Laith, Biani makan anggur dan menyuapinya ke mulutku, dia tidak bisa mengupas apel dan pir, aku rasa dia juga tak akan bisa mengupas buah salak atau nanas. Sekarang tingkahnya melebihi istriku, walaupun aku nggak pernah punya istri, aku sedikit mengira-ngira. Aku memperhatikannya sambil memikirkan kalimat yang tepat, namun, tidak bernada rayuan. "Nona, kenapa sekarang nona menyuapi saya?" Aku menggodanya. Biani seketika merona dan mulutnya terbuka. Ternyata pemilihan kataku cukup tepat, sekalipun aku harusnya kurang pandai berinteraksi dengan kaum perempuan. "Laith, kamu membalasku?" Biani merajuk, dia membuka sedikit bibirnya. Terlihat pink muda menarik. "Hum." "Kamu bilang begitu lagi aku kasih perintah yang aneh-aneh." Biani tersenyum sedikit. Matanya menyiratkan arti. "Apa cont

