______Kita, masa muda dalam keceriaan____
________Kita, lembaran kertas penuh cerita_______
| Vidi Aldiano - Cemburu Menguras Hati |
Kafe yang baru saja buka itu tampak ramai dengan pengunjung yang di d******i pelajar SMA. Menu yang disediakan penuh makanan warna warni, minuman warna-warni hingga wadah warna-warni. Lovi dan Avius sampai di sana setelah pulang sekolah sekitar pukul tiga sore.
Pelayan memberi mereka menu dan menunggu. Avius tampak bingung juga dengan menu itu. Dalam hatinya, Lovi tertawa kecil.
"Saya mau ini dua, lalu minumnya yang ini dua. Kau gak papa kan, disamain aja?"tanya Lovi memastikan.
"Oh iya, samain aja Lov."
Pelayan pergi setelah mereka memesan. Lovi mendapat SMS dan mengalihkan padangan ke ponselnya. Ada apa dengan Josen? Untuk apa dia menanyakannya dimana? Lovi sedang menyembunyikan keadaan ini dari teman-temannya. Bahkan Aya saja tidak tahu kalau mereka sedang makan siang bareng. Keadaan yang bisa disebut dating ini harus dirahasiakan.
Josen : Kau dimana? Aya bilang kau pergi duluan.
"Kenapa Lov?"ucap Avius setelah ia menatap Lovi beberapa detik. Cewek itu tak menyadarinya karena sibuk dengan ponselnya.
"Hah? Engga, aku cuma balas SMS. Eh, terus gimana di radio? Acara kemarin mau lanjut terus kan?"
"Iya dong. Ternyata banyak yang suka dengerin kata-kata cinta. Aku banyak dapat surat dari penggemar. Katanya mereka suka suaraku di malam hari yang dingin dan tenang."
"Wuah, kau hebat banget Av. Aku bangga berteman denganmu."
"Rasanya aku lebih beruntung Lov. Tanpa kau dan teman-teman yang lain, hidupku kaku kayak es beku di kulkas."
Makanan akhirnya datang. Lovi tampak antusias dengan makanan penuh warna warni itu. Pasta berwarna pink dan hijau di balut saus merah yang dominan. Minuman berwarna oranye dan topping ice cream vanilla diatasnya. Lovi sampai gak yakin, apakah benda di depan itu layak untuk di makan atau tidak. Makanan yang fungsionalnya se-sederhana masuk ke mulut dan membuat kenyang itu memiliki makna yang lebih dari itu. Rasa puas dan kelegaan. Hati yang gundah bisa berubah menjadi bunga yang sedang bermekaran. Kafe itu memberi nuansa yang tak kalah heartwarming.
"You give me hope,
The strength, you will to keep on,
No one else can make me feel this way
And only you"
Potongan lirik di awal lagu itu membuat Avius dan Lovi saling berpandangan.
"You, Basil Valdez!!!"
Tawa renyah terdengar dari hati yang hangat. Mereka adalah dua sejoli aneh yang begitu bahagia menikmati makanan sambil mengomentari lagu.
"Ternyata kau hebat sekali masalah lagu."ujar Avius.
"Kebetulan aja sih. Aku cenderung suka lagu-lagu melow jaman dulu. Kata-katanya bagus Av."
"Gimana makanannya?"
"Hmm, menurutku enak aja sih. Tapi gak spesial bangetlah."
Saat ada hati yang berusaha mendapat cinta itu, ada hati yang sedang berpikir tentang perasaannya sendiri. Lovitha Rasella sedang menimbang-nimbang. Tak ada yang salah dari Avius. Ia adalah seseorang yang membuatnya senang. Baik, rajin belajar dan yang terpenting dia gak protektif. Saat ada hati yang bingung pada perasaannya sendiri, ada hati yang sibuk memperhatikan tanpa berbuat apa-apa. Josen Prasesa, cowok yang katanya punya keberanian di atas rata-rata itu hanya memandang mereka berdua dari balik jendela kaca kafe. Gelar ketua kelas yang ia sandang selama ini ternyata tak menjamin apapun.
Ia berdiri di sana karena bapaknya berkunjung dan hendak bertemu. Ia kesal kenapa Lovi tak membalas SMS nya. Tiba-tiba seseorang datang dan menyadarkannya dari pikiran-pikiran kacau.
Raga.
"Kau kenapa? Cemburu?"
Josen langsung berjalan menjauhi kafe itu. Bisa bahaya jika mereka melihatnya ada di sana. Namun tetap saja cowok bernama Raga itu mengikutinya.
"Kau adalah penyebab aku dan Lovi putus Jos. Jangan bilang, kau mau menghancurkan hubungan mereka. Kau sadar kan, mereka berdua itu sahabatmu."
"Kau bisa diam gak? Jangan sok tahu. Aku gak pernah cemburu. Kau pikir, kau putus sama Lovi karena aku? Kau sendiri adalah alasan kenapa kalian putus."
"Kau menebar persepsi tidak benar tentang aku. Kenyataannya, kau yang terlalu protektif Jos. Gak mungkin aku gak cemburu kalau alasan Lovi membatalkan janji hanya karena kau. Ngerti gak?"
"Ya, harusnya kau mengerti. Bukannya menyalahkan dia."
"Munafik! Kau membuat dirimu sempurna sebagai sahabat."
"Jadi ceritanya kau masih suka Lovi? Bukan begini caranya balas dendam."
"Aku udah menganggap Lovi sebagai teman. Gak ada gunanya balikan sama mantan. Kau yang berbahaya. Kau menyukainya tapi malah menunjukkan hal yang sebaliknya. Kau juga melukai banyak perempuan di luar sana."
Kali ini Josen gak bisa membantah ucapan Raga. Raga pergi setelah mengatakan semua unek-uneknya. Josen duduk di kursi taman yang ada di sana. Ia bingung. Entah sejak kapan ia melakukan kesalahan besar ini. Sejak kapan ia berpura-pura jadi manusia tanpa rasa. Ia sadar bahwa hatinya tak mudah mencintai orang lain. Namun, begitu mudah ia menerima cinta dari orang lain. Ya, dari orang yang tidak ia cintai.
*****
"Makasih ya Jos. Bilang dulu sama yang lain biar gak ribut. Saya mau mendaftarkan nama untuk olimpiade bulan depan. Sekolah kita emang kerjaannya gak beres. Waktu tinggal satu bulan baru di suruh cari anggota."ucap Pak Anja setelah Josen memberikan data siswa yang diminta.
"Jadi olimpiade nya beneran ada pak?"
"Iya dong. Kau mau ikut?"
"Beneran saya boleh pilih?"
"Boleh aja. Olimpiade ini cuma formalitas untuk sekolah kita. Semua udah di prediksi kalau pemenangnya itu dari sekolah sebelah."
"Mana boleh gitu pak. Itu namanya gak adil."
"Wajar aja Jos. Mereka udah nyiapin dari bulan lalu. Kita baru persiapan hari ini. Kamu jangan ikut-ikutan kayak Adong ya, gara-gara kesal."
"Adong?"
"Adong yang melemparkan air ke murid sekolah sebelah."
"Enggalah pak. Itu namanya kriminal."
"Ya sudah, kamu balik sana. Nanti kamu milihnya di kelas aja."
Josen bergegas ke kelas. Tampak teman-temannya sedang menikmati hari tanpa guru. Hari yang bebas dan bisa bercengkrama. Hanya Josen yang tahu tentang olimpiade itu. Ia sedang menimbang-nimbang akan ikut yang mana. Sebaiknya ikut olimpiade yang tidak banyak saingan. Dari kelasnya sendiri saja ia sudah punya saingan yang lebih pintar. Tapi tak semua orang pintar niat ikut olimpiade. Apalagi olimpiade ini semacam formalitas yang tak ada gunanya bagi siswa itu sendiri.
Pak Anja tiba dengan deheman khas nya. Ia duduk walau beberapa siswanya kaget karena dari awal tak akan ada guru yang datang hari ini.
"Maaf saya menganggu kenyamanan kalian. Saya mau daftarkan, siapa yang mau ikut olimpiade."
Semuanya diam, malu-malu kucing. Mereka yang sudah tahu busuknya sekolah ini merasa ogah untuk ikut olimpiade karena rasanya tak berguna. Sekolah tak mau mengeluarkan uang untuk persiapan olimpiade. Sekolah hanya mau siswanya belajar sendiri jika ingin hasilnya bagus. Lagi-lagi SMA 1 hanya bisa bertahan di bawah ketiak SMA 2. Ironis tapi nyata.
"Josen kamu mau kan? Kamu ikut yang matematika aja ya?"
"Sama Aya pak!"teriak Lovi dari belakang.
"Cahaya? Mana cahaya?"
"Saya pak."ucap Aya lemas. Ia kesal pada Lovi yang tak punya otak itu. Aya adalah satu dari sekian orang yang males ikut begituan. Sedangkan Lovi yakin akan potensi dari Aya.
"Okey. Kamu mau kan?"
"Ya udah deh pak."seru Aya pasrah.
Pak Anja bergegas keluar kelas karena sudah tak ada lagi yang mau ikut. Ia akan mencari kandidat dari IPA 2 sampai seluruh IPS. Pasti ada saja yang mau ikut walau cuma iseng-iseng berhadiah.
"Parah ya, harusnya kau yang ikut Lov!"teriak Aya tak terima.
"Aya, kamu itu pintar matematika. Jangan mau kalah sama Josen."
"Aku ikut berarti kau juga ikut. Aku mau bilang Pak Anja."
Aya berlari keluar kelas untuk menemui Pak Anja. Di saat yang sama, Lovi mengikuti dari belakang. Pak Anja tampak keluar baru keluar dari kelas 11 IPA 2 dengan wajah kecewa. Rasanya tak ada siswa yang mau ikut olimpiade ini.
"Pak, Pak Anja!!"
"Ada apa ini, kalian kenapa lari-lari?"
"Pak, Lovi mau ikut olimpiade."
"Engga pak. Aku gak mau!!"
"Kalian itu kenapa sih?"
"Saya gak mau ikut, kalau Lovi gak ikut pak."
"Baik. Kalian temani bapak nyari kandidat di kelas lain. Kalau ada yang masih kosong, maka Lovi jadi perwakilan."
"Baik Pak, terima kasih."ucap Aya kalem.
"Sialan, parah banget. Aku dapat sisaan doang?"
"Siapa suruh cari masalah."
"Aishhh, Tuhan tolong penuhi kuota itu, biar Aya ikut sendirian."
Doa itu tak tergapai. Ada satu mata pelajaran yang bahkan tak punya peminat. Geografi. Herdi saja sudah muak dengan pelajaran itu. Lovi hanya bisa pasrah.
"Emang boleh pak, anak IPA ikut olimpiade IPS?"tanya Aya.
"Boleh aja. Itu David dari kelas IPA 2 ikut yang komputer. Ini geografi harus ada tiga orang. Kalau cuma Lovi aja gak bisa. Kalian punya teman lagi yang kira-kira bisa?"