|sahabat sejatiku, hilangkan dari ingatanku|
Persahabatan bukan soal intensitas pertemuan. Tapi bagaimana memaknai setiap pertemuan dengan baik. Lovi melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Ia mengambil dompet dan berjalan ke warnet terdekat. Warnet yang cukup dekat dengan rumah.
Dengan rasa takut yang besar, ia mengetikkan link pengumuman tes ujian universitas. Momen yang benar-benar menegangkan. Lovi sudah berusaha keras. Menghabiskan waktu untuk belajar dan berusaha.
Dengan tatapan kaget, ia berteriak kencang. Demi, dia lulus di USU. Dengan jurusan yang sama, ia bisa pindah kampus. Gila! Ini prestasi yang tak pernah ia sangka akan terjadi.
Wajahnya begitu bersemangat. Membayar untuk tiga puluh menit menggunakan komputer itu. Saat hendak pergi, ia malah melihat Josen dan Lila sedang jalan bareng. Ia kembali masuk ke warnet dan mengintip.
Kenapa dia harus jatuh hati sama Josen? Harusnya ini jadi pemandangan yang membuatnya ikut senang. Tapi ini terasa menyesakkan. Bahagia Lovi berubah jadi kesedihan. Mereka terlihat sangat serasi. Sungguh pemandangan yang mencerminkan kebahagiaan.
Lovi menyalahkan diri sendiri. Harusnya dia berhenti mencintai ketika tahu Josen tak mungkin suka balik. Ngungkapin perasaan cuma akan menambah masalah. Gak cuma rasa segan dan enggan, tapi juga kemungkinan menghancurkan pertemanan.
“Ayolah, Lov. Kamu sanggup! Kamu sanggup lupain dia.”
Berusaha keras adalah pilihan terakhir. Lovi berjalan santai dan pura-pura gak melihat mereka.
“Lov, darimana?”teriak Josen menghentikan langkahnya. Lovi menoleh dan tersenyum.
“Ke warnet bentar.”
Josen malah berlari ke arahnya. Ngasih dia sebotol minuman. “Nih, tadi beli dua soalnya diskon.”
“Ah, makasih.”
“Sudah dengar kabar dari yang lain?”
“Kabar apa?”
“Soal pengumuman ujian.”
“Ah, be-belum. Mungkin mereka masih pada sibuk.”
“Oh,”
“Aku balik dulu ya. Takut dicariin.”
“Oke.”
Dengan langkah kaki yang cepat, Lovi berjalan. Dia gak mau berlama-lama dengan Josen. Ayolah, Lovi harus sadar diri. Sadar diri penting banget dalam hidup ini. Biar gak kebablasan. Dia menaruh minuman itu di atas meja.
Padahal Josen sering ngasih dia makanan, tapi minuman ini terasa berbeda. Lovi gak ingin meminumnya. Dia menatapnya dengan kosong. Kayak dia gak boleh menikmati minuman itu.
“Lovi, gimana hasilnya?”
Mama tampak bersemangat. Wajahnya berbinar semangat. Bukan karena berharap Lovi lulus, mama memang tipikal orang yang suportif. Daripada membuat patah semangat, dia berusaha keras untuk memberi dukungan. Gak heran kalau dia guru yang disukai murid-muridnya. Ya, termasuk teman-teman seangkatan Lovi waktu duduk di bangku SMP.
“Lulus!”teriak Lovi kencang.
Dia memeluk mama dan mereka meloncat bareng-bareng. Persis kayak anak SD lagi perayaan ulang tahun.
“Beneran lolos, Lov?”tanya papa.
“Iya pa. Aku juga gak nyangka.”
“Selamat ya.”
“Makasih pa,”
“Terus kamu mau gimana? Pilih yang ini aja?”
“Pastinya iya. Aku udah belajar sebulan lebih untuk persiapan ujian ini. Aku gak perlu jauh-jauh ke pulau Jawa. Aku bisa pulang sekali sebulan kalau kangen.”
Hari ini jadi hari terbaik bagi keluarganya. Bahkan mama berencana memotong ayam untuk perayaan. Ayolah, keluarganya memang sudah begini dari dulu. Bahagia banget kalau anaknya lulus universitas negeri. Serasa dapat durian runtuh. Meskipun harus membayar biaya yang tidak murah, mereka seakan tidak mempedulikan hal itu.
“Terus, kamu gak barengan dong sama Josen? Udah bilang sama dia?”
“Belum, pa. Besok deh aku kasih tahu. Besok aku mau ke kota. Sekalian ketemu teman-teman.”
“Bakal sedih dia Lov. Padahal dia udah senang sekampus sama kamu.”
“Kata siapa?”
“Dia yang bilang sama mama.”
Lovi juga senang. Tetap aja, ini sudah keputusan final. Daripada makan hati dengan cinta sepihak, pilihan terbaik adalah melarikan diri.
Friendzone ngasih dia kesempatan untuk mencintai dari dekat. Merasa bahwa sikap dari sahabat seperti balasan cinta. Padahal belum tentu. Kebaikan seorang sahabat itu kekal. Dan alasan memberi perhatian tak lain dan tak bukan hanya karena status sahabat itu sendiri. Jika tidak, mungkin semua akan berbeda.
Jika bertahan, Lovi akan merasa tersanjung tiap kali ingin move on. Baiklah, dia emang gak berpengalaman hebat soal cinta. Tapi setidaknya, dia mencoba menghindari benih itu mekar dan berbunga-bunga. Menghentikan perasaan akan mudah dengan berjalannya waktu. Itulah harapan dari Lovitha Rasella.
***
Yang bikin Lovi dan Josen saling marahan adalah hal sepele. Lovi pernah marah karena Josen gak ngasih tahu ada ujian. Dia juga pernah marah karena cowok itu lupa menulis namanya dalam daftar panitia. Tapi kali ini, Josen benar-benar marah waktu tau Lovi berniat pindah kampus.
Berbeda dengan Josen, Avius merasa sangat senang. Sekampus dengan cewek yang ia suka tentu hal yang sangat baik. Naksir cewek emang sebegininya. Waktu tahu Lovi masuk USU, dia udah kebayang akan seperti apa. Sudah dipastikan kalau masa kuliah nanti akan menyenangkan.
“Kenapa kau harus marah?”kata Adong mencairkan suasana.
“Dia gak ngasih tahu apa-apa, Dong. Kau gak akan paham.”
“Kau pun kenapa gitu, Lov?”
“Aku cuma malu.”
“Malu?”
“Malu kalau sampai gagal. Rencanaku sih ini cuma mengisi waktu kosong. Aku gak nyangka kalau ternyata lulus.”
Pembohong! Ya, itu cuma alasan klise ala Lovi.
“Oke, aku paham kali. Siapa yang gak mau kalau gak lulus? Aku aja malu sekarang.”ucap Adong sambil tertawa.
“Kau sih udah pasti gak lulus. Otakmu aja terbatas penyimpanannya.”ledek Aya.
“Jangan gitu lah, cinta. Masa sama pacar sendiri jahat.”
“Pokoknya, ini sudah terjadi. Mau gimana?”
Josen malah pergi meninggalkan mereka. Lovi menyusulnya untuk bicara berdua. Padahal hubungan mereka berdua sangat dekat. Bisa-bisanya Lovi menyembunyikan ini darinya.
“Maaf.”
“Emang bisa cuma maaf? Bahkan om dan tante gak bilang apa-apa sama aku. Kau sengaja kan?”
“Iya. Soalnya mau ngasih tahu langsung.”
“Argh, tolak aja yang disitu.”
“Gak bisa. Aku pengen dekat sama orang tua.”
“Lah, kayaknya dulu alasanmu gak gini.”
“Hmm, setelah dipikir-pikir, dekat sama orang tua lebih baik kan?”
“Alasan.”
“Pokoknya, kau harus pulang minimal sekali setahun. Ya, biar kita bisa ketemu.”
“Entahlah, Lov. Pulang sekali setahun juga butuh biaya kan?”
Cukup lama mereka memandangi danau itu. Mereka sengaja makan malam bareng yang dipinggirnya ada danau. Tak ada lagi yang bicara. Keduanya sibuk memikirkan sesuatu di dalam hatinya.
Mungkin sekarang mereka akan saling kehilangan, tapi itu jadi awal untuk saling tak mengindahkan. Untuk saling mandiri dan tidak bergantung. Cara terbaik untuk move on dari rasa sayang.
“Ayolah, guys. Kita kesini buat perayaan. Semua udah dapat tujuannya masing-masing.”
“Kau bukannya belom?”
“Aku mau nyoba tes polisi.”ucap Adong.
“Hah? Serius?”
“Iya. Makanya beberapa hari ini sibuk latihan fisik. Doakan ya?”
“Pasti, Dong. Semoga kau bisa jadi polisi yang berguna bagi nusa dan bangsa.”
“Amin.”
“Ingat-ingat kalau udah sukses.”
“Pasti, Jos. Kita kan sohib garis lurus.”
“Garis keras!”
Mereka tertawa lalu kembali ke meja makan. Menikmati sajian itu dengan lahap sebab sudah sangat lapar.
Semua orang punya mimpi. Mimpi itu memberi harapan baru bagi mereka. Akan ada masa depan yang cerah untuk mereka yang mau berupaya. Lulus dari tingkat SMA seperti jalan yang menarik untuk dilalui. Rasa penasaran meningkat sebab katanya dunia kuliah akan lebih seru.
Kuliah jadi jembatan menuju keinginan-keinginan tak terbatas. Dengan harapan cita-cita itu dapat digapai.
Lovi cuma ingin persahabatan ini abadi. Ya, sekiranya komunikasi tak terputus.
“Pokoknya awas aja kalau pada sombong.”
“Bakal diapain?”
“Ditabok.”
“Hahahaha.”
Bikin janji seperjuangan. Pokoknya harus ada komunikasi mau bagaimanapun. Minimal kasih tanda di grup f*******:. Dunia emang bakal berubah banyak, tapi mereka berharap kalau sahabatan ini gak bakal ikut berubah. Persahabatan ini akan tetap jadi hubungan yang lebih dari saudara.
“Perut gue mules dengar kau bicara. Aku ke toilet dulu.”tegasa Adong saat Lovi bicara lebay soal masa depan. Mereka tertawa melihat Adong lari terbirit-b***t ke toilet. Dia bodoh karena sudah makan cabe banyak. Hanya untuk ngebuktiin kalau dia cowok gentle. Tentu atas arahan Cahaya.