.19. Sebuah Puisi Cinta

1348 Kata
_____Kita, mengemas rasa dalam hati_____  ________Kita, apakah akan kekal abadi?_______  | Jikustik - Puisi | Acara baru pukul 8 malam untuk radio Kharisma FM akhirnya di mulai. Kali ini ada Avius a.k.a Vidi yang akan mengisi acara itu. Entah dari mana kekuatan itu datang, cowok itu punya banyak sekali energi untuk menghabiskan waktu dalam satu hari. Sebagai tayangan perdana, acara ini akan tetap lanjut jika banyak yang suka. Jika yang terjadi sebaliknya, maka acara ini akan dibubarkan. Ya, miriplah dengan acara di televisi. Rating menentukan umur panjang suatu pertunjukan.  "Selamat malam untuk kalian semua yang ada dimana pun. Kali ini kita ada di acara Sayang Dengan Kata bersama Vidi lagi. Ya, walau pun tadi kita udah bertemu di acara BEGU, tapi acara ini gak kalah seru loh. Aku akan mengirimkan kata yang membuat kalian semakin sayang sama hidup kalian, sayang sama pasangan kalian, bahkan sayang sama siapapun yang kalian temui. Lagu-lagu yang diputarkan, aku sendiri yang tentuin. Otomatis aku bakal cari yang sesuai buat suasana hati di malam yang indah ini. Tapi yang terpenting, buat kalian yang suka nulis puisi, pantun atau cerita pendek bisa langsung kirimkan ke radio Kharisma FM. Atau bisa kirim email juga."  Terdengar lagu Way Back Into Love.  "Semua karya kalian bakal aku bacain setiap minggu."  Lovi sedang mendengarkannya di kamar. Ia menutup buku tulisnya dan ingin berfokus pada acara baru temannya itu. Saat semuanya terasa damai, terdengar suara Tante Mira marah-marah. Orang tua jaman sekarang sering sekali marah gak jelas. Ia dan suaminya tampak adu cekcok. Lovi sangat kesal. Suara mereka menghancurkan pendengaran Lovi yang damai. Ia langsung bergegas ke luar dari rumah. Ia memastikan bahwa tidak ada anak kos yang sedang duduk di kursi depan. Ia duduk dengan tenang dan kembali mendengarkan suara Avius yang bagus itu.  "Heh, ngapain?" seru Josen keluar dari kamarnya. Ia tampak sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah. Ia sepertinya habis selesai mandi. Sosok cowok itu membuat Lovi kaget dan berdebar-debar. Cowok dengan kaos oblong dan celana pendek muncul dihadapannya. Lovi mencoba untuk menormalkan reaksinya.  Jangan bereaksi terlalu berlebihan!  Dia gak pantas dicintai oleh gadis baik-baik kayak kamu!  Dia itu playboy cap kampak!  Begitulah batin Lovi berbicara satu sama lain. Hingga akhirnya Josen bertanya lagi untuk kedua kalinya. Kali ini Lovi harus membalas biar tidak di sangka sedang di mabuk asmara.  "De...Dengerin Avius siaran."  Josen langsung duduk dan mengambil headset yang sedari tadi terpasang di kedua telinga Lovi. Lovi sampai menelan air liurnya untuk menghilangkan grogi berlebih. Namun, ia tetap membiarkan cowok itu melakukan sesukanya. Dalam udara yang semakin dingin itu mereka mendengar radio dari ponsel yang sama. Kini suara Vidi terdengar lagi setelah memutar beberapa lagu melow.  "Kali ini aku bakal ngebacain karya dari teman kita. Ini adalah puisi yang dikirimkan oleh anak SMA N 1 Nestapa. Disini dituliskan dari seseorang berinisial ehm,,,,,, ya, Her or Him 11 IPS 1. Wah, inisialnya unik sekali ya."  Lovi dan Josen langsung tertawa keras. Suara tawa mereka lansung di tahan ketika terdengar suara anak kosan yang mengomel.  "Puisi ini berjudul Merindukan Balasan."  Merindukan Balasan  Tiap waktu mengubah zaman  Minggu, bulan dan tahun  Nestapa terus menggoyangkan keyakinan  Aku sadar bahwa yang kurindukan  Akan selalu abadi jadi kerinduan  Aku yang terus melewati pekan  Sejak surat cinta yang kukirimkan  Menjadi kerinduan yang tak terbalaskan  Puisi indah itu tersampaikan dari mulut seorang penyiar yang ternyata merindukan balasan juga. Rasa memang sebaiknya diungkapkan. Ternyata ada hal perih menyambut di depan sana. Avius mengalihkan emosinya dengan memutar lagu dari Peterpan berjudul Aku Menunggumu.  Di sebuah kursi tua berbahan kayu itu, terpaku dua insan yang sedang mencoba menahan perasaannya. Puisi itu merasuk pada jiwa-jiwa yang merasakan hal yang sama. Canggung itu membuat dingin berganti jadi panas. Angin saja kalah oleh sesuatu yang asalnya dari hati. Josen langsung melepas headset dari telinganya.  "Wahh, aku sampai terdiam karena puisinya bagus. Keren juga si Herdi. Herdi kan namanya?"ucapnya sambil tetap menatap jendela kamar yang terbuka.  "Iya, Herdian Maharaja. Lain kali, aku akan nyuruh dia ngasih puisi lagi. Aku balik ya."ucap Lovi sambil bergegas berdiri.  Lovi langsung kembali ke kamarnya. Tak lupa ia mengirim SMS pada Herdi dan Avius. Herdi kelihatan senang dan ia menyesal telah menggunakan nama samaran. Nama samaran aneh itu kini jadi buah pembicaraan. Pasti besok teman sekelasnya akan mencari tahu siapa orang di balik nama Her or Him itu. Lovi menutup matanya dengan bantal sambil memikirkan suasana apa yang barusan ada di luar sana. Beginikah rasanya mencintai tanpa dicintai kembali? Kenapa keadaan yang memaksa itu seakan membuktikan bahwa dunia berdamai dengan hati Lovi? Ia melonjak kaget ketika sebuah telepon masuk. Dering telepon yang berisik itu memecah keheningan.  "Halo Av? What's going on?"  "Lov, kau lagi bahagia ya?"  "Sok tahu. Kau kenapa telepon malam-malam gini?"  "Gimana acaraku tadi?"  "Hmm, keren banget Av. Sumpah, aku kagum banget. Kau hebat!"  "Semua juga berkat mu. Besok mau aku traktir makan gak? Aku baru gajian nih."  "Enaknya, masih SMA udah punya gaji. Traktir berlima?"  "Engga. Berdua aja."  "Ehmmmm,,, gimana ya??"  "Yaudah, besok aja jawabnya. Tapi jawab sebelum berangkat sekolah ya. Jangan pikir yang aneh-aneh. Aku gak maksa juga kok. Pokoknya....."  "Iya, aku mau."  "Beneran?"  "Beneran lah masa bohong."  "Okey Luv, nanti aku bawa kamu ke tempat bagus. Pastinya makanannya juga enak."  "Kamu sembarangan ganti nama orang. Tapi sekarang kamu jadi gak pendiam ya?"  "Gak ganti nama kok. Itu panggilan spesial. Btw, aku aslinya emang gak pendiam. Cuma malas aja berdebat. Kamu tidur deh, sampai jumpa besok ya Luv."  "Hmmm iya Av. Dahhhh..."  Lovi memejamkan matanya, berusaha untuk tidur di tengah kegelisahan hati yang kian menjadi. Ia ingin mengubah dunia ini menjadi kenyataan yang lain. Kenyataan yang tak membuat hatinya gelisah. Tak ada alasan untuk memilih antara dicintai atau mencintai. Andai ia bisa mendapatkan keduanya. Hingga detik itu, ia sedang berusaha menyakinkan hatinya bahwa sosok Josen adalah cinta monyet yang tak akan bertahan lama.  Menyukai adalah naluri alami manusia. Ketahuilah bahwa tak semua yang kau sukai harus kau jadikan pacar. Bisa saja mereka di kirim Tuhan hanya sebagai pelengkap dari jalan hidupmu. Hidup yang dirancang itu agar tidak membosankan maka harus ada yang melengkapinya. Pelengkap yang bisa bertahan akan jadi utama. Sedangkan pelengkap yang lain akan pergi jika waktu sudah menentukan takdir yang tepat.  Lovi adalah gadis SMA yang mengharapkan cinta sejati. Saat menatap wajah artis korea di drama Boys Before Flower, ia merasa bahwa kebencian bisa saja berubah jadi cinta. Tuhan begitu ahli membolak-balikkan perasaan manusia. Ia bisa membuat yang berharga menjadi tak berguna. Begitu juga sebaliknya. Dalam bayang-bayang itu, ponsel Lovi berdering lagi. Kali ini ada gangguan untuk kedua kalinya. Cahaya Viovonny.  "Halo Aya..."  "Lovi? Kau dimana?"  "Di rumah. Emang aku anak malam?"  "Aku di depan rumahmu. Aku mau nginep."  Lovi langsung bergegas keluar dan mendapati Aya di sana. Untuk pertama kalinya, Aya berencana nginap di rumah itu. Dia benar-benar tidak sadar bahwa rumah itu milik salah satu gurunya. Dengan keberanian yang dikumpulkan sekuat tenaga, Lovi meminta izin. Ternyata semudah itu. Aya dibolehkan menginap dengan syarat jangan berisik. Dua cewek kalau ketemu pasti ujung-ujungnya gosip.  "Aku kesal banget Lov, masa cuma ditinggalin surat, mereka bilang ada urusan ke Medan. Aku gak berani tidur sendirian."  "Udah nelfon mamamu belum?"  "Udah. Katanya kakek sakit. Mereka bakal di sana sampai besok. Aku berharap kakek bisa sembuh."  "Sembuh kok itu. Kamu berdoa aja Ay."  "Iya Lov. Ngomong-ngomong hubunganmu sama Avius gimana?"  "Hubungan apa sih?"  "Kau jangan pura-pura gak tahu. Dia rela ngantri di kantin untuk beli teh hangat doang. Aku aja yang teman kamu gak segitunya."  "Kau emang teman j*****m!"  "Tapi beneran Lov, Avius itu suka sama kamu. Dia ngomong panjang lebar cuma sama kamu doang. Sama aku aja jawabnya singkat banget kayak template."  "Aku tahu kok Ay."  "Hah? Jadi dia nembak kamu? Kapan, dimana, sama siapa?"  "Banyak banget pertanyaan mu."  Aya menarik selimut tebal itu dan menghadap ke arah Lovi. Ia mendengar setiap rentetan kejadian yang selama ini terjadi. Ia kesal karena tak pernah diceritain. Dan Aya adalah calon solusi untuk perasaan goyah itu. Ia menyuruh Lovi untuk mencoba menerima perasaan dari Avius. Ya walau cewek itu tidak punya rasa yang sama. Aya hanya menambah beban pikiran. Lovi tak bisa tidur hingga ayam berkokok dini hari. Matanya sendu akibat memikirkan banyak hal. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN