________Kita, sedih ketika waktunya______
________Kita, saling menghibur ketika sedih itu datang _______
| BBB - Putus Nyambung |
Pagi yang dingin tak pernah menjadi penghalang bagi pasangan muda yang sedang dibuai asmara. Beberapa pasangan hendak ke sekolah di pagi yang sepi itu untuk menikmati hari bersama. Siswa lain juga terpaksa datang karena piket atau karena diantar orang tuanya yang harus kerja juga. Banyak alasan yang membuat siswa buru-buru datang ke sekolah.
Aya sampai di sana tak seperti biasanya. Ia memakai topi dan mengikat rambutnya. Ia ingin menutupi wajahnya dari gangguan manusia. Saat kakinya melangkah dengan tas ransel berwarna biru itu, ia mendapat sapaan yang tak ia harapkan.
"Aya, ada apa denganmu?"
Aya menegakkan kepalanya dan melihat Adong di sana. Adong terlihat memegang tempat sampah yang penuh.
"Kau kenapa?"
Aya dan Adong berjalan bersama ke arah pembuangan tempat sampah yang tak terlalu jauh. Aya duduk sambil menunggu Adong menyelesaikan hukumannya. Ia harus datang pagi-pagi dan membersihkan sampah di seluruh ruangan guru. Hukumannya masih terbilang biasa karena teman-temannya yang lain di skors satu bulan.
"Jadi kenapa matamu sampai bengkak begitu? Kau pasti menangis semalaman."
"Aku baru putus."
"Hey, kau udah putus berapa kali tahun ini?"
"Ini putus beneran Adong."
"Kau masih menyukainya?"
"Tentu saja. Tapi aku juga membencinya."
"Lalu sekarang kau mau gimana?"
"Aku cuma merasa kalau yang kulakukan selama ini sia-sia. Toh, cinta darinya udah berhenti. Kau tahu, dia selingkuh Dong. Aku ingin melupakan hal itu, tapi gak bisa. Aku ingin menghapus nomornya dari handphone ku tapi gak bisa. Aku ingin memakinya tapi gak bisa. Aku cuma bisa diam bahkan setelah dia minta maaf berkali-kali."
"Kau tahu adikku Visi kan? Dia juga pernah nangis karena cowok berengsek. Tapi setelah dia sadar dan berpikiran jernih dia cuma bilang gini. Bang, kalau suatu hari nanti aku nangis karna cowok berengsek tolong sadarkan aku kalau aku adalah orang bodoh."
"Kurang ajar ya. Maksudmu aku orang bodoh?"
"Bukan bukan, intinya bukan di situ. Beberapa bulan setelahnya, aku melakukan hal yang dia bilang. Terus dia malah maki-maki aku."
"Hahaha, dasar. Adikmu jago juga. Dia masih SMP udah pacaran berkali-kali."
"Hmm, apanya jago. Dia itu mirip sama Josen. Kerjanya cari cewek tapi gak ada yang di seriusin."
"Serius Visi kayak gitu?"
"Iya, dia tuh kadang nangis sampai teriak-teriak karena putus. Tapi kayaknya dia kayak gitu cuma sama satu cowok. Abis itu dia punya pacar mulu tapi gak jelas."
"Tapi aku salut sama Visi. Dia kan emang cantik, beda banget samamu."
"Ini namanya penghinaan."
"Hahaha. Aku gak ingin masuk kelas. Pasti semuanya sadar mataku bengkak."
Aya mengusap-usap matanya agar terbuka lebar. Baru-baru ini, ia dan Lovi menertawakan teman sekelasnya yang baru saja putus dan menangis di lapangan upacara. Ia merasa kena karma karena menyepelekan perasaan orang.
"Nih, pakai ini aja."ucap Adong sambil memberi hoodienya yang berwarna maroon. "Kau bisa tutupi kepalamu pakai topinya. Aku pergi ya."lanjutnya sambil membawa tempat sampah di tangannya.
Aya langsung memakai hoodie itu dan ternyata benar, ia bisa menyembunyikan wajahnya dari khalayak ramai. Setidaknya penghuni kelas lain tidak tahu bahwa matanya bengkak. Ia langsung duduk di bangkunya.
"Ay, kau gapapa?"tanya Raga saat melihat ada yang aneh dengan Aya.
Aya hanya mengangguk. Ia kembali menatap ke buku di atas mejanya. Rasanya sakit menahan perihnya mata setelah menangis semalaman. Kepala pun mulai pusing dan terasa berat. Tidur adalah solusi paling tepat. Aya menaruh kepalanya di atas meja hendak rebahan. Ia berharap tak ada yang mengusiknya.
Tapi kenyataan memang tak sesuai ekspektasi. Lovi datang sambil grasak grusuk. Ia langsung ke meja Aya. Ia tak peduli lagi dengan Raga. Ia menghentakkan meja dan berteriak.
"Aya, kau kenapa sih? SMS ku dicuekin dari kemarin? Kau gila ya?"
"WOY CAHAYA PACARNYA KAK REYLOUWWWW!!"
Aya langsung mengangkat kepalanya dan memperlihatkan betapa malangnya wajah itu. Raga sampai tersentak karena mata Aya yang bengkak secara tidak wajar. Lovi terdiam.
"Lovi, ikut aku!!"
Semua orang jadi melihat wajah malang itu. Ia berjalan keluar kelas.
"Wah, kayaknya ada yang baru putus nih."
"Pasti habis nangis. Dasar cewek!!"
"Aku siap menggantikan pacarmu!!"
Teriakan-teriakan itu datang dari para lelaki yang haus kasih sayang di kelas 11 IPA 1. Kelas unggulan yang payah dalam urusan cinta tapi begitu ambisius menjadi nomor satu di sekolah. Mereka hanya mampu mencintai teman sekelasnya sendiri tanpa pernah bertindak. Ini semacam cinta dalam hati yang tak tersampaikan.
"Ma,,,,,affffffff!!!!Maafin aku Aya." ucap Lovi sambil memberikan s**u UHT rasa coklat pada Aya. Mereka sedang duduk di kantin yang sepi. Aya sudah tak peduli lagi jika orang-orang melihat wajah menyedihkan itu.
"Belikan aku roti juga."
"Baik! Akan saya belikan tuan putri."
Lovi berlari dan membeli roti rasa strowbery kesukaan Aya. Ia berlari hendak memberinya kepada Aya. Tiba-tiba muncul Josen.
"Cahaya Viovonny, ada apa denganmu. Wajahmu bengkak kayak donat pasar."
"Minggir!!"teriak Lovi sambil memukul punggung Josen. Josen langsung menyingkir dan membiarkan cewek itu duduk.
"Pada kenapa sih kalian?"
"Guys, aku beneran putus sekarang."
Lovi dan Josen diam. Mereka tahu betul bagaimana Aya sangat mencintai Kak Reylo. Dalam pertemanan, seseorang bisa tahu betul cara menghadapi satu sama lain. Ada yang bisa diangap konyol tapi ada juga yang di anggap serius. Percintaan Aya bukanlah main-main. Ia adalah tipe cewek yang setia dan tak sembarangan dalam menjalin hubungan. Ia juga punya kriteria. Tak semua orang yang menyatakan cinta padanya bisa ia terima dengan alasan mencoba agar terbiasa. Ya, ia tak seperti Lovi yang pacaran hanya untuk coba-coba. Aya lebih mengandalkan perasaan dan tentu saja hubungan serius. Selingkuh adalah satu dari alasan yang tak bisa ia terima. Akan lebih bahagia jika ia putus karena jarak atau karena bosan.
Aya menceritakan semuanya dengan detail. Mereka kembali ke kelas setelah bel berbunyi.
"Dengar itu, kau sebaiknya hati-hati kalau menyakiti hati cewek."ucap Lovi pada Josen.
"Kau juga hati-hati sama mantanmu itu."ucap Josen sambil menaruh tangannya dibahu Lovi. Lovi langsung melepaskan tangan itu.
"Cihuii,, pasangan baru!!!!"
"Cie-cie!"
Lovi langsung berjalan ke bangkunya. Ia memang sering jadi bahan olok-olokan sejak dulu. Hubungannya dengan Josen kerap di anggap ada sesuatu. Memangnya aneh? Mereka kompak karena sudah kenal sejak bayi.
"Av, kau harus tahu ini. Aya beneran jomblo sekarang."
"Beneran? Bukannya mereka biasanya putus nyambung?"
"Tapi sekarang beneran gak bisa disambung lagi. Cowoknya selingkuh."
"Gila!!!"
"Iya, beneran gila. Aku gak habis pikir."
"Lov,,,,,,"
"Hah? Apa?"
"Tadinya aku kira Raga seburuk itu jadi cowok. Ternyata ada yang seribu tingkat lebih jahat di banding dia."
"Hmm, jadi ceritanya kau sekarang berpihak pada cowok itu?"
"Intinya bukan di situ. Kadang kita mikir kalau orang bisa sejahat itu tapi nyatanya engga. Kau belum pernah ngomong baik-baik kan sama Raga? Walau dia cemburu sama Josen tapi bukan berarti dia jahat."
"Ehmmmm, ia juga sih."
"Eh, ajarin aku matematika nomor lima dong. Aku masih bingung."
"Ohhh, oke!"
Masa sekolah memang penuh lika liku. Ada cinta, persahabatan dan pencarian jati diri. Semuanya bersatu padu dan membuat mereka lupa bagaimana jika suatu saat nanti memori itu hilang. Semuanya di kenang dalam pikiran. Memori manusia yang terbatas pasti akan mencoba mengingat nama teman sekelas, nama guru hingga kebiasaan buruk di kala itu. Namun tak akan ada yang merasa kehilangan sebelum semua itu benar-benar menghilang.
"Eh, pada lihat f*******: gak?"tanya teman yang duduk di bangku depan Avius dan Lovi.
"Engga lah. Kenapa emang?"
"Kirain udah pada tahu. Di grup kelas ada yang ngirim surat cinta."
"Wuahhh, beneran? Gila. Siapa?"
"Bella. Anak 11 IPA 2.... Dia ngirim buat Avius."
Avius seketika menegakkan kepala. Tadinya ia tidak tertarik dengan pembicaraan itu.
"Eh, beneran?"
"Dasar kalian. Makanya sekali-kali ke warnet dong. Mending entar baca deh sebelum orangnya menghapus. Banyak banget yang komen dan bilang kalau itu cewek udah gila. Lagian berani banget ngungkapin perasaan di Facebook."
"Wuahh, Avius. Kau punya fans yang nyata sekarang."seru Lovi sambil menggerakkan tangannya menyenggol lengan Avius.
"Kau lebih hebat daripada ketua kelas kita yang playboy itu." lanjutnya sambil mengecek tugas matematika yang tadi Avius tanyakan.