.32. Dua Ribu Sembilan Belas

1113 Kata
Time flies. Now 2019. Tahu apa yang terjadi?  Jakarta, 2019 Setelah semua yang terjadi, pertemanan itu tak berjalan sebagaimana mestinya. Beberapa orang meninggalkan media sosial f*******:. Media sosial itu kini dihuni oleh ibu-ibu yang suka update status. Dibanding f*******:, generasi millennial yang sudah dewasa lahir batin memilih i********: dan Twitter. Ditambah sosial media baru yang lagi booming banget, t****k. Perempuan berambut pendek dengan kacamata itu baru saja tiba. Dia langsung duduk di tempat kosong. Menaruh tasnya dan memesan beberapa menu langganannya di Starbucks.  “Thanks, mbak.” “Sama-sama.” Dia menikmatinya untuk mengurangi dahaga yang semakin menjadi. Tak berapa lama, seseorang datang. Seseorang yang sudah berubah banyak tapi masih tetap bisa dikenali sama Lovi. “Ay, tambah cantik aja.” “Lo juga kali.” Keduanya terdiam dan langsung tertawa. “Maaf, aku jadi pakai lo gue.” “Wahaha, it’s ok. Gak ada yang melarang keles.” Aya langsung memeluknya erat. Pelukan yang saling merindukan. Gimana nggak, setelah lulus SMA, mereka gak pernah ketemu. Aya merantau ke pulau Jawa. Jarak membuat mereka semakin gak mungkin untuk bertemu. Dan sekarang, ada waktu yang tepat untuk keduanya.  Kalau udah lama gak ketemu teman lama, pertanyaannya tidak jauh dari seputar pekerjaan, pacar hingga pernikahan. Seperti sudah di setting default. “Aku benci sama semuanya. Katanya bakal tetap solid dan jaga komunikasi. Kok sampai sekarang grup itu jadi sarang laba-laba.” “Nah iya. Aku juga mikir gitu. Tapi sadar gak sih, kita juga gak pernah nimbrung di grup itu?” “Iya juga sih.” “Berarti kita juga salah satu pihak yang bikin komunikasi ini gak jalan.” “Tapi geng cowok itu perlu dikasih pelajaran deh.” “Adong sekarang dimana?”tanya Lovi. Well, sebab Aya dan Adong pernah pacaran, Aya pasti lebih tahu daripada Lovi. Sudah sewajarnya kayak gitu. “Setelah putus, dia jadi benci sama aku.” “What?” “Iya. soalnya aku putusin dia waktu dia lagi sayang-sayangnya. Tahu dia dimana udah gak penting.” “Ah, ternyata kau lebih buruk daripada aku.” “Emang kamu kenapa?” “Aku pernah pacaran sama Avius.” “AH, jangan bohong. Gak mungkin. Avius terlalu ganteng buatmu. Ya, walau sekarang kau jadi cantik banget.” “Sialan!” “Cerita dong. Kok bisa pacaran sama dia?” “Coba-coba doang. Ternyata, gagal.” “Ah, sial. Kenapa kita sama sih?” “Bedanya, aku sama Avius baik-baik saja. Bahkan kita sering kontekan. Katanya dia udah mau tunangan beberapa bulan lagi.” “What the hell! Serius?” “Iya. Keren gak sih?” “Kau kapan?” “Kapan-kapan.” Keseruan itu terus berlanjut sampai mereka lupa waktu. Kalau cerita soal masa lalu, gak akan ada habisnya. Iya gak sih? Saat mau pulang, mereka duduk di kursi mall yang ada di depan lobby. Memandangi gelapnya malam dibantu lampu jalan. Jika dulu mereka berpikir dewasa pasti menyenangkan, kenyataan tidak sama sekali. Dewasa memaksa setiap orang untuk berpikir tentang hidup yang rumit ini. Gak semata-mata soal cinta monyet, happy-happy, nongkrong sama teman. Argh, dewasa lebih daripada itu. “Ay, mau sampai kapan disini?” “Hmm, gak tahu.” “Kayaknya aku bakal balik deh.” “Balik ke mana?” “Balik kampung.” “Kenapa?” “Papaku sakit. Struk. Dan gak cuma itu doang sih, aku lulus PNS di kabupaten.” “Hey, ini aneh banget.” “Apanya?” “Aku juga lulus, Lov.” “Di kabupaten juga?” “Iya.” “Kok bisa sih?” Lagi dan lagi. Mereka dikasih syok terapi sama ketetapan Tuhan. Percaya atau engga, sahabat itu seperti jodoh. Coba dipikir-pikir, di antara puluhan teman yang ada di sekolah, kenapa kau bersahabat dengan yang itu? Intinya adalah, kalian berjodoh. “Gak mungkin! Ini gak masuk akal, Ay.” “Beneran deh. Kalau kau gak ngasih tahu, aku gak akan pernah tahu. Ini jodoh apa gimana sih?” “Tapi, kau jadi ambil kan?” “Nah itu dia, tadinya aku gak mau ngambil. Setelah kau lulus, aku jadi mikir lagi.” “Kenapa kepikiran buat gak ngambil?” “Aku takut. Lingkungan instansi pemerintah kan rada-rada.” “Iya juga sih. Semua  terserah samamu deh,  gak mungkin aku yang nentuin masa depanmu. Iya kan?” Aya berpikir keras. Sebenarnya, dia juga capek di kota ini. Kota dengan segala hingar bingarnya. Punya teman sih iya, tapi gak ada yang bisa diandalkan. Teman kantor dimana-mana sama. Sama-sama cuma sekedar teman. Tak ada yang bisa jadi sahabat. Aya yakin banget kok, walau gaji kecil, pulang kampung sebenarnya pilihan yang lumayan baik. Lovi sendiri udah gak betah di Jakarta. Sangat tidak betah karena kesepian. Ditambah lagi, papanya sakit. Dia jadi berusaha keras untuk pulang kampung. Setidaknya, ada yang jagain papa ketika mama sibuk diluar. Dengan pesta adat dan sebagainya. “Bye! Sampai jumpa kapan-kapan.”ucap Aya waktu tahu transportasi online pesanannya sudah tiba. “Ay, kalau kita satu kantor, aku janji bakal wujudin apa yang kamu inginkan.” “Masa sih?” “Kamu pasti punya sesuatu yang pengen dilakuin kan? Atau setidaknya hal yang pernah terlintas tapi dulu gak bisa dilakuin?” “Banyak. Banyak banget. “Ayo, kita lakukan bareng-bareng. Kita masih muda kok. 25 tahun.” “Okey, bakal dipikirkan matang-matang.” “Aku pergi ya?” Lovi naik ke ojek online itu. Dia benar-benar senang ketemu sama Aya. Entahlah, mengingatkannya pada kisah-kisah lama. Dan ya, naluri masa mudanya kembali datang. Semua aktivitasnya selama ini tak menggairahkan. Tapi, kalau teringat sama masa SMA, dia kembali bersemangat. Kayak semangat hidup datang lagi. “Lovi!”panggil Aya sebelum dia lepas landas. “Aku bakal pikirin, tapi jangan terlalu berharap.” “Aku tahu, Ay. Ikuti hatimu aja.” Lovi gak peduli. Setidaknya dia sudah mencoba. Dia makin gak sabar untuk resign. Hanya perlu menunggu waktu agar dia ditugaskan di tugaskan disana. Gak sabar pulang dan bernostalgia di desa yang masih asri itu. Mama sama papa senang bukan kepalang. Lovi juga yakin, dia pasti akan menemui kata bosan kalau pulang ke rumah. Mengingat bahwa hingar bingar Jakarta sudah merasuk ke relung jiwa. Tapi, ini keputusan terbaik.  Kehadiran Aya bikin dia dimabuk hal bahagia. Kebayang kalau saat-saat waktu sekolah terulang kembali. Tapi apa mungkin? Sepenglihatan Lovi, Aya masih sama seperti dulu. Bedanya, dia makin cantik dan anggun. Ya, dia emang idola cowok-cowok waktu sekolah. Bahkan ada yang mengaku suka setelah lulus SMA. Katanya sih gak punya nyali buat suka sama Aya. “Dear God, semoga pilihanmu yang terbaik.”gumamnya dalam hati. “Lovi, kamu udah pulang nak?” “Udah ma, aku senang banget hari ini.” “Senang kenapa?” “Aku baru ketemu sama Aya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN