Takut Tergelincir

1034 Kata

Biani, Jam sembilan malam, hujan turun sangat deras bahkan petir menggelegar. Seperti biasa di saat hari hujan aku selalu meringkuk ketakutan di bawah selimut. Laithhh...aku merintih memanggil namanya. Berharap saat ini dia menemani aku. Tadi, Laith bilang mau menginap. Ponselku berbunyi, La-Laith, dia bilang dia sudah di luar. Aku tidak mendengar suara pintu di ketuk. Aku berlari ke pintu, melihat sosoknya tersenyum. Dia membawa payung kecil yang tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya. "Laith, kamu basah." "Nggak apa." Aku menarik tangannya, dingin banget. Padahal jarak rumah kami tidak jauh. "Ibu mengizinkan kamu menemani aku?" Aku bertanya pada sosok itu. Dia mengangguk. Kami berjalan ke kamar. Laith memeluk tubuhku dari belakang. Aku merasa kulitnya yang dingin menyentuh kulitk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN