.18. Penuh Perhatian

1181 Kata
____Kita, kehangatan dalam dinginnya hujan____  _______Kita, awan yang menutupi teriknya mentari________  | Justin Bieber - Baby ft. Ludacris | Musim hujan sepertinya sudah tiba. Masih sepagi ini tapi rintik hujan sudah mulai menampakkan dirinya. Para pelajar membawa payung dan mengenakan jaket tebal untuk menahan udara dingin yang menusuk. Tas ransel sengaja di peluk agar tidak terkena hujan. Buku-buku itu sangat berharga dan pantang jika terkena hujan.  Setelah mendapat omelan panjang lebar dari Josen, Lovi tiba di kelas 11 IPA 1. Ia langsung berjalan ke tempat duduknya. Di sana sudah duduk teman sebangkunya sambil menatap curiga. Wajah Lovi memang tidak seperti biasanya. Dia masih terlihat sakit.  "Masih sakit Lov? Harusnya gak usah sekolah."  "Masih. Tapi aku gak suka di rumah terus. Lebih baik sekolah dari pada di rumah memandang dinding kamar. Bosan!"  Josen datang membawa tas Lovi yang sedari tadi ia pegang. Ia tidak tega menyuruh cewek itu menahan sakit kepala sambil mengangkat beban dipunggungnya.  "Nih tasmu. Oh ya Av, jagain dia ya. Emang keras kepala banget. Udah di bilang gak usah sekolah, tapi gak mau. Kalau dia makin parah bilang sama aku."ucap Josen.  "Iya Jos."  "Aahh, emangnya aku apaan harus di jaga. Aku mau tidur. Jangan diganggu ya Av."ucapnya sambil menutup kepala dengan topi hoddie-nya. Ia berusaha tidur di tengah kerumunan orang yang sedang berisik itu.   Avius ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa. Ia hanya duduk dan mengerjakan tugasnya. Tak berapa lama, Aya datang. Ia mengenakan jaket berawarna orange yang memecah harmonisasi warna di kelas itu. Warna itu sangat menarik perhatian.  "Kenapa dia?" tanya Aya dengan suara sedang. Ia yakin ada yang tak beres. Lovi adalah tipikal cewek yang jarang tidur di pagi hari. Biasanya ia tidur saat guru mengajar atau setelah menikmati semangkuk mie di kantin.  "Sakit! Dia tidur, katanya jangan di ganggu."  "Dasar, padahal aku mau nabok. Dia gak balas SMS dari kemarin."  "Dia sakitnya dari kemarin Ay. Entar aja di tabok kalau udah sembuh."  "Hahah, aku gak terima ya. Kau tahu dia sakit padahal aku engga tahu."  "Gak sengaja. Aku kemarin kebetulan nelfon dia."  "Hmmm, fiks dia sakit. Biasanya kalau tidur gini ada yang ngobrol pasti kebangun. Ya udah deh, aku ke bangku ku ya Av."  Avius mengangguk. Ia memandang wajah Lovi yang mungil dan memerah. Cewek itu makin cantik saja. Saat guru datang, Avius langsung menyuruhnya bangun. Ya, setidaknya ia tidak di tegur karena tiduran di kelas. Avius mendengarkan guru dengan seksama. Ia akan mengajari Lovi besok, jika cewek itu sudah sembuh. Bel istirahat berbunyi, Lovi langsung merebahkan kepalanya di atas meja. Tak ada energi untuk menikmati hari saat sakit menyerang.  "Av, mau kemana?"tanya Aya saat cowok itu hendak keluar kelas.   "Mau beli makanan buat Lovi."  "Dia nitip emang?"  "Engga. Aku kasihan aja dia gak makan siang."  "Ooohhh...."  Aya mencium aroma konspirasi. Ada apa dengan Avius? Kenapa dia perhatian banget sama Lovi? Pikiran Aya melayang kemana-mana sampai seseorang membuatnya sadar. Adong Doi.  "Kau kenapa sih ngagetin?"  "Astaga, aku udah panggil dari tadi. Kau aja yang pikirannya kemana-mana."  "Terus kesini mau ngapain?"  "Mau makan bareng Jos."  "Eh,, aku ikut dong. Aku gak punya teman makan."  "Ya udah ayok. Emangnya Lovi kemana?"  "Sakit. Dia lagi tiduran di kelas."  Mereka berjalan ke kantin. Di sana ada Josen yang duduk dengan makan siangnya. Kali ini dengan nasi goreng dengan telor ceplok. Adong langsung memesan semangkuk mie kuah. Beda dengan mereka, Aya malah membeli ice cream. Cewek itu rada sedikit gila. Cuaca dingin ini membuatnya semakin ingin menikmati dingin yang sesungguhnya.  "Otakmu gunakan sesekali Ay."ledek Josen.  "Apasih? Jadi berbeda itu bukan berarti gila."  "Betul. Tapi gila itu udah berarti beda."seru Adong.  "Engga lah. Orang gila ada juga yang sama."  "Astaga, kalian berdua kenapa berantem melulu sih?"seru Josen kesal. "Hati-hati entar saling suka."lanjutnya.  "Hmm,, by the way and the busway, aku mencium aroma aneh."bisik Aya.  "Aroma pup?"seru Adong.  "Bodoh!! Bukan itu. Avius kenapa perhatian banget sama Lovi?"  "Mulai deh pikirannya. Dasar cewek!"ledek Adong.  "Kayaknya Avius suka deh sama Lovi. Kau gak tahu ya, cewek itu kepekaannya lebih bagus dari pada cowok."balas Aya kesal.  Seketika Adong kesal pada dirinya sendiri. Apa gunanya kepekaan jika tak ada reaksi. Ia yang menyukai Aya selama ini tak pernah mendapat balasan. Walau cowok itu tak pernah mengungkapkannya, tapi mungkin saja Aya tak pernah menyadarinya. Nyali Adong yang semakin menciut membuat rasa itu perlahan tak mau mengungkapkan diri.  "Gimana Jos? Kau gak merasa ada something wow?"  "Hmmm, gak sih. Aku gak tahu apa-apa. Mending tanya langsung sama Avius."  "Dasar cowok!"  "Hina terus kaum kami!"seru Adong.  "Kaummu memang hina. Cowok dimana-mana sama aja."  "Pasti karena kau belum move on dari Kak Reylo kan?"  "Cowok jahat itu? Dia masih sering kirim SMS. Menyebalkan!"  "Pasti kau balas."  "Iya balas dong. Tapi dengan hinaan."  "Artinya kau belum move on Ay. Kau harus cari pacar."  "Diam aja deh. Mending kau yang cari pacar."  "Berisik!! Makan aja tuh mie, udah ngembang!"ucap Josen menengahi.  ***** Saat bangun dari tidurnya, Lovi merasakan badannya sedikit lebih baik. Kepalanya tak sesakit tadi pagi. Tidur adalah obat yang manjur. Ia melihat roti di atas mejanya. Di kelas ini, hanya ada beberapa orang yang sedang belajar keras tak henti-hentinya. Tak berapa lama ia melihat Avius membawa segelas teh manis hangat.  "Kamu minum ini dulu deh. Untung aja udah bangun."  "Av, ini kamu yang beliin?"  "Iya. Kamu pernah bilang kalau lagi sakit harus minum teh hangat kan?"  Lovi langsung meneguk teh itu. Ia juga menikmati roti yang di beli oleh Avius. Perasaannya semakin lega. Perut kosong sudah terisi dan kepala kian membaik.  "Makasih ya. Aku udah sehat lagi nih."  "Beneran?"  "Iya. Kamu udah makan?"  "Udah kok. Tadi makan roti."  Ternyata punya teman sebangku yang perhatian itu menyenangkan. Lovi baru sadar bahwa itu hanya terjadi pada mereka yang benar-benar bersahabat atau yang saling suka. Ya, selain itu juga pasti ada hal menyebalkan yang sering terjadi. Lovi menatap Avius sampai salah tingkah.  "Kenapa sih ngeliatin?"  "Emang gak boleh?"  "Bo...boleh sih.."  "Astaga Av, aku lupa minta puisinya Herdi."  "Entar aja. Mesti sekarang banget?"  "Tapi kan acaranya mulai hari ini Av."  "Astaga, aku lupa gara-gara kamu sakit."  "Dasar ya, ya udah aku ke kelasnya dulu deh."  "Aku temani ya."  "Gak! Entar ketahuan kalau kamu penyiarnya. Aya dimana?"  "Tadi aku lihat di kantin."  "Okey, you stay here. I will go back."  "Kau beneran udah sembuh?"  "Udah sembuh banget!!"seru Lovi sambil berjalan ke kantin. Sesampainya di kantin ia mencari-cari keberadaan Aya. Ternyata di sana ada Josen dan Adong juga. Ia menghampiri dan mengagetkan Aya yang sedang ngerocos panjang lebar.  "Ay, ayo ke kelasnya Herdi!"  "Mau ngapain sih?"  "Ngambil puisinya dia."  "Emang ya, Lovi sama Avius tuh seperti pasangan kekasih. Dua-duanya saling mengkhawatirkan satu sama lain."ucap Adong sambil tertawa.  "Emang udah sembuh?"tanya Josen.  "Udah Jos. Emangnya aku pernah sakit sampai berhari-hari? Ay, buruan abisin makanan mu."  "Yaudah ayo. Dasar pengganggu!"  Mereka berjalan ke arah kelas 11 IPS 1. Adong kembali menikmati makan siangnya. Di saat yang sama, Josen hanya diam sambil menatap kepergian dua cewek itu. Entah apa yang ia pikirkan, tapi di sana hanya ada tatapan kosong. Tak jelas arahnya kemana. Adong yang menyaksikan sampai bingung. Ada apa dengan Josen? Mungkinkah dia sedang jatuh cinta? Lalu kepada siapa? Nyatanya tak ada jawaban mutlak untuk pertanyaan itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN