____Kita, patah satu, semua ikut patah____
_______Kita, sakit satu, semua ikut sakit______
| Cokelat - Karma |
Malam minggu, malam yang anak muda banget. Ada kisah di tiap malam minggu. Ada rindu pada malam minggu yang sudah berlalu dengan si dia. Akhirnya Lovi dan Aya tiba di rumah Tata. Rumah yang lahan parkirnya luas dan ukuran rumah yang bak istana. Baru kali ini mereka masuk ke rumah sebesar ini.
"Aku gak habis pikir sama keluarga Tata. Enak banget punya rumah sebesar ini Ay."
"Aku aja masih bingung, kenapa dia mengundang kita Lov. Padahal dulu kita gak dekat sama dia."
"Peduli amat deh. Kita makan enak malam ini."
Otak Lovi memang penuh dengan makanan. Makanan dapat membuatnya lupa segala hal. Mereka masuk rumah dan mendapati banyak sekali orang. Makanan lezat terhidang. Cake yang tadinya hanya bisa dilihat di televisi kini terhidang dengan jumlah yang banyak. Air liur Lovi bercecer dan pikiran jahatnya ingin membungkus makanan itu.
"Sadar diri ya Lov. Gak sopan makan sebelum waktunya."
"Aku udah gak kuat. Pengen makan aja Ay."
"Kita disini cuma remahan dan gak penting. Habis acara inti, kita makan sepuasnya dan langsung pulang ya."
"Hooh Ay, ngelihat dia dan teman-temannya aku jadi ngerasa salah tempat. Mereka kayak super model."
"Tahu gini mending kita nginep di rumah Adong."
"Kita kayak kena karma ya."
Acara ulang tahun itu terasa membosankan bagi Lovi dan Aya. Semua orang begitu bergembira. Hal terbaik dari pesta ini adalah makanan. Lovi sibuk memilih makanan meski ia yakin bahwa semuanya itu akan ia coba. Tak ada yang boleh ditinggalkan. Aya menyusul mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan itu. Hingga tiba-tiba seseorang menyapanya. Orang yang membuat Aya galau berkepanjangan. Mantan yang membuatnya sakit hati untuk pertama kalinya dalam hidup. Aya mengernyitkan dahinya, kenapa makhluk itu muncul dihadapannya.
"Hai Aya. Apa kabar?"
Lovi seketika merinding. Ia melihat wajah Aya yang kesal luar biasa. Lovi langsung menjauh dan mencari tempat duduk acak. Ia berpikir keras sambil melirik ke arah Aya dan Reylo yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Ini malam tergila! Harusnya kita gak kesini Ay!!"batin Lovi sambil menikmati cake lezat itu. Kue ini bisa membuatnya melupakan penderitaan temannya.
"Kenapa harus nyapa sih? Bisa gak sih pura-pura gak kenal?"balas Aya.
"Kau masih marah?"
"Engga kok. Aku cuma gak suka lihat wajahmu!"
"Oke fine! Bisa gak bertingkah biasa? Orang-orang tahu kalau kita pernah pacaran!"
"Harusnya kau sadar diri. Gak usah mengusik hidup orang."
"Aku cuma mau bilang, biar kamu bersikap biasa. Harusnya kalau di sapa, balasnya baik-baik dong. Kamu tahu gak sih kalau kamu di undang kesini gara-gara aku."
"Maksudnya?"
Suasana riuh berkumandang ketika Tata dan gengnya mulai mengambil alih panggung. Rasa-rasanya ada yang ingin ia umumkan. Ini benar-benar seperti acara ulang tahun di kota besar. Orang kaya memang cenderung menunjukkan eksistensi dirinya dimanapun ia berada.
"Terima kasih semua yang hadir disini. Aku mau mengumumkan sesuatu yang penting di hari ulang tahunku ini."
Tiba-tiba Reylo maju ke depan menghampirinya. Reylo, cowok yang selingkuh itu kini berhasil mendapatkan hati gadis secantik Tata. Kegilaan apalagi ini?
"Aku mau memperkenalkan pacarku. Kalian berhak tahu dong, kalau aku dan Kak Reylo udah pacaran."
Mereka mulai berpidato selayaknya orang yang sedang bertunangan. Niat awal Tata mengundang Aya adalah untuk memberitahukan semua ini. Aya muak tetapi tetap menunjukkan wajah yang biasa. Wajah yang tak terluka, wajah yang menerima semuanya dengan sukarela. Lagi-lagi berpura-pura jadi solusi.
"Kau gak apa-apa Ay? Apa kita pulang aja?"seru Lovi.
"Aku sebenarnya gak nyaman Lov. Tapi kita gak boleh terlihat kalah. Kita harus habisin semua makanan yang ada di sini."seru Aya ceria. Di balik keceriaan itu ada luka yang menetap. Lovi tahu itu, tapi bukan waktunya membahas itu di tempat ini. Mereka akan jadi pusat perhatian jika itu terjadi. Mereka kembali menikmati makanan dan berencana untuk mencoba semuanya. Jangan sampai ada yang terlewat.
Ponsel Lovi berdering. Sebuah pesan dari Avius. Sudah sejak pernyataan cintanya, Avius dan Lovi selalu bertukar kabar setiap saat.
Avius : Gimana acaranya seru gak?
Lovi : Ga sama sekali. Tau ga sih, Tata pacaran dong sama Kak Reylo
Avius : Hah? Boong kamu!
Lovi : Beneran! Dia ngundang kami juga buat nunjukin itu. Tau sendiri, Tata gak enakan.
Avius : Gila banget. Eh Lov, kata Josen balas SMSnya.
Seketika Lovi kaget. Ia tak sadar bahwa pesan Josen terlewat. Ternyata ada dua pesan yang terluput dari perhatiannya.
Josen (20:09) : Jadi ke pesta?
Josen (21:00): Tolong bilangin Aya, besok aku rebut si Tata dari Kak Reylo :D
Lovi tertawa dan menunjukkannya pada Aya. Aya sedikit terhibur dengan balasan itu. Namun itu cuma bualan semata, biasanya Josen hanya mendekati cewek-cewek yang tak bertuan. I mean, cewek yang tak punya pacar. Bagi playboy cap kampak itu, memacari cewek yang sudah punya pacar itu sama saja dengan cari mati. Selain menghabiskan materi, itu juga bisa meningkatkan emosi jiwa.
*****
"Parah sih, masa SMS mu gak di balas. Tapi Avius di balas."ledek Adong saat Avius mendapat balasan dari Lovi. Malam itu mereka sedang tidur di ruang tamu. Tak ada orang di rumah Adong kecuali mereka bertiga. Orang tua Adong dan adiknya Visi sedang berkunjung ke rumah opa dan oma. Adong paling malas pergi ke rumah kuno seperti itu. Meski begitu ia tetap cucu yang paling perhatian.
"Parah emang dia. Kalian ada sesuatu ya?"tanya Josen penasaran.
"Hah? Masa sih?"seru Adong tak percaya.
Sesaat Avius terdiam. Ia mencoba menimbang-nimbang dalam hati. Bolehkah semua rasa itu diceritakan? Tapi mereka kan teman baik Avius. Terlebih Josen yang merupakan sahabat Lovi.
"Hmmm, sebenarnya aku suka Lovi."
"Jadi beneran? Wahh gak kusangka."seru Adong histeris. Dia adalah pihak yang paling kaget. Wajar saja, ia orang yang paling tidak tahu apa-apa.
"Terus kau udah bilang sama dia? Jawabannya apa?"
"Aku udah bilang. Aku sih gak berharap di balas ya, tapi setidaknya aku udah bilang."
"Iya benar Av, jadi lah cowok yang jantan. Jangan jadi pengecut. Dan tahu kan, kalau cinta itu bisa datang tiba-tiba. Santai aja, entar bisa aja dia suka samamu."
"Selamat berjuang ya bro. Kalau sama mu aku pasti setujulah."ucap Josen.
"Tuh, Josen aja setuju. Pasangan pertama bakal muncul bentar lagi."
"Josen, kau sendiri gak lagi suka sama seseorang?"tanya Avius memberanikan diri. Ini adalah jebakan untuk memastikan bahwa setidaknya Avius tak bersaing dengan sahabatnya sendiri. Persahabatan itu jadi rumit kalau sudah di campur adukkan dengan hati.
"Hmmm,,, entahlah."jawab Josen seadanya.
"Kau mencurigakan Jos. Dulu kau kan pernah cerita kalau lagi galau."balas Adong.
"Oh itu, itu cuma galau sesaat. Entah, tahu sendirikan prinsip hidupku gimana?"
"Jangan lama-lama punya prinsip begitu. Suatu saat, kau butuh juga yang harus diseriusin."
"Yaelah Dong, kita masih SMA woy."
"Av, dengerin ya. Jangan sepele sama jatuh cinta di masa SMA, itu bisa jadi awal masa depan mu."
"Sok bijak juga anak nakal ini. Sejak kapan kau peduli soal cinta?"tanya Josen.
"Aku lagi nunggu waktu yang tepat aja. Seseorang bisa didapatkan dengan usaha."
"Adong, siapa orangnya? Chintya?"seru Josen ngasal. Setahu Josen, Chintya cukup terkenal di kalangan anak IPS bahkan anak IPA. Cewek itu punya jiwa kepemimpinan dan wajah yang cantik. Apalagi dia masih jomblo dengan semua kelebihannya itu.
"Engga lah, itu cewek pengen ku jambak sumpah. Sok asik banget. Kan, aku jadi kesal."
"Terus siapa?"
"Eh, ada pesan lagi dari Lovi. Dia bilang ada Kak Reylo di sana. Dan paling parah, Kak Reylo pacaran dong sama Tata."
Informasi mengejutkan ini membuat cowok-cowok itu kaget. Hidup bagai diombang ambingkan hingga menemui titik jenuh. Mereka tahu banget kalau Aya masih belum bisa berpindah ke lain hati walaupun Reylo sejahat itu. Hal terjahat lainnya adalah niat mengajaknya ke pesta ulang tahun Tata. Malam itu seakan jadi pertunjukan untuk mematahkan hati yang sebelumnya sudah patah. Patah yang berbulan-bulan coba disembuhkan, dipatahkan lagi untuk kesekian kalinya. Bisa dibayangkan seperti apa jadinya.
"Eh, kita mending jemput mereka deh. Aku khawatir."ucap Adong beranjak.
Josen dan Avius mengikuti. Adong sedang berpikir keras. Jumlah motor tak cukup untuk membawa mereka semua. Kendaraan yang tersisa adalah mobil tua milik orang tuanya. Mobil busuk itu kini dikeluarkan Adong dari parkiran. Kapan lagi bisa menggunakannya. Orang tua Adong selalu melarang untuk menggunakan mobil itu. Adong terkenal dengan perilaku menyetir yang serampangan. Ia bahkan tak takut mati kalau menyetir.
"Awas ya kalau sampai kenapa-napa, aku hajar kau!"ucap Josen kesal. Ia melihat Adong yang meningkatkan kecepatan.
"Santai aja Dong. Nyawa lebih berharga dari emas dan perak!"balas Avius.
"Iya iya. Kalian itu cowok tapi bawel."
"Masalahnya kau punya track record buruk nyetirin mobil. Coba aku bisa bawa, udah kuambil alih."ucap Josen.
"Ya udah, ingetin aku kalau udah kelewat batas. Kadang jiwa petarungku keluar di saat-saat kayak gini. Darah muda coy, darahnya para remaja."
"Ngelawak teros! Visi malu punya abang kayak kau."
"Itu benar sih Jos. Aku dilarang sama dia datang ke sekolahnya. Katanya malu, soalnya aku jelek."
Candaan itu membuat waktu berjalan tak lama. Mereka tiba di rumah Tata. Tepat di depan gerbangnya ada Lovi dan Aya yang sedang membawa plastik berisi kue dan makanan lainnya. Mereka tampak baik-baik saja. Penyesalan terlihat jelas di wajah ketiga cowok itu.
"Kalian ngapain ke sini? Mau minta kue?"tanya Lovi.
"Kalau mau ambil sendiri sana."balas Aya sambil tertawa.
"Kalian baik-baik aja?"teriak Josen keras.
"Mumpung kalian di sini, mending kita ke rumah Adong. Gak ada gunanya kami nginap di rumah mewah ini."seru Lovi sambil menarik tangan Aya. Mereka naik mobil dan sejak saat itu yang terjadi hanya keheningan. Tak ada yang mau bicara.