Mau sampai kapan Aya harus berpura-pura? Pura-pura bahagia di depan semua orang? Yang dia rasakan adalah kehampaan. Bukan karena dia kembali ke tempat ini. Semua sudah terjadi begitu lama. Saat ia sudah dewasa. Banyak kejadian yang terasa membosankan. Punya pacar seperti perkara baru. Mungkin itu juga yang bikin dia putus sama pacarnya. Ya, dia hanya bertingkah bahagia. Di dalam kenyataannya, dia tak bahagia sama sekali.
Kembali ke kampung halaman tak membuat kehampaan itu hilang. Walau Lovi sedikit membantunya menikmati hidup, ia masih tak bisa lepas dari masa lalu. Dia masih ingat dengan jelas saat papanya meninggal. Dia tidak bisa pulang. Pekerjaan membuatnya tak mampu melakukan apa-apa.
Menyesal? Tentu saja. Tak ada yang marah akan keputusan itu. Tak ada yang menyalahkannya karena tak datang. Dia memilih untuk menyalahkan diri sendiri.
Puncak kesakitan terbesar adalah ketika menyalahkan diri sendiri. Pada diri sendiri saja begitu, bagaimana mau bahagia?
Semua orang senang saat ia pulang, tapi ia merasa semakin hampa. Tidak sanggup mengunjungi makam papanya. Dan kerap kali, dia menangis saat menyendiri.
Sama seperti di siang hari ini. Saat semua orang makan siang, ia merenung dengan headset melekat di telinga. Mendengar sebuah lagu sendu. Tak terasa, air mata menetes. Air mata dibalik wajah datarnya. Hingga sebuah langkah kaki terdengar. Dia langsung mengambil tissue dan memastikan wajahnya really fine.
Lovi menenteng beberapa plastik makanan. Kebaikan hati Lovi seperti malaikat tak bersayap. Sudah dari dulu dia begini. Memberi tanpa mengharapkan kembali. Bahkan dulu, dia sering bawa permen terus dibagikan ke semua orang. Kebaikan hatinya itu kerap disalah gunakan oleh orang-orang jahat.
“Ayo makan.”
“Aku lagi gak selera, Lov. Kan tadi udah bilang.”
“Mana bisa gitu. Kalau gak makan nanti sakit.”paksa Lovi. Aya jadi tertawa mendengarnya. Mengalah dan menikmati makanan itu. Serunya ngobrol sama Lovi adalah bahwa Lovi seorang penjaga rahasia yang sangat baik. Bahkan rahasia di masa lalunya seperti terkubur dalam-dalam.
“Jadi fiks ya, tanggal segini kita kemping.”
“Ini sudah ketiga kalinya loh. Aku kan udah bilang iya.”
“Tahu kok. Aku cuma memastikan. Soalnya kamu gak bisa dipercaya.”
“Sialan.”
“Hahaha.”
“Emang Josen sama Avius pada bisa?”
“Bisa. Bahkan Josen udah beli perlengkapan camping. Jadi kita cukup bawa badan aja.”
“Serius? Gila ya. Aku kira kamu yang paling ngebet, ternyata dia juga.”
“Ya, hati siapa yang tahu kan?”
Aya mengangguk paham. Well, setidaknya dia punya orang yang bisa diandalkan. Meski hidup terasa kosong, kehadiran orang lain kerap memberi warna baru. Sama seperti Tommy yang semakin gencar mendekati Aya.
“Lov, si Tommy benar-benar gak ada kerjaan. Masa aku di chat setiap hari?”
“Itu artinya suka.”
“I know. Tapi aku gak suka sama dia.”
“Ah, ternyata berteman bisa bikin kita bernasib sama ya.”
Mitos atau engga, pertemanan memang kerap menyamakan beberapa hal. Seperti siklus menstruasi yang berdekatan sehingga tipe cowok. Lama kelamaan, keduanya jadi banyak kesamaan. Mitos yang terasa sangat nyata. Atau mungkin ada penelitian yang membuktikannya?
“Apa maksudmu?”
“Lupakan.”
“Lovi! Kamu gak bisa keluar dari tempat ini kalau gak cerita!”tegas Aya gemas.
“Hmm, Edgar.”
“Edgar kenapa?”
Lovi talks about everything. Semua yang terjadi beberapa hari yang lalu. Saat Edgar menyatakan perasaannya. Demi, kata-kata itu masih terngiang-ngiang di kepala Lovi. Sulit dilupakan sebab sangat membuat syok.
“Gils. Ya udah, kamu terima kan?”
Lovi menggeleng.
“Ditolak?”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Bodoh!”
“Apaan sih?”
“Orang sekelas Edgar masa di tolak?”
“Kamu juga. Orang sekelas Tommy ditolak.”
Keduanya langsung terdiam. Masing-masing introspeksi diri. Ayolah, mereka bernasib sama kali ini. Sama-sama dicintai oleh orang yang tidak mereka cintai. Dan sebenarnya keadaan ini gak mengenakkan. Aya gak bisa menceramahi Lovi, begitupun sebaliknya.
Jika dilihat dari kisah Nadya, semua terasa nyata. Tapi siapa yang bisa menjamin masa depan. Kisah cinta orang lain belum tentu sama dengan kisah cinta kita. Tak ada kepastian untuk perasaan.
“Argh, aku bisa gila.”ucap Lovi sambil mengacak-acak rambutnya.
“Gimana kalau kamu tentukan setelah kemping.”
“Apa hubungannya?”
“Kita tanya yang lain. Mungkin mereka punya pendapat yang lebih masuk akal.”
“Maksudmu Avius, Josen sama…”Lovi hampir keceplosan. Gila banget. “Ah, Avius sama Josen?”
“Yups.”
Bukan ide yang buruk. Terkadang, jalan pikiran cowok lebih baik daripada jalan pikiran cewek. Seperti kata pepatah, cowok lebih mengandalkan logika daripada perasaan. Mari percaya pada pepatah itu.
“Boleh juga sih.”
“Ah, aku ke toilet dulu.”
“Oke.”
Aya berjalan dengan menghela nafas. Dunia ini semakin sulit saja untuk dihadapi. Semakin dewasa, semua jadi terasa berat. Bahkan mengelilingi dunia sekalipun tak membuatnya ahli dalam menghadapinya.
***
Pria itu berjalan melewati ibu-ibu yang sedang mengobrol di depan sebuah warung. Mereka tampak berbisik-bisik. Dia tetap berjalan dengan percaya diri. Berat sekali menjalani hidup yang seperti ini. Apa Avius pindah saja? Ya, menjalani hidup yang baru tanpa seorang pun mengenalnya.
“Kamu udah pulang?”
“Iya, ma.”
“Ada masalah?”
Terlihat dari wajah Avius. Wajah dengan penuh rasa kesal. Meski sudah terbiasa, dia juga punya batasan. Ada saat pelik ketika emosinya tak bisa dikontrol. Dan ya, itu yang terjadi saat ini.
“Aku cuma kesal sama ibu-ibu di warung itu. Mereka sibuk menggosip tentangku.”
Mama terlihat sedih mendengarnya. Dan segera memeluk Avius erat. Mama yang di masa mudanya sibuk bekerja pelan-pelan memperbaiki diri. Sekarang, dia menaruh perhatian seratus persen untuk Avius.
“Kalau kamu mau pindah, mama tidak masalah.”
“Tapi aku gak mau ninggalin mama sendirian.”
“Kita bisa pindah bareng.”
Keputusan yang bikin Avius melotot. Bingung, heran dan tidak menyangka. Mama segitu perhatiannya. Rumah ini sangat berarti untuk mama. Dan ya, rumah ini juga baru di renovasi setahun yang lalu. Akan sangat merugikan jika mereka pindah.
“Ah, aku pikir-pikir dulu ma.”
“Pokoknya mama ikutin kamu. Sudah cukup kamu yang ngikutin mama selama ini.”
Avius benar-benar dilema. Dia duduk di kursi dengan pikiran yang membingungkan. Hingga akhirnya sebuah pesan datang ke grup. Grup berisi sahabat-sahabatnya.
“Ah, oke.”gumamnya.
Lovi hanya ingin mengingatkan soal jadwal kemping. Ya, cewek itu paling semangat untuk hal seperti ini. Dia pasti lagi membayangkan sesuatu yang menyenangkan. Dasar.
Dia menarik nafas dan memikirkan dengan matang. Dia memang harus mengambil keputusan. Tapi bersenang-senang juga tidak masalah. Mungkin dengan kemping, dia bisa memutuskan harus bagaimana.
“Ma, aku pikirin dulu ya.”
“Iya, Av.”
“Aku juga mau kemping hari jumat minggu depan. Sama teman-teman SMA kok.”
“Iya. Tapi hati-hati ya.”saran mama dengan senyuman merekah di wajahnya. Dia tahu banget kalau mama akan sedih kalau dia sedih. Argh, dia benar-benar merasa bersalah. Keputusan untuk menikahi Naisha adalah kesalahan terbesar.