Biani, Ya Tuhan, dadaku terlalu sesak. Melihat wajah Laith seperti itu, aku ingin segera menghambur ke pelukannya. Inikan seperti yang aku impi-impikan? Tapi Laith, aku takut Laith akan bersikap begitu lagi di masa depan. Tidak boleh terlalu cepat luluh oleh pesonanya. Menjelang tengah malam dan tidak ada tanda-tanda kalau aku akan membuka pintu, Laith akhirnya pulang. Aku sedih sekali, aku sangat ingin bicara dengannya. Tetapi mengingat apa yang daddy-ku katakan, kalau Laith tidak yakin tentang masa depan bersamaku, itu membuatku terpuruk. Julius mengirimi aku pesan, terima kasih untuk malam yang menyenangkan. Aku menghela nafasku, sama sekali tidak terasa menyenangkan. Aku pergi mengganti pakaian dan menyemprot boneka singa dengan parfum Laith. Aku memeluknya sambil membayangkan s

