_______Kita______
_________Kita, Aya, Lovi, Josen, Adong dan Avius______
SMA N 1 Nestapa ramai kembali menyambut tahun ajaran baru. Kelas baru untuk para siswa sudah disiapkan. Siswa berdatangan dengan wajah penuh kerinduan. Rindu pada teman-temannya, guru kesayangannya hingga makanan kantin.
Daftar nama untuk kelas baru telah diumumkan di mading. Takdir begitu jelas menjadikan sebagian dari mereka sekelas lagi. Walau demikian, ada saja yang bernasib sial dan harus berpisah dengan teman-temannya.
"Jangan sedih gitu dong. Ini bukan kiamat."seru Josen pada Avius. Sungguh malang nasib cowok introvert itu. Ia tak gampang bergaul dan pasti sulit untuk mendapatkan teman baru lagi. Josen, Lovi dan Aya kembali sekelas di kelas 12 IPA 3. Avius sendiri tersesat di 12 IPA 1.
"Iya Av. It's ok, it's fine."ucap Aya.
"Sayang banget sih, teman sebangkuku malah tersesat. Aku pasti akan sering berkunjung." seru Lovi menghibur.
"Beneran ya?"
"Iya Av. Kita bisa makan siang bareng."
"Ah elah, kalau mau mesra-mesraan bisa nanti gak?"ledek Aya.
"Terus si Adong terkapar di mana?"tanya Josen saat wajah Adong tak kunjung terlihat.
Semuanya menggerakkan bahu pertanda tidak tahu apa-apa. Tak berapa lama cowok itu datang dan menyapa. Ia langsung mencari tahu namanya di mading. Ia bergegas ke tempat teman-temannya sedang duduk.
"Aku masuk IPS 2 dong. Lagi-lagi sekelas sama si Herdi kampret."ucapnya sambil duduk disamping Aya. Ia tampak kelelahan.
"Malah bagus. Herdi kan baik."ucap Lovi menanggapi.
"Kau kenapa ngos-ngosan?"tanya Aya.
"Aku telat bangun. Kebiasaan bangun jam 10 sih karena libur."
Entahlah, rasanya kelas 12 ini akan menjadi saat yang membosankan. Mereka akan sibuk dengan berbagai jenis ujian. Mereka harus bimbingan belajar untuk persiapan Ujian Nasional dan masuk perguruan tinggi. Mereka siswa kelas 12 harus tahu diri dan menjadi cerminan baik bagi adik kelasnya. Begitulah hidup, ada saatnya menjadi panutan untuk orang lain.
SMA adalah kisah yang tak akan terlupakan. Cinta yang datang tiba-tiba membuat hati merasa tenang. Cinta itu seperti bumbu yang memberikan rasa manis bagi masa sekolah. Sulitnya pelajaran atau kejamnya guru yang mengajar seakan tak berarti karena kehadiran sahabat sejati.
Aya POV
Aku menjalani hari yang menarik di kelas 12 ini. Pertama kali bertemu Lovi aku kira dia sependiam itu. Dia tak punya teman dekat. Setelah beberapa hari berbincang aku tahu bahwa dia cewek yang ceria, setia kawan dan baik. Dia selalu punya lawakan khas yang membuatku tertawa. Dia sangat rajin belajar. Dia bilang dia bisa pintar matematika karena aku. Hey, aku merasa tersanjung.
Kini aku bingung dengan masa depanku. Aku tak seniat itu untuk kuliah. Ternyata Lovi, Josen dan Aya begitu sangat terobsesi untuk kuliah. Hanya saja kalau aku tidak kuliah aku bingung harus kemana setelah lulus SMA.
Aku sedih dan bingung pada perasaanku sendiri. Aku jadi ingat waktu kelas 11 saat aku dipanggil guru ke kantor akademik. Adong yang menyapaku akrab dan melindungiku dari teman-temannya yang sok akrab. Aku tahu seberapa nyaman berada didekatnya. Saat dia bilang bahwa dia menyukaiku, aku ingin sekali menamparnya. Aku benci menerima cinta darinya. Dia tak seburuk yang orang lain pikirkan. Dia sangat istimewa. Oh Tuhan, apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Sial! Bagaimana dengan kriteria cowok idaman yang kuancangkan sejak dulu? Lovi bisa menghinaku saat mengetahui hal ini. Hmm, ini sudah seminggu dan aku belum melihatnya lagi. Kami jadi jarang bertemu karena sibuk bimbel. Menyebalkan.
Avius POV
Awalnya kukira perubahan kelas ini menjadi kemalangan, ternyata tidak. Teman-temanku selalu datang bergantian dan mengajakku menghabiskan waktu istirahat bersama. Setiap hari jumat kami selalu belajar bersama sepulang sekolah. Kecuali Adong ya. Lovi semakin perhatian padaku. Dia sangat khawatir aku tak punya teman di kelas ini. Tanpa kusadari aku telah berubah banyak.
Aku yang dulunya tak berniat menjalin pertemanan dengan siapapun kini tak seperti itu lagi. Awal masuk kelas 12 IPA 1, aku langsung mencari teman sebangku. Ternyata dia menyambutku dengan baik. Aku percaya semua ini berkat teman-temanku.
Aku ingin sekali kuliah kedokteran tapi otakku rasanya tak pantas. Aku mulai mencari opsi kedua dan berpikiran untuk kuliah di bidang komputer. Ah, entah apapun itu. Aku hanya berharap bisa masuk perguruan tinggi negeri. Kata mama tidak masalah jika harus kuliah di swasta, tapi aku ingin sekali mauk universitas favorit. Angan-angan ini semoga jadi kenyataan.
Lovi adalah yang kurindukan setiap hari. Aku selalu ingin tahu dia sedang apa. Aku tak tahu apakah dia kesal atau muak, aku selalu mengiriminya SMS setiap hari. Aku menanyakan kabarnya, harinya seperti apa, apa yang ia inginkan. Aku rindu siaran lagi dan mengirimkan lagu buatnya. Sejak percakapan waktu di kelas 11, aku tak pernah lagi mengungkit perasaanku padanya. Aku masih tidak tahu, apakah dia masih menyukai Josen atau tidak.
Josen sendiri seperti orang aneh. Ia putus dengan Debora seminggu setelah kelas 12 dimulai. Ia bilang ingin fokus belajar. Alasan klise itu seakan menutupi tujuan dia yang sebenarnya. Aku tahu kalau dia sedang menyukai seseorang dan orang itu bukan Debora. Aku sudah sadar sejak dia jadian dengan Debora. Siapa yang dia sukai, aku tidak tahu pasti. Tapi aku berharap dia baik-baik saja dengan perasaannya.
Josen POV
Dua hal penting yang membuatku bahagia, sekelas dengan Lovi dan putus dengan Debora. Dua hal ini lebih membahagiakan dari pada jadi juara tiga umum di kelas 11. Aku memberi alasan klise untuk memutuskan cewek jadi-jadian itu. Dia hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Ada rasa bersalah dalam hatiku tapi sejujurnya aku tak pernah menyukainya.
Sekelas dengan Lovi membuatku merasa hidup. Dia selalu memberikan pulpennya untuk kupinjam. Dia selalu mengajakku berangkat sekolah bersama. Aku selalu pamer nilai bagus padanya dan ia kesal. Entah aku pantas atau tidak, aku ingin selalu bersamanya.
Akhir-akhir ini kami berlima jarang bertemu dengan lengkap. Adong sering sekali pergi belajar dengan teman sekelasnya, Herdi. Walau begitu tetap saja ada hari sabtu yang tenang dan membuat kami berlima berkumpul di tempat bakso Bu Murni. Aku beruntung memiliki mereka. Saat-saat ada masalah pelik dalam hidupku, selalu saja ada yang bisa kujadikan tempat curhat. Pengecualian untuk perasaanku pada Lovi. Tak ada yang boleh tahu.
Aku ingin lanjut kuliah ketika lulus nanti. Kalau nanti aku satu kampus dengan Lovi, aku mengasumsikan bahwa takdir memihak padaku. Aku akan mengungkapkan perasaanku. Sejujurnya aku gak yakin. Dia selalu menganggapku playboy cap kampak. Dia berpikiran bahwa aku ini laki-laki b******k. Aku tak peduli.
Aku masih kepikiran, kenapa ia dan Avius tidak pacaran? Dan sekarang Avius tampak biasa-biasa saja. Apakah dia sudah menyerah pada perasaannya? Ataukah Lovi suka sama orang lain? Siapa?
Adong POV
Aku lelah. Aku lelah sekali dan ingin segera lulus dari sekolah yang memuakkan ini. Banyak sekali materi yang harus masuk ke otakku yang terbatas ini. Aku bingung dengan Herdi yang bisa melakukan itu dengan mudah. Aku ingin liburan bersama Visi. Ah, baru kali ini aku rindu adikku yang jelek itu.
Aku kesal sampai aku kembali melakukan hal yang tidak-tidak. Aku yang berkutat dengan buku selama berjam-jam akhirnya menelepon Aya. Sialnya, Aya mengangkatnya. Aku cuma menanyakan kabarnya. Tampaknya dia juga merindukanku. Hingga akhirnya dia bilang kalau dia akan memikirkan tawaranku dulu jika aku rajin belajar. Syarat b******k itu kuterima. Demi cintaku padanya.
Malam yang indah itu membuatku bertindak tak biasa. Aku mengajak teman-temanku untuk nongkrong lagi seperti dulu. Walau cuma sesekali tapi rasanya bermakna. Kali ini Aya tak lagi canggung berada di dekatku. Aku yakin sekali kalau dia sudah meniadakan syarat cowok idamannya itu. Dunia ini memang adil!!
Setelah kedekatanku dengan Aya, aku semakin yakin pada satu hal. JOSEN! Josen menyukai Lovi. Sudah sejak lama aku memantau dari jarak sekian meter. Aku memendamnya dalam sanubariku. Aku ingin menjaganya baik-baik agar tak ada hati yang terluka. Aku kaget karena cowok sekampret Josen malah jatuh cinta pada sahabatnya sejak kecil. Namun yang paling b******k adalah dia menunjukkan perhatian itu ketika tahu bahwa Avius sudah menyatakan cinta pada Lovi. Aku tak mau ikut campur, biar mereka yang mengurus diri mereka sendiri.
Lovi POV
Aku benar-benar berambisi untuk lulus PTN. Aku hanya akan kuliah kalau masuk PTN. itu adalah impianku yang tidak bisa diganggu gugat. Aku sibuk belajar di sekolah, bimbel dan belajar dengan teman-temanku. Kelas 12 ini membuatku hidup untuk belajar. Lelah memang, tapi ada rasa puas.
Aku dan teman-teman kadang bertemu lagi di tempat bakso Bu Murni. Aku rindu saat kami berlima kumpul semua. Adong dengan segala kekonyolannya bisa membuatku tertawa seperti orang kesurupan.
Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan perhatian Josen. Cowok k*****t itu kadang terlalu baik padaku. Pernah suatu kali dia memberiku jaketnya saat hujan turun. Kami tidak bawa payung dan hujan masih deras. Biasanya dia masa bodo dan membiarkan aku terkapar mati kedinginan. Dia bukan cowok romantis seperti di televisi. Waktu itu aku kaget saat dia memberikan jaketnya. Dia bilang itu jaket udah bau. Biar aku yang nyuci sekalian. Aneh gak sih?
Saat lulus nanti aku ingin kuliah. Kuliah apapun itu aku tak peduli yang penting PTN. Rasanya bodoh sih, tapi aku gak punya cita-cita yang spesifik. Aku akan membiarkan arus membawaku ke tempat terbaiknya.
Tentang Avius, aku akan menyuruhnya berhenti berharap. Aku ingin melupakan percintaan di masa SMA ini. Aku gak pantas menerima cintanya dan dia tak seharusnya berkorban banyak demi aku. Aku ingin dia mendapat pacar yang menyukainya juga. Aku akan melupakan semuanya termasuk perassaanku pada Josen. Saat hari kelulusan nanti, aku bisa berbahagia tanpa memikirkan hal itu. Ini adalah cara melarikan diri terbaik yang pernah ada di muka bumi. Aku tak perlu melihat wajah Josen lagi. Aku hanya perlu mencari pacar di kampus impianku nanti. Lagi-lagi aku berkhayal terlalu parah. Bodohnya aku!!