.46. Dicintai Tiba-Tiba

1207 Kata
Senang rasanya ada di zona ini. Saat Lovi sudah benar-benar melupakan Josen. Dia tak perlu menaruh hati pada pria yang seharusnya memang bukan miliknya. Sederhananya, manusia dikasih kesempatan untuk mengubah takdir. Tapi jika tidak bisa, namanya memang tidak berjodoh. Selesai. Dia bisa menatap mata Josen tanpa harus menyakiti diri sendiri. Ya, semua semakin jelas kan? Mereka dibuat berakhir dengan status seorang teman. “Jadi ada apa? Tumben kamu ngajak ngobrol setelah kerja banting tulang?” “Argh, gimana ngomongnya ya.” Josen tampak serius mendengarkan. Lovi takut banget bilang sama yang lain. Mereka sudah terlanjur membenci Adong. Kalau tiba-tiba Adong ikut, bisa saja mereka malah gak mau pergi. “Hmm, gimana kalau kita kemping dua minggu lagi?” “Ah, iya. Aku juga tadinya mau bilang gitu sama kamu. Soalnya disitu ada libur kan. Jadi pas banget bisa digabung sama weekend.” “Terus, tadi aku ketemu Adong.” “Hah? Dimana?” “Di jalan. Dia bantuin aku biar gak di tilang.” “Masa sih?” “Dan aku ngajak dia ikut kemping.” “Kau gila?” “Ayolah, jangan bikin aku makin merasa  bersalah. Aku benar-benar berharap kita semua bisa berkumpul lagi.” Ada kesedihan di wajah Lovi. Sadar gak sih kalau semua orang sudah mengecewakannya? Ya. Dia orang yang paling berharap kalau perasahabatan ini akan abadi. Dia juga sering meninggalkan postingan di grup f*******:. Awalnya sih direspon baik. Lama kelamaan kok jadi sarang laba-laba. Sepi seperti tak bertuan. “Ehm, sebenarnya aku gak masalah. Avius bakal ngerti karena mereka pernah chattingan meski jarang. Masalah utama itu Aya.” “Makanya, jangan ngasih tahu sama Aya.” “Lah,” “Pokoknya gitu dulu deh. Please.” “Ya udah.”balas Josen mengalah. Perkataan yang bikin Lovi langsung sumringah.  “Tadi aku nanya Adong, soal kabarnya. Dia kelihatan sedih.” “Argh, itu cuma gimmick.” “Apa kau pernah ketemu Visi?” “Visi?” “Visi, Jos. Adiknya Adong. Dulu kan kita sering ke rumahnya.” “Ah, itu.”Josen berusaha mengingat-ingat tentang Visi. Adik perempuan yang sudah tak terlihat lagi di kota ini. Entah kemana dia pergi. Tak banyak informasi tentang dia. Bahkan anak kuliah sekalipun, meluangkan waktu untuk bertemu keluarganya. Dia jarang sekali pulang.  “Aku gak tahu apa-apa.”ucap Josen setelah selesai mengenang masa lalu. “Intinya, Adong bakal ikut. Aku akan kabarin Avius.” “Apa Adong begini karena Visi?” “Emang Visi kenapa?” “Kekurangan membuat orang insecure. Bahkan banyak orang yang membenci pertemuan karena takut dikucilkan. Atau bahkan merasa rendah diri. Makanya dia menghindar. Antara Visi melakukan sesuatu atau siapa kek.” “Stop berpikir negatif. Mau makan gak?” “Hmm, emang ada apa?” “Mama baru masak ayam gulai. Katanya Om sama Tante lagi ke luar kota kan? Makan disini aja.” “Ya udah. Ini karena dipaksa loh.” “Kampret.” Sebagai tetangga selama bertahun-tahun, mereka emang sering berbagi apa saja. Apalagi ketika dulu masa paceklik, tomat saja bisa saling pinjam. Begitulah hidup. Siapa lagi yang bisa diminta tolong kalau bukan tetangga. Dan beruntung, tak terlalu banyak tetangga rese di sekitar rumah Lovi. “Makan yang banyak ya, Jos. Gak usah segan-segan.”teriak mama dari dapur. “Iya, tante. Terima kasih.” “Ayo makan.”ajak Lovi dengan ekspresi bersemangat. Makanan selalu membuatnya gembira. Ayolah, makanan yang enak sangat memuaskan. “Tante gak makan bareng?” “Engga. Dia makan sama papa.”ucap Lovi menjelaskan. Sejak sakit, papa harus diurus 24/7. Hal yang bikin Lovi cemas adalah usia orang tua yang tidak muda lagi. Ketika semua orang menikah, dia sebenarnya tidak apa jika menikah di hari lain, di bulan lain atau di tahun lain. Yang jadi masalah adalah keadaan orang tua. Masih adakah mereka hingga hari itu tiba? Kenyataan itu menjadi salah satu beban orang dewasa. Beban yang amat menyengsarakan.  “By the way, aku udah beli perlengkapan kemping.” “Eh, iya? Kok gak bilang sih?” “Ya, biar semua orang gak harus mikirin itu. Kita tinggal berangkat.” “Ih, kok jadi terharu ya.”balas Lovi sambil tertawa lebar.  *** Di Usia matang, ngungkapin cinta udah kayak memesan es teh manis. Singkat, padat dan jelas. Tak penting lagi nyusun kata-kata gombalan. Itu udah gak so sweet dan bahkan terasa aneh. Tapi diginiin juga bikin Lovi ketar-ketir. Gimana nggak, Edgar memperlakukannya bak permaisuri. Dengan alasan kalau Edgar beneran suka sama Lovi. Jelas Lovi bingung.  “Aku gak butuh apa-apa sekarang. Cuma mau ngungkapin aja.” “Tapi aku,,,” “Gak usah merasa terbebani.” Edgar kemudian mengajaknya menonton. Yash, dia nge treat like a queen. Impian semua perempuan di muka bumi ini. Tapi Lovi belum menyukainya. Susah sekali mencintai orang lain. Apalagi bagi Lovi yang begitu lama sendiri.  “Kamu gak takut ngabisin uang segini banyak?”tanya Lovi saat mereka makan lagi abis nonton. Lovi udah ngebet mau bayar, tapi cowok itu gak mau. Katanya sih itu etika seorang pria yang mengajak seorang wanita untuk bertemu. Siapa yang ngajak, dialah yang seharusnya bayar. “Aku udah baikan sama papa.” “Kok bisa?” “Aku tunjukin performa yang baik. Dan kemarin aku baru dapat penghargaan sebagai pegawai terbaik. Papa tentu bangga dan mengembalikan semua fasilitas yang ada.” “Cuma gara-gara itu? Bukannya kamu dipaksa balik ke Jakarta?” “Iya. Tapi aku ngasih alasan lain yang bikin dia mengalah. Ah, lupakan soal itu. Kita makan aja, keburu dingin.” “Ah, i-iya.” Edgar benar-benar gila. Ya, dengan pedenya membuat alasan yang belum tentu akan terwujud. Sepanjang hidupnya, Edgar tak pernah ngasih tahu orang rumah soal pacar dan sejenisnya. Sampai kadang dia dikatain homo. Ayolah, bukan karena Edgar gak pernah pacaran. Dia sering pacaran. Bahkan sudah mengoleksi banyak mantan sepanjang hidupnya. Dia hanya merasa kalau para perempuan itu hanya pelengkap hidup yang sementara. Tak ada rasa cinta dari dalam hatinya. Cinta pertamanya di jaman SMA sudah cukup ahli membuatnya stuck selama bertahun-tahun. “Kamu mau pulang kapan? Kamu udah gila ya? Masih bisa bertahan dengan gaji kecil itu?” “Aku baru dapat penghargaan sebagai pegawai terbaik di Rumah Sakit. Papa gak mau ngasih selamat?” “Buat apa? Apa gunanya itu? Papa bisa ngasih lebih dari itu kalau kamu di rumah sakit temannya papa.” “Tak bisakah mengapresiasi usahaku?” “Semua yang kamu lakukan di kota itu tidak pantas diapresiasi. Kita lihat saja, sampai kapan kamu bertahan dengan uang yang sedikit itu.” “Aku suka sama seseorang disini.” “Cewek atau cowok?” “Astaga Pa. Sudah jelas, ceweklah. Apaan sih?” “Kamu bohong kan?” “Gak bohong. Hanya saja, belum tentu dia suka sama aku.”balas Edgar dengan nada suara sedih. Papanya langsung sadar kalau Edgar jujur kali ini.  “Tetap disana dan kau harus mendapatkannya.” “Papa serius?” “Iya. Tahu kalau kamu gak homo saja udah bikin papa senang. Mamamu bisa gila kalau tahu.” “Tapi, papa gak masalah kalau dia orang biasa?” “Terserah. Mau pedagang keliling pun, papa tidak masalah. Itu jauh lebih baik dari apapun.” Ternyata orang tuanya sudah sangat putus asa. Bikin Edgar lega sekaligus sedih. Dia sudah membuat orang tua kepikiran terlalu jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN