Sembunyi Dari Orang-orang

1008 Kata
Biani, Dari kemarin Laith terlihat murung, aku tidak suka. Mungkin dia memikirkan keluarganya, dipikir aku nggak tau apa? Aku sudah menelepon Pak Solihin kemarin, dia adalah orang kepercayaan keluargaku. Dia sudah mengatur agar Lian tidak mengantarkan kue-kue lagi setiap pagi, karena aku sudah membayar kurir untuk mengambilnya, aku menyuruh kurir mengatakan kalau toko yang memesan kuenya memang menyediakan jasa itu. Aku baik bukan? Dasar Laith saja enggak tau, harusnya dia segera mengabdikan hidupnya untukku. Aku memperhatikan Laith, dia kadang senang kadang murung. Sekarang tidak tau apa yang dia pikirkan. Anehnya, aku jadi merasa khawatir. Jadi nggak suka melihatnya seperti itu. Aku menurunkan Laith beberapa meter dari sekolah, sebenarnya aku nggak masalah mengantarnya sampai gerbang. Tapi, Laith yang tidak mau. Aku memandangi punggungnya. Aku mengambil ponsel dan menelepon Ibu Laith lagi. "Halo sayang." Suara ibu Laith sangat merdu, dia sudah menganggap aku sebagai anaknya. Sekarang, aku lebih sering berbincang dengan Ibu Laith ketimbang mommy-ku sendiri. Aku serasa mendapat ibu kedua dan aku merasa senang. "Tantee ... hiks ...." Aku pura-pura menangis. Beliau terdengar sangat kaget, "Kenapa?" "Laith marah padaku, dia mau pulang." Semoga Ibu Laith nggak menyadari kalau aku berakting. "Apa yang terjadi sayang?" Beliau bertanya dengan tertahan. "I-itu huhuu ... maaf tante aku memang manja, aku menyuruhnya bermain denganku terus. Laith tidak suka, dia kesal karena tidak bisa membantu tante mengantar kue lagi sekarang. Katanya hari ini dia mau pulang." "Astaga, kamu jangan sedih ya sayang. Nanti tante akan bilang sama Laith. Oh iya, kemarin kamu memberikan barang-barang untuk adik-adik Laith, tante nggak tau harus berterimakasih bagaimana." Beliau berkata tulus, itu semakin membuat hatiku senang. Tandanya aku harus lebih memperhatikan keluarga Laith. "Oh ... itu barang-barang yang tidak pernah aku pakai tante, dan yang untuk Lian dan Lou juga dari beberapa sepupuku." Aku merasa bahagia. "Iya, tapi masih sangat bagus, seperti baru. Terima kasih. Biani jangan nangis lagi, pokoknya tante akan paksa Laith tetap tinggal di sana." "Iya tante, makasih." Aku menutup sambungan telepon, berbicara dengan ibu Laith membuat hatiku hangat, aku sedikit bersalah karena membohongi beliau. Aku melewati kelas Laith dan melihatnya sedang duduk diam. Ih, nggak asyik kalau Laith diam, aku pengen Laith jadi nakal dan menggangguku. Dia terlalu menahan diri. Aku mulai memikirkan sesuatu yang menarik. Saat jam pelajaran kedua, aku mengangkat tangan. Permisi ke UKS karena tidak enak badan. Ruang UKS sepi, aku segera mengirim pesan pada Laith. Semoga dia segera melihat. Aku bergerak-gerak gelisah, lama sekali sih dia datang. Tadi pagi kami tidak sempat mandi bareng, jadi aku pengen dibelai-belai olehnya. Aku mendengar handle pintu UKS si buka, kemudian aku menutup tirai jendela. Sekolah kami adalah sekolah elit, ruangnya nyaman dan sejuk. Aku melihat Laith datang, wajahnya sudah sedikit ceria. Pasti tante tadi telah menelpon dia. "Kamu sakit?" Dia bertanya, kemudian dia duduk di sampingku. Suaranya lembut menggelitik telingaku. "Iya." Dia memegang keningku, "Mau aku panggilkan petugas kesehatan?" "Aku sakit karena pengen disentuh sama kamu." Wajah Laith berubah merah, dia bengong sebentar, anehnya dia kemudian malah tertawa. "Jadi kamu mau melakukan tindakan amoral di sekolah?" Dia bertanya. Aku mengangguk. "Terus apa yang harus aku lakukan?" "Pintunya di kunci dulu, nanti ada yang masuk." "Terus kalau ada yang tanya kenapa kita berduaan di dalam, bilang apa?" "Bilang saja terkunci. Cepatttt ...." "Nakal sekali sih." Laith menggelengkan kepala dan berjalan untuk mengunci pintu, huuu enak saja ngatain aku nakal. Diam-diam dia pasti kepengen juga tuh. Laith kembali lagi, "Terus apa yang harus aku lakukan?" ??? Laith, "Ini di bawah." Kaki Biani yang mulus menggantung, dia duduk di tempat tidur. Aku melepaskan celana dalamnya. Tidak usah disensorlah ya, timbang celana dalam doang. Aku memasukkan ke saku celanaku. Biani pun membaringkan tubuhnya. Keringat terasa mengalir di punggungku, padahal UKS ini dingin. Adrenalinku berpacu, antara nafsu yang mulai menguasai kepalaku dan kondisi kami yang melakukan ini di sekolah. Membuat sangat tegang melebihi film thriller. Aku mencium bibirnya, dengan penuh kelembutan. Ouch! Biani membalasnya, ini pertama kali dia membalas ciumanku. "Laith." "Suara kamu sexy." Aku berbisik. "Ahhhhh ...." Biani mencengkram bahuku, kakinya juga di lingkarkan ke pinggangku. Biani menyeracau tak karuan. "Halooooo ... siapa di dalam?" Terdengar ketukan di pintu, aku segera meloncat. Biani mengancingkan bajunya dan merapikan rambutnya. Aku segera menutupi tubuh Biani dengan selimut dan mengacak tempat tidur di sebelahnya, agar seperti aku habis berbaring di sana. Ketukan semakin kencang. Aku berjalan dan membuka pintu. "B-Bu Zahra," kataku, Bu Zahra adalah guru bahasa inggris yang baru, beliau masih muda dan juga cantik, beberapa siswa lelaki mengidolakannya. "Sedang apa kamu, Laith?" "Aku kurang enak badan." "Tumben." Bu Zahra masuk dan melihat Biani terbaring, dia pura-pura tidur, aku mencermati setiap jengkal kasur, semuanya terlihat aman. Aku menahan nafas, tegang banget. "Oh ada Biani?" Bu Zahra melirikku kemudian melirik ke arah tempat tidur Biani. Dia memicingkan mata. Tampaknya sedikit curiga. "Kalian berdua saja dan pintu terkunci?" "Itu-itu nggak sengaja, bu," sahutku cepat. Biani pura-pura mengucek matanya, seolah baru terbangun. Kemudian melihatku dan Bu Zahra. "Oh aku ketiduran," kata Biani. Dia terlihat tenang dan biasa. Aku heran kenapa dia bisa segera menguasai keadaan begitu. Aku menelan ludah lagi, Biani sangat santai berbicara. Aku segera duduk di kasur sebelah Biani. Bu Zahra tampak curiga. Dia masih menatap kami lekat-lekat. "Saya kembali ke kelas dulu bu, sudah sehat," ujarku. Bu Zahra mengangguk. Aku berjalan melewatinya. Namun, dia memanggil lagi. "Laith." "Iya, bu?" Aku menoleh. "Apa itu di saku celanamu?" Aku merinding, lupa. Itu celana dalam Biani, bewarna peach, berpita dan berenda. Masa aku bilang kalau aku memiliki kelainan suka menyimpan celana dalam anak perempuan, bagaimana seandainya Bu Zahra memeriksa Biani? Aku mau pingsan saja. Aku harus memikirkan sesuatu, tapi, aku belum pernah berada dalam kondisi memalukan begini sebelumnya. "K-kertas," sahutku, oh Tuhan suaraku terdengar gugup. Apakah Bu Zahra menyadarinya? "Hemm ... kemari kamu." Bu Zahra memberi perintah. Jangan sampai beliau tau, aku tercekat. Aku mendekat perlahan. Sangat perlahan, bahkan suara nafasku nyaris tertahan. "Keluarkan." Selidik Bu Zahra, aku diam mematung dan menunduk. Habis sudah, aku sudah tidak memiliki alibi lagi. Setelah menarik nafas, aku berniat bicara. "Itu celana dalamku, bu, kami habis bemesraan tadi." Biani menjawab. Cetarrrrr! Aku sepertinya gosong tersambar petir. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN