Sejak pulang dari acara kemping, pikiran Lovi tidak bisa tenang. Meski ia tahu semua baik-baik saja, ia tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk. Jika tak ada Adong waktu itu, Lovi mungkin akan mengalami ending yang tak pernah ia duga.
“Kau baik-baik saja?”tanya mama saat Lovi duduk di kursi teras.
“Ya, ma. Emang kenapa?”
“Mama kira setelah jalan-jalan akan bikin kamu senang. Tapi kok malah sedih gini?”
“Engga kok ma. Ini bukan karena jalan-jalan.”
“Mama gak mau maksa kamu. Tapi di usiamu sekarang, sudah saatnya kamu dekat sama seseorang. Mama akan senang sekali kalau kamu bawa seseorang ke rumah.”
Ini sudah kesekian kalinya Lovi mendengar permohonan itu. Permohonan yang belum bisa dikabulkan.
“Iya ma. Akan ada waktunya kok.”
“Iya, mama tahu. Tapi jangan lupakan itu ya. Kau harus sering bergaul biar dapat orang yang tepat.”
Lovi mengangguk. Mama memegang tangannya erat. “Mama sama papa senang kau ada disini. Dan pernikahan pasti bikin kami sedih karena kau harus mengikuti suamimu nanti. Tapi kebahagiaan pernikahan itu akan ngasih kami kebahagiaan yang tak terkira.”
“Iya, ma. Udah ya, aku mau siap-siap ke kantor.”
“Oke.”
Masih terlalu pagi untuk membicarakan hal itu. Lovi mempersiapkan diri untuk segera pergi. Ini adalah salah satu hal negatif dari tinggal di rumah. Ketemu orang tua yang menaruh segudang ekspektasi.
“Pagi!”
Lovi hanya diam mendengar sapaan itu. Dia masih bisa mengatakannya dengan ceria. Yups, seolah tidak terjadi apa-apa.
“PAGI!!!!”
“Berisik.”
“Lov, kenapa lagi?”
Lovi masih sangat kesal. Gak cuma sama Aya, tapi sama semua orang yang pergi kemping kemarin. Argh, kenapa dia gak bisa ngelupain itu sih?
“Lov, kenapa sih?”
“Kau masih bisa tertawa setelah kejadian kemarin?”
“Astaga, aku gak apa-apa.”
“Kau hampir mati, Ay.”
“Tapi aku masih sehat walafiat. Jadi stop.”
Belum sempat memberikan wacana panjang lebar, gerombolan senior sudah tiba. Mereka sibuk mengobrol soal liburan kemarin. Tiga hari tidak ketemu, pasti ada saja cerita menarik yang seru untuk diikuti.
Dari antara orang-orang itu, ada Nadya yang tampak menyusup. “Lovi, aku mau bicara.”
“Bicara apa?”
“Ah, disini ramai. Kita bicara berdua aja yuk.”ajaknya sambil menarik tangan cewek itu. Mereka duduk di kursi lantai 2. Tempat yang masih sepi karena ini masih terlalu pagi. Nadya tampak antusias.
“Demi apapun, aku harus berterima kasih sama mu.”
“Buat apa?”
Dia menunjukkan cincin di jari manisnya. Damn! Fiks maksimal, ini kabar baik. Kabar baik dari Nadya yang awalnya cuma coba-coba. Ternyata dunia bisa segila ini.
“Kau serius?”
“Serius dong. Aku benar-benar berterima kasih. Kalau bukan gara-gara kamu, aku mungkin akan menolak permata yang hampir sampai di genggamanku.”
“Selamat ya, Nad. Tapi gak usah lebay gitu.”
“Ini gak lebay.”
“Ya, terserahlah.”
“Sebagai ucapan terima kasih, kamu mau jadi bridesmaid nggak? Oke, kita memang gak terlalu dekat. Tapi semua ini juga karena campur tanganmu.”
“Gak deh, makasih.”
“Please, Lov. Kau boleh ngajak Aya. Setidaknya, kalian punya aktivitas di hari sabtu itu.”
“Heh, kau kira kami gabut?”
“Gak gabut sih. Yang jelas, kalian berdua jomblo. That’s why ngabisin akhir pekan cuma sama teman-teman.”
“Ah, pokoknya aku gak berminat. Tapi aku pasti datang. Udah ya, bentar lagi Pak Adit datang.”ucapnya sambil berjalan menuju ruangan.
What? Jika dia menerima tawaran itu, dia hanya akan mempermalukan diri sendiri. Dia tidak berbakat melakukan itu. Dan yang terpenting, akan ada Edgar disana.
Tunggu dulu. Kenapa dia jadi memikirkan Edgar? Siapa juga yang peduli dengan pendapat cowok itu? Apa yang harus ditakuti?
“Maaf.”ucap Aya dengan penuh ketulusan. “Semua yang terjadi itu karena aku. Jadi jangan sangkut pautkan sama Josen dan Avius. Mereka gak salah.”
“Jelas mereka salah. Mereka ngebiarin kamu melakukan itu sesuka hati.”
“Ayolah. Cowok kan selalu mengalah sama cewek. Please, jangan kayak gini Lov. Nanti aku traktir makan soto.”
“Ya udah.”ucap Lovi setelah sekian lama. “Udah, sana. Aku mau kerja.”
“Okey!”balas Aya dengan ekspresi riang.
Dia harus menyelesaikan masalah ini satu persatu. Masalah tidak diizinkan datang beriringan. Itu cuma bikin Aya tersiksa. Dia masih belum berterima kasih sama Adong. Yups, setelah dibuat sadar, dia malah bersandar sama Josen. Seakan Adong tidak melakukan apa-apa. Okelah, mereka memang sudah usai. Tapi bukankah seharusnya Aya berterima kasih? Setidaknya demi sopan santun.
Dia benar-benar pusing sampai gak bisa tidur. Ibu sampai cemas melihat putrinya begadang semalaman. Aya bikin alasan aja, kalau dia punya deadline kerjaan. Padahal yang ia pikirkan bukan itu.
***
Bekerja sebagai polisi memang sering jadi perdebatan. Berpikir seolah semua polisi sama saja. Katanya gak boleh standar ganda. Tapi kok dengan tegasnya orang-orang melakukan hal itu?
Bahkan di antara banyaknya orang jahat di penjara, pasti ada saja orang baik. Adong selalu berusaha untuk berbuat kebaikan. Jikapun dia tidak sanggup, itu hanya demi pertahanan diri. Desakan dan aturan harus dilaksanakan. Menjadi berbeda tak selamanya baik. Mengikuti aturan kerap dianggap lebih berkelas.
“Adong, kenapa gak bilang kalau kemarin mau liburan?”
“Hah?”
“Oke, aku tahu karena ngikutin Aya di i********:. Dan aku juga ngikutin Lovitha.”
“Ah,,,”
“Lain kali, ajak aku.”
“Tom, itu juga jadi terakhir kali aku pergi sama mereka.”
“Terus, kenapa kau berbohong soal mengenal Aya sedekat ini?”
“Ah, bukan apa-apa.”
“Pokoknya aku mau bilang. Aku tertarik sama dia. Kau engga kan?”
“Untuk apa kau tanyakan itu?”
“Karena jika iya, aku bisa mundur.”ucap Tommy tegas.
Adong menelan ludahnya. Bingung memberikan jawaban. Tapi dia juga bukan siapa-siapa. Mantan seharusnya tetap jadi mantan. Jangan biarkan dia masuk lagi dalam hidupmu. Walau mereka mengakhirinya dengan baik, tetap saja, hubungan itu sudah lama tiada. Seperti nafas yang menghilang dari sebuah raga. Yups, keajaiban pun tak sanggup membangkitkan kematian.
“Nggak kok.”
“Nice. Syukurlah.”balas Tommy excited.
“Sebegitunya kau suka padanya?”
“Iya. Dia cantik, pintar, berkelas dan yang pasti seru. Mau secantik apapun kalau gak nyambung sama aja bohong. Iya gak?”
“Udah ya. Aku ke depan dulu.”ucap Adong.
Adong benar-benar sudah gila. Dia melewati batas yang sudah ia bangun selama ini. Bicara banyak dengan mereka, mengungkap aib keluarga yang parah, hingga membuat janji sama Lovi. Semua itu seperti perkara besar yang menumpuk di kepalanya.
“Selamat pagi, pak!”
“Ah, selamat pagi.”
Pria itu membalas sekedar. Hampir saja Adong melamun dan lupa memberi sapa pada senior. Dia bisa kena marah. Dan ini adalah salah satu efek dari pertemuan kemarin. Ia jadi banyak memikirkan hal yang tidak-tidak. Memikirkan sesuatu yang buruk padahal belum tentu terjadi.
“Apa dia baik-baik saja?”gumam nya kuatir. Ingin bertanya, tapi sama siapa? Dia belum dekat dengan semuanya. Apa tanya Lovi aja? Ya, cewek itu satu-satunya yang bisa dipercaya.