.34. Aku, Kamu dan Kita

1303 Kata
Kota ini sudah jauh berbeda dibanding saat SMA dulu. Sekarang udah banyak banget fasilitas yang bisa memenuhi setiap keinginan. Beda sama dulu yang kalau ingin sesuatu susah banget nyarinya.  Bahkan muncul kafe-kafe baru yang terlihat mewah. Lovi bahkan mengira kalau tempat kayak gitu cuma ada di Jakarta dan kota besar lainnya. Ternyata perkampungan ini sudah punya juga. Mau nongkrong udah ada tempat persinggahan. Enak banget anak SMA di jaman ini. Mereka diuntungkan di beberapa kondisi. Ya, walau setiap jaman punya kesusahannya sendiri. Benar kan? Di kafe itu tersedia banyak banget menu. Lovi yang lapar mata akibat bosan dengan makanan rumah membeli banyak sekali. Dia lapar mata dalam sekejap. Baru sebentar di kampung sudah pengen balik ke perkotaan dengan segala hiruk pikuknya.  Dia sudah janji sama seseorang. Seseorang yang menemaninya cukup lama. Dan sampai sekarang, masih sering memberinya semangat. Avius. Ya, mantan pacar sekaligus sahabatnya itu. Pria tampan itu memasuki kafe dan bikin pandangan setiap orang melirik ke arahnya. Ya, Lovi paham betul gimana pesona seorang Avius. Meski waktu SMA dia agak tertutup, waktu membuatnya berubah. Dia jadi lebih baik tentunya. Dan Lovi suka dengan hal itu. “Udah lama nunggu?” “Udah. Makanya kamu yang bayarin semua ini.” “Gila. Banyak banget. Ini buat berdua?” “Tadinya buat sendiri sih, tapi buat berdua aja. Keburu lapar mata.” “Dasar.” “Hmm, ayo makan.” Sebab sudah lapar, keduanya makan dengan lahap. Walau kafe di kota kecil, tempat itu tidak buruk. Meski ada makanan yang b aja, ada juga yang enaknya di atas rata-rata. Mau ngasih skor kecil udah kebantah sama satu menu itu. “Pesan lagi apa?” “Boleh.” Keduanya tertawa menyaksikan kekonyolan itu. Dua orang dewasa yang terlihat excited sama makanan. Semoga saja para pelayan gak takut kalau mereka kabur. Mereka memesan sangat banyak. Jadi kalau kabur, kafe itu rugi nya gak main-main. “Jangan ajak aku kabur ya. Udah cukup waktu kita pacaran.” “Sialan. Itu kan cuma bercanda.”tawa Avius menggema. “Tapi pelayannya keburu ngeh. Sampai manggil satpam.” Lucu sih. Padahal itu cuma percakapan random. Pelayan polos itu malah mikir beneran. Jadilah dia manggil satpam. Untung saja bisa dibicarakan baik-baik.  “Demi, aku kenyang banget.” “Sama!” “Hmm, gimana jadinya? Kapan acaranya” “Minggu ke tiga bulan depan. Kamu harus datang.” “Oke. Aku akan datang sama Josen.” “Really?” “Oke. Ini gak seperti yang kamu bayangin.” “Hmm, kirain.” “Itu masa lalu, Av. Lagian aku bareng sama dia karena kami tetanggaan. Masuk akal kan?” “Iya sih,” Avius tahu banyak tentang Lovi. Kuliah di kampus yang sama bikin dia mengenal dengan jelas cewek itu. Walau ujungnya putus, dia tetap yakin kalau Lovi itu orang yang tulus dan baik. Hanya saja, mereka tidak berjodoh. Ya, ketetapan Tuhan kadang bikin kaget kan? “By the way, pernah ketemu Adong gak?” Avius menggeleng. “Kalau kamu nemu nomornya, kasih tahu aku ya.” “Mau ngapain?” “Mau nembak dia.” “Ngaco.” “Mau ketemu dong. Mau apa lagi?” “Aku dengar kabar kalau dia emang udah menjauh dari circle gitu. Gak cuma circle kita doang. Termasuk teman-temannya yang kakak kelas sama anak IPS.” “Kenapa?” “Gak ada yang tahu. Intinya dia memisahkan diri gitu.” Lovi menarik nafas panjang. Dia semakin yakin kalau ada yang gak beres sama Adong. Alasan dia cuekin Josen bukan karena sombong. Pasti ada alasan yang lebih masuk akal dibanding sekedar sombong.  “Daripada itu, aku pengen ketemu Josen. Kangen tahu. Aya juga.” “Kalau Josen sih pasti ketemu. Aya, Aya masih di Jakarta.” “Begitulah hidup Lov.” Lovi tersenyum. Setelah selesai makan, mereka jalan-jalan di sepanjang trotoar. Bicara tentang banyak hal. Tentang Avius dan segala kekhawatirannya. Walau dia bakal jadi orang pertama yang menikah, dia tetap punya rasa takut. Takut jika pernikahan ternyata bukan awal yang baik. Tapi sebaliknya. Melihat banyaknya angka perceraian di bumi Indonesia, kerap terlintas dalam pikiran. Bagaimana jika kita jadi salah satunya? Apakah sanggup?  “Terus, kamu udah punya pacar?” Pertanyaan yang selalu Lovi hindari di tiap pertemuan. Kesal karena hanya bisa jawab tidak. Kalau udah punya tuh rasanya lega. Dewasa mengharuskan setiap orang untuk punya pasangan. Kalau gak punya dianggap tidak normal. Dianggap aib bahkan beban. Kesal sih, tapi gak bisa ngebunuh juga kan? Pasrah aja nerima anggapan gak jelas itu. “Oke, aku nanya gini gak ada maksud apa-apa. Cuma penasaran aja. Abis putus dari aku, kamu bersama siapa?” “Hmmm,  jomblo.” “Serius?” “Iya.” “Gara-gara…..” “Bukan gara-gara dia. Mungkin kita putus gara-gara dia, tapi aku jomblo bukan gara-gara dia.” “Aku gak percaya.” “Terserahlah.” “Buat aku percaya. Kenapa kamu jomblo sampai sekarang?” Lovi jadi dibuat berpikir. Bukan untuk mencari alasan, tapi menemukan jawaban. Jawaban yang sebenarnya. Dia gak lagi cemburu soal Josen punya pacar. Hello, ini sudah tahun berapa? Berharap pada ketidakpastian bukan gayanya lagi. Dia udah kenal dunia. Dia udah dibikin sadar kalau dewasa mengharuskan setiap orang untuk berjuang pada hal yang jelas. Termasuk perasaan.  “Susah mencari orang yang tepat.” “Kamu sudah coba?” “Sudah. Aku ketemu 5 cowo dari hasil rekomendasi teman.” “Kamu yang salah atau lima cowok itu?” “Jahat.” “Bukan jahat. Siapa tahu kamu udah langsung ngasih batasan. Jadinya gak cocok. Padahal mah bisa aja cocok.” “Tentu tidak. Aku suka sama satu cowok yang malah gak suka sama aku.” “Really? Siapa?” “Teman sekantor.” “Kenapa harus gitu sih, Lov?” “Apanya?” “Perasaanmu dong. Selalu aja sepihak.” Fakta baru yang mencengangkan. Soal teman sekantor, Lovi berhasil melupakannya saat kertas undangan ditaruh di atas meja kerjanya. Jika sudah begitu, udah gak ada kesempatan kan? Kayak mindahin pulau aja, gak mungkin. Percaya deh, Lovi udah move on dari semua itu. “That’s why, aku akan coba suka sama orang belum aku suka. Setidaknya sudah ada jaminan kalau dia suka aku. Benar kan?” “Hmm, ide yang lumayan bagus.” Panggilan telepon membuatnya menjauh. Katanya sih telfon dari pacarnya. Pacar yang posesif parah. Dia gak bakal suka kalau Lovi jalan berdua bareng Avius. Bahkan perempuan antah berantah di luar sana yang emang punya kepentingan umum, dia juga bakal cemburu. Lovi terus mencoba untuk memahaminya.  “Aku harus pulang.” “Okay.” “Sorry ya, calon istriku gak sesuai ekspektasimu.” “Kenapa harus minta maaf? Aku yang harus mengerti, bukan sebaliknya.” Lovi naik angkutan umum menuju ke rumah. Dia harus menempuh satu setengah jam. Makanya agak butuh effort untuk kesana. Walau begitu, Lovi udah nyiapin banyak hal kalau nanti kerja di Pemda. Dia udah nyiapin uang untuk beli mobil. Bukan buat pamer. Dia itu gak bisa bawa motor. Sedangkan mobil, dia bisa belajar. Setahunya, mobil gak butuh keseimbangan. Ya, gak separah motornya. Belajar naik mobil mungkin bisa lebih mudah untuk pemula seperti Lovi. Itulah impiannya saat ini. Tabungan sudah cukup. Ya, tinggal sewa orang aja buat ngajarin. Alunan lagu menemaninya melewati jalanan yang tampak gelap. Ada beberapa pesan dari mama. Yups, nanyain sudah dimana. Mama memang gampang khawatir. Tapi itu karena dia sangat peduli. Sebuah pesan cukup membuatnya deg-degan sekaligus penasaran. Dari Aya, nomor yang ia simpan beberapa waktu lalu. i********: berhasil membuat mereka ketemuan di Starbucks.  Dengan tenang, ia membuka pesan itu. “Lovi, aku bakal balik. Sampai jumpa.” Pesan yang bikin Lovi sangat senang. Senyum merekah di wajahnya.  Demi apapun, ini kabar yang sangat baik. Padahal Lovi gak berharap terlalu banyak, tapi ini terjadi melebihi ekspektasinya. Mereka bisa berkumpul lagi.  Lovi, Aya, Josen, Avius dan Adong. Dia benar-benar sangat berharap. Tapi menahan semua perasaan itu agar jika gagal tidak jatuh terlalu sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN