Diam-diam Penasaran

1005 Kata
Biani, Baru kali ini aku sedikit mengeluhkan kedatangan Steffi, sahabatku. Kalau biasanya sih aku akan senang karena dia datang. Apalagi Steffi mengajak pacarnya Josh. Aku terpaksa menyembunyikan Laith. Dengan wajah kesal Laith masuk ke kamar tamu, nggak terlalu paham kenapa wajahnya kesal. Sekarang dia memang jadi aneh. "Halo bebz." Aku menemui Steffi di bawah, dan bersalaman dengan Josh. Steffi melihatku dengan pandangan menyelidik. Dia tau kalau Laith sekarang tinggal denganku, tampaknya dia tidak memberitahukan pada Josh. Josh pacar Steffi adalah anak kuliahan, dulu mereka sekolah di sekolah yang sama. "Malam sekali datangnya." Aku bilang begitu pada Steffi. "Aku mau mengecekmu." Sahut Steffi. "Untuk apa?" Aku bertanya dengan heran, dan Josh hanya diam saja. Aku melanjutkan, "Aku nggak mau mengacaukan malam minggu kalian." "Ayo kita pulang, Steffi." Josh berkata pada Steffi. "Betul-betul. Pulang saja." Aku mendorong tubuh Steffi. "Tumben sekali mengusirku? Apa sebaiknya aku menginap saja ya?" Steffi mengedipkan mata. "Kamu mau menginap?" Josh bertanya pada Steffi, mereka pacaran sudah 2 tahun dan Josh mengetahui kalau Steffi sering menginap di rumahku. Mereka itu mesra sekali, tidak seperti pacaran anak remaja. Serius. Mereka bahkan telah bertukar cincin. Josh sangat bucin pada Steffi, sedang Steffi biasa saja, tidak terlalu seperti Josh. Kadang Steffi masih jelalatan kalau melihat cowok cakep. Kata Steffi, lelaki tidak perlu tau kalau kita sangat mencintai mereka, nanti mereka akan besar kepala dan semena-mena. Akhinya Steffi dan Josh pulang, dengan tergesa-gesa aku kembali ke kamarku. Eh kenapa kasurku kosong? Aku mengecek ke kamar tamu tempat barang-barang Laith dan melihat Laith tertidur di sana. Yah sudah tidur, aku menimbang-nimbang. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut tidur di samping Laith. ??? Laith, Aku mencium aroma yang sangat enak, aku membuka mata. Oh aku kesiangan? Aku tidak pernah bangun pukul 7 sebelumnya sekalipun hari minggu, aku selalu bangun pukul 5 atau minimal pukul 6 pagi. Mataku beradu dengan wajah Biani yang polos, juga masih terlelap. Dekat sekali wajah kami. Wangi ini berasal dari tubuhnya. "Memang kalau lagi normal, imut dan manis sekali." Aku mencubit hidungnya keras. "Uaaa!!! "Kenapa tidur di sini?" "Harusnya aku yang nanya, kamu kenapa tidur di sini?" Biani memajukan bibirnya. "Memang kenapa?" "Kita harus tidur bareng, udah perjanjiannya begitu." Aku mengacak rambut, lucu juga sih. Aku melirik ke arah Biani, rambutnya tidak tampak berantakan sekalipun dia baru bangun. Dia juga wangi, seluruh tubuhnya wangi bahkan sampai ke bagian... Mukaku memanas lagi. "Jadi hari ini mau apa?" Aku membaringkan lagi tubuhku, memikirkan Lian yang harus mengantar kue-kue setiap pagi. Kasihan juga, aku memikirkan mama, Leona juga Lou. "Mikirin apa sih?" "Keluargaku." "Ada apa?" "Harusnya aku melakukan tanggung jawabku sebagai anak laki-laki pertama saat ini, sekarang aku malah tidur bermalasan juga bangun kesiangan." Biani tampak diam, semoga dia berpikir dan menyuruhku segera kembali ke rumah. "Nanti kita shopping ya. " dia malah bilang begitu. Percuma saja aku mengatakan hal ini, lebih baik aku diam sambil memikirkan suatu cara. Sepanjang pagi aku diam saja dan Biani tidak terlalu kumat, dia menyuruhku bersiap-siap setelah aksi mandi kami seperti biasa. Aku memakai baju lamaku dan dia segera ngomel. Dia memilihkan pakaian yang dibelinya kemarin, kuyakin harganya tak bisa aku jangkau sekalipun aku kumpulkan uang jajanku. Kaos lengan panjang bewarna biru dongker dengan celana kekinian, sneaker-nya juga keren, merk yang hanya aku bisa lihat berseliweran di internet. "Wow! Kalau seperti ini jadi keren sekali." Biani tampak puas melihatku yang sudah dia dandani sejak dua jam yang lalu. Aku mencelos. Tentu saja pakaian bisa merubah seseorang, bukannya ada pepatah yang mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya. Biani memakai dress bewarna hitam yang banyak gembung-gembungnya, membuat dia tampak semakin manis. ngomong-ngomong kami seperti pasangan yang mau kencan. Aku dan Biani diantar supir ke mall, lagi-lagi aku menghela nafas. Bahkan saat drop off di depan pintu mall semua mata melihat ke arah kami. Biani memerintahku untuk menggandeng tangannya selama berjalan. Apa Biani tidak khawatir kalau kami bertemu teman sekolah di sini? Aku melihatnya tersenyum-senyum kesenangan, ternyata efek kesepian jangka panjang berpengaruh terhadap kesehatan mental. "Ayo kita makan sushi." dia menunjuk. Kami masuk ke dalam dan disambut dengan ucapan salam bahasa jepang. Dia duduk dengan anggun bersebelahan denganku, dia mengelendot terus ke lenganku, tahu artinya menggelendot? ya dia nempel terus. "Kamu mau apa?" Aku melihat-lihat buku menu dan memilih gambar yang aku rasa menarik. Dia memperhatikan. "Itu saja, yang lain terserah." Biani tampak mengangguk-angguk, hei aku memang belum pernah makan di restoran Sushi, tapi otakku cerdas, lagian aku juga nggak norak-norak banget tuh. Dia menyuruhku menyuapi dengan sumpit setelah hidangan yang kami pesan sampai datang. Aku mendengar konsumen sebelah kami berbisik-bisik. Pastilah mereka mengira aku seorang b***k cinta. Setelah makan, Biani mengajakku keluar masuk toko-toko brand ternama, aku berusaha bersikap biasa sekalipun aku tercengang melihat harga-harganya yang mahal. Aku sudah tahu sih, ini era globalisasi man! Seluruh dunia ada di genggamanmu, sekalipun dulu aku tidak punya smartphone aku sering meminjam ponsel ibuku, ibu membutuhkannya untuk menerima pesanan kue-kue. "Ini cantik ya?" dia menunjukkan sebuah dress lucu, aku jadi teringat pada Leona, dia tidak pernah mengenakan baju seindah dan semahal itu. "Menurutmu Leona suka nggak?" Eh? "Hmm...ini buat Leona, ini buat Lou terus buat Lian dan tante apa ya?" "Kamu mau membelikan keluargaku?" "Jangan melarangku, aku menyukainya tau. Aku enggak pernah membelikan adik-adikku sesuatu." "Tapi itu...itu terlalu mahal." "Cerewet sekali sih, siapa yang minta pendapat soal harga?" "Biani, kenapa kamu tau ukuran Leona, kamu kan tidak pernah bertemu dengannya?" "Aku menelpon tante." "Terus ibuku tidak curiga apa?" "Aku bilang baju dan barang-barangku banyak, jadi aku mau memberikan pada Leona. Kamu cerewet banget sih!" Biani masih mengomeliku. Aku diam termangu, antara menolak atau menerima. Akhir-akhir ini aku malah tidak bersemangat, aku dan keluargaku memang sering kekurangan, tapi aku selalu gembira karena sebagai anak lelaki tertua aku ikut membantu ibuku mendapatkan penghasilan keluarga. Dan selama seminggu ini aku tidak membantu apa-apa. Aku berdiam diri saja terus, setiap Biani menanyakan barang-barang bagus, aku akan mengangguk. Sekarang kedua tanganku penuh dengan kantung-kantung belanjaan. Tampaknya Biani masih belum selesai. Di rumah aku semakin lesu dan tidak bersemangat, padahal sore ini aku berencana untuk berenang. Aku terlalu memikirkan banyak hal saat ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN