Enaknya tinggal di rumah adalah punya teman ngobrol, ada yang masakin dan lebih tenang. Ketika waktu menjatuhkan, ada keluarga yang membuat bertahan. Walau sakit, tetap saja lebih ringan ketimbang seorang diri.
Dewasa membuatnya lebih sukar menjadi diri sendiri. Tak cuma dia, hal itu cenderung terjadi pada semua orang. Semakin dewasa, kita dituntut untuk seperti ini dan seperti itu. Sesuatu yang normal tapi terasa sangat menyiksa.
“Ma, Josen dimana sekarang? Kok gak pernah kelihatan?”
“Dia kan kerja di .”
“Hah?”
“Dia gak ngasih tahu kamu?”
“Kami udah lama gak saling ngasih kabar, ma.”
“Astaga. Padahal dulu kalian dekat banget. Sekarang jadi kayak gini.”
Lovi tertawa. Tak ada sungkan atau gimana, Lovi hanya merasa kalau waktu bikin mereka merenggang. Bukan karena cinta sepihak, tapi emang dunia mengubah dia. Banyak perubahan yang terjadi, termasuk menjadikan sahabat sebagai prioritas. Teman di masa SMA tak lagi prioritas bukan? Begitulah kira-kira.
“Entar juga pindah kok.”
“Pindah kesini?”
“Iya. Kok mau senang banget sih?”
“Senang, dong. Jadinya punya teman.”
“Entar juga punya teman kok di kantor. Kantor kabupaten itu banyak orang baru, kan. Jadi bukan cuma kamu yang diterima.”
“Aku tahu, ma. Tapi Josen kan beda. Dia teman aku dari dulu.”
“Udah ah, bapakmu mau makan.”
Ini adalah salah satu yang berubah. Melihat bapak udah gak bisa seperti dulu. Harus disediakan segala hal untuk makan dan minum. Sakit itu sudah membuatnya lemah, tapi cukup hebat karena masih bisa berjalan sendiri. Peningkatan yang bagus jika dibandingkan dengan awal terkena stroke.
Lovi selalu merasa bersalah. Gak bisa ada disisi mereka ketika mereka butuh. Tapi sekarang ia berhasil mewujudkan niat baik itu. Pulang ke desa ini dan meninggalkan semua yang ada di perkotaan sana. Bukan hal mudah sebab begitu banyak kolega Lovi yang menyayangkan keputusannya.
Setelah kelar makan, Lovi duduk di kursi teras. Melihat ketenangan di tempat ini. Tenang yang membuatnya merasa nyaman.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tak disangka, Josen malah muncul dihadapannya. Menampilkan senyum khas menentramkan. Selain tambah berat badan, gak ada yang berubah darinya. Dia masih tetap tampan seperti dulu.
Josen memeluknya erat. Pertemuan yang terjadi setelah sekian lama. Meski pernah saling chattingan, hal itu terbilang jarang dilakukan.
“Kangen kan sama aku? Makanya kamu pilih pulang kampung.”
“Kata siapa? Jangan sok tahu.”
“Lovi, dipikir dari manapun, sudah jelas arahnya kemana.”canda Josen sambil tertawa.
Jika dipikir-pikir, semua terasa sangat aneh. Gimana nggak, waktu kuliah mereka beda pulau. Ketika lulus kuliah, mereka juga beda pulau. Seperti di switch, Josen pulang ke Sumatera sedang Lovi merantau ke Jawa. Takdir yang sangat aneh. Dan sekarang, mereka bisa bersama di kota bahkan desa yang sama. Ini terasa sangat aneh.
“Terus, kenapa kamu kerja disini? Bukannya nyari kerja di Jakarta.”
“Jakarta itu keras, Lov. Aku gak bakal kuat.”
Lovi terkekeh.
“Terus, kau sendiri gimana?”
“Bapak sakit. Mama benar-benar butuh aku.”
“Om udah mendingan kok. Malah sering aku lihat jalan-jalan di sekitar rumah.”
“Aku tahu. Tetap saja, harus ada yang menjaganya. Kalau kerja disini, aku bisa gantian jagain bapak.”
Bertemu setelah sekian lama jadi ajang curhat paling panjang. Bertukar informasi mulai dari suka hingga duka. Kangen banget! Setelah ketemu Aya, ketemu Josen bikin hatinya senang.
Josen juga terlihat seperti itu. Bicara dengan orang yang satu frekuensi adalah yang terbaik. Banyak yang berubah, tapi seyogyanya perubahan itu tidak memberi dampak buruk pada sahabat lama.
“Ngakak gak sih, inget kau nembak si Sindy tapi gak ngakuin dia pacarmu?”
“Sial! Jangan dibahas dong. Waktu itu aku masih cowok kampret.”
“Ya, betul sekali. Bahkan Sindy curhat sama aku.”
“Emang iya?”
“Iyalah. Kasihan banget dia. Dikatain halu sama cewek-cewek sekelas.”
Bukannya marah, Josen malah tertawa. Emang ya, kelakuan buruk di masa lalu bertransformasi jadi komedi di masa kini. Percayalah, kesalahan itu seperti kejut terapi yang bisa mengubah kita jadi lebih baik.
“Bisa-bisanya kita ketawain hal buruk gitu. Kalau balik lagi, pasti horor kan?”komentar Lovi saat Josen cerita soal Pak Anja marah karena Josen menyontek tugas salah satu cewek terpintar di kelasnya.
“Itulah serunya, Lov. Dulu sih horor, sekarang jadi lucu.”
“Terus, Adong juga pernah ditabok Pak Anja kan? Gara-gara dia nyiram anak sekolah sebelah?”ungkap Lovi antusias.
“Lah iya, kok masih ingat sih?”
“Ingat dong. Waktu itu Adong dikeramas sama Pak Anja. Dia masih bocil dan anak baru, tapi ikut main sama kakak kelas anak IPS. Abis itu, dia disuruh beresin toilet cowok selama seminggu. Apes banget.”
“Bagusnya, sekarang dia jadi polisi.”
“Hah? Jadi beneran dia lulus ujian?”
“Iya. Sayangnya, dia jadi sombong.”
“Gak mungkin.”
“Beneran. Terakhir aku lihat dia di Polres, dia kayak menghindar gitu. Mungkin karena sudah beda kasta kali ya.”
“Jos, kenapa ngomong gitu sih?”
Josen terlihat tidak bercanda. Terakhir ia ketemu Adong, cowok itu malah cuek banget. Kayak mereka bukan teman di masa lalu. Okelah kalau cuma teman sekelas. Tapi ini kan beda. Mereka dulu teman baik bahkan hampir bikin geng.
“Aku percaya, Adong punya alasan untuk itu.”
“Alasan apa? Dia terlihat baik-baik saja. Kok kamu dukung dia sih?”
“Hmm, aku pernah sombong gak sama kamu?”
“Gak pernah.”
“Mungkin aku akan sombong kalau aku insecure. Atau ada hal yang pengen kusembunyikan karena malu.”
“Argh, jangan bela sesuatu yang salah.”
“Akan kubuktikan kalau suatu saat ketemu dia.”
“Oke. Kita lihat aja.”
Mama tiba-tiba datang membawa sepiring gorengan dan dua gelas teh manis panas. Di desa kayak gini, air es tidak akan laku. Sebab udaranya dingin dan menyiksa jiwa raga.
“Makan dulu, Jos. Baru balik pasti kan?”
“Iya, tan.”
“Jadi kapan pindahan?”
“Minggu depan.”
“Tuh, Lovi senang banget waktu tahu kamu bakal stay disini.”
“Emang iya?”tanya Josen kaget.
“Iya. Soalnya, aku jadi ada teman. Terus, ada kejutan.”
“Kejutan apa?”
“Rahasia.”
Lovi langsung mengalihkan ke topik lain. Kali ini soal guru. Guru kesukaan ataupun guru killer selalu jadi perbincangan yang menarik untuk dibahas. Sama juga, meski dulunya ngeselin dan menyebalkan, sekarang mereka tampak lucu dan menarik.
Murid yang dulu kena gampar malah bisa melihat sisi positif dari sosok itu. Bisa tahu kalau guru yang begitu punya maksud yang baik. Walau dewasa kerap menyulitkan, dewasa juga membuat bijak dalam menanggapi setiap kondisi. Hal yang terlihat negatif menyimpan hal yang positif.
“Pokoknya, senang ketemu lagi, Lov.”
“Aku juga.”
“Jangan bikin keputusan gegabah lagi ya.”
“Soal apa?”
“Aku tahu kau mengalami masa sulit di akhir perkuliahan. Kalau aja kamu ikut aku, mungkin kamu gak akan mengalami itu.”
“Hahaha, ayolah. Itu sudah berlalu, Jos. Aku ingin bahagia dengan keadaan sekarang.”
“Senang mendengarnya.”