Biani, Aku tersenyum terus sampai pipiku pegal, Laith sudah mengatakannya bahkan di depan orang-orang. Aku memeluknya dengam begitu erat, setelah acara inti pertunangan Steffi dan Josh. Kami berpamitan pulang, Steffi tentu saja mengizinkan dia bahkan menggodaku. Menyuruhku menjerat Laith malam ini. Hihi... Aku merasa Laith menghela nafas, "Bia, kamu pulang duluan naik taxi. Nanti aku menyusul." "Nggak mau, aku mau ikut naik motor." Laith melepaskan pelukanku, mengambil helm di bagasi motornya. "Ya sudah, pegang yang kencang biar nggak jatuh." Laith juga mengambil jaket dan membungkus tubuhku. Aku mengangguk-angguk. Tanpa Laith suruh juga, aku pasti akan menempel kuat padanya. Aku naik keboncengannya, susah juga menempelkan kepala di punggung Laith, karena terhalang oleh helm. Laith
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


