______Kita, sejatinya saling butuh______
_________Kita, mencintai untuk dicintai________
| Weslife - My Love |
Lovi berangkat lebih pagi di hari jumat yang masih dingin ini. Ia meninggalkan Josen dengan alasan sedang ada urusan penting. Ia sampai di kelas dan melihat di sana ada Avius. Ia duduk disampingnya.
"Av, SMS yang kau kirim kemarin itu apa?"
"Lov, aku suka sama kamu."
"Hey, ini gak semudah itu, tau gak sih? Kita tuh temenan Av."
"Tapi pertemanan kita gak melarang buat pacaran kan?"
"Iya juga sih."
"Lov,,,, aku gak minta buat pacaran kok. Aku cuma mau ngasih tahu kamu kebenaran perasaanku."
Lovi berusaha keras untuk berpikir secara dewasa. Ia harus yakin dan tidak boleh ada yang jadi hancur oleh karena hal seperti ini. Persahabatan itu lahir bukan untuk dihancurkan oleh seonggok rasa cinta. Persahabatan lahir untuk dipertahankan.
"Kamu belum cerita pada siapapun kan? Tentang perasaanmu?"
Avius mengangguk.
"Hmmm, syukurlah. Cukup kita berdua yang tahu."
"Emangnya kenapa sih?"
"Aku pernah nonton FTV. Suatu hubungan bisa hancur karena sahabat saling mencintai."
"Lov, jangan terlalu percaya hal klise seperti itu. Itu gak berlaku untuk semua orang."
"Aku tahu Av. Itu adalah alasan untuk perasaanku yang tak terucap."
"Kau suka seseorang dari antara kita?"
"Hah, kenapa kau bisa tahu?"
"Jangan bilang kau suka Josen?"
Lovi terdiam. Tebak-tebakan macam apa ini? Manusia mana yang bisa menebak segalanya dalam sekali mendayung dan semuanya benar. Avius langsung pergi. Mungkin ia butuh udara segar. Lovi masih tidak menyangka semua ini terjadi begitu saja. Ia sedang menyakiti hati orang dengan menceritakan rasa sakitnya sendiri. Egois bukan? Lovi mengacak-acak rambutnya seperti orang gila. Ia berpikir sampai kepalanya panas. Memikirkan cinta seperti mengerjakan soal SAINS, sulit!
Tak berapa lama, sudah banyak orang yang datang. Rambut Lovi yang tadinya acak-acakan seketika ia rapikan agar orang-orang tak mengiranya seperti orang gila. Avius masuk kelas dan langsung duduk lagi disampingnya.
"Lov,,,,,"
"Hah?"
"Aku gak bakal menyerah. Walau kau bilang suka sama Jos, tapi aku akan membuatmu suka sama aku."
"Hei, kau kira membalikkan perasaan itu mudah?"
"Gak mudah tapi bukan berarti gak bisa."
"Terserahmu Av."
"Tapi kau jangan membenciku."
"Woy, kita itu sahabat. Aku gak mungkin membencimu."
Avius tersenyum. Lega? Tentu saja. Buruk atau baik sama saja bagi orang yang berani mengambil resiko. Lovi bergegas keluar kelas. Sesak rasanya disukai orang yang gak disangka-sangka. Ia pergi ke kantin untuk sekedar membeli permen. Josen langsung duduk di depannya.
"Pertemuan macam apa yang kau lakukan sampai harus ke sekolah sepagi itu?"tanyanya sambil menikmati roti coklat yang baru saja ia beli.
"Rahasia!"seru Lovi ketus.
"Hmm, jangan bilang kau lagi pedekate sama seseorang."
"Kalau ia kenapa?"
"Bagus dong."
"Oh ya Jos, kata tante bakal ada olimpiade. Kau gak mau ikut?" tanya Lovi mengalihkan pembicaraan.
"Olimpiade apaan?"
"Olimpiade sekabupaten. Kau harus ikut pokoknya!"
Josen berhasil masuk lima besar di semester kemarin. Walau tak berkesempatan untuk maju ke podium juara umum, tapi ia sudah sangat luar biasa. Ya, itu menurut Lovitha. Seperti yang diharapkan, semua juara umum kelas 11 IPA berasal dari 11 IPA 1. Pak Anja bangga sekali dengan siswanya. Ia tersenyum bahagia sepanjang acara penerimaan sertifikat waktu itu.
"Ehh, boleh juga tuh. Apalagi kalau dapat hadiah, lumayan."
"Nah itu, kau harus bisa mengalahkan siswa SMA 2."
"Ahh, itu sama saja bunuh diri. Males ah, di sekolah sendiri saja gak bisa masuk tiga besar. Gimana mau olimpiade sekabupaten."
"Mulai deh, insecure?"
"Iya. Wajar kan?"
"Hahahah. Eh, udah bel. Yuk balik ke kelas."
"Kau ingat dulu waktu SD, aku di suruh ngeberesin teman sekelas yang boker di dalam kelas."seru Josen sambil tertawa.
"Astaga, inget dong. Parah sih. Tapi takdirmu memang begitu Jos."
"Sial banget pokoknya. Aku menyesal jadi ketua kelas waktu itu."
"Hahaha, di mana ya tuh cewe sekarang."
"Kau gak tahu?"
"Engga!"
"Dia dihamili sama supir angkot. "
"Hah? Masa sih?"
"Beneran! Dia jadinya gak lanjut sekolah Lov."
"Wuah, kau ternyata lebih khatam masalah beginian."
"Bukan gitu, aku denger waktu orang rumah nyeritain. Tau sendiri ibu-ibu doyan ngegosip."
Josen dan Lovi hanya bisa menertawakan masa lalu. Masa yang tak bisa di ulang itu terasa kini jadi kerinduan. Hidup memang seunik itu. Lovi langsung kembali ke tempat duduknya. Duduk sambil menatap ke depan. Ia melihat papan tulis yang masih kosong.
"Dari mana?"tanya Avius.
"Kantin. Kau ngerjain apa?"
"Lagi bingung mikirin konsep siaran selanjutnya. Kayaknya bakal ngebosenin kalau gitu terus."
"Hmm, iya juga sih."
"Aku sempat kepikiran buat semacam wadah gitu buat seseorang menampilkan karyanya. Pasti keren kan?"
"Maksudnya gimana?"
"Jadi misalnya kau bisa nulis lagu, nanti lagunya kau nyanyiin di siaran baru Kharisma FM."
"Ohhh, aku ngerti sekarang."
"Cuman yang jadi masalah, siapa yang mau ngasih karyanya ke radio kami."
"Kenapa gak coba tanya teman sekelas kita?"
"Kau gila? Mereka kan gak tahu kalau aku penyiar."
"Ya udah, kau jujur aja."
"Gak bisa dan gak mau."
"Kenapa sih? Sepenting itu ngerahasian hal kayak gini?"
"Kalau kau mau jadi pacarku, aku pastikan mereka tahu hari ini juga."
"Bodo!!"
"Aku bercanda Lov."seru Avius tertawa. "Terus gimana, kau ada ide lain?"
Lovi sedang berpikir keras. Ide lain untuk acara baru di radio.
"Gimana kalau sandiwara radio?"
"Orang-orang sudah gak ada yang mau dengerin itu. Sekarang kan bisa nonton televisi."
"Ya udah, tetap sama rencana awal. Aku tahu orang yang punya karya tulis bagus. Kau diam aja, aku yang ngurusin."
"Beneran?"
"Yoaiiii..."
Lovi langsung mengirim SMS ke Adong. Ia hendak menyuruh Adong untuk mempertemukannya dengan Herdi. Ya, Herdi yang katanya sangat suka sastra. Mereka akan bertemu di kursi taman waktu istirahat nanti. Pelajaran Bahasa Indonesia itu terasa sangat lama karena sungguh membosankan.
"Herdi kan?"tanya Lovi memastikan.
"Iya. Kata Adong kau mau ketemu aku. Kenapa?"
"Kau punya karya sastra gak?"
"Aku punya puisi sih. Buat apa? Mading?"
"Kagak lah. Emangnya aku petugas mading apa, buat siaran radio."
"Tapi kayaknya puisiku itu gak layak disebarluaskan."
"Jangan merendah please. Biar aku lihat dulu layak apa engga."
"Jujur aja ya, aku gak percaya diri."
"Gak percaya diri apa?"tanya Adong mengacaukan percakapan itu.
"Temanmu ini gila Dong, dia menyuruhku memamerkan kelemahan. Aku bisa ditertawakan sejagat."
"Kau gak kenal istilah anonim ya? Puisimu bisa dibacakan tanpa mereka tahu siapa yang buat."
"Herdi, bantulah sekali ini. Lagian siapa tahu kau memang berbakat? Aku lebih setuju kau jadi ahli sastra dari pada astronot. Berhenti membaca tentang geografi itu."
"Hmmm, baiklah. Pertama-tama, kau harus menilainya dulu. Kalau menurutmu gak layak, beri tahu aku."
"Yashhh.. akhirnya nemu orang."
"Kalian kenapa sih peduli banget dengan acara radio itu ?"
"Kau gak perlu tahu. Ini cuma strategi aja. Ya udah, besok kau kasih ya puisinya. Aku pergi."
"Aku juga ya Her. Kau balik kelas aja. Kau mau ketemu Josen?"seru Adong mengikuti Lovi berjalan menuju kelas 11 IPA 1.