_______Kita, sumber kegembiraan_____
________Kita, aroma sahabat yang sesungguhnya_______
| Ada Band - Pura Pura Cinta |
Hari olimpiade tiba. Lokasinya tak jauh dari lingkungan sekolah. Wajah-wajah baru terlihat berlalu lalang. Seragam yang beragam tampak menunjukkan kualitas. SMA N 2 Nestapa memiliki murid dan guru yang sangat antusias. Sangat jauh berbeda dengan SMA N 1 Nestapa.
"Aduhh malas banget. Kita di sini cuma serpihan yang gak berguna."keluh Lovi sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Ia, Adong dan Avius terpaksa harus memenuhi kuota mata pelajaran geografi. Pak Anja dari dulu sampai sekarang tak berhenti menyusahkan mereka.
"Ini semua gara-gara kalian. Kau dan Aya. Kalau saja kalian gak bersikap kekanak-kanakan."ucap Adong kesal.
"Maaf ya Dong, aku cuma mau Aya ikutan. Kau tahu sendiri, dia pintar banget matematika."
"Jadi kita cukup hadir dan mengisinya asal ya. Menyebalkan harus bangun pagi demi beginian."
"Aku belajar sih kemarin. Kalau nilainya di pajang biar gak malu-maluin."seru Avius.
Lovi dan Adong tak terima. Temannya itu bisa disebut sebagai penghianat bangsa. Adong sih tidak masalah, ia sudah tak peduli dipermalukan. Lovi jadi khawatir jika tantenya tau tentang hal itu.
"Jos, Ay, semangat!!!!"teriak Adong. Josen dan Aya sedang menunggu di depan ruangan kelas yang berbeda. Peserta olimpiade dikelompokkan berdasarkan mata pelajaran yang mereka ambil.
Josen dan Aya menyapa dengan lambaian tangan. Tak terasa waktu berlalu, olimpiade secara tertulis itu dimulai. Banyak orang baru dari seluruh sekolah di kabupaten yang sama. Menyenangkan bisa mendapat pengalaman baru walau tidak terlalu berguna.
"Sia-sia semuanya. Sekolah kita hanya dapat di mata pelajaran komputer sama ekonomi."seru Josen saat mereka berlima berjalan menuju sekolah.
"Wajar sih Jos, itu anak SMA 2 gak ada tandingannya."balas Aya. "Aku sih ga berharap apa-apa, ikut ini juga karena si kutu kupret Lovi."lanjutnya lagi.
"Maaf ya gais, tetapi gak terlalu buruk. Aku dapat kenalan baru dari SMA lain."
"Cowok pasti nih. Dasar gatel!"
"Ini namanya menjalin silaturahmi Ay."
"Olimpiade macam apa yang pesertanya tiduran? Aku lihat soalnya aja langsung ngantuk."curhat Adong sambil tertawa.
"Gak usah olimpiade deh, UTS aja kau tidur di kelas."ledek Josen.
Olimpiade seyogianya menjadi kegiatan yang bermanfaat dan penuh persiapan. Itu bisa jadi penentu standar bagi suatu sekolah. Tapi tetap saja banyak yang menyerah sebelum bertanding. Setidaknya ada pengalaman yang tersisa.
Saat mereka hendak berjalan ke kelasnya, tampak Pak Anja sedang berbicara dengan seseorang. Wanita paruh baya yang sepertinya orang tua salah satu murid sekolah. Mereka menatap ke arah murid yang baru saja selesai olimpiade itu.
"Kalian duluan ya. Mamaku datang."ucap Avius sambil berlari menuju tempat Pak Anja berdiri.
Adong dan Aya berjalan sambil sibuk membicarakan pertandingan sepak bola kemarin. Lovi penasaran dengan apa yang terjadi. Apa ada sesuatu yang penting sampai orang tua Avius mendatangi sekolah?
"Udah ayo! Lama banget jalannya."seru Josen sambil menarik tangan Lovi.
"Iya iya, Eh Jos, itu kenapa ya?"
"Kenapa apanya? Mungkin ada urusan penting. Bapak ku kadang juga datang cuma ngajakin makan siang bareng."
"Emang iya? Kenapa gak ngajakin aku sih? Aku juga mau makan gratis."
"Waktu itu kau di SMS tapi gak ngebales. Padahal bapak nanyain kamu loh."
"Hah? Kapan aku gitu? Perasaan aku gak pernah sibuk deh."
"Pikirin aja sendiri!"
"Seriusan Jos. Kapan? Kasih tau dong!"
Josen tak memperdulikan rengekan itu. Ia berjalan dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Hari itu adalah hari yang tak boleh di bahas terlalu dalam. Hari dimana ia diceramahi oleh Raga. Hari dimana ia makan siang dengan pikiran kemana-mana. Ya, waktu itu alasan dia menanyakan keberadaan Lovi adalah untuk makan siang bareng karena bapaknya yang tiba-tiba datang.
"Hai Kak Jos!!"sapa seseorang. Perempuan cantik yang dari tampilannya dapat di ketahui bahwa dia adalah anak kelas 10. Cara mengetahui seseorang lebih muda adalah dari seragamnya. Mereka yang baru saja masuk SMA, cenderung mengenakan baju baru yang masih putih bersih. Warna putih itu cukup menyilaukan jika dibandingkan dengan seragam kakak kelas yang sudah usang dan kekuningan.
"Eh, aku duluan ya."ucap Lovi sambil melepaskan tangan Josen dari bahunya. Lovi langsung menghancurkan pembicaraan Adong dan Aya.
"Apaan sih Lov? Kaget tau!"ucap Aya. "Aku jadi lupa tadi kita mau ngomongin apa."
"Itu loh, Christiano Ronaldo."
Lovi pura-pura mendengar walau sebenarnya ia sangat tidak mengerti pembicaraan itu. Saat hati dan ragamu berbuat sesuatu yang bertolak belakang. Sulit sekali menghadapi dua hal yang datang bersamaan dengan beda tujuan.
"Lah, Josen dimana?"tanya Adong saat mereka tiba di kantin sekolah.
"Gak tahu. Tadi dia ketemu cewek dulu."balas Lovi.
"Wahh, dia gila juga ya. Siapa orangnya Lov? Kau kenal?"tanya Aya penasaran.
"Gak kenal. Kayaknya anak kelas sepuluh deh."
"Hebat sekali teman kita itu. Aku aja udah lama putus susah untuk move on."seru Aya.
"Aku curiga deh."ucap Adong serius. Lovi dan Aya mendekat dan menunggu pernyataan selanjutnya.
"Aku heran sama dia. Dia kapan hari curhat gak jelas."
"Contohnya di kasih dong Adong."balas Aya kesal.
"Contohnya nih ya, aku lupa kapan. Dia ngirim SMS dan bilang kalau dia sedang bingung sama perasaannya. Aneh kan? Berarti dia lagi suka sama seseorang."
"Itu mah biasa aja Adong! Dia juga tiap hari suka sama seseorang. Tapi tiap hari beda-beda orangnya."seru Lovi sambil tertawa keras. Aya mengangguk mengiyakan pernyataan Lovi.
"Ini beda Lov. Selama ini dia dekat sama Titan atau sama siapa pun. Bahkan sama Debora waktu kelas 10, dia gak pernah cerita. Aku aja tahu dari orang-orang."
"Berarti dia lagi beneran suka sama seseorang. Tapi ini suka dalam arti serius?"seru Aya.
"Bener Ay. Aku yakin. Tapi siapa orangnya, aku gak tahu."
"Jangan-jangan kau Lov."ledek Aya bercanda.
"Atau mungkin juga kau Ay?"
Mereka berdua tertawa, saling mengejek. Mereka seakan menyadarkan diri masing-masing bahwa mereka berdua itu bukan levelnya Josen Prasesa. Candaan itu sedikit mengusik Adong. Jelas saja, terakhir kali makan di kantin ia melihat Josen bertingkah aneh.
"Dong, aku tahu siapa. Mungkin aja Titan."ucap Lovi sambil berpikir.
"Titan?"
"Iya, Titan Andarina!"
"Bisa aja sih Lov. Titan kan cantik, pintar, ceria. Bawaannya kalau sama dia tuh seneng aja."
Josen tiba-tiba datang. Kedatangannya itu cukup mengagetkan. Saat sedang membicarakan orang lain dan orang tersebut datang seperti kepergok berbuat yang tidak-tidak. Ternyata Avius ikut datang bersamanya.
"Av, kenapa? Ada masalah di rumah?"tanya Lovi saat cowok itu duduk di kursi kantin.
"Lagi-lagi, dia cuma bilang mau pergi ke luar kota."
"Kau nginep lagi aja Av. Santai, rumahku itu ramah manusia."seru Adong.
"Serius boleh?"
"Boleh banget. Kalian semua mau nginep juga boleh."
"Aku ikut."ucap Josen.
"Aku sama Lovi gak bisa ikut. Kita ada urusan penting."seru Aya.
"Kalian mau ngapain?"tanya Adong penasaran.
"Hari sabtu kita mau nginep di rumah Tata. Dia ulang tahun kan, jadi diundang deh. Sekalian di ajak nginep gitu sambil main games rame-rame."
Tata, cewek kelas 11 IPA 3 itu memang anak orang kaya. Rumahnya besar bak istana. Orang tua yang terlahir kaya membuatnya tak kekurangan apa pun. Tata dulu sekelas dengan Lovi dan Aya di kelas 10 E. Meskipun kaya, dia tetap asik untuk di ajak berteman. Sangat jarang anak SMA yang merayakan ulang tahun besar-besaran.
"Aku juga di undang Tata sih. Tapi kayaknya gak usah pergi."seru Avius menyela.
"What the hell, seriusan Av? Dia itu hanya mengundang orang penting. Jangan-jangan dia secret admirer mu."goda Lovi.
"Udah gak usah pergi. Setauku temennya Tata itu rata-rata cewek. Kalau ada cowok yang ikut ke acara itu pasti melambai alias bencong."seru Josen ngasal.
"Wah, kurang ajar!! Parah banget."ucap Lovi kesal.
"Tapi beneran Lov. Mereka punya geng yang isinya cuma satu cowok. Bisa disimpulkan sendiri."ucap Josen sambil tertawa.
"Jadi kalau Avius ikut kesana berarti di pikiran Josen dia itu bencong."seru Aya geli. Pemikiran kuno Josen itu memang patut dipertanyakan. Memang sih, rata-rata pertemanan yang isinya di d******i cewek akan tampak negatif.
"Bodo amat sama Josen, yang penting masih manusia."ucap Adong.
Semuanya tertawa mendengar tanggapan itu. Kadang apa yang di lihat manusia begitu rumit dan memutar otak. Sebenarnya tak serumit itu, semuanya sederhana. Semuanya tergantung bagaimana kita berpikir dan menanggapi setiap hal. Begitu pula dengan perasaan. Kadang seseorang terlalu khawatir mengutarakan perasaannya. Takut ekspektasi negatif menjadi kenyataan. Sadarilah bahwa ekspektasi itu akan selalu jadi ekspektasi jika tak ada yang dilakukan. Langkah terbaik adalah melakukan sesuatu terhadap ekspektasi itu. Bisa dengan mewujudkannya atau melupakannya. Entah apa yang terjadi di depan sana. Tak ada yang tahu masa depan. Tinggal bagaimana seseorang bisa mencapai masa depan yang cemerlang. Hidup sesimpel itu. Jalani hari ini, pelajari masa lalu dan gapai masa depan.