.14. Kriteria Cowok Idaman

1313 Kata
_______Kita, saling punya cerita_____  _________Kita, punya sesuatu yang saling kita pendam ______  | Stinky - Mungkinkah | Semester ini akan berakhir. Ujian akhir akan segera dilaksanakan. Semua orang sibuk belajar. Hal yang membuat penasaran adalah siapa yang akan menjadi juara umum. 11 IPA 1 yang katanya kelas unggulan itu, apakah bisa menyapu bersih semua gelar juara umum? Itu menjadi pertanyaan besar. Jika itu tidak terjadi maka pasti akan sangat memalukan.   "Ay, bisa tolong ajarin yang ini? Sumpah aku gak ngerti!"ucap Raga dengan suara kecil karena merasa canggung. Ia bisa hidup berdampingan dengan Aya tapi sangat jarang saling meminta bantuan. Saat butuh, mereka selalu mencari orang lain. Tapi hari ini semua tampak sibuk kecuali Aya yang hanya mencoret-coret bagian belakang buku tulisnya. Ia bosan belajar terus-menerus.  "Yang mana?"  "Ini Ay. Aku benar-benar bingung."  "Jadi......."ucapnya hendak menerangkan. " Ah,,, kau tahu kan. Aku gak pernah membencimu. Mungkin dulu iya. Tapi sekarang engga sama sekali. Jadi anggap aja kita kayak teman sebangku yang lain. Oke?"lanjutnya.  Raga mengangguk sambil tersenyum. Aya menjelaskan mengenai kesulitannya itu, bagaimana mengerjakannya dengan cara yang mudah dan cepat. Matematika itu tak sesusah yang dipikirkan. Jika kita sudah mengerti konsepnya, maka semuanya akan terasa mudah. Bisa dilihat bagaimana Lovi sudah tak takut lagi dengan matematika. Kini ia menjadi ahlinya matematika. Lovi adalah salah satu murid Aya yang berhasil. Begitulah jika diibaratkan. Aya tak pernah menyadari itu, tapi Lovi benar-benar merasa bahwa hidupnya berubah sejak ada tangan orang lain yang merangkulnya.  Di bangku paling belakang tampak romantisme Lovi dan Avius. Mereka layak diberikan gelar teman sebangku paling akur. Beberapa orang sering cekcok dengan teman sebangkunya hingga adu mulut. Hal ini berbeda dengan mereka. Lovi yang cerewetnya minta ampun, saat disandingkan dengan Avius yang kalem, benar-benar cocok.  "Av, nyontek dong tugas biologi. Aku males nyari jawabannya."seru Lovi saat Avius baru akan belajar mtematika.  "Ah iya,,,,"ucapnya sambil mengambil buku matematikanya dari dalam tas.  Lovi langsung sigap menulis dengan bahasa yang sedikit berbeda. Walau menyontek, tapi setidaknya gunakan sedikit intelligence yang kau miliki. Ia tak mau dicap sebagai plagiator. Lovi sangat pintar bermain cantik.  "Yashhh, akhirnya. Malam ini bisa santai kayak di pantai. Ini bukumu Av. Makasih banyak!"  Avius mengambil buku itu dan menaruhnya kembali ke tasnya.  "Oh ya Av, gimana Bella?"tanya Lovi saat mengingat tidak ada kabar tentang cewek itu. Ia menikmati permen Kopiko yang tinggal satu bungkus. "Maaf ya, aku cuma punya satu."  "Iya gapapa. Terus apanya yang gimana?"  "Kau sama Bella, emang kalian gak jadi ketemuan? Itu loh, pernyataan cinta. Jangan bilang kau lupa?"  "Aku gak lupa. Kami juga udah ketemu."  "APA???? Terus gimana?"  "Aku cuma bilang kalau aku gak bisa nerima dia."  "Yaaaah, kenapa? Pasti gara-gara kau mau fokus belajar kan? Atau kau gak suka sama dia? Maksud ku dia bukan tipikal cewek idamanmu?"  "Hmmm, sebenarnya aku sedang menyukai seseorang."  "APAAAAAAAA?????"  "Diam woy. Berisik amat sih?"  "Josen, temanmu tuh!"  "Maaf-maaf!"seru Lovi dengan suara kecil. Aya sedang menertawakannya diujung sana.   "Kepada mbak Lovitha Rasella, dipersilahkan keluar kelas jika ingin menggosip! Atau kalau mau, silahkan bercerita di depan aja. Biar semuanya dengerin."ucap Josen dengan nada ledekan. Semua kembali kondusif. Belajar mandiri itu kembali berjalan dengan semestinya.  "Av, siapa orangnya?"  "Sebenarnya aku gak begitu yakin. Tapi aku gak bisa kasih tau sekarang Lov."  "Yaudah kasih aku clue. Dia dari kelas ini?"  Avius mengangguk. "Udah Lov, kita belajar aja. Nanti diomelin lagi."  Lovi masuk zona waspada. Ia mulai mencurigai siapa cewek yang Avius suka. Bella yang cantiknya bak Puteri Indonesia itu bisa di tolak hanya demi cewek di kelas ini. Tapi di kelas ini juga banyak cewek cantiknya sih. Lovi sedang mencari-cari cewek yang mungkin masuk kategori. Ah, kategori seperti itu hanya berlaku buat Adong. Avius bukanlah cowok yang mempedulikan besarnya pinggul dan d**a. Itu hanya berlaku bagi berandal seperti Adong. Lovi menyerah. Ia memutuskan untuk tiduran sambil berpikir lauk makan siang nanti apa.  ***** Ujian pertengahan semester di mulai. Sangat sulit untuk menyontek. Semuanya harus pasrah pada otaknya masing-masing. Kerjakan dan lupakan. Beberapa berniat melupakan dan yang lain berusaha untuk membahas soal satu demi satu. Punya nilai bagus menjadi target utama rata-rata hampir semua orang di kelas 11 IPA 1. Persaingan menjadi sangat ketat kala banyak orang berambisi untuk menjadi nomor satu. Aya tidak terlalu ambisi tapi di dukung oleh otaknya yang encer. Lovi yang berusaha keras dan percaya bahwa usaha tidak pernah menghianati hasil. Ia sama saja seperti Avius. Josen yang pintar sekaligus berambisi. Mereka tak ada apa-apanya dengan siswa lain yang jauh lebih pintar.  "Ahhh, akhirnya selesai."seru Lovi sambil meregangkan otot tangannya.  "Selesai saja gak cukup. Kita masih harus nungguin hasilnya. Aku benar-benar gak yakin."seru Josen merendah.  "Jangan sok lemah Jos. Nanti saat pembagian nilai, kalau bagus awas aja."ancam Aya.  "Itu artinya aku memang pintar. Hahaha."balas Josen tak tahu diri.  "Intinya kita udah kelar semester ini. Sekarang tinggal berserah."seru Avius.  "BTW, dia lama banget ya. Apa beneran dia sekarang udah berubah?"tanya Josen saat waktu menunggu semakin lama.  "Berubah apanya. Kemarin dia keluar paling awal. Setipe sama teman sekelas kita. Keluar duluan bukan karena bisa ngerjain, tapi karena p****t udah panas." ucap Lovi sambil tertawa.   "Hahaha, tapi kenapa sekarang dia masih ga muncul sih. Aneh tuh orang."seru Josen kesal.  "Emang kau mau ngapain sih buru-buru?"  "Biasa, aku mau ngedate."  "WOAHHHHH!!!!"ucap mereka bertiga menanggapi.  "Pasti sama cewek baru lagi."tebak Lovi ngasal.  "Bisa dibilang seperti itu."  Aya langsung memukul badan Josen. "Jos, mau sampai kapan kau jadi playboy?"  "Aya, aku itu cuma lagi nyari orang yang tepat."  "Pembohong! Kurasa kau punya penyakit."  "Kurang ajar! Sembarangan."  "Berisik kalian berdua. Itu Adong udah datang."seru Lovi menengahi pertengkaran itu. Adong berjalan dengan langkah yang lemah. Ia seperti sedang menahan boker. Wajahnya tak terdefinisikan.  "Lama banget sih, calon pemilik masa depan ini."ledek Josen sambil merangkul Adong.  "Aku kesal!"  "Ada apa denganmuuuuuu????"seru Lovi dan Aya seakan bernyanyi lagunya Peterpan, band yang hits baru-baru ini. Mereka cekikikan setelah nya.  "Aku kan mau keluar kelas, terus guru bilang gak boleh. Padahal kan udah kelar. Habis itu, aku di suruh tetap di dalam sampai waktu benar-benar berakhir."  Semua tertawa sejadi-jadinya. Sebenarnya, keluar lebih awal sangat diperbolehkan, tapi ada saja siswa yang keluar bahkan belum lewat tiga puluh menit ujian. Mereka yang melakukan itu cenderung sudah lelah dengan ujian selama ini. Ada juga yang setiap hari melakukannya. Ia tak peduli nilai, dan asal saja menjawab soal tersebut. Tipe murid seperti ini rasanya tidak akan pernah lekang oleh waktu. Di mana saja, pasti ada saja orang seperti ini.  "Nasibmu Dong. Malang!!!!"ucap Lovi sambil menahan tawa.  "Siapa sih guru yang membuatmu kacau gini?"tanya Josen.  "Iya, parah banget tuh orang. Kan kau juga punya hak buat keluar kelas duluan."ucap Lovi menanggapi.  "Guru geografi, Bu Mira."  Lovi dan Josen terdiam. Mereka sedang membicarakan tantenya Lovi sekaligus ibu kosannya Josen. Adong sepertinya lupa tentang kenyataan itu. Kata-kata celaan yang barusan terucap ingin di tarik kembali.  "Hebat ya, kalian sedang membicarakan anggota keluarga kalian sendiri."seru Aya sambil tepuk tangan.  "Apa? Bu Mira itu tantenya Lovi?"ucap Adong tak percaya.  "Udah yuk, entar Bu Mira lewat dan mergokin percakapan ini."seru Avius sambil berjalan keluar area sekolah.  Untuk merayakan hari terakhir UTS, mereka pergi ke mie ayam bakso Bu Murni. Mereka pergi dengan angkutan umum yang akan memberikan ongkos murah jika menggunakan seragam sekolah.   "Aya, itu kan Johan."  "Oh iya Lov."  "Hmm, kau gak ada rencana?"  "Rencana apaan?"tanya Adong ikut nimbrung.  "Adong, itu si Johan pernah nembak Aya tapi di tolak."  "Diam!!!"ucap Aya tegas.  "Ohhh,,, kau emang gak suka sama dia Ay? Atau dulu itu nolak karena terjebak keadaan."  "Maksudmu apa sih?"  "Ya, dulu nolak karena kau udah punya pacar."  "Bukan. Aku punya kriteria pasangan. Dan dia udah dicerot dari kriteria pertama. Eh, tunggu bentar aku mau beli DVD Michael Jackson."  Aya sibuk mencari DVD dan menyuruh penjualnya mencoba lebih dulu. Ya, itu buat memastikan bahwa DVD itu berfungsi dengan baik.  "Lovi, kriteria pertama maksud Aya apa? Kau tahu gak?"bisik Adong pada Lovi.  "Dia kan udah pernah bilang. Dia gak suka cowok seumuran atau lebih muda. Dia suka om-om hahaha." bisik Lovi di telinga Adong. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN