebuah warung makan. Lovi memaksakan diri untuk ikut. Ayolah, dia gak bisa pergi begitu saja. Sebagai ucapan terima kasih, temani Adong menikmati suapannya.
“Iya, sama-sama.”
“Dan maaf soal waktu itu.”ucap Lovi memberanikan diri.
“Hah?”
“Soal yang ditelpon.”
“Ah, iya. Tidak masalah.”
Lovi berpikir keras. Mungkin ini salah satu kesempatan yang dikasih. Ya, dia bisa memperbaiki semuanya. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Selagi ada, mari manfaatkan.
“Apa kabar?”tanya Lovi setelah beberapa saat. “Sorry baru nanyain ini. Selama ini aku gak ada kesempatan buat nanya.”
“Baik.”
“Aku tidak merasa begitu.”Lovi menatapnya dalam. “Aku merasa kau tidak baik-baik saja.”
“Kenapa bisa berpikir kayak gitu?”
“Kalau kau cuma menghindari Aya, aku bisa paham. Ya, sebab dia mantanmu kan? Tapi menghindari kami, itu gak masuk akal.”
“Bukankah itu wajar? Tidak bertemu bertahun-tahun kerap bikin rasa canggung kan? Aku hanya menghindarinya.”
“Oke. Sekarang alasanmu masuk akal.”tegas Lovi pura-pura paham. Dia sih gak percaya. Ya kali, Lovi juga pernah merasa enggan. Tapi kalau berpapasan setidaknya ngasih salam dong. Atau sekedar senyum aja udah cukup.
“Oleh karena itu, aku mau ngajak kemping. Mau gak?”
“Aku gak punya waktu untuk itu.”
“Gak mungkin. Aku tahu semua jadwalmu dari Tommy. Dan jangan nyalahin dia, sebab aku gak pernah ngomongin kamu sama dia. Dia cuma tertarik sama Aya. Dan itu gak ada hubungannya sama kamu kan?”
Adong merasa terpojok. Lovi mengecek handphonenya. Well, jadwal itu masih ada di galeri handphonenya. Dia melihat waktu fleksibel dua minggu lagi.
“Oke, kita pergi dua minggu lagi. Tunggu konfirmasi dari aku ya. Aku pergi sekarang, soalnya udah jam segini.”
“Lov, aku benar-benar gak bisa.”
“Kenapa?”
Adong menarik nafas. Dia menatap Lovi serius. Apapun yang dipikirkan Adong, Lovi merasa ini sangat serius. Tapi Lovi sangat ingin mendengarnya. Dia yakin banget kalau Adong menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang mungkin berat untuk diungkapkan.
Ayolah, semua orang punya masa lalu dan masalah. Bahkan Avius yang gagal dalam pernikahan menyempatkan diri untuk mengungkapkan isi hatinya. Tak pergi begitu saja walau dunia sangat mengecamnya. Tapi waktu sudah berpihak kepadanya. Mantan istrinya itu kena karma.
“Baiklah. Aku akan ikut.”
Ternyata Adong memilih ikut daripada mengungkapkan kebenarannya. Walau kecewa, Lovi memperlihatkan seolah-olah dia puas dengan jawaban itu.
“Fine. Tunggu informasi dari aku ya.”ucapnya sambil merapikan diri dan meraih tas yang sedari tadi di atas meja. “Makasih buat yang tadi.”ucapnya mengakhiri.
Lovi mendesah dengan pikiran kacau. Dia bahkan belum bisa mencari tahu soal Visi. Tentang rumah Adong, ternyata mereka sudah pindah. Entah dimana sekarang tinggal. Lovi ingin tanya langsung sama Aya. Tapi Aya langsung emosional kalau ngomongin Adong.
“Jos, mau ngobrol bentar? Aku udah otw pulang.”ucapnya via telepon. Dia mempercepat laju agar cepat sampai di rumah.