.49. Sesuatu Yang Tak Selamanya

1176 Kata
Malampun tiba. Api unggun menyala dengan sempurna. Sinar bulan dan bintang menerangi dari atas. Terang yang tidak seberapa dibandingkan terang dari api itu. Tak berapa lama, Josen keluar dari tenda dan membawa minuman berwarna putih dan satu botol Bir Bintang. “Saatnya bersenang-senang.”ucapnya bersemangat. “Ini tuak terbaik yang ada di kampungku. Kalian pasti suka.” Semua menyukai minuman itu kecuali Lovi. Manusia yang paling takut mencoba hal baru. Beda lagi sama Aya. Aya bahkan pernah mencoba makanan aneh dari Jepang yang rasanya tidak enak. Aya itu tipikal orang yang terlalu berani. “Minum,  Lov.” “Ogah!” Aya mencekoki dengan minuman itu. Sampai satu tetes masuk ke dalam mulutnya. Dan yang terjadi adalah dia memuntahkannya. Aya tertawa hebat melihat pertunjukan itu.  “Jadi cerita gak?”bisiknya pada Lovi. “Hah?” “Soal Edgar.” “Ah,,,” Lovi berdehem kuat untuk membuat semua orang melihatnya. Mereka yang masih terpaku pada layar handphone. Ada yang demi kerjaan, ada juga yang sekedar membuka media sosial. Di jaman ini, semua orang lebih sibuk dengan dunia maya daripada dunia nyata. Fakta miris yang tak disadari semua orang. “Ehm, aku mau ngomong guys!”ucap Lovi tegas. “Stop dulu main handphonenya.” “Oke-oke.” “Jangan-jangan,,,,,”tebak Avius dengan mata melotot. “Stop. Ini gak seperti yang kau pikirkan.” “Baiklah.” “Hmm, aku cuma butuh pendapat.”ungkapnya. “Sebenarnya, di usia kita sekarang, banyak hal yang harus dipikirin kedepannya.” Semua serius mendengarkan.  Seperti sesi curhat yang dilakukan saat malam keakraban. Cerita orang lain selalu menarik perhatian. “Aku baru aja ditembak sama cowok. Dan ya, aku tertarik sama dia. Bukan dalam hal cinta, tapi pertemanan. Bapak udah sakit dan usianya sudah banyak. Mama juga. Kita semua tahu, aku sudah dewasa di kondisi sekarang. Aku butuh saran kalian, aku harus gimana?” Tak ada yang langsung menyatakan pendapat. Semua berpikir secara logis agar tak ada keputusan yang sembrono. Mengingat bahwa perjodohan bisa saja berakhir runyam. Bahkan pernikahan atas dasar cinta bisa berakhir sia-sia.  Lihat saja Avius. Menikah dengan segudang ekspektasi yang menyenangkan. Tak perlu sebulan untuk mengakhirinya. Argh, suratan takdir memang seunik itu.  “Hmm, kalau pendapatku sih gak usah diterima.”ucap Josen mengawali. Dia terlihat percaya diri mengatakannya. “Mau dipaksain juga gak mungkin kan? Cinta itu gak mungkin datang begitu saja.” “Aku berpendapat berbeda. Cinta bisa datang karena terbiasa.”tegas Avius. “Aku setuju, Av. Siapa tahu jodoh kan ya?”ucap Aya sumringah. “Yups. Soalnya ya, berharap sama orang yang kita cintai sepenuh hati juga tak menjamin apa-apa.”ucap Avius sedih. Dia berkaca pada dirinya sendiri. Lihatlah dia, mencintai dengan sepenuh bertahun-tahun lamanya. Berpikir kalau dunia ini baik dan tak mungkin mengkhianatinya. Bahkan masih terbayang skenario luar biasa dalam pikirannya. Hidup bahagia bersama pujaan hatinya.  Siapa yang menyangka bahwa wanita itu pergi begitu saja? Meninggalkannya tanpa izin atau tanda-tanda? Semua gossip di luar sana tidak lebih berat dibanding sikap wanita itu. Sikap yang menyakitinya sampai ia  tak bisa melupakannya. “Kita tak tahu masa depan. Walau sekarang kamu gak suka sama dia, mungkin saja besok, sebulan lagi, atau bahkan setahun lagi semua berubah.”lanjutnya menjelaskan. Semua hening sambil menarik nafas. Memikirkan sesuatu di dalam otaknya. Tak ada yang tahu isi pikiran satu sama lain.  “Kalau kamu gimana, Adong?”tanya Lovi. Adong yang sibuk dalam diamnya  tapi tetap menyimak percakapan itu. “Ah, aku pribadi ingin kau mengikuti kata hatimu. Lakukan apa yang menurutmu baik.” “Cih, sok bijak.”ucap Aya mengacaukan kedamaian. “Gak usah sok bijak gitu bisa gak? Perilaku-mu selama ini lagi mengikuti kata hati kah? Kalau iya, hatimu berarti busuk.” Semua orang merinding mendengarnya. Gak nyangka aja kalau Aya begitu beraninya. Tapi tak ada yang mau bicara. “Argh, munafik.” “Kau tahu apa soal aku?”tegas Adong. “Tentu aku tahu apa yang kau lakukan pada semua orang yang ada disini. Pengecut.” “Ya, aku memang pengecut. Tapi aku bukan orang yang suka menghakimi orang lain.” “Wah, jadi kau menyalahkanku? Kau harus sadar, tanpa kata-kataku tadi, semua orang sudah menganggapmu kacau.” “STOP!!”tegas Avius dengan nada kerasnya. Dia benci sekali dengan perkelahian ini. Tak bisakah bersikap tenang? Ini waktunya liburan kan? Ini bukan waktu untuk saling menyalahkan kan? Mereka punya waktu yang terbatas untuk hari ini. Ditambah lagi, banyak yang dikorbankan juga. Tapi mereka berdua menyia-nyiakannya dengan pertengkaran hebat yang tidak berarti. “Aku tahu ini bukan tempatku. Aku punya masalah pribadi yang seharusnya tidak kalian ketahui. Aku benci dengan hubungan ini. Dan aku kesini cuma demi menghargai Lovi. Jadi biarkan aku tidur sampai besok.”ucapnya hendak pergi. Tapi Aya menghentikannya segera. “Tak ada yang boleh pergi sebelum semuanya bicara.”tegasnya dengan emosi yang meluap-luap. “Tak ada satupun manusia yang tidak punya masalah. Dan aku tidak akan pernah meremehkan masalah kalian.”ucapnya dengan tatapan mata kosong. Dia meneguk tuak yang tinggal setengah. Dan ia habiskan dalam sekali teguk. “Aku sangat merindukan papa.”ucapnya singkat dengan air mata memenuhi wajahnya. Lovi memeluknya erat.  “Kukira kembali kesini akan membuat perubahan signifikan dalam hidupnya. Ternyata tidak. Aku bahkan belum bisa ke makam papa. Dan aku harus menemui kalian semua dalam keadaan baik-baik saja. Terutama Lovi. Sakit sedikit saja, dia bisa tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja.” Akhirnya Lovi jadi ikut menangis. Menepuk pundaknya berkali-kali. Semua orang bisa ikut merasakannya. Kehilangan orang tua rasanya seperti mau mati. Aya menceritakan semuanya tanpa menghilangkan bagian kecil sekalipun.  “Sorry Ay, aku gak tahu apa-apa.” “Aku memang gak pernah cerita, Lov. Maaf.” Malam semakin larut. Duka semakin terasa mendalam. Tapi bercerita memberi kepuasan. Seperti kekuatan di charger kembali jadi seratus persen. “Hey, kau tak punya cerita?”tanya Aya pada Josen. Saat ini, tangisnya sudah reda. Hanya tersisa mata yang memerah. “Ah, gak ada. Aku cuma punya cerita klise tentang sekolah. Kau mau dengar?” “Cih, membosankan.” “Benar sekali. Makanya,” “Aku punya cerita.”ucap Adong tiba-tiba. Semua orang kaget dong. Gak nyangka kalo Adong mau cerita. Tak ada yang memaksanya untuk melakukan itu. Ini seperti jackpot yang diharapkan Lovi. Mendengar cerita langsung dari Adong. Jangan membuat asumsi seolah-olah dia yang paling b****k di dunia ini. Di masa lalu, satu kesalahan bisa berlalu hanya karena sebuah candaan receh. Sekarang, hal seperti itu sudah tak bisa terjadi. “Setelah orang tuaku bercerai, hidup ini seperti kiamat. Visi menikah di usia mudanya. Mama menghindari semua orang. Aku juga jadi mirip seperti mama.” Hubungan dan ikatan seperti luka yang menghancurkan. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi pernyataan itu kerap tak berguna. Semua orang memiliki tingkat insecure yang tak bisa dianggap remeh.  “Bukan berarti hidup kalian lebih baik daripada hidupku. Tetap saja, aku yang bersalah disini. Tidak bisa bersikap dewasa dan selalu menghindar. Aku akan berusaha memahami keadaan. Jadi, jika aku bersikap aneh lagi, aku ingin kalian tak perlu mengambil hati. Pertemanan tak harus selamanya kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN