.53. Satu-satunya Yang Tidak Berubah

1087 Kata
Kafe kecil itu menjual bermacam-macam jenis makanan. Ya, cocok banget untuk anak muda yang mau nongki cantik. Hari ini bukan hari yang pelik di kantor. Semua orang menikmati hari dengan pulang lebih cepat. Begitulah kehidupan pekerjaan. Ada hari yang berat, ada hari yang ringan. Dunia dirancang dengan dua hal bertolak belakang yang saling melengkapi. Jadi jangan mengharapkan persamaan karena perbedaan harusnya bisa diterima. “Aku bingung harus gimana.” “Tinggal bilang makasih, apa susahnya?” “Jika bukan Adong orangnya, aku bahkan bisa membelikan papan bunga sebagai ucapan terima kasih.” “Kalau terlalu segan, kirim SMS aja.” “SMS?”tanya Lovi Aya sambil tertawa. “Iya. Di w******p aja kalian belum temenan kan?” “Sialan.” Aya masih dilemma parah karena belum bisa mengucapkan terima kasih pada Adong. Pria yang membuat umurnya bertambah panjang.  “Ah, mending kita bahas yang lain. Pernikahannya Nadya. Kau mau menemaniku kan?” “Gak mau.” “Ayolah.” “Jangan maksa ya.”tegas Aya. Lovi udah gak bisa menolak Nadya. Bahkan cewek itu sudah menjahit baju untuknya. Tega kah? Tidak tega. Nadya melakukan usaha yang menjebak Lovi. Dan sekarang, Lovi harus menjebak Aya. Dia gak mau jadi bridesmaid seorang diri. Big no! “Itu bisa jadi kesempatanmu bicara sama Adong.” “Apa maksudmu?” “Aku bakal bikin dia ikut ke acaranya Nadya.” “Gimana caranya?” “Tenang aja. Serahkan sama aku. Tapi kau harus ngasih kepastian,  mau ikut kan?” Aya itu punya harga diri yang sangat tinggi. Dia gak mau ngechat duluan. Kecuali kalau udah dekat banget, baru deh bisa. Dia gak akan punya kesempatan jika terus begini. Gimana mau ketemu? Pertemuan kebetulan mereka di masa lalu mungkin tak akan terjadi dengan mudah. Sebab, kebetulan biasanya terjadi hanya jika manusia tidak mengharapkannya. “Ya udah, asal Adong beneran datang ke sana.” “Okay, siap!” Makanan disajikan dan mereka menikmatinya. Lovi senang banget karena semua rencananya rampung.  Well, that’s life. Dia cuma memikirkan satu hal yang sulit. Edgar. Ya, Edgar. Lovi sengaja menghindari pertemuan dengan Edgar. Dia belum punya jawaban untuk pria itu. Jika menerima, ia hanya mempermainkan perasaannya. Jika menolak, semua orang berpendapat bahwa mencoba juga  tidak masalah. Jadi harus gimana? Setelah makan malam itu usai, ia langsung pulang. Efek menyetir baru terasa. Rasanya sangat capek. Awalnya sih masih seru. Apalagi di perjalanan banyak melihat pemandangan menarik. Sekarang, semua tampak sama saja. Tak ada yang spesial. “Loh, Josen, ada apa?” “Tante Mery baru meninggal, Lov.” “Beneran?” “Iya. Sakit jantung.” Banyak orang berbondong-bondong di depan rumahnya. Dengan segera, Lovi menyusul kesana setelah selesai ganti baju. Dunia ini tak lepas dari yang namanya kehilangan. Satu dari sekian hal yang menyakitkan.  “Baru kemarin aku ketemu Tante Mery. Nggak nyangka bakal secepat ini.” “Yah, begitulah, Lov.” Lovi tetap di samping Josen. Cuma dia yang bisa diajak ngobrol. Lovi juga gak terlalu sering ngobrol sama orang sekitar. Kejadian ini membuatnya ingat pada mama dan papa.  Kematian tak bisa diprediksi. Apa dia tega membiarkan kedua orang tuanya mengharapkan sesuatu dan tak bisa mewujudkannya? Pernikahan. Ya, masalah pada orang dewasa. Seperti setumpuk masalah yang tak bisa diselesaikan begitu saja. Lovi mungkin harus mencoba. Setidaknya, dia jadi punya harapan masa depan. Kesempatan tak selalu datang. *** “Sampai disini ya anak-anak. Tugasnya jangan lupa dikerjain.” “Baik, pak.” Josen keluar dari kelas itu dengan buku tebal di tangan kirinya. Mengajar memberinya makna baru yang belum pernah ia temui. Walau dulu bertingkah jadi anak nakal, dia jadi paham susahnya jadi seorang guru. Tak ada yang sempurna, tapi tak bertobat perlu diapresiasi kan? Setelah merapikan mejanya, dia bergegas ke parkiran. Ternyata ada acara di sekolah ini. Ada acara olahraga antar sekolah. Acara yang sangat menarik jika Josen masih anak SMA. Dia lebih memikirkan perutnya yang lapar. Saat hendak pergi, seseorang memanggilnya. “Josen!” Adong. Josen lumayan kaget sih. Tapi dia juga senang.  “Hey, lagi ngapain?” “Mengawasi anak sekolah yang lagi tanding. Ya, biar gak ada yang tawuran.” “Ah,,” “Mau pulang?” “Iya.” “Okelah.” “Adong, mau makan siang dulu gak?” Akhirnya mereka sampai di warung makan yang tak jauh dari sekolah. Memesan makan siang yang harganya affordable. Memang, makanan apapun yang ada di daerah sekolah selalu dibuat murah. Sudah jadi budaya dan kebiasaan. “Makasih untuk yang kemarin. Kalau kau gak ada, Aya bisa benar-benar bahaya.” “Ya, sama-sama.” “Tadinya aku mau ngomong ini waktu kemping. Tapi sekarang aja, daripada gak diomongin sama sekali.”ucap Josen dengan pandangan ke depan. “Jangan pernah berpikir masalah yang kau alami itu aib. Bahkan seorang pembunuh bisa menerima hukuman dan hidup tenang. Kejadian apapun itu, itulah namanya hidup.” “Wah, kau sudah dewasa.” “Belum. Aku masih sama sepertimu.” “Maksudmu?” “Ya, jelas sekali kalau kau juga belum dewasa.” “Parah!” “Aku pernah mencuri uang bapak, dilabrak bapak-bapak karena aku ngajak anaknya nginep.” “Beneran?” “Iya.” Adong tidak tahu harus miris atau bagaimana. Dia malu punya orang tua yang bercerai. Ditambah lagi, adiknya menikah karena hamil di luar nikah. Dua fakta yang membuatnya tidak percaya diri menghadapi semua orang. Dia akan lebih senang jika melakukan kesalahan sendiri. Kalau keluarganya yang melakukan kesalahan, dia malu dan takut. Takut jika semua orang menghina keluarganya.  “Tidak masalah untuk tidak sempurna.”ucap Josen lagi. “Aku pernah mencuri kaos kakimu waktu SMA. Aku gak kembalikan karena lupa.”ucap Adong sambil tertawa. Kaos kaki yang bikin Josen dihukum guru. Dan waktu itu, Adong gak bawa kaos kakinya. Dia nyuri satu dari Josen dan satu lagi dari temannya yang anak IPS. “Sialan. Jadi itu kau?” “Maaf.” “Parah. Sebagai ganti kaos kaki, kau yang traktir makan.” “Hahaha, baiklah.” Seperti lembaran foto yang sobek, pasti bisa disatukan lagi. Cuma butuh pengerat atau setidaknya lem. Begitu juga kisah buruk yang selama ini menghantui. Dengan membuka jalan dan berdamai dengan masa lalu, semua itu bisa jadi baik. Josen jadi ikut melihat pertandingan olahraga itu. Dia banyak bercerita dengan Adong. Ternyata, sudah banyak hal yang mereka lewati tanpa kebersamaan. Dan itu cukup menarik untuk diceritakan. Tentang kisah yang dilewati, dan ternyata itu juga cukup memusingkan. Siapa sangka, mereka bisa berdiri di posisi sekarang.  Berubah itu pasti. Hubungan juga bisa retak bahkan pecah. Tapi kenangan tak akan bisa hilang. Seperti kisahnya, kenanganlah yang membuat mereka akur kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN