Josen menunggu setelah memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Dimana-mana, cewek selalu lama dalam melakukan persiapan. Kayak mau pindahan aja. Lebih kaget lagi waktu Josen melihat isi bagasi. Gila. Ini banyak banget. Terlalu banyak barang hingga membuatnya pusing.
Lovi muncul dengan tampilan sederhana yang cantik. Dia terlihat sangat ceria. Tak lupa, lipstik merah kesayangannya yang selalu menempel di bibir mungil itu.
“Rempong banget sih?”
“Apanya yang rempong. Barang-barang ini pasti kita butuhkan. Kita kemping gak cuma sehari Jos. Lagian, aku bawa banyak makanan. Aku yakin banget kalau Aya sama Avius gak bakal bawa apa-apa.”
“Ya, mereka maunya tinggal menikmati.”
“Itu dia. Ayo, let’s go.”
“Lov,”ucap Josen sambil menggenggam tangan Lovi.
“Iya?”
“Adong beneran ikut? Gak bakal jadi masalah kan?”
“Hmm, tenang aja.”balas Lovi menyakinkan.
Sesuai kesepakatan, Adong bakal menunggu di persimpangan masuk ke daerah pegunungan. Jadi gak ada kesempatan Aya untuk pulang. Siapa yang mau nganterin dia pulang? Ya, jebakan ini diharapkan berhasil. Lovi bersenandung saking senangnya. Bikin Josen tertawa kecil.
Setelah menjemput ke rumah masing-masing, mereka berangkat. Sesuai dugaan, Aya cuma bawa ransel kecil. Yups, barang berisi alat make up dan pakaian. Gak ada persiapan semacam snack atau makanan lainnya. Sedangkan Avius cuma bawa tas dan kamera kesayangannya. Sepanjang perjalanan, dia memotret beberapa momen. Baik di dalam ataupun di luar mobil.
Sampailah mereka di persimpangan yang menuju ke daerah pegunungan. Mobil berhenti dan terlihat jelas kalau Adong ada disana. Dia termasuk orang yang penuh persiapan. Tas travel besar dengan sepatu yang tepat untuk bepergian.
“Kok berhenti?”tanya Aya bingung.
“Ay, kita masih punya teman satu lagi.”ucap Avius sambil membuka jendela. Melambaikan tangan pada Adong.
Aya melihat semua orang. Tak ada yang kaget selain dirinya. Dia kesal dan menatap tajam Lovi.
“Ini kerjaan mu?”
“Ay, ayolah.”
“Aku gak nyangka dikhianati kayak gini. Aku pergi aja.”tegasnya. Dia membuka pintu. Adong kira hendak membiarkan dia masuk. Sedang Aya berjalan meninggalkan mobil. Lovi menarik nafas dan berlari mengejarnya.
“Ay, maafkan kalau aku berbohong. Tapi aku benar-benar menginginkan ini.”
“Terus, cuma demi keinginan egoismu itu, aku yang dikorbankan?”
“Gak ada yang dikorbankan kok.”
“Kamu tahu apa yang dia lakukan sama aku?”
“Tahu. Tapi kurasa kamu berlebihan. Apa mungkin kamu masih menyukainya?”
“Damn! Apa maksudmu?”
“Avius sama Josen juga digituin sama Adong. Aku juga. Kau kira dia gak menghindari kami juga? Tapi bukan itu intinya. Aku mau kita menikmati kemping bareng-bareng. Kalau kamu beneran udah gak ada rasa sama dia, harusnya reaksimu sama kayak Avius dan Josen.”
Aya merasa sangat terpojok. Dia kesal tapi juga gak punya pembelaan diri. Benar kata Lovi, seharusnya dia biasa aja. Semakin menghindar, maka cowok itu akan semakin senang. Menjijikan.
“Oke, tapi aku gak mau duduk disamping dia.”
“Oke. Aku pindah ke belakang.”ucap Lovi mengalah. Akhirnya Aya mau masuk lagi ke dalam mobil. Rencana berhasil.
Perjalanan itu tidak terlalu jauh. Hanya karena ada kemacetan saja. Beberapa mobil tampak mengantre. Sebab ini libur panjang, semua orang hendak menikmati indahnya pemandangan di tempat itu.
Satu-satunya yang bicara bebas cuma Lovi. Sebab Josen dan Avius juga merasa canggung. Sedangkan Aya sibuk mengomel dan menindas Lovi. Ya, seakan semua yang dia lakukan salah. Ini adalah bentuk balas dendam cewek itu.
Beberapa menit setelah tiba, mereka memasang tenda. Gila sih, pemandangan disini sangat bagus. Cocok banget mengambil foto untuk mengabadikan momen.
“Kenapa ketawa?”tanya Lovi kesal. Avius tampak sedang meremehkannya.
“Ngapain bawa beginian sih? Kamu mau pindahan?”
Lovi membawa perlengkapan masak yang cukup lengkap. Bisa dikatakan terlalu banyak untuk ukuran orang yang mau kemping.
“Diam aja deh.”
“Hahaha.”
“Diem, Av.”
“Iya, bawel.”
Josen mulai mendekati Adong. Mari ikuti keinginan Lovi. Lagian, gak enak juga cuek sama dia. Bikin suasana gak nyaman. Well, Adong udah gak sama seperti dulu. Dia tampak lebih kalem dan cool. Tak banyak bicara. Padahal dulu dia ngomong aja udah kayak cewek.
“Kau bikin suasana gak nyaman.”ucap Aya sambil menaruh air di dalam panci. Mereka hendak memasak sajian pertama.
“Jangan berpikiran seenaknya.”
“Ih, beneran. Lihat Josen sama Avius. Terpaksa mereka menurunkan ego masing-masing.”
“Bagus dong. Itu artinya, kamu juga harus menurunkan egomu.”
“Najis.”
“Ay, daripada ngomongin itu. Mending kamu cuci ini dulu.”
Aya menerimanya dengan wajah kesal. Lovi jadi memperhatikan Adong. Argh, semua pasti diawali dengan kecanggungan. Tapi ayolah, semua itu bisa berakhir. Badai saja bisa berlalu, apalagi hubungan yang tidak baik.
Momen seperti ini harus diabadikan dengan baik. Makan bareng-bareng hingga bermain sepuasnya. Bahkan ada saja tingkah konyol dari Josen. Penguntit tenda orang lain. Dia kepo banget siapa apa yang dilakukan orang-orang itu. Seperti tidak punya kerjaan.
“Ada yang mau ikut ke air terjun?”tanya Avius.
“Aku ikut.”balas Josen bersemangat.
“Aku disini aja.”ucap Adong datar.
“Aku ikut!!”teriak Aya. Bikin mata Lovi melotot. Fiks, Aya tahu persis kalau Lovi juga ingin ikut. Tapi gak mungkin ngebiarin Adong disini sendiri. Dasar picik.
“Kalau mau pergi, pergi aja.”ucap Adong lagi.
Lovi benar-benar dilemma. Gak mungkin dong dia ninggalin Adong seorang diri? Lovi tak akan setega itu. Dia mengikuti skenario picikny Aya. Tak ikut pergi demi menjaga perdamaian.
“Adong, makasih ya udah ikut.”ucap Lovi sambil merapikan peralatan masak. Dia duduk di depan bara api yang masih menyala. Bara yang sangat menghangatkan.
“Sebenarnya aku menyesal ikut. Aku cuma bikin kalian canggung.”
“Eng-engga kok.”
“Kamu saja yang gak canggung. Mereka semua canggung kok.”ucap Adong membeberkan fakta.
“Intinya aku senang kamu ikut. Jadi, liat aku aja jangan mereka.”
Adong hanya diam. Lovi membereskan tenda dan semua yang ada di dalamnya. Seraya memikirkan topik lain untuk bicara sama Adong. Ayolah, dia gak bisa langsung menghujaninya dengan pertanyaan yang menjurus. Hal-hal kayak gitu bisa bikin keadaan makin canggung.
“Dong, daripada kita diam aja, gimana kalau kita nyari kayu?”
“Buat apa?”
“Buat tempat duduk nanti malam. Kita mau acara api unggun.”ajaknya dengan ekspresi ceria. Adong mengikut saja. Mereka mencari kayu yang dekat sama tenda. Takutnya ada yang mencuri barang-barang itu. Segala bentuk kriminal bisa terjadi di mana saja. Termasuk di tempat seperti ini.