Sinar matahari pagi membangunkan mereka yang masih terlelap. Sinar cerah itu jadi pertanda bahwa hari ini akan cerah. Prediksi musim yang diharapkan. Semuanya bangun dan bersiap untuk memasak. Baru bangun saja, perut sudah keroncongan.
“Makan apa kita?”tanya Josen bersemangat.
“Kau gak usah ikut makan. Gak cukup nasinya.”balas Lovi.
“Eh, kok gitu?”
“Soalnya makannya banyak sih, ngabisin stock.”seru Aya. Bikin Josen cemberut tapi ia langsung mengambil potongan daging yang ada di panci itu. Bikin Lovi dan Aya kesal banget.
Aroma enak itu membuat Avius dan Adong ikut berkumpul. Kejadian tadi malam seperti di reset. Tak ada yang membahasnya. Seperti mimpi indah yang seharusnya dianggap angin lalu. Setidaknya, semua sudah bisa memahami maksud Lovi selama ini. Tentang sikap seseorang yang pasti punya alasan. Bahkan sekelas pemerintahan saja punya alasan untuk setiap tindakannya.
“Guys, habis ini kita ke air terjun lagi yuk? Sekalian mandi lah. Kemarin kan cuma ngeliatin doang.”ajak Avius.
“Eh, mau banget. Lumayan peregangan otot.”balas Aya menyanggupi.
“Ah, sial.”seru Lovi.
Semua langsung tertawa. Bahkan Adong tersenyum kecil. Semua juga tahu kalau Lovi yang paling payah di antara yang lain. Dia tidak bisa ngapa-ngapain. Ya, sekarang sih lumayan ya, dia bisa bawa mobil.
Sampai saat ini, dia gak bisa bawa motor, sepeda dan berenang. Kemampuan dasar yang seharusnya dimiliki manusia. Dan itu sering jadi bahan ejekan di antara orang dewasa.
“Jangan ketawain ya kalau aku cuma diam dipinggir. Awas aja!”ancam Lovi tidak main-main. Lovi masih ingat bagaimana ini berjuang ketika ujian olahraga. Beruntung, masih dikasih nilai pas-pasan. Ya, itu lebih baik daripada tidak lulus.
“Pada bawa sabun kan? Aku gak bawa soalnya.”ucap Avius.
“Ih sama, minta sama mereka aja nanti.”seru Josen.
“Ih ogah!”ucap Lovi dan Aya serempak.
Enaknya makan siang di tempat ini. Selain udara segar, ada pemandangan yang menyegarkan mata. Ditambah lagi wangi makanan dari tenda sebelah. Yups, tempat ini emang selalu ramai kalau lagi libur panjang.
Mereka harus berjalan sepuluh menit untuk sampai di air terjun. Tidak jauh tapi jalan yang dilewati cukup terjal. Jadi harus hati-hati. Dan itu bikin durasi makin lama. Saat mulai dekat, semilir angin dingin mulai terasa. Hingga akhirnya mereka melihat keindahan itu dengan mata sendiri.
“Gila. Bagus banget.”gumam Lovi.
Semua orang bersiap untuk berenang. Terkecuali Lovi. Dia menunggu di pinggir sambil mengambil foto. Sesekali menginstruksikan mereka untuk berpose.
Langit tampak cerah dalam kebiruannya. Lovi merasa sangat tenang. Setidaknya, dia udah berhasil mengumpulkan semuanya. Oleh rasa penasaran, Aya, Josen dan Avius berenang lebih jauh. Sedang Adong memilih untuk istirahat.
“Cepet banget istirahatnya? Untuk sekelas polisi, kayaknya gak masuk akal.”
“Aku bukannya capek atau gimana, aku cuma gak mau menghancurkan kebahagiaan mereka.”
“Ih, kok ngomong gitu?”
“Daripada canggung.”
Adong sadar diri kalau dia membuat keadaan tidak nyaman. Terutama bagi Aya. Cewek yang tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Kalau benci sama seseorang, ketara banget. Dari awal, kehadirannya emang udah gak di respon baik. Tapi mau bagaimana lagi, janji tetaplah janji.
“Jangan ngomong gitu. Aya ngelakuin itu gara-gara kamu juga.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku yakin, dia akan mengerti, Dong. Tinggal kamu kasih waktu aja.”
“Aku juga gak berharap dia mengerti. Aku tahu, semua sudah berakhir. Dan kalau kita selesai dari acara ini, semua akan kembali seperti semula.”
“Diam!”tegas Lovi kesal. “Gak akan kubiarkan.”lanjutnya dengan tegas. Bikin Adong tak mau membalas. Dia sibuk menatap ke depan. Melihat romantisme persahabatan antara tiga orang itu. Pemandangan yang menarik. Tak ada yang mengharapkan hubungan itu berakhir. Siapa sih yang gak pengen reunian dengan sahabat di masa sekolah? Semua juga mau.
Tetap saja, bumi tidak lagi sama. Antara sekarang dan kemarin, semua sudah berbeda.
“Lagian ya, hidup gak mungkin selamanya sempurna. Melarikan diri juga tidak memberi solusi. Avius aja bisa bertahan di tengah semua ini.”
“Dia hebat. Tak seperti aku.”
“Kau bahkan lebih hebat dibanding dia, Dong. Kau hanya sedikit pengecut. Bercerita pada kami tak akan membuatmu jadi terlihat rendah.”
“Agh, kau tidak akan paham, Lov.”
“Aku paham. Makanya kuharap dia memilih keputusan yang tepat.”
“Kita lihat saja.”
“Menurutmu dia akan memilih apa?”tanya Lovi penasaran.
“Pindah.”
“Aku sebaliknya, dia akan menatap.”ucap Lovi dengan mata berbinar. “Mau taruhan gak?”
“Ih, apaan sih? Emangnya kita main judi? Jangan underestimate sama aku ya? Kalau dulu aku pernah nakal, tapi sekarang udah engga.”
“Gak seru. Cupu. Kan cuma taruhan sebuah permohonan. Bukan barang.”
“Argh, jadi maunya gimana?”
“Siapa yang menang harus mengabulkan permohonan satu sama lain.”
“Gak mau. Aku yakin yang ada di otakmu sekarang gak benar.”
“Biar aman, permohonannya di kasih tahu sekarang.”
Adong tampak berpikir. Well, jika benar demikian, Adong tak akan di rugikan. Dia bisa memilih mundur atau maju. Ini bukan penawaran yang berat.
Seseorang melambaikan tangan minta difoto. Lovi bergegas pergi ke sisi lain. Mengambil foto tiga orang itu dengan baik. Bikin dia iri karena gak bisa ikut ada di dalam sana. Andai dia bawa pelampung dari rumah, mungkin keberaniannya akan sedikit meningkat.
Dia kembali setelah membuat tiga orang itu puas. Mereka berpose di atas sebuah batu besar. Batu yang sangat bagus. Batu yang beberapa bagiannya langsung diterpa oleh air terjun itu. Terlihat menakutkan sekaligus menyenangkan.
“Gimana?”tanya Lovi seraya duduk sempurna.
“Kita lihat dulu, apa permohonanmu?”
“Hmm,”Lovi berpikir keras sambil melihat ke langit. Sesuatu yang diharapkan dan belum kesampaian. Apa ya? Argh, akhirnya dia menyadarinya.
“Aku mau kita pergi bersama lagi. Ke tempat yang lebih menarik daripada ini.”
“Cuma itu?”
“Ya. Dan kau harus ikut tanpa membuat alasan.”
“Okelah.”
“Permohonanmu?”
“Kebalikan dari permohonanmu.”
“Sial!”
Adong tertawa lebar. Sedang Lovi kesal banget sampai ia menggaruk kepalanya. Mau gimana lagi, begitulah keadaannya. Adong masih merasa tidak nyaman. Mungkin dia juga mengingat perbuatannya pada tiga orang itu.
Tiba-tiba teriakan membuat mereka mengalihkan perhatian. Teriakan minta tolong.
“Ada yang tenggelam.”
“Dua orang itu lagi nyari. Kita harus panggil tim penyelamat.”
Lovi dan Adong saling melihat. Mereka menyadari satu hal. Tak ada Josen dan Avius di daratan. Mungkinkah?
Dalam kepanikan itu, Adong langsung ikut mencari. Dia segera menyusul. Saat tiba di ujung, dia melihat Josen dan Avius tampak kelelahan.
“Dong, dia di bawah ini. Aku mau narik tapi udah gak sanggup.”ucap Josen sambil tersengal-sengal. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyelam. Butuh waktu untuk bisa menemukannya. Dan saat ia melihat Aya, perasaannya langsung tenang.
Semua orang berkumpul seperti ini adalah pertunjukan. Setelah melakukan kompresi d**a, Aya langsung sadar. Dia mengeluarkan air dari mulutnya.
“Syukurlah!”ucap Adong lega.
“Apa sih yang terjadi? Kenapa bisa kayak gini?”tanya Lovi marah.
“Sebenarnya ini karena kami bercanda.”
“Bercanda? Josen, kau udah gila? Kau mau ngebunuh Aya, hah? Sial!”
“Lov, ini bukan salah siapa-siapa. Aku yang ajak untuk melakukan itu.”
“Terserahlah. Untung kau masih hidup.”ucapnya singkat. Dia mengambil tas dan berniat pergi duluan. Takut, cemas dan rasanya mau gila. Sepanjang jalan, ia menangis. Apa yang harus ia lakukan jika terjadi sesuatu pada Aya? Dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Dia akan jadi seperti Adong. Argh, sekarang dia jadi semakin paham seberapa hancurnya cowok itu.
“Maafkan kami.”ucap Avius yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. Lovi udah gak peduli. Dia tetap berjalan dan tidak mengindahkan cowok itu. Meskipun begitu, Avius mengikutinya dengan berjalan agak jauh darinya.