Sepanjang jalan di sore itu tak banyak orang. Sebab musim hujan telah tiba, orang-orang lebih memilih berdiam di rumah. Sepatu yang basah itu dilepas dan ditaruh di luar. Avius bergegas masuk setelah mengetuk pintu. Ia melihat mamanya sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Seperti kebiasaan, nonton berita tapi fokus mata masih tetap pada handphonenya.
Ibu-ibu zaman sekarang sangat demen main f*******:. Mereka suka membagikan setiap aktivitas. Dan sepertinya, itu bikin mereka senang.
“Udah pulang?”
“Iya, ma.”
“Mama gak masak lagi. Kita pesan online aja ya?”
“Hmm, boleh.”
Avius bergegas ke kamarnya. Mengganti baju dan segera duduk di samping mamanya. Dia mencari cemilan untuk menemaninya menonton berita.
“Liburan kemarin seru kayaknya. Kau jadi lebih happy mama lihat.”
“Seru banget, ma. Se-enggaknya, aku jadi lupa sama kenyataan.”
“Gak boleh gitu, Av. Kenyataan harus dihadapi, jangan dicuekin.”
“Aku tahu, ma. Cuma sekarang lebih tenang aja.”
Kebahagiaan bisa membuat siapa saja melupakan kesedihannya. Beruntung dia masih punya mereka. Mereka yang lebih memikirkan bahagia dibanding kesedihan. Semua orang punya masalah, tapi tak semua orang mampu menghadapi masalah itu dengan rasa bahagia. Padahal, itu bisa mengurangi stress yang berkecamuk.
“Oh ya Av, mama udah nyari rumah di kampung sebelah. Kalau kamu mau, kita bisa cek dulu. Kayaknya sih bagus.”
“Ma, hmm, apa kita gak perlu pindah aja?”tanya Avius serius.
“Kenapa kamu tanya mama? Kita pindah juga karena kamu yang mau. Mama sih betah-betah aja disini.”
“Kalau gitu, kita gak usah pindah.”
“Kamu serius?”
“Hmm, iya.”
“Kamu gak kesal diomongin mulu sama ibu sebelah?”
“Pasti kesal sih, tapi aku bakal berusaha menutup telinga.”
“Baiklah. Asal kamu bahagia, Av.”
Mama memeluknya erat. Ikut merasakan derita yang dialami Avius. Tapi Avius seperti mendapat ilham. Jika melarikan diri, ia hanya seorang pengecut. Daripada menghindari hal itu, lebih baik di hadapi saja.
“Ah, makanannya udah nyampe.”
“Ma, biar aku aja.”ucap Avius sambil berdiri. Dia membuka pintu dan melihat driver menunggu di depan gerbang. Mengucapkan terima kasih sebelum membiarkan pria itu pergi. Saat masih mengecek bon dan isi makanan, terdengar suara tiga orang ibu-ibu berbisik dan melihatnya. Mereka tampak sedang bergosip dan tentu saja, membicarakan Avius.
Avius balik badan dan menemui mereka.
“Bu, ini saya ada lebih beli kue pukis. Buat ibu aja.”
“AH, engga usah.”
“Gak apa-apa, bu.”
“Ah, baiklah kalau gitu. Makasih ya.”ucap ibu yang satu lagi.
“Oh ya, kalian sudah dengar gosip tentang saya kan?”
“Hah?”
Mereka tampak bingung. Ini kali pertama Avius mengajak mereka ngobrol sedekat ini. Ditambah lagi, dia sedang membicarakan dirinya sendiri. Seperti tak ada beban.
“Sebenarnya, saya gak ada masalah sama mantan istri saya. Kami sudah menyelesaikan masalah kami dengan baik.”
“Kalau masalah sudah selesai, harusnya kalian sudah rujuk dong?”
“Oh, tidak begitu, bu. Kalau orang lain bisa rujuk, mungkin kami berbeda. Seperti kisah hidup setiap orang. Ada yang pisah ranjang, minggat, bahkan berantem tiap hari. Itulah hidup. Benar kan?”
Mereka semua merasa terpojok. Sesungguhnya, Avius tahu banget keadaan mereka semua. Wanita paruh baya yang selalu menggosip seperti orang yang gak punya kerjaan. Padahal hidup mereka juga buruk rupa. Anak-anak mereka tidak diperhatikan dengan baik. Bahkan harus mengalami kelainan mental hanya karena orang tuanya sendiri.
“Ah, kalau begitu, saya pergi dulu.”ucap Avius segera.
Rasanya lega sekali. Memang sebaiknya hal ini tidak dihindari. Mulai sekarang, Avius akan menghadapinya dengan kepala tegak. Dia tak akan membiarkan dirinya dipermainkan oleh dunia. Si pemeran utama harusnya bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri.
“Abis ketemu siapa? Kok senyum-senyum gitu?”
“Cewek cantik.”
“Beneran?”
“Enggalah. Ada-ada aja.”
“Av, kalau kamu mau, menikah saja lagi.”
“Mama udah gila?”
“Itu juga bisa jadi solusi loh buat ibu-ibu rese di komplek ini. Mereka jadi gak berpikir kalau kamu itu gay.”
“Hah? Siapa yang mikir kayak gitu?”
“Ya, siapa lagi? Mereka semua berpikir kayak gitu. Siapa yang gak curiga kalau usia pernikahan kalian bisa dihitung hari. Satu bulan aja gak nyampe.”
“Sialan!”
“Maka dari itu, mama senang kalau kamu bawa cewek. Tapi jangan yang kayak Naisya.”
Avius kira mereka hanya berbincang soal pernikahan yang gagal. Ternyata masalah orientasi seksual juga dibahas. Demi apapun, ini bukan soal bisa nikah atau engga. Tapi Avius jadi trauma melakukan hal itu. Kegagalan yang bikin ia takut. Bahwasanya, pernikahan selanjutnya bisa saja gagal seperti pernikahan pertama. Siapa yang bisa menjamin? Gak ada.
Dering telepon membuatnya melipir mencari handphone yang lagi di charger. Dari Lovi.
“Halo?”
“Av, aku mau ke rumahmu. Bawain barang yang ketinggalan di tas.”
“Eh, gak usah sekarang juga ga apa-apa.”
“It’s oke. Ini sekalian lewat kok. Rumahmu masih sama kan?”
“Iya.”
Avius kembali dan menikmati makanannya. Makan di sore hari sangat bagus untuk kesehatannya. Setelah pukul 6, dia gak perlu menimbun lemak di dalam perut. Dan itu bisa jadi salah satu trik diet.
***
Lovi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia harus masuk ke gang untuk bisa sampai ke rumah Avius. Barang-barang cowok itu bikin mobilnya jadi sumpek. Daripada kelamaan, mending langsung dikasih.
“Pak, nitip mobil nya ya?”ucapnya pada tukang parkir itu. Takut aja kalau ada yang melarikan mobil itu. Jika sudah dititip begini, akan lebih tenang. Ia berjalan dengan barang yang tidak terlalu berat itu.
Lokasi rumah Avius masih sama seperti dulu. Dia memang belum pernah masuk ke rumahnya langsung. Rumah Adong selalu jadi langganan pertemuan. Komplek perumahan itu cukup asri dan menenangkan. Ditambah lagi, tak ada sampah berserakan.
Semua terasa baik sampai ia mendengarkan cerita aneh di telinganya. Saat ia hendak membeli minuman di sebuah warung.
“Sudah bisa dipastikan, bu. Dia itu gay.”
“Masa sih?”
“Cewek mana yang engga lari kalau di malam pertama aja udah gak bisa…”
“Tapi tadi saya ngobrol loh sama dia, dia tahu kalau kita sering ngegosipin.”
“Oh, ya?”
“EHEM!!!”ucap Lovi dengan nada tinggi. Bikin semua ibu-ibu itu melihat ke arahnya. “Ibu-ibu, sebenarnya saya pacarnya Avius sekarang. Apa kalian gak bisa berhenti ngomongin dia?”
Semua kaget dong. Muka mereka udah kayak ikan di benyekin. “Saya gak suka pacar saya digosipin yang engga-engga.”ucapnya sambil duduk disamping mereka. Menikmati keripik pedas yang isinya masih banyak.
“Ah, maaf ya. Kami cuma curiga saja.”
“Curiga kalau dia gay?”ucap Lovi blak-blakan. “Saya bisa jamin, dia gak gay.”
“Kami kan belum nikah sama dia, jadi gak bisa jamin dong.”
“Tapi kami sudah pernah melakukan yang itu.”ucap Lovi ngasal. Dia gak sadar udah bikin ibu-ibu berpikiran sempit itu syok. Biarin aja, toh Lovi gak tinggal disini. Dia gak perlu merasa risih diomongin sama mereka. Dia lebih kesal karena tahu Avius mengalami hal ini selama setahun belakangan. Dan semua hanya karena perempuan tidak punya otak seperti Naisya.
“Liburan kemarin, kami baru liburan. Ya, ala-ala di Bali gitu. Dan ini saya mau nganterin barang-barangnya dia. Dia itu laki banget!”
“Tapi, itu kan dosa, nak.”
“Iya, dosa. Menggosipi orang lain juga dosa. Kalian gak sadar?”tegas Lovi kesal. Dia beranjak dan mengambil barang-barang Avius.
“Ngegibah itu dosanya besar. Saya pergi dulu.”
Lovi merasa sangat bangga. Dia berhasil membuat mereka melongo bingung. Mampus! Mereka gak pernah tau seberat apa yang dialami Avius. Mulut kecil mereka berhasil menghancurkan hidup orang lain. Tidak tahu diri.
“Thanks, Lov.”
“Sama-sama.”
Tak seperti area rumah Lovi, area rumah ini selalu ramai dengan manusia. Ya, ini memang jauh lebih dekat ke perkotaan.
“Jadi, apa kau sudah mengambil keputusan? Hmm, soal pindah.”
“Aku gak jadi pindah.”
Satu kalimat yang bikin wajah Lovi merekah. Demi apapun, dia senang banget. Senang karena dia berhasil menghadapi kesusahannya tanpa melarikan diri. Dan ditambah bonus, Lovi bisa mengajak Adong liburan lain kali.
“Gitu dong! Oh my God, aku senang banget.”
“Thanks, Lov. Kamu udah bikin aku berpikir logis dan lebih berani.”
“Semua orang punya keberanian, tapi terkadang harus dibuat sadar.”
“I see.”
“Oh ya, aku melakukan sesuatu tadi.”aku Lovi jujur. Daripada entar ketahuan, mending dia jujur saja tentang apa yang ia katakan pada semua tetangganya Avius. Pengakuan yang bikin Avius kaget.
“Kau gila?”
“Itu untuk kebaikan. Kalau perlu, kau bisa mendekati anak perempuannya. Ya, cuma biar mereka sadar aja.”
“Ngaco.”
“Hahaha.”
Tak lama, wanita itu datang dengan dua gelas teh panas. Bikin Lovi menyapa dan tersenyum. Ini kali kedua ia ketemu dengan mamanya Avius. Ya, pertama kali saat di hari pernikahannya Avius.
“Kamu Lovi kan? Andai dulu kalian gak putus ya.”
“Tante kok tahu?”
“Avius sering cerita soal kamu dulu. Tapi katanya, sekarang kalian cuma teman ya? Ada-ada saja.”
Saat mamanya pergi, Lovi menuntut penjelasan. Avius hanya tersenyum dan gak mau bicara banyak. Jika flashback ke masa lalu, Avius emang bucin banget. Dia udah mikir kalau Lovi yang akan jadi masa depannya. Well, kisah cinta masa lalu yang terlalu menaruh ekspektasi yang tinggi. Siapa yang menyangka, dia bisa move on dengan baik. Saking baiknya, dia masih bisa berteman dengan Lovi tanpa memikirkan hal itu. Cinta pertama tak selalu menjadi cinta terakhir. Tapi cinta pertama mengukir kenangan cinta yang paling perdana.