_____Kita, berubah untuk satu sama lain____
_________Kita, definisi kesempurnaan__________
| Sebuah Kisah Klasik - Sheila On 7 |
Loyal XP memang sangat ramai ketika pulang sekolah. Beberapa orang ada yang sekedar menghabiskan waktu tapi banyak juga yang mengerjakan tugas. Lima pelajar tampak menunggu giliran. Mereka sangat penasaran akan surat cinta dari Bella. Avius tampak tak tertarik tapi terpaksa karena teman-temannya begitu antusias.
"Ini ada yang kosong. Tapi cuma satu. Kalian terserah mau masuk duluan yang mana."
"Bang, satu aja untuk semua. Kami ke sini cuma sebentar kok."
"Ya sudah tapi jangan terlalu berisik ya."
"Ini nih bang yang suaranya melebihi toa." Seru Josen menunjuk pada Lovi. Lovi langsung memukul kepala cowok itu.
Mereka duduk berjejer sambil membuka f*******:. Kali ini mereka memaksa Avius login akunnya sendiri. Ia mengetiknya perlahan hingga rasa penasaran empat orang lainnya makin menjadi. Saat akunnya sudah masuk, ada banyak notifikasi. Ia mengklik dan membukanya. Tulisan itu terpampang nyata dari akun f*******: bernama Bella Traisya.
Untuk Avius Refadwi anak 11 IPA1.
Aku hanya bisa memandangmu dari jauh
Walau aku tahu bahwa kehadiranku tak berarti
Aku jatuh cinta walau bukan pandangan pertama
Aku tetap ungkapan walau mungkin saja semuanya sia-sia
Dari aku, Bella anak 11 IPA 2
"YEAYYYYYYYY!!!!!!" teriak mereka memecah keheningan di tempat itu.
"Jangan berisik!!!" teriak penjaga warnet.
"Sttt, kita bisa diusir kalau teriak-teriak!"ungkap Aya lagi.
"Balas Av, buruan!"ucap Adong antusias.
"Iya, sini aku yang balas pakai kata-kata bagus."tawar Josen lagi.
"Engga deh, hal kayak gini gak baik di balas di f*******:. Aku mau ngomong langsung aja nanti."
"Woahh, kau benar-benar gentleman. Teman sebangku terbaik." Seru Lovi sambil merangkul Josen.
"Terbaik apanya, tiap hari kau pukuli dia kan? Itu punggungnya kalau di ronsten pasti udah parah tuh."balas Josen.
"Jangan sok tahu. Itu pukulan kasih sayang."ucap Lovi mengeles.
"Tapi bener sih, tangannya Lovi tuh tangan besi. Aku selama sebangku sama dia, di pukul mulu."seru Aya lagi.
"Aku mau main game bentar. Kalian keluar sana."seru Josen mengambil alih.
"Okey, kau yang bayarin."
"Sial!!!"
Lovi, Aya, Avius dan Adong menunggu Josen kelar main games. Sisa waktu tinggal 15 menit, tapi ia tak mau membuang kesempatan itu. Mereka makan ice cream sambil melihat ke jalanan yang penuh dengan pelajar berseragam sekolah.
"Lovi, itu tuh cewek pentolan anak SMK 2." Bisik Adong saat beberapa cewek sedang cekikikan berjalan di trotoar.
"Owhh, cantik banget sih memang."
"Paling keren body-nya Lov."
"Body yang gimana emang? Coba jelasin."
"Bagian depan atas besar dan bagian belakang bawah besar. Perfect!!"
"Dasar otak udang!!"
"Beneran. Cewek cantik itu yang semok. Bukan yang kurus gak berbentuk."
Aya langsung menabok kepala Adong. "Jaga ucapanmu. Itu ada yang dengerin di belakang."
Adong melirik ke belakang dan tampak anak SMP yang sedang melotot padanya. Mereka menatap Adong tajam. Postur badan mereka yang mirip girlband Cherrybelle merasa terhina karena pernyataan Adong.
"Hahaha, makanya punya mulut di jaga."ucap Lovi sambil tertawa saat anak SMP itu sudah pergi.
"Dasarnya aku emang musuhan sama anak SMP. "ucap Adong mengeluh.
"Maksudmu Visi?" tanya Aya sambil tertawa.
"Iya. Aku selalu berantem sama dia. Menyebalkan!"
"Guys, ayo pergi! Bang makasih ya."ucap Josen sambil berjalan. Hari ini mereka akan mencari kado untuk Pak Anja di hari guru nanti. Josen yang adalah ketua kelas menjadi penanggung jawab pencarian kado itu.
Mereka sampai di toko sepatu yang tampak bagus. Setelah mencari tahu nomor sepatu Pak Anja dari anaknya kelas 10, mereka semakin yakin bahwa sepatu adalah kado yang tepat. Hari guru akan sangat menarik karena banyak perlombaan. Mulai dari nyanyi, lomba masak hingga menari. Tahun ini akan ada hadiah yang lumayan besar untuk para pemenang. Beberapa alumni yang sudah berhasil, mendonasikan uang mereka untuk mendukung acara hari guru itu.
"Ini bagus nih."
"Pak, ini cocok gak buat orang tua?"tanya Lovi pada penjual sepatu itu.
"Nah, kalau ini buat orang tua saya sarankan warna ini aja."ucapnya sambil memberikan warna lain. "Harganya sama. Saya kira tadi buat kalian."lanjutnya.
"Entar aja Pak, kalau saya nikah pakai sepatu itu."teriak Adong. Bapaknya tertawa melihat kelakukan aneh Adong yang suka nyeletuk.
Mereka langsung bungkus di tempat itu setelah membeli kertas kado. Akan lebih mudah jika kado itu sudah tertata dan tinggal diberikan. Mereka berpisah saat akan pulang. Aya mau ke pasar tradisional menyusul mamanya. Sisanya pulang ke rumah masing-masing.
Saat Josen dan Lovi sedang menunggu angkutan yang hendak pergi ke arah rumah, mereka kedatangan seseorang dan menyapa Josen. Josen memang terkenal di kalangan wanita cantik sejagad.
"Lov, kau pulang duluan ya. Aku nitip bawain ini. Aku ada urusan bentar."
"Ah, cewek lagi?"
Josen mengangguk mantap. Lovi memeluk kado itu dan angkutan berhenti tepat di depannya. Ia naik sambil menatap ke arah Josen yang berjalan bersama cewek itu.
*****
Kelas 11 IPS 1 tampak ramai dengan gadis penuh peralatan make up. Mulai dari cermin mini yang lucu, sisir, hingga parfum keluaran terbaru. Tentu saja itu membuat cewek-cewek anak IPS begitu memukau. Adong tampak tiduran sambil menutup kepalanya. Herdi teman sebangkunya sibuk membaca buku geografi yang menjadi hobbi barunya. Detik ini, anak itu bercita-cita menjadi astronot. Niat awalnya yang ingin belajar sastra indonesia berubah semenjak ia mengenal geografi lebih dalam.
"Hey, Adong!!! Mau ikut gak?" tanya salah satu gerombolan berandal sekolah yang kemarin di skors karena peristiwa penyiraman sekolah tetangga.
"Adong, dipanggil tuh."seru Herdi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Herdi sebenarnya agak takut sama Adong tapi ia jauh lebih takut pada orang di depan sana.
Adong mengangkat kepalanya sambil menggeleng.
"Ah cupu!! Ayo teman-teman!"
Mereka pergi meninggalkan kelas itu. Kelas yang tadinya sepi karena kehadiran mereka tiba-tiba ramai lagi oleh suara cekikikan cewek-cewek.
"Aisshhh, gara-gara dibangunin aku udah gak bisa tidur!!" teriak Adong sambil menatap tajam Herdi.
"Kau beneran udah berhenti main sama mereka?"
"Hmmm, iyalah. Aku gak mau lagi di hukum."
"Baguslah, setidaknya aku punya teman sebangku anak baik-baik."
"Aku hanya gak mau teman-temanku khawatir. Mereka lebih khawatir dari pada mamaku sendiri."
Adong mengingat hari dimana ia ditampar kepala sekolah. Ia langsung pulang bahkan sebelum bel berbunyi. Wajahnya yang lebam itu lama kelamaan menjadi sakit. Saat ia tiba dirumah ia mendapat SMS dari Aya.
"Adong, kau baik-baik saja kan? Lain kali kalau nakal jangan sampai guru tahu."
Adong hanya tertawa melihat pesan itu. Aya memang cewek yang paling pengertian. Ia sangat berbeda dari cewek kebanyakan yang suka menghakimi. Aya lebih fokus bagaimana mengubah seseorang mulai dari saat ini dan tidak mengungkit kesalahan di masa lalu.
Saat ia hendak tiduran di kamar dan merasakan perihnya wajah di pukul, ia kedatangan tamu yang langsung masuk ke kamarnya.
"Bang, aku pergi ya."teriak Visi dari luar. Ternyata Visi lah yang mempersilahkan dua cecunguk itu masuk rumah.
Josen langsung tiduran di tempat tidur Adong yang nyaman.
"Dong, kalau kau kena hukum lagi karena perbuatan busuk mu? Awas aja." ucap Josen dengan muka kesal.
"Aku gak tahu bakal jadi begini."balas Adong sedih.
"Lain kali kau harus tahu berteman dengan siapa. Aku gak nyuruh pilih-pilih teman tapi setidaknya cari yang gak bikin kau jadi kriminal."lanjut Josen menjelaskan.
"Iya, jauhi mereka. Kau bisa berteman dengan orang yang lebih baik."ucap Avius lagi. "Dulu aku juga pernah ngelakuin kesalahan. Tapi setelahnya aku tahu kalau aku salah dan berubah. Kau juga harus kayak gitu."lanjutnya.
Adong tersenyum saat mengingat waktu itu. Ia melirik Herdi yang menatapnya dengan aneh.
"Kau sekarang bertugas mengajariku. Aku payah pelajaran geografi."
"Kau gak lagi sakit kan?"
Adong menatapnya tajam. Herdi langsung sigap dan menjelaskan beberapa hal yang sebaiknya dihapalkan. Ia juga memberi pengertian tentang beberapa hal yang sebaiknya dipahami agar tidak cepat lupa. Adong menjanjikannya traktiran makan jika cowok itu mau mengajarinya terus menerus. Bagi Adong uang bukanlah masalah. Ia bisa mendapatkan uang berapapun yang ia mau. Ponsel yang ia miliki selalu keluaran terbaru. Begitulah hidup saling menyeimbangkan diri.