.30. Cara Menghindarimu

1156 Kata
Lovi benar-benar jatuh hati. Sesuai janjinya, ia berniat mengungkapkan perasaannya pada Josen. Niat itu gagal waktu ia tahu Josen pacaran dengan adik kelas. Masa tenggang satu bulan sebelum kuliah terasa lebih sulit. Apalagi, rumah mereka berdekatan.  “Lov, tolong kasih ini ke rumah Pak Mantri.” “Ini apa?” “Rendang kerbau.” “Mama aja yang ngasih.” “Kamu gak lihat mama lagi kerja gini? Atau kamu yang masak ikan?” “Ya, udah ma.” Lovi gak pengen ke rumah Pak Mantri sebab di sana pasti ada Josen. Kenapa sih susah banget mengungkapkan perasaan? Padahal Josen bisa dengan mudah dapat pacar. Apa dia terlalu mengacuhkan perasaannya sendiri? Langkah kaki Lovi terhenti waktu dia melihat Josen bersama Lila. Mereka pacaran di depan rumah. Zaman belum canggih tapi orang tuanya sudah woles membiarkannya. Bukan karena tidak perhatian. Orang tua itu gak tahu kalau mereka pacaran. “Lov, bawa apa itu?” “Maaf ganggu, ini dititipin mama.” “Ganggu apa sih? Kau tunggu disini.” Josen masuk ke rumah dan membiarkan Lovi bersama Lila. Lila menyapanya berkali-kali. Ya, sikap hormat sama kakak kelas.  “Nih, makasih kata bapak.” “Sama-sama. Aku pergi ya.” Sakit banget rasanya. Sakit yang penuh kekosongan. Antara cinta atau emang kecemburuan sesaat. Panas hatinya semakin  tak terbendung. Dia jadi benci satu kampus dengan Josen.  “Kau suka sama Josen?”teriak Aya panik.  “Gak usah gitu ngomongnya. Jangan cerita ke siapa-siapa. Adong juga jangan.” “Iya, terus gimana?” “Aku gak sanggup satu kampus sama dia. Kira-kira aku harus gimana?” Aya tampak berpikir dari seberang. Ditelfon tiba-tiba sama Lovi bikin dia linglung. Mau ngasih saran apa buat temanmu yang terlibat friendzone? Gak mungkin dong menyalahkan satu pihak? Apalagi dia juga berteman sama Josen. Josen punya pacar itu tidak salah. Tak boleh ada yang disalahkan untuk perasaan masing-masing. Siapa yang punya kuasa untuk mengatur perasaan itu? Tidak ada. Rasa itu naluri yang datang dari dalam. “Tahan aja. Kau kan bisa waktu kita masih sekolah.” “Sekarang udah gak bisa.” Menahan perasaan juga butuh tenaga. Dan pasti ada batasnya. Ketika sudah melewati batas, sudah tak ada kesempatan untuk mengulanginya lagi. Sudah capek dan lelah. Begitulah kira-kira. Seperti sabar ada batasnya, menahan rasa juga ada batasnya. “Ayo ikut ujian masuk perguruan tinggi.” “Hah?” “Hmm, aku berencana masuk Unimed. Kau bisa nyoba USU atau universitas lain. Setidaknya gak harus satu kampus sama Josen. Betul?” Ide yang bagus. Jika tak bisa menghadapi penjahat, ada baiknya menghindar. Kalau gak bisa melupakan Josen, hindari dia. Ayolah, kebiasaan mengubah segala hal. Cinta itu pasti akan hilang seiring berjalannya waktu. “Ide bagus kan, Lov?” “Gak buruk. Tapi aku gak yakin bisa masuk jalur tes.” “Why not? Jangan menyerah sebelum mencoba.” “Gimana kalau ortu gak setuju? Mereka udah happy banget aku di jurusan ini.” “Ambil jurusan yang sama di universitas lain.” “Hmm, baiklah. Tapi rahasiakan ini dari mereka ya.” “Dari ayang juga?” “Iyalah. Adong itu suka curhat sama Josen. Aku gak mau dia keceplosan.” “Okay.” “Thanks, Ay. Bye!’ Lovi harus percaya bahwa ada keajaiban untuknya. Dia akan berusaha keras untuk masuk jurusan yang sama di USU. Belajar dari sekarang tak akan mengurangi usia. Dan lagi, dia punya waktu luang di masa tenggang ini. Semua orang sibuk bimbel demi lulus tes ujian masuk universitas. Lovi akan belajar diam-diam. Argh, melupakan Josen seperti kemustahilan. Sayangnya, cinta sepihak tak indah sedikitpun. Lovi gak akan sanggup melihat ia bermesraan dengan cewek lain. Siapa dia? Bukan siapa-siapa.  “Lovi, rendangnya udah dianterin?” “Udah ma. Tadi Josen yang ngambil.” “Ayo, kita makan!” Makan malam dengan lauk yang banyak sangat menyenangkan. Ini adalah kejadian langka di rumah ini. Biasanya juga berebut ikan sama adik.  “Kata Pak Mantri, nanti kalian bareng aja ke Bogornya. Kamu sama Josen.” “Betul itu. Dan usahakan kosannya dekat. Biar ada teman kamu disana.” “Iya, pa. Tapi itu masih lama. Gak usah dibahas sekarang.” “Iya juga sih. Pokoknya gunakan waktu kamu dengan baik. Mumpung di rumah bantu mama sama papa.” Lovi mengangguk paham. Di dalam hatinya dia ingin berteriak. Dia akan mengubah alur mimpinya. Coba mencari peruntungan dengan ikut tes masuk universitas. Dia gak yakin akan masuk tapi setidaknya mencoba. “Ma, pa, aku boleh ikut tes universitas gak?” “Loh, kenapa? Kamu gak suka masuk ke kampus yang itu?” “Bukan gak suka. Tapi,,,,,” Mama dan papa tampak menunggu jawaban Lovi. Apa yah alasan yang gak  terlalu klise? Yang bisa jadi solusi terbaik untuk sekarang? “Cuma pengen tes kemampuan aja.”dustanya. “Kalau lolos ya, syukur. Kalau enggak juga gak apa-apa.” “Hmm, terserah kamu aja.” “Beneran boleh, pa?” “Iya.” “Tapi jangan bilang sama Josen ya pa. Aku malu kalau sekiranya gagal.” “Lebay banget.” “Beneran ma. Please!” “Iya, iya. Cepatlah makan.” Menghindarimu itu butuh usaha. Usaha yang sangat ekstra sampai harus memperjuangkannya dengan sekuat tenaga. Jikapun Josen putus dengan Lila, ia pasti akan pacaran dengan wanita antah berantah di kampus. Dia itu playboy. Jadi jelas, mudah baginya mengganti wanita yang meninggalkannya. *** Aya benar-benar bingung. Baru saja ia mendapat pengakuan bahwa Lovi jatuh suka sama Josen. Ini jadi rumit sebab beberapa hari yang lalu, Avius mengaku suka sama Lovi. Diakui, cinta segitiga dalam dunia persahabatan seperti hal klise yang sering terjadi. Tapi, menjadi bagian dari itu bikin Aya merinding. Aya sudah berjanji kepada keduanya kalau hal itu akan jadi rahasia. Padahal, dia ingin sekali berdiskusi dengan Adong.  “Kenapa bete gitu sih? Kamu ada masalah?” “Hmm, gak ada.” “Ambil jaket sana.” Aya langsung kembali dan mengambil jaket yang sedari tadi diatas kursi. Dia emang pengen bawa, tapi keburu lupa karena Adong datang. Mereka berjalan menuju pasar untuk makan mie ayam. Mie ayam yang jadi langganan mereka berlima. Kehidupan tanpa sekolah tampak menyenangkan kecuali tidak ada pertemuan intens dengan sahabat.  “Dong, kalau aku nolak kamu, kamu bakal gimana?” “Hmm, itu gak mungkin. Soalnya sekarang kita udah pacaran.” “Pemisalan aja.” “Aku akan galau 7 hari 7 malam.” “Masih mau ketemu sama aku?” “Mungkin sementara tidak. Tapi aku gak bakal menghancurkan persahabatan kita.” Tentu saja. Tak satupun yang ingin persahabatan ini hancur. Walau Lovi sudah mendapat penolakan yang begitu jahat. Bahkan dia belum sempat mengungkapkannya, dia pasti ingin hubungan ini tetap berlanjut. Saran yang dikasih Lovi sudah paling benar. Daripada persahabatan hancur, mending menjaga jarak. Jaga jarak itu solusi paling baik untuk melunakkan kerasnya hati. Aya merangkul lengan Adong dan berjalan dengan senyuman merekah. Tempat itu sudah ramai oleh pembeli. Adong langsung mencari tempat kosong agar tak keburu diisi oleh pelanggan lain. Dia itu romantis parah. Bikin Aya melunak dengan segala prinsipnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN