________Kita, coretan kisah penuh makna______
________Kita, berkemas bersama untuk masa depan________
Aya termenung dan tak bisa tidur. Ia dan Lovi tidur di kamar Visi yang nyaman. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 subuh. Ia memutuskan untuk keluar dari tempat itu dan duduk di balkon lantai dua. Ia bisa melihat lampu yang masih menyala dan pemandangan bagus dari sana.
Seketika Aya iri pada Lovi. Cewek itu begitu gembira dan tak berbeban. Saat putus dengan Raga, ia malah seperti harimau yang lepas dari kandang. Putus adalah keputusan yang penuh teka-teki. Ada yang putus dalam keadaan bahagia dan ada yang seakan mau meninggal. Aya menatap langit yang kosong tanpa bulan dan bintang.
Ia melihat sekeliling dan ada bunga yang sedang berkembang. Bunga itu belum kelihatan cantiknya karena masih dalam proses pertumbuhan. Ternyata Visi punya kebiasaan baik, ia suka bunga. Aya membayangkan betapa indahnya balkon ini jika bunga-bunga itu sudah bermekaran.
Suara langkah kaki terdengar dan membuatnya siaga. Adong muncul dari lantai satu. Ternyata untuk mencapai balkon ini, ada tangga darurat yang terhubung langsung ke luar rumah. Adong yang ikut kaget menyembunyikan rokok ditangannya.
"Kirain ada orang lain. Ternyata kau Ay!"
"Iya nih, aku gak bisa tidur. Terlalu overthinking!"
Adong langsung duduk disamping Aya. Ia membuang rokoknya agar tidak masuk ke kamar Visi. Gadis yang sedang tidur di sana bisa-bisa bangun karena bau yang menyengat dari asap rokok.
"Emangnya kau sesuka itu sama mantan pacarmu itu?"
"Hmmm, kebalikannya sih. Aku sangat membencinya."
"Terus ada masalah apa lagi?"
"Masalahnya aku gak bisa melupakannya."
"Kau butuh seseorang disisimu biar bisa lupa."
"Aku terlalu jahat kalau memanfaatkan orang lain."
"Kenapa gak coba mengubah diri dulu?"
"Maksudnya?"
"Kau jangan terlalu berpatokan pada kriteria yang dulu kau bilang. Bisa gak, coba menerima siapa aja tanpa melihat kriteria itu?"
"Kriteria? Maksudmu kriteria cowok idamanku yang bilang gak mau sama cowok seumuran?"
"Tepat sekali! Apa gak bisa?"
"Hahaha, kau ada maksud apa sih Adong? Jangan bilang kau mau menjodohkan aku dengan Johan?"
"Engga, bukan itu!"
"Lalu apa?"
Adong mendekatkan badannya sambil berbisik, "Aku menyukaimu!"
Aya kaget. Wajahnya jelas sekali menunjukkan hal itu. Aya tak menyangka seorang Adong menyukainya? Ini aneh. Ini sesuatu yang tak boleh terjadi. Apa yang selama ini ia lakukan? Mungkinkah ia melakukan sesuatu yang membuat Adong salah paham? Rasanya Aya tak sering berkirim SMS padanya, tak juga sering ketemu berdua. Mereka hanya bertemu ketika ada teman-temannya yang lain. Aya adalah tipe perempuan yang tak mau terlalu dekat dengan laki-laki. Pertemanan seperti Lovi dan Josen adalah sesuatu yang sangat dihindari Aya. Dua orang yang seakan seperti sahabat bisa saja berubah ketika waktu menentukannya.
"Aku mau tidur lagi ya. Jangan terlalu dipikirkan. Aku juga gak butuh jawaban. Kamu tidur juga, biar besok gak ngantuk!"
Adong pergi melalui jalan yang sebelumnya. Rasa bersalah muncul dalam hati Aya. Disisi lain, ia tak mau menerima hanya untuk memanfaatkan. Rumitnya perasaan tak bisa diolah otak manusia dengan benar. Aya beranjak ke tempat tidur di mana Lovi sedang tidur nyenyak. Ia berusaha menutup mata tapi tak bisa. Kaget sekali mendapat pernyataan cinta dari orang yang tak disangka-sangka. Lebih enak jika yang mengungkapkan perasaan adalah Johan. Aya bisa menghadapinya dengan sangat mudah.
Adong yang baru saja kembali, mendapati Avius sedang duduk di ruang tamu sambil menatap jalanan depan rumah Adong yang terlihat jelas. Gorden yang tadi tergerai ia singkirkan agar jalanan itu terlihat.
"Kau kenapa bangun juga sih?"
"Kau dari mana?"
"Cari udara segar sambil ngerokok."
"Cobalah berusaha untuk gak kecanduan."
"Baik pak guru! Siap laksanakan!"
"Hahaha.."
"Bentar lagi kita udah mau naik kelas."
"Kayaknya aku bakal berhenti jadi penyiar kalau entar udah kelas 12."
"Ahhh sayang banget. Harusnya gak usah berhenti Av."
"Mama udah tahu kalau aku jadi penyiar. Dia bilang entar kalau udah kelas 12 berhenti aja. Mau ngapain juga bertahan hanya untuk jadi penyiar doang. Aku pengen banget adu argumen, tapi tahu sendiri gimana pemikiran orang tua."
"Kau berhenti saja. Biar bisa fokus persiapan UN dan SBMPTN. Aku juga sedang berusaha menyakinkan mama. Dia suruh aku kuliah di saat aku gak mau."
"Kau beneran gak berniat kuliah?"
"Iya. Aku tahu kok, kalian berempat sangat ingin kuliah. Lagi-lagi cuma aku yang berbeda."
"Jadi berbeda itu gak buruk. Kau harus berjuang kalau memang gak mau kuliah."
"Terus, kau mau kuliah di mana nanti?"
"Hmm, sebenarnya belum kepikiran sih."
Cita-cita adalah sesuatu yang sulit dijawab ketika ditanyakan. Seiring berjalannya waktu, orang-orang semakin sadar bahwa kebanyakan cita-cita tak terealisasi. Antara cita-cita yang terlalu tinggi atau keuangan yang tak mencukupi. Ada yang ingin kuliah tapi tak bisa karena tak punya uang. Ada yang dipaksa kuliah padahal si anak tak mau.
"Lov, dari pada pulang kita ke warnet bentar yuk."ajak Josen keesokan harinya saat perjalanan pulang. Rumah Adong yang nyaman itu hanya bisa dinikmati satu malam saja. Mereka tak mau berada di sana sampai keluarganya datang.
"Boleh deh. Tapi sejam aja ya. Nanti tante nyariin."
"Siap!"
"Bang, ada yang kosong gak?"tanya Josen saat tiba di warnet Loyal XP. Penjaga warnet mengecek di komputernya.
"Ada, tapi cuma satu."
"Ya udah kau duluan deh. Aku tunggu disini."ucap Lovi sambil duduk di kursi depan.
"Satu jam ya bang!"seru Josen sambil berjalan ke arah bilik nomor yang disebutkan. Ia menoleh ke belakang dan melihat Lovi batuk-batuk karena ditempat dia duduk ada beberapa orang yang merokok. Ia menghampiri cewek itu dan menarik tangannya.
"Kau tunggu didalam aja."
Lovi kaget. Hatinya berdebar-debar. Ia memandang tanganya yang berada dalam genggaman tangan Josen. Ia duduk disamping cowok itu. Josen membuka akun Facebooknya lebih dulu. Saat sedang menunggu proses loading, ia membuka game online yang baru-baru ini sedang hits. Lovi melirik saat Josen membalas chattingan dari cewek yang asalnya entah dari mana.
"Kenapa ketawa?"
"Ternyata begitu caramu memikat gadis-gadis di f*******:. Culun!!"
"Haha, jangan sepele. Tahu gak, cewek itu paling suka digombalin. Tinggal cowok yang harus memilih kata yang tepat untuk setiap pertanyaan."
"Kayaknya buatmu itu bukan masalah. Secara natural, kau memang pintar dibidang itu."
"Ini bukan keahlian Lov. Ini hasil dari latihan."
"Lanjutkan Jos!"seru Lovi sambil tertawa. "Aku ngantuk. Aku tidur dulu ya. Kalau abangnya bilang ada yang kosong, tolong bangunkan aku."
"Ah, iya!!"balas Josen sambil tetap melihat ke komputernya. Ia tak mau kehilangan momen berharga dan kalah di permainan itu.
Akhirnya Lovi terlelap. Tidur di bilik warnet dengan orang ternyaman. Rasa kantuk Lovi membuatnya tak sadar bahwa kepalanya bersandar di bahu Josen. Josen menoleh dan mendapati wajah mungil itu. Wajah mungil dengan mata yang tertutup. Perasaan Josen berkecamuk. Ia jadi tidak bisa fokus main game. Ia menutup game online itu dan membuka f*******:. Ia langsung mengambil jaket hitamnya dan menutup wajah Lovi yang begitu menarik perhatiannya.
Tak ada pikiran yang terlalu jauh. Ia menatap layar komputer tanpa berbuat apa-apa. Rasa nyaman yang sulit di deskripsikan itu membuatnya tak ingin beranjak. Andai waktu bisa dihentikan sejenak, ia ingin waktu itu berhenti. Imajinasi itu membuatnya tersenyum. Sebeginikah orang jatuh cinta? Jatuh cinta membuatnya memikirkan hal-hal tak masuk akal. Ia mencari lagu yang enak didengarkan. Ia memutar lagu dari Dewa 19 yang berjudul lagu cinta.
Cinta adalah ruang dan waktu
Datang dan menghilang
Lagu indah itu menemaninya menelusuri status berisi curhatan dari teman-temannya di f*******:.
"Ada yang kosong di bilik 6. Jadi gak?"teriak penjaga warnet dari balik bilik 8, tempat di mana Josen dan Lovi berada.
"Gak jadi bang!"
"Oh,,, ya udah."
Cowok itu sudah tidak peduli. Ia diam dan berharap Lovi juga tak mendengarnya. Biarkan, biarkan dia tidur sekali ini saja. Sekali ini saja, ia tidur dalam pelukan seseorang yang menyukainya dengan tulus. Seseorang yang sepengecut itu untuk mengutarakan perasaannya. Dalam hatinya, Josen menyerahkan semua pada semesta. Sudah tak masalah jika suatu saat nanti Lovi dan Avius bersama atas nama cinta. Sudah tak masalah jika dunia mempersatukan mereka di masa depan. Satu-satunya yang Josen mau adalah bisa menikmati saat ini. Saat yang mungkin tak akan pernah datang lagi. Momen yang akan Josen ingat sampai kapanpun. Bahkan sampai takdir yang sebenarnya datang.
"Hmmm,,,,, ahhhh!!! Aku ketiduran? Astaga!!"
"Udah gak apa-apa. Kita pulang aja habis ini. Aku tinggal lima menit lagi."
"Josen, kenapa gak ngebangunin sih?"
"Lagian gak ada juga yang kosong Lov. Besok aja ke warnet lagi."dustanya sambil menutup akunnya. Ia buru-buru agar cewek itu tidak semakin marah.