.27. Adong Dan Aya

1173 Kata
______Kita, tertawa bersama_____  ________Kita, menangis bersama______  [Agustus 2011] Bus antar kota menjadi sarana transportasi penting. Pada hari minggu yang cerah itu, Lovi dan Josen berada di sana hendak kembali ke rumah Tante Mira. Mereka akan kembali ke kenyataan untuk belajar dan bekerja keras. Mereka hanya perlu menempuh satu jam saja untuk tiba di sana.  "Lov, kata Adong kita ke rumahnya dulu."  "Ngapain?"  "Adiknya ulang tahun. Lumayan makan gratis."  "Tapi kita bawa barang banyak Jos. Ribet gak sih?"  "Kata dia ga apa-apa. Entar taruh aja di lantai 2."  "Avius sama Aya ke sana juga gak?"  "Gak tahu. Coba aja tanya sendiri."  Sikap cuek Josen membuat Lovi kesal. Ia meneliti dan melirik tangan Josen yang sibuk dengan ponselnya. Ia pasti sedang SMSan dengan pacar tercintanya, Debora. Menyebalkan! Saat bus yang mereka tumpangi sudah tiba di rumah Adong, mereka kaget. Acara itu sepertinya sudah selesai. Tak ada lagi riuh gempita. Josen langsung mengetuk pintu dan dibukakan oleh Tante Irene. Wanita paruh baya itu tersenyum dan menyuruh mereka masuk.  "Tan, bukannya hari ini bakal jadi acara meriah?"  "Kamu pikir ini acara ulang tahun anak kecil? Tadi yang datang cuma teman-teman dekat Visi. Mereka sibuk ngemil dan foto-foto. Padahal tante sudah masak banyak banget."  Josen dan Lovi terkesima dengan penampakan makanan di meja. Mereka tak menyangka betapa banyaknya aneka makanan di sana.  "Kata Adong, kalian makannya banyak. Sekalian aja tante suruh datang biar acara intinya kalian ikut."lanjutnya lagi. Avius dan Aya sudah duduk di tempat itu dengan kecanggungan yang luar biasa. Selain mereka, beberapa keluarga besar Adong hadir untuk merayakan ulang tahun Visi.  Tak berapa lama Visi muncul dengan gaun cantiknya. Visi bak puteri yang jadi pusat perhatian. Semua merasakan sukacita di tempat itu. Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan. Makanan dinikmati dengan lezatnya.  "Enak nih."ucap Lovi pada Aya.  "Oh iya. Gila, semuanya enak banget."  "Ay, gimana liburanmu?"  "Gak menarik. Di rumah dengan setumpuk piring dan baju kotor. Abangku benar-benar bikin muak. Tiap hari kerjaannya gak jelas."curhat Aya.  "Masih mending, aku harus ngebantuin orang tua di sawah. Lihat kulitku sekarang sudah gosong."ucap Josen.  "Kau punya sawah Jos?"tanya Avius penasaran.  "Punya tapi cuma sepetak. Lumayan buat bikin lengan berotot."  "Kalian sehat kan? Gak ada masalah kan selama liburan?"tanya Adong yang tiba-tiba menampakkan diri. Dari tadi dia sibuk mengurus kepentingan keluarganya.  "Sehat banget!"  "Gimana makanannya?"seru Adong sambil duduk disamping Aya. Tempat duduk sempit itu menjadi makin terasa sempit. Aya mengernyitkan dahi seakan terganggu. Adong tak peduli dan mengambil sisa potongan roti miliknya. Aya menoleh kesal. Adong makin tak peduli dan tetap mengalihkan pandangannya pada Josen.  "Enak banget. Lain kali kau harus sering-sering bikin pesta seperti ini."ucap Lovi sambil mengunyah cheese cake berbalut buah yang tampak lezat itu.  Adong tiba-tiba menyenggol badan Aya. Kemudian ia berbisik, "Ambilin minum dong."  Gelas milik Adong berada cukup jauh dari tempat ia duduk. Gelas itu berisi jus jeruk. Aya dengan segala kekesalannya tetap mengambil minuman itu dan memberikannya pada Adong.  "Makasih Ay!"serunya masih dengan suara kecil. Aya tak yakin, tapi cowok itu tersenyum saat mengucapkan kalimat itu. Entah setan apa yang membuatnya jadi begitu agresif. Mungkinkah selama liburan ini dia diguna-guna?  "Eh tahu gak, kata tanteku kelas kita bakal dirombak lagi dan gak ada lagi kelas unggulan."seru Lovi sampai tersedak. Ia batuk-batuk karena kerakusannya. Avius langsung mengambil gelas miliknya dan memberikannya pada Lovi.  "Ini Lov, minum dulu."  Lovi langsung meminumnya sampai habis.  "Makanya jangan kayak kesurupan. Makan tuh santai aja Lov."ledek Josen.  "Eh terus gimana? Serius gak ada kelas unggulan?"tanya Aya.  "Iya Ay. Kepala sekolah bilang dirombak lagi aja kelasnya. Biar yang pintar dan bodoh bisa bersatu dan saling ngebantuin."  "Syukurlah. Aku benci kelas unggulan gak jelas kayak gitu."ucap Adong.  "Hey, kita kelas unggulan tapi gak seburuk itu ya."seru Aya tak terima.  "Aya, kelas unggulan IPS 1 itu menyebalkan. Aku sampai pusing berada di kelas itu. Semuanya terlalu rajin."  "Kau aja yang berandalan!"bentak Lovi kesal.  "Iya juga sih. Tapi kalau aku punya pacar pasti gak bakal jadi berandalan."  "Adong, kau suka seseorang ya?"tanya Lovi tegas.  "Tepat sekali."  Mata Aya terbelalak. Semua orang yang ada disitu melirik ke arahnya sambil menunggu Adong mengatakan sesuatu lagi.  "Siapa? Kau udah mulai cinta-cintaan ya."ledek Josen.  "Iya, beritahu kami. Siapa gadis yang tidak beruntung itu."ucap Lovi tertawa keras.  "Hahaha, kalian belum saatnya tahu."  "Hmmm, mencurigakan."seru Avius. Semua menoleh padanya berharap Avius memberikan penjelasan lebih tentang ucapannya yang aneh itu. "Ehm, mencurigakan. Biasanya orang yang bilang kayak gitu cintanya gak berbalas."  "Wuah, jadi ini cinta bertepuk sebelah tangan Dong?"seru Josen.  "Siapa sih? Kasih tahu please."rengek Lovi.  "Udah ah, kalian urus percintaan kalian sendiri. Apalagi kau Josen, awas aja kalau Debora mengalami hal yang tidak-tidak."  "Apaan sih, kenapa jadi aku?"  "Tapi bener sih, kau jangan bikin malu kami."ucap Lovi menyetujui.  Saat semua orang sedang saling adu argumen, Aya hanya bisa diam. Ia bingung harus bertindak seperti apa. Ucapan Adong itu membuatnya khawatir. Keagresifan Adong membuatnya bingung.  "Kau kenapa gitu sih?"tanya Aya dengan wajah manyunnya. Mereka berdua sedang berada di balkon lantai dua.  "Emang gak boleh?"  "Bukan gak boleh. Entar mereka tahu kalau cewek yang kau suka itu aku."  "Aku berniat mengatakannya."  "Tapi itu gak merubah perasaanku."  "Tidak masalah."  "Hey, kau gak takut mereka berpikiran aneh?"  "Pikiran aneh apa sih? Bisa gak kau ijinkan aku jujur sama perasaanku? Aku tidak mau menyesal di kemudian hari."  "Kau tidak sadar diri. Aku punya kriteria yang gak bisa kau ubah."  "Mengubah tahun aku lahir? Hahaha, itu mustahil."  "Tepat. Sama seperti membalas perasaanmu, itu mustahil buatku."  "Terserah deh Ay, tapi aku gak bakal berhenti. Lagian, kenapa bikin kriteria konyol kayak gitu sih?"  "Heh, itu gak konyol ya. Aku butuh cowok yang lebih dewasa dari aku."  "Kedewasaan gak dilihat dari umur ya. Terlebih kau disakiti sama orang yang lebih dewasa."  Ucapan itu membuat Aya sedih. Kenangan itu datang lagi. Ia ingin sekali melupakan segalanya tapi tak bisa. Sulit untuk melupakan rasa sakit yang pernah datang. Kadang ia juga kepikiran tentang pernyataan cinta Adong. Banyak sekali cewek yang menjalani hubungan dengan cowok yang lebih muda. Ya, mereka baik-baik saja. Kriteria yang ia tanamkan dihatinya hampir tergoyahkan oleh kisah cintanya sendiri dan oleh cowok bernama Adong Doi itu.  "Ay, kenapa jadi sedih sih? Maaf ya."  "Bukan salahmu juga."  "Bang, dicariin mama!!"teriak Visi dari kamarnya. "Wuah, kalian berdua ada apa nih. Berduaan aja disini."ledek Visi tertawa.  "Diem aja bocah. Ini aku mau turun."  "Abang, aku udah gak bocah ya. Abang tuh yang bocah."  "Bodo. Ay, aku turun duluan."  "Kak Aya jangan dekat-dekat sama Bang Adong. Dia gak cocok sama kakak. Kejelekkannya melebihi apapun di dunia ini."  "Bawel! Kalau kau gak lagi ulang tahun udah kutabok loh Vis."  Visi terkekeh. Ia duduk di tempat tidur sambil melihat foto-fotonya selama perayaan ulang tahun. Aya tiduran disampingnya dan menatap ke langit-langit kamar. Visi yang menyadari hal itu ikut rebahan.  "Visi, kau punya pacar?"  "Engga kak. Dilarang mama."  "Kata Adong kau punya banyak cowok."  "Abang kurang ajar! Itu gak benar, aku gak kayak gitu."  "Iya iya, aku lebih percaya kau dari pada abangmu itu."  "Hahahah."  Aya kembali menatap lampu kamar yang sedang menyala itu. Ia merasa tak layak menerima cinta yang tulus jika hatinya hanya untuk main-main. Ia percaya karma akan mengikuti orang-orang yang berbuat begitu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN