.15. Pernyataan Cinta Untuk Dia

1345 Kata
_____Kita, sama saja dengan manusia pada umumnya____ ______Kita, memberi rasa yang berbeda pada tiap orang _______  | SamSonS - Kenangan Terindah | Ada cinta dalam persahabatan sangat lah lumrah. Ada pula percintaan yang malah berakhir jadi sahabat. Dan tak jarang pula kebencian berubah menjadi kasih yang menjadi-jadi. Lagu kisah kasih di sekolah, yang malu pada semut merah memang nyata. Ada hati yang berdebar saat melewati kelasnya. Atau mungkin lirikan maut yang hanya di ketahui oleh diri sendiri.   Kelas 11 IPS 1 begitu riuh karena para cewek sibuk latihan dance. Mereka berencana tampil di acara Pensi untuk perpisahan kakak kelas yang akan lulus. Mereka sangat antusias walau beberapa dari mereka harus rela pacarnya pergi melalang buana. Hidup memang harus terus berlanjut. Protektif tak akan menyelesaikan masalah.  Adong menatap nanar ke arah mereka yang sedang menari. Tarian mereka jauh lebih sulit dari pada tarian Adong di hari guru yang lalu. Ia melirik ke arah Herdi yang sibuk belajar. Kali ini cowok itu tak lagi terobsesi pada geografi. Ia malah sedang belajar Sosiologi.  "Herdi, sebenarnya kau ingin jadi apa?"  "Hmmm, jadi manusia yang sesungguhnya."  "Maksudku cita-citamu."  "Beberapa bulan lalu aku jadi ingin astronot. Sekarang aku sedang ingin jadi artis."  Adong tertawa keras. Bagaimana bisa manusia semacam Herdi bercita-cita jadi artis? Alangkah lebih baik cewek yang sedang menari di sana yang jadi artis.  "Kau sendiri punya cita-cita apa?"  "Aku mau melanjutkan bisnis orang tuaku."  "Kau bodoh. Kau harus bisa lebih dari orangtuamu. Itu kodratnya."  "Ya, sebenarnya aku gak punya cita-cita. Aku seperti air mengalir yang mengikuti arus."  "Pantas saja kemarin kau terjerat sama preman sekolah."  "Kau mulai berani ya!!!!"  Herdi berusaha untuk menghentikan percakapan itu. Teman sebangkunya itu labil tingkat dewa.   "Oh ya Her, apa yang kau lakukan kalau sedang menyukai seseorang."  "Wah, kau diam-diam jatuh cinta rupanya."  "Jawab aja, buruan!!"  "Ungkapkan!!"  "Tapi kau bersahabat dengannya."  "Jangan bilang kau suka sahabatmu yang dari kelas IPA?"  Adong mengangguk. Bak seorang ahli percintaan, Herdi berpikir sambil memandang ke depan.  "Gak masalah, dari pada gak diungkapin. Setan aja bingung sama perasaan manusia. Apalagi manusia sendiri."  "Benar sih. Tapi rasanya kalau aku ngungkapin, pasti ditolak."  "Mencoba tak mengapa. Mengapa tak mencoba? Kau jangan langsung buat kesimpulan tidak berdasar seperti itu Adong."  "Tak ada harapan untuk orang seperti ku."  "Begini saja, kalau dia menolak buat dia menerima. Tapi dengan cara yang benar. Segala sesuatu bisa saja berubah, termasuk perasaan."  "Kau sangat pintar berkata-kata."  "Terima kasih pujian nya. Ngomong-ngomong diantara sahabatmu itu kan ada dua cewek. Kau menyukai yang mana?"  "Kau tak perlu tahu."  "Kau kejam!! Aku sudah memberimu saran dan tak ada imbalan untuk itu?"  "Baik-baik. Aku kirim via SMS. Ini rahasia di antara kita."  Pepatah mengatakan bahwa cinta bisa datang karena terbiasa. Entahlah, hal ini tak selalu benar. Ada saja yang patah selama bertahun-tahun karena cinta bertepuk sebelah tangan. Takdir yang tak baik itu sungguh menjelma dan tak bisa di hindari.  Lovi menikmati ice cream sambil berdiri menunggu Josen menyelesaikan percakapannya dengan seorang gadis dari sekolah lain. Lovi melihat dalam kesedihan yang tak harus ditunjukkan. Mencintai sahabat tak berlaku pada satu orang saja. Ia sudah mengalaminya sejak dulu. Tak ada kata yang bisa terucap dan tak boleh ada orang yang tahu. Ia dan batinnya sendiri yang boleh saling memberi saran. Bahkan Aya saja tidak tahu perasaan itu. Rasa bisa disembunyikan seperti harta yang berharga. Ia hanya berharap tidak menyesal di kemudian hari. Di atas segala tingkah laku Josen yang buruk, Lovi tahu betapa cowok itu sangat spesial. Ia ingat hari itu, hari dimana ia jatuh cinta saat hari ibu di bulan Desember. Ia hendak pulang kampung karena baru saja penerimaan raport. Seperti biasanya mereka pulang bersama karena memiliki kampung yang sama.  "Itu apa?"tanya Lovi penasaran. Josen sedang membungkus sesuatu. Benda itu begitu menarik perhatian karena di bungkus kertas kado yang cantik.  "Oh ini, untuk mamaku. Hari ini hari ibu."  Dalam diam Lovi, disadarkan bahwa anak cowok seperti Josen lebih perhatian di banding dirinya. Ia bahkan tak ingat bahwa ini adalah hari ibu. Ia seakan disadarkan bahwa ternyata Josen tidak seburuk yang dipikirkan.  Entah jatuh cinta atau sekedar rasa kagum, Lovi merasa cemburu kala cowok itu sedang bersama orang lain. Ia hanya bisa memandang dalam diam. Ia tahu bahwa Josen tak pernah serius dengan para perempuan itu. Tapi yang paling buruk adalah, Josen tak pernah menganggap Lovi lebih dari sekedar sahabat. Perasaan itu akan merusak segalanya. Persahabatannya dengan pemilik grup f*******: Jejak 5 Kaki akan kacau.   "Ayo!"  "Siapa lagi itu?"  "Dia anak SMA 2. Idaman banget gak sih? Pintar dan cantik."  "Berarti yang ini serius dong. Kau akan pacaran sama dia?"  "Engga. Aku gak mau pacaran."  "Kau gila Jos."  "Pacaran itu ngabisin duit Lov."  "Alasan macam apa itu?"  "Itu namanya alasan logis atas nama kemanusiaan. Uang masih dari orang tua udah pacaran aja. Itu namanya gak modal Lov."  "Iya deh percaya. Dasar playboy cap kampak!!"  "Terserah mu deh."  "Eh, kau tahu drama korea baru. Judulnya Boys Before Flower. Jadi ceritanya......."  Sepanjang perjalanan, Lovi sibuk menceritakan drama yang sebenarnya tak penting di dengar oleh Josen. Drama itu tidak jauh dari orang biasa yang jatuh cinta pada orang kaya dan akhirnya hidup bahagia. Klise, tapi di sukai banyak orang. Perempuan mana sih yang tidak ingin kisah cinta seperti itu?  Lovi sampai di rumah dengan rasa lelah. Ia sedang berpikir tentang tahun ini. Kelas 11 adalah akhir dari sekolah yang penuh kebahagiaan. Semester depan ia harus berjuang untuk banyak hal. Lulus UN, lulus PTN dan menggapai cita-cita. Ia menikmati mie instan sebagai pengganti makan siang. Ia menikmatinya sembari mendengarkan radio. Ia mendengar suara Avius yang bisa di definisikan sebagai suara seksi seorang laki-laki. Lagu-lagu yang sungguh nyaman di telinga terdengar begitu menenangkan. Semilir angin seakan menjelma saat denting piano mengalun perlahan dan memecah keheningan.  Tiba-tiba sebuah telepon dari orang tidak di kenal masuk. Dengan berat hati ia mengangkat.  "Haiii, lagi dimana?"  "Hah? Ini siapa ya?"  "Masa gak kenal aku sih."  "Ini siapa ya?"  "Ini aku. Sekarang sombong ya."  Ini kesekian kalinya ada telepon iseng. Kadang mereka hendak menipu atau sekedar cari kenalan baru. Lovi langsung menutupnya dan memblokir nomor tersebut. Ia baru ingat kemarin mengisi pulsa di counter. Pasti ada aja orang yang mencatat nomor itu untuk hal yang tidak baik.   "Menyebalkan!!"pikirnya dalam hati.  Ia langsung ke kamar sembari rebahan dan mengengarkan radio kembali. Ia sangat rindu sandiwara radio yang dulu waktu kecil pernah ia dengar. Ya, semacam drama radio yang tayang tiap malam. Sandiwara radio yang bertema cerita-cerita dongeng yang seru untuk di tunggu. Kini sudah ada televisi yang jauh lebih enak untuk di tonton. Namun untuk anak sekolah seperti Lovi, menonton televisi itu menjadi larangan besar. Belajar adalah yang paling penting. Dan radio adalah solusi untuk setiap kebosanan.  "Hmm, karena hari ini spesial banget nih, gimana kalau kita tambahin cerita cinta. Pasti para pendengar pengen dengerin cinta kan?"sahut Laras, penyiar wanita yang ada di sana.  "Boleh banget Kak Laras. Buat kalian yang mau ceritain tentang kisah cinta kalian, jangan malu-malu untuk kirim SMS ke kita ya. Atau bisa juga telepon ke nomor 082XXXXXXX."  "Bener banget Vidi. Tapi sebelum mereka nih pada ngirim, gimana kalau Vidi dulu nih yang nyeritain. Aku penasaran, kapan dan siapa cinta pertama Vidi?"  "Cinta pertama itu seperti hujan, datang tiba-tiba tanpa permisi. Rasa yang sulit untuk kita ambil alih bisa menghianati logika kita. Aku punya cinta pertama yang dari dia aku percaya bahwa tidak semua manusia itu jahat, cuek, tak ramah, egois dan dengki. Dia mengajariku bahwa masih ada hati yang peduli, sayang dan perhatian padaku."  "Wuah jadi gimana selanjutnya? Kau dan doimu itu?"  "Aku masih tidak tahu sih kak. Tapi aku akan berjuang. Doakan aku ya, para pendengar!"  "Oke deh. Vidi udah ceritain tuh cerita cintanya. Selanjutnya kita bacakan cerita dari kalian ya..."  Lovi tersenyum mendengar curhatan itu. Ia makin penasaran dengan siapa Avius suka. Cowok itu memang penuh pesona. Ia pendiam dan kerap di anggap sombong. Tapi tentu saja tidak. Ia sebaik itu pada sahabatnya. Ya, Lovi menerima setiap kebaikan itu.  Dering ponselnya berbunyi. Angan-angannya buyar pada kenyataan dunia. Pesan SMS dari Avius. Ia membukanya.  "Lov, kau dimana? Kau dengar siaranku?"  "Aku di rumah. Iya, aku lagi dengerin nih."  "Kau tahu, orang yang sedang aku bicarakan, itu kamu!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN