_____Kita, istimewa dan satu-satunya______
________Kita, mampukah bertahan?__________
| ss501-because i'm stupid |
Saat pulang sekolah tiba, Lovi menunggu Josen di gerbang sekolah. Cowok itu sepertinya ada rapat penting. Lovi duduk di kursi yang letaknya tepat di bawah pohon rindang. Ia menatap langit yang semakin terik dan membuat gelisah. Aya sudah pulang duluan karena di jemput kakak laki-lakinya. Hal itu menjadi keirian tersendiri bagi Lovi. Rasanya menyenangkan punya kakak laki-laki.
Motor berhenti tepat di depannya. Ia mengenali pemiliknya. Avius Refadwi. Ia membuka helmnya dan menyapa. "Lov, ngapain?"
"Nunggu Jos."
"Kalian mau kemana sih?"
"Mau belanja di suruh tante."
"Hmmm, padahal aku pengen ngajak ke kantor aku."
"Ke radio Kharisma?"tanya Lovi antusias.
"Iya, tapi lain kali aja. Sampai jumpa besok ya. Jangan lupa dengerin aku siaran."
Lovi mengangguk. Motor itu seketika berlalu. Josen langsung muncul dari kerumunan pengurus osis yang memenuhi jalanan.
"Kau makin dekat aja sama Avius."
"Hah? Biasa aja perasaan."
"Beda lah. Kayaknya dia suka samamu deh Lov."
"Ehhmmm,,,, sok tahu banget. Engga lah, kita kan sahabatan semua Jos."
"Pokoknya pandangannya dia ke kamu itu beda."
Lovi semakin canggung. Di banding berbincang dengan Avius yang benar-benar menyatakan cinta padanya, ia lebih enggan berbicara pada Josen. Ya, setelah ia menyadari perasaannya sendiri. Entahlah, jiwanya seperti terbuai. Walau ia sadar betul bahwa Josen tak pernah sekalipun menyukainya dalam hidup. Cinta sekonyol itu memang.
"Terus kata Adong kau bantuin Avius kan nyari-nyari karya sastra?"
"Ahhh i...iya. Kebetulan aja aku kepikiran Herdi."
"Pantas aja dia suka sama kamu. Kamu nya terlalu perhatian sama dia."
"Kau kenapa sih? Avius kan temanmu juga Jos."
"Aku cuma mau bilang dia itu suka samamu. Biar kamu percaya."
"Iya deh, aku percaya."
"Terus kamu suka dia gak?"
"Enggak."
"Ya udah kalau gitu."
"Terus kau kenapa nanya gitu?"
"Engga apa-apa."
"Jangan-jangan kau takut kalau kami beneran jadian?"
"Hah?"
"Iya. Kalau di film gitu kan, jadian sesama sahabat gak boleh. Entar kalau putus bisa bahaya."
"Hmmm, make sense. Tapi kalau kalian mau jadian juga gapapa, asal kalau putus baik-baik."
"Emang masa depan bisa ditentuin sendiri? Putus baik-baik itu cuma imajinasi, kita gak tahu apa yang akan terjadi nanti."
"Iya juga sih."
Mereka turun dari angkutan kota. Hari ini penting untuk membeli pesanan Tante Mira. Ia sedang pergi beberapa hari dan mereka di suruh belanja untuk bahan makanan anak kosan selama satu minggu. Josen pasrah membawa semua belanjaan dan Lovi yang menawar harga pada para penjual. Sulit memang untuk menawar karena baru kali ini Lovi belanja tanpa orang dewasa.
Saat semua daftar belanja sudah dibeli, mereka memutuskan untuk nangkring di tempat penjual buku dan majalah bekas. Lovi hendak membeli majalah gadis. Dari sana ada rekomendasi outfit bagus dan list lagu-lagu yang lagi hits.
"Heii Debora?"tanya Josen saat seseorang datang.
"Josen? Ngapain di sini? Tumben banget, mau beli buku?"
"Engga. Lovi nih yang mau beli."
"Hai Deb. Kalian bukannya ada sesuatu ya?"tanya Lovi ngasal. Ia ingat bahwa Debora pernah curhat tentang Josen padanya.
"Sesuatu apa sih Lov? Dia itu cuma fokus sama belajar. Tiap hari kalau di tanya pasti lagi belajar."seru Debora sambil tertawa.
"Maklum, biar bisa naik podium hahah."
"Yaudah aku duluan ya. Mamaku nungguin." ucapnya sambil membayar komik yang baru saja ia beli.
"Bang, aku mau ini aja deh."seru Lovi sambil menyerahkan majalah gadis yang ia pegang.
"Okey, terima kasih."
Mereka bergegas untuk pulang. Hari semakin sore dan mendung. Sepertinya akan turun hujan. Belanjaan yang berat itu langsung berlabuh di angkutan kota. Beban berat jadi ringan. Seperti prediksi, hujan turun.
"Ahhh, aku gak bawa payung lagi. Kau bawa gak Lov?"
"Bawa kok. Tapi kita harus selamatkan belanjaan ini dulu."
Rumah tante Mira memang agak jauh dari jalan besar. Jadi rumah itu tidak tepat di pinggir jalanan umum. Hujan semakin deras dan dinginnya menusuk ke kulit tubuh. Terpaksa mereka sepayung berdua. Lovi menikmatinya walau harus basah sekalipun, dia tetap akan gembira. Sepayung berdua dengan doi, yang bahkan tak menganggapnya lebih dari teman, rasanya sudah cukup.
"Akhirnya......"ucap Josen sambil duduk di depan rumah yang juga basah.
"Kayaknya main hujan seru deh."seru Lovi sambil menari-nari di depan rumah tanpa peduli hujan itu menghantam wajahnya. "Yang penting belanjaannya udah aman."teriaknya sambil berlari kesana kemari.
Josen menertawakan cewek yang kekanak-kanakan itu. Sejak dulu, ia memang seperti itu. Lepas dan selalu ceria. Josen yang sudah beranjak dewasa tak lagi suka bermain hujan. Ia hanya memandang dan mengingat kenangan masa lalu. Ya, dulu main hujan begitu menyenangkan saat mereka kecil. Walaupun dimarahi orang tua saat pulang ke rumah, tapi ada kepuasan tersendiri. Momen itu tak sama lagi jika dilakukan sekarang. Tapi tetap ada maknanya dan jadi kenangan.
"Udah Lov. Sana mandi."
"Iya nih. Aku udah capek."
"Sana mandi. Entar aja belanjaannya dimasukin kulkas. Habis hujan-hujanan harus langsung mandi biar gak sakit."
"Okey deh. Kau juga mandi sana."
"Gampang!! Mandi disini juga gak masalah."
"Dasar gila!"
Lovi langsung bergegas ke kamar mandi setelah mengeringkan badannya sesaat. Josen ke kamarnya sambil beristirahat sejenak. Ia mengecek ponselnya. Beberapa panggilan dari mamanya. Orang tua memang sibuk sekali menelepon anaknya bahkan di saat anaknya masih baik-baik saja. Orang tua yang mencintai anaknya melebihi apapun di dunia ini. Selain itu, ada pesan dari perempuan-perempuan target utamanya. Mereka itu seperti penghilang rasa bosan bagi Josen. Sekalian ia belajar cara menggombal yang ampuh. Ia mendapat pesan lagi dari Debora. Cewek itu menjadi pengganggu sistem pertahanan Josen. Cewek itu sangat agresif.
Tatanan hidup Josen adalah mendekati para wanita cantik. Baginya dekat dengan mereka seperti sesuatu yang membanggakan dan layak dipamerkan. Mereka hanya alat yang diperlukan dalam kestabilan hidup. Tak ada yang pantas untuk diseriusin. Bagi Josen, berpacaran itu sama saja dengan menghabiskan uang. Uang adalah sesuatu yang harus dijaga keberadaannya. Ia tak peduli dengan anggapan bahwa ia adalah playboy. Terserah.
Lovi seketika demam ringan. Kepalanya pusing akibat hujan deras. Kebodohan yang ia lakukan beberapa saat yang lalu seketika berubah jadi penyesalan. Ia tidur dalam balutan selimut tebal dan berusaha menutup mata. Tiba-tiba saja ada telepon dari seseorang. Lovi tak ingin mengangkatnya, tapi sudah ada dua panggilan tidak terjawab.
"Lovi, kenapa baru jawab sih?"tanya Avius di seberang sana.
"Kenapa Av?"balasnya dengan suara parau.
"Kau sakit? Suaramu kenapa?"
"Cuma demam ringan karena main hujan."
"Yaudah, istirahat aja Lov. Minum obat, makan yang hangat."
"Jadi kau menelepon kenapa? Mau ngomong apa?"
"Hmm, besok aja di sekolah. Tidur aja ya. Gudnight Lov."
"Dasar aneh!"pikir Lovi. Ia kembali dalam posisi ter-nyaman untuk tidur. Kepalanya seakan sedang menabuh gendang. Perih dan sakit sekali. Ia berjuang keras untuk tidur. Di kamar lainnya, Josen sedang terdiam setelah mendengar acara radio barusan. Penyiar bernama Vidi itu sedang mengungkapkan perasaannya terhadap seseorang.
"Aku mau mengirim pesan untuk seseorang yang ku suka. Dia yang selalu bersamaku dan memberiku kesempatan memilih sesuatu yang tepat dalam hidupku. Aku harap di sore yang mendung ini, kau baik-baik saja menikmati hujan. Aku tahu, kau suka hujan. Aku akan selalu menunggu sampai ada waktu yang tepat. Untukmu, sebuah lagu akan diputarkan. Utopia dengan judul Saat Hujan Turun."
Kalimat itu membuat Josen bertanya-tanya. Apakah benar pesan untuk untuk Lovi? Segalanya terasa mungkin. Terlebih saat dia mengatakan bahwa gadis yang ia suka itu menyukai hujan. Ya, Lovi adalah kandidat terkuat. Tapi bisa saja ia adalah Bella, cewek dari 11 IPA 2 yang dulu menyatakan cinta padanya. Ia penasaran dalam dingin nya udara. Ia langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Lovi.
"Lovi, kau dengar siaran Avius barusan?"
Ia menunggu tapi tak ada balasan. Josen kembali berkutat dengan buku pelajaran di hadapannya. Waktu luang yang tersisa sebaiknya digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk. Selesaikan dengan cepat, lalu bermain game.
Hujan di luar sana semakin deras. Ada hati yang sedang hangat oleh pernyataan cintanya, ada yang bergumul dengan hidupnya dan ada yang menikmati hujan dalam diam. Setiap cuaca memang punya rasa yang berbeda. Sama seperti suasana hati.