______Kita, cinta yang penuh rasa bahagia____
________Kita, kesalahpahaman yang selalu punya penyelesaian_______
Hari pembagian raport tiba. Semua orang tampak berapi-api menantikan raport itu sampai ditangan mereka. Setelahnya, mereka akan pulang dan menikmati libur panjang. Namun ada saja yang menantikan acara podium yang megah itu. Mereka yang layak berdiri di sana akan sangat bangga pada dirinya sendiri.
"Kenapa sih kayak bete banget?"tanya Avius ketika melihat wajah manyun Lovi di lapangan saat menunggu datangnya guru. Semua siswa disuruh baris untuk mendengarkan pengumuman juara umum tiap tingkat.
"Ga apa-apa Av. Aku cuma malas aja."
"Seriusan? Tapi kau kayak...."
"Av, sini deh sini...."seru Aya sambil menarik tangan Avius menjauh dari tempat Lovi berdiri. "Jangan nanya-nanya dulu, dia lagi kesal sama Josen."lanjutnya.
"Kesal kenapa?"
"Kau tahu gak sih? Josen baru jadian sama Debora. Terus Lovi kesal karena gak dikasih tahu. Padahal mereka sedekat itu Av. Parah emang, dari kemarin Lovi ogah ngomong sama Jos. Aku juga bingung harus gimana."
Ini murni bukan karena pertemanan tapi kecemburuan. Avius melihat cewek itu dan ia merasa tak ada kesempatan untuknya. Ia melihat ke arah Josen yang sedang bersama Debora.
"Aku bingung sama Jos. Dia tega banget sama kita. Kau juga baru tahu kan? Adong mungkin juga gak tahu."
"Hey, jangan berlebihan Ay. Bisa aja dia mau ngasih tahu kita hari ini."
"Bisa juga sih. Apalagi baru ini pacar Josen yang diberitahu secara blak-blakan."
"Sebelumnya dia gak pernah pacaran?"
"Bukan gak pernah. Tapi dia selalu sembunyiin. No one knows."
"Mungkinkah cewek itu yang dibilang Adong kemarin?"
"Oh, cewek yang bikin Josen galau ya? Hmm, bisa jadi."
Guru naik podium dan seketika semuanya tenang. Beliau memberikan pengumuman penting untuk seluruh siswa agar tetap meningkatkan prestasi di kemudian hari. Sesudah itu tibalah waktunya pengumuman juara umum untuk tiap tingkatan dan tiap jurusan.
Secara mengejutkan, Josen berhasil mencapai juara tiga umum. Ini adalah sesuatu yang baru. Persaingan ketat anak IPA memang patut diacungi jempol. Mereka begitu ambisius untuk mengejar satu sama lain. Josen berhasil naik satu tingkat dan berdiri di podium untuk menerima sertifikat dan pujian dari semua orang. Pencapaian luar biasa ini memang sebanding dengan usahanya yang belajar keras setiap hari.
"Gila, juara tiga umum dong."
"Selamat Josen Prasesa."
"Parah, posisiku diambil alih."
"You deserve it bro!"
Beragam pujian ia dengar dan itu membuatnya semakin bangga dan percaya diri. Saat ia hendak berjalan ke barisan belakang untuk menemui teman-temannya yang sedang berdiri disana, Debora datang menghampirinya.
"Jos, selamat! Kamu keren banget!"
"Ah iya Deb, makasih!"
"Eh, kita foto yuk."
"Cekrek!!!!"
Mereka berfoto selayaknya teman sekolah yang sangat dekat. Ponsel yang hasil fotonya ngeblur itu menjadi sangat memorable. Josen yang tadinya hendak menemui teman-temannya kini teralihkan oleh Debora, pacarnya yang ia umumkan secara official itu.
"Lov, mau kemana?"tanya Aya saat cewek itu hendak pergi. Aya kira mereka akan menunggu Josen datang.
"Ke kelas Ay. Bentar lagi kan pembagian raport."
"Gak nunggu Josen?"
"Malas! Kalian tunggu aja sendiri!"
"Gak gini Lov, aku ikut ke kelas."
"Aku juga."seru Avius.
Lovi berjalan dengan pikiran yang entah di mana. Ia benci untuk suatu hubungan yang sebenarnya tak penting. Sadarlah, Lovi itu hanya pemeran tambahan untuk kisah hidup Josen. Ia mengernyitkan dahi saat mengingat semua yang terjadi di warnet kemarin. Mereka bahkan tak berangkat sekolah bersama. Josen pergi duluan. Mungkin dia sedang menikmati masa pacaran di mana menghabiskan waktu berdua di pagi hari adalah pilihan tepat. Sepanjang hari Lovi kesal. Ia seakan tak mau bertemu dan sapaan dengan Josen. Logikanya bilang agar tak egois. Ya, dia bukan orang yang pantas marah untuk alasan kekanak-kanakan itu. Tak semua hal harus saling diberitahu. Namun tetap saja, Josen benar-benar jahat tak memberitahu Lovi. Ia benar-benar pacaran dengan seseorang tanpa menceritakannya pada Lovi? Benar saja, Lovi tak habis pikir dengan semua itu. Ia kesal atas nama pertemanan bertahun-tahun yang terjalin. Ia kesal karena ia bukan orang pertama yang tahu bahwa Josen benar-benar akan pacaran. Ia kesal karena selama ini Josen berdalih bahwa ia tak berniat pacaran. Sahabat macam apa yang berlaku demikian? Hanya Josen Prasesa.
"Saya senang sekali sama kalian. Mulai semester depan kita mungkin tidak bertemu lagi. Kalian sudah kelas 12. Semoga saja kalian tetap solid ya. Dan tetap konsisten mengejar prestasi kalian."seru Pak Anja dengan wajah gembira saat ia memulai acara pembagian raport itu.
"Saya juga berterima kasih pada Josen. Ketua kelas panutan kita."lanjutnya lagi. Semua orang bersorak. Semuanya sedang merasakan peningkatan level hidup. Semuanya tidak sabar menantikan liburan yang sudah di depan mata.
"Woahhhh!!"
"Ketua kelas panutan oy!"
"Padahal kerjaannya ribut. Hahaha."
"Mentang-mentang baru punya pacar."
Begitulah tanggapan teman sekelas saat cowok itu sedang dipuji oleh Pak Anja. Josen tebar pesona oleh sanjungan yang ia dapat. Ia memang suka jadi pusat perhatian.
Pak Anja segera membagikan raport siswa. Semua tampak gembira dan melakukan foto bersama untung mengabadikan momen bersama.
"Kalian dari mana sih tadi? Aku nyariin tahu."seru Josen sambil memamerkan piagam yang baru saja ia dapat.
"Kau yang terlalu sibuk. Kami tungguin tapi lama banget. Eh, selamat ya. Gila sih, bisa jadi ranking tiga umum."seru Aya sambil menepuk bahu Josen.
"Gak sia-sia kerja kerasmu selama ini."seru Avius sambil memberikan dua jempol.
Lovi hanya diam dan sibuk melihat nilai di raportnya.
"Lovi, gak mau ngomong sesuatu?"tanya Josen.
"Selamat ya, semoga sukses!"
"Wuah parah. Jangan-jangan kau iri. Kau juga mengincar juara umum ya?"goda Josen.
"Kagaklah. Aku cuma berdoa semoga di kelas 12 kita gak sekelas lagi."
"Lah kok gitu?"
"Bosen Jos! Emang kau gak bosen?"
"Eng.....iya bosen juga sih. Tapi itu ngapain dibicarain sekarang? Iri nih pasti."
"Udah udah, mending kita nyari Adong. Kita harus bersenang-senang sebelum libur panjang."seru Avius. Ia bergegas mengambil tas. Lovi, Josen dan Aya mengikutinya. mereka setidaknya ingin makan bakso dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja, lagi-lagi bakso Bu Murni.
"Kau kesal? Wajahmu aneh."bisik Josen saat mereka berlima berjalan menuju ke bakso Bu Murni. Aya mengajak Adong dan Avius untuk berjalan lebih cepat, ia tahu bahwa Lovi dan Josen butuh bicara berdua untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka.
"Kau penuh dusta Jos. Kau kenapa pacaran sama Debora?"
"Lah, emang kau ngelarang aku pacaran?"
"Bukan itu. Kau kan selalu bilang kalau kau gak berniat pacaran."
"Aku berubah pikiran."
"Kau benar-benar menyukainya? Maksudku menyukai dalam arti yang berbeda dengan perempuan yang selalu kau gombali."
"Hmmm, aku sedang mencoba."
"Maksudnya?"
"Aku mencoba pacaran."
"Ya, aku tahu sekarang. Ternyata dia cewek yang membuatmu galau semalaman. Kau beruntung dapat dia, dia salah satu cewek cantik di sekolah kita."
"Galau? Kapan aku galau?"
"Astaga, gawat. Kenapa mulutku bisa sebocor ini duh..."
"Parah sih, kau dan mereka bergosip dibelakangku ya?"
"Intinya Adong bilang kau pernah curhat sama dia. Kau kayak bingung sama perasaanmu. Aku kira siapa, eh ternyata Debora."
Josen tiba-tiba ingat hari itu. Hari yang membuat pikirannya kacau karena wajah Lovi selalu ada di kepalanya. Ia sampai tak tahu harus bagaimana hingga kesadarannya datang lagi. Ia harus tahu kalau Avius begitu menyukai Lovi. Mereka berhak atas satu sama lain. Josen melampiaskan perasaannnya pada Debora, cewek yang selalu mengirim SMS padanya. Cewek itu sangat agresif. Tak pernah terlewat bahkan satu haripun ia mengirim SMS pada Josen. Demi kebahagiaan diri sendiri, ia memutuskan untuk memulai hidup yang baru. Mulai pacaran untuk pertama kalinya dan ia umumkan di lapangan sekolah. Ia pikir akan puas dan senang dengan semua sandiwara ini. Nyatanya tidak, keberadaannya semakin jauh saja dari orang yang benar-benar ia sukai.
"Aku senang. Debora itu baik, dia juga cantik dan ramah. Kau harus menjaganya Jos."
"Memangnya aku petugas keamanan?"
"Kau harus menjaga hatimu. Lupakan cita-citamu yang ingin jadi playboy professional itu."
"Julukan itu darimu sendiri loh."
"Benar juga. Sekarang kau sudah naik tingkat. Berpacaran salah satu tanda kau mulai serius menjalin hubungan."