.20. Merindukan Balasan

1459 Kata
____Kita, orang-orang keren yang bersatu____  _________Kita, keren karena bersama_________  | Kahitna - Cerita Cinta | Kelas 11 IPS 1 sedang heboh akibat tebak-tebakan dari Chintya, si sekretaris teladan. Chintya membuat sayembara tentang siapa orang di balik nama Her or Him yang mengirim puisi manis di Kharisma FM kemarin. Siapa pun bisa merekomendasikan satu nama dan di tulis di papan tulis. Nama tersebut bisa di pilih oleh beberapa orang.  "Aku gak habis pikir kalau di kelas kita ada yang semanis itu. Nama IPS menjadi jaya, dan SMA 1 Nestapa menjadi harum sewangi melati."seru Chyntia ber-orasi. Adong menatap cewek itu dengan kejijikan. Walau ia cantik, tapi Adong tak suka dengan sifatnya yang keras bak anggota militer.  "Siapa pun yang mau nebak, dipersilahkan."  "Tunggu dulu dong. Gimana kalau yang menebak salah, di suruh bayar!"  "Adong Doi, kau pikir kita sedang berjudi?"  "Aku setuju sama Adong. Buat apa nebak kalau gak ada hasilnya."seru yang lainnya.  "Aku juga setuju."  "Dasar cowok gila uang. Terus uangnya mau dikemanain?"  "Perumpaan nya gini. Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai."seru Adong sok bijak.  "Terus?"balas Chintya polos.  "Uang itu akan diberikan kepada orang itu. Orang berinisial Her or Him. Rasanya gak ada yang dirugikan. Kita juga beruntung karena kelas IPS punya sedikit prestasi di mata warga sekabupaten."ucap Adong dengan suara tegas. Adong adalah satu-satunya orang yang tahu siapa orang di balik Her or Him itu.  "Okey. Aku rasa sepuluh ribu rupiah tidak mengurangi harta kalian."ungkap Chintya dengan suara keras agar terdengar sampai ke belakang.  "Bener sih gak ngurangin harta. Tapi ngurangin uang jajan."ledek cowok di sudut. Chintya langsung melirik dan menatap tajam.  "Jadi setuju gak sepuluh ribu?"  "Setuju sih...."  "Bolehlah.."  "Gak masalah."  "Gue kasih lima puluh ribu kalau gue salah tebak."  Begitulah jawaban dari siswa di kelas 11 IPS 1. Kelas IPS yang lain sampai ikut nimbrung. Mereka juga bisa memilih dengan syarat memasukkan uang sepuluh ribu ke dalam box yang disediakan Chintya. Ia menyuruh Yola si bendahara untuk memastikan bahwa uang itu tercatat dengan baik.  Di bangku belakang terlihat Herdi sedang melongo melihat banyaknya uang yang terkumpul. Semoga saja tak ada guru yang menyadari hal ini. Adong sampai geleng kepala melihat uang itu. Dari 30 murid di kelas 11 IPS 1, di peroleh Rp.300.000. Selain itu, ada anak yang memberikan 50 ribu dengan sukarela jika tebakannya salah, ada juga dari kelas lain yang ikutan sok tahu.  Hal paling menakjubkan adalah tak ada nama Herdi Maharaja di papan tulis itu. Bisa dipastikan bahwa mereka sedang melakukan donasi untuk Herdi. Sungguh tragis.  "Kau gak ikut nebak Adong?"  "Ikut dong. Aku milih Alfredo."  Herdi semakin bergidik ngeri. Adong Doi, cowok yang sering memukulnya itu secara tidak langsung sedang melakukan donasi sukarela. Adong sedang mempermainkan seisi kelas agar memberi uang. Semua nama yang ada di papan tulis berlomba-lomba membantah bahwa bukan mereka orang itu. Tapi orang aslinya pasti akan melakukannya juga bukan?  "Tapi tunggu dulu. Gimana kita bisa tahu kalau orang itu beneran Her or Him? Kalau orangnya bohong gimana?"seru Chintya sembari berpikir.  "Chintya bodoh,,, orang yang mengaku sebagai Her or Him harus berpuisi di depan kelas. Ya, tepat seperti puisi kemarin. Hanya penciptanya yang bisa melakukannya."  "Kau pintar juga Adong, walau cuma sebentar."seru Chintya kesal.  "Baik. Uang yang terkumpul sebanyak Rp.500.000. Uang ini akan diberikan kepada Her or Him. Buat yang tebakannya benar maka, uang akan dikembalikan."  "Oke. Sekarang mengaku siapa Her or Him di kelas ini?"  Herdi menggeser kursinya dan semua mata tertuju padanya. Adong cekikikan di depan kelas. Semua orang syok berkepanjangan. Mereka tak percaya bahwa cowok yang gila belajar itu juga punya bakat terpendam. Ia maju ke depan kelas. Kehebohan yang sedari tadi berlangsung kini berubah jadi sepi dan hening.  Ia membuat ancang-ancang bak seorang profesional. Ia mulai membacakan puisinya dengan lancar. Puisi yang ia baca lagi sebelum Lovi menerimanya. Ia ingat bahwa kisah di balik puisi itu sangat menyakitkan. Saat SMP menjadi awal cinta pertama datang. Awal dari rasa suka yang memaksanya untuk berani mengungkapkannya. Herdi ingat telah menulis surat cinta selama seminggu. Puluhan lembar kertas binder ia buang karena tak yakin isi surat itu layak untuk orang yang ia sukai. Hingga akhirnya, ia yakin bahwa memang tak ada surat yang sempurna. Ia mengirimkan surat itu dalam ketidaksempurnaan. Ia sudah melakukan yang terbaik.  Saat surat itu tiba di tangan sang pemilik, ia tak lagi tahu bagaimana kabar surat itu. Mungkinkah surat itu di buang di selokan, di gunting jadi ribuan kepingan atau kah tersimpan baik dalam laci belajar? Tak ada kabar, tak ada respon dan tak ada tanda-tanda. Herdi merindukannya dalam kecemasan. Tak ada balasan dan yang tersisa hanya kenangan semata. Begitulah cinta pertama Herdi berakhir.  Semuanya tepuk tangan dalam rasa kagum. Bel berbunyi dan semua kekacauan itu berubah damai. Chintya sudah mengamankan uang milik Herdi. Cewek itu bisa mati ditangan Adong jika tak menepati janjinya.  "Kau kenapa jadi baik?"tanya Herdi saat Adong memikirkan jawaban pertanyaan bahasa inggris.  "Baik apanya sih? Aku dari dulu baik."  "Secara gak langsung, kau ngasih aku duit."  "Kau jangan salah sangka. Uang itu kita bagi dua. Dua puluh persen untukku dan kau sisanya."  "Sebenarnya aku gak terlalu butuh duit juga sih."  "Heh, aku bercanda. Uang itu milikmu. Aku cuma mau berterimakasih, kau sudah bantuin Lovitha."  "Aku juga terima kasih sama Lovi. Aku jadi percaya diri mengirimkan karya-karyaku."  Kepercayaan diri bermula dari keinginan untuk keluar dari zona nyaman. Ya, dengan mencoba sesuatu yang di luar batas nalar dan logika maka semuanya bisa terjadi. Bakat yang diberikan Tuhan kerap di pendam dan tak bisa menunjukkan diri kepada dunia.  Sejak saat itu, Herdi jadi semakin terkenal. Banyak yang menjadikannya inspirasi terlebih murid lain yang juga menyukai karya sastra. Dan oleh karena hal inilah cowok itu tak lagi maniak pelajaran geografi. Adong rasa dia sudah berhenti bercita-cita jadi astronot. Star syndrome bisa membuatnya berpaling pada cita-cita di masa lalu.  "Kocak banget bisa ngumpulin uang sebanyak itu."ucap Aya sambil tertawa. Ia masih kaget kenapa cara seperti itu bisa menghasilkan banyak uang.  "Aku aja gak habis pikir Ay. Emang ya, Avius sama Lovi itu pembawa keberuntungan." seru Adong saambil tepuk tangan.  "Semuanya karna Lovi, ini idenya dia."puji Avius lagi.  "Keberuntungan apaan. Aku selama ini bareng Lovi terus tapi gak pernah merasa beruntung."sanggah Josen sambil mencicipi gorengan milik Aya.  "Kau saja yang tidak menyadarinya. Selama ini aku bawa hal baik di hidupmu."ledek Lovi sambil mengomel.  Kantin sekolah tampak sepi karena kelas 12 sudah semakin sibuk belajar dan cuaca tidak mendukung. Gerimis hujan mulai turun dan membasahi tanah yang masih belum kering akibat hujan sebelumnya. Musim yang membuat anak sekolah sibuk mengenakan jaket penuh warna. Musim ini adalah musim kesukaan Lovi. Musim yang membuat perasaannya sejuk dan lembut. Dalam perasaannya, dingin itu bisa di ubah jadi panas hanya dengan mengenakan jaket tebal. Namun jika panas, maka sulit mengubahnya jadi dingin. Panas itu bikin gerah dan pusing tujuh keliling. Sebagaimana ia menyukai musim dingin, ia ingin merasakan teduh di balik payung kecil yang sering ia bawa.  "Hey kalian, aku traktir makan deh."seru Herdi yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Ternyata dia manusia di balik payung hitam yang tadi berjalan menuju kantin. Ia duduk disamping Adong.  "Beneran nih? Apa aja?"tanya Lovi antusias.  "Beneran dong. Aku yang bayar."  Lovi dan Aya langsung berlari memesan apa yang mereka sukai. Kapan lagi dapat makanan gratis?  "Tapi kok bisa sih acara perdana tapi lovi langsung tahu. Apa jangan-jangan dia orang dalam?"  "Kan Avius penyiarnya."ucap Josen asal. Adong langsung mencubit badan Josen. Josen yang sadar akan mulutnya yang kepleset langsung diam dan bingung. Mereka bertiga diam. Rahasia yang harusnya tetap jadi rahasia itu terancam pensiun dini. Adong memperhatikan sekitar. Semuanya tampak sibuk.  "Kau diam ya. Ini rahasia."ucap Adong setengah berbisik.  "Hah? Kukira itu bercanda."  "Pokoknya awas kalau sampai orang lain tahu. Berarti kau pelakunya."ancam Josen.  "Jadi suara itu beneran suaramu? Gila sih, ternyata kalian itu terkumpul dari orang-orang keren ya."  "Janji dulu dong, kau gak bakal cerita sama siapa pun."seru Adong.  "Iya. Aku bukan tipikal manusia yang membocorkan rahasia orang."  "Biar kita aja yang tahu. Itu cewek-cewek kalau sadar bisa di labrak kita semua."ucap Josen menegaskan. Jelas saja, apalagi Lovitha Rasella. Akan semarah apa cewek itu pada Josen. Tentang Avius menjadi penyiar sebaiknya tersimpan rapat sampai hari kelulusan nanti. Ya, setidaknya sampai saat itu jangan ada kegaduhan.  "Kalian kenapa jadi diam gitu?"seru Aya sambil menaruh makanan di meja.  "Eh, gak papa. Kita lagi merenungi sesuatu aja."ucap Josen sembarang.  "Berlebihan! Ini makan nih, traktiran Herdi manusia di balik inisial Her or Him. Hahahaha. Kocak banget sih nama mu?"ucap Lovi masih tak kuat menahan tawa.  "Kalian gak ada yang sadar ya. Her itu maksudnya nama panggilanku."ucap Herdi menjelaskan.  "Lalu Him itu apa?"tanya Lovi penasaran.  "Him itu kata ganti yang menandakan dia laki-laki sebagai objek. Jadi intinya Her itu nama panggilanku dan Him menandakan aku laki-laki. Tapi anak IPS 1 terlalu bodoh untuk menyadari itu. Kalian juga termasuk bodoh sih." Seketika mereka tertawa keras. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN