"Jadi kapan kita malam pertama?"
"Maaf mas.", Sofia tertunduk saat pertanyaan ini terlontar.
"Kamu ga siap? Saya ga paksa kamu untuk melakukannya sekarang kok."
"Bukan gitu mas.", Sofia bingung menjelaskan kalau dia sedang datang bulan.
"Sudah. Kamu mandi, ini sudah sore. Nanti bentar lagi makan malam diantar. Saya juga sudah lapar."
"Mas mau kemana?"
"Ke depan sebentar, kamu cepet mandi sana. Kalau ga, saya yang akan mandiin kamu.", seburat rona merah di pipi Sofia membuat Sofia terlihat menggemaskan di mata Samudera.
Apa saya telah jatuh cinta kepada kamu Sofia? Atau saya hanya merasa kasihan kepada kamu?
***
"Mas, mandi.", tapi yang Sofia temukan Samudera tertidur di teras hotel. Hotel yang dipesan Samudera adalah hotel yang terbaik. Pemandangan dan fasilitas pun yang terbaik.
Mas, aku harus bagaimana. Aku takut jatuh cinta sama kamu. Aku takut kecewa pada akhirnya. Kalau kamu mencintai aku, akan beda soal. Tapi kalau kamu hanya mempermainkan hati aku, bagaimana nanti aku? Meski kita sudah menikah. Tapi kalau hati kamu bukan milik aku, apa yang bisa aku lakukan mas.
"Awas nanti jatuh cinta.", Samudera membuka matanya.
"Mas ga tidur?"
"Tadinya tidur, tapi suara dan wangi kamu membangunkan saya."
"Yaudah, mas mandi sana. Katanya nanti mau makan. Aku sudah siapkan air hangatnya. Mas tinggal mandi."
"Terima kasih.", Samudera mengacak rambut Sofia.
Setelah mandi, mereka makan malam bersama. Samudera menatap istrinya sekali- sekali.
"Sofia, Saya beri tahu, saya ingin kamu fokus kuliah supaya cepat lulus."
"Iya mas. Aku kan juga mesti kerja untuk bisa bayar kuliah."
"Saya sudah bayar kuliah kamu untuk semester depan."
"Mas, kan kita sudah bahas ini. Aku mau bayar kuliah aku dengan uang kerja aku.", Sofia sudah selesai makan, langsung bangun dari tempatnya dan mencuci tangan. "Aku ke kamar dulu ya mas "
Apa salah saya? Dia kan istri saya, saya biayai malah ngambek.
***
Saat Samudera masuk kamar, Sofia sudah tidur membelakangi pintu. Samudera kembali keluar kamar, dan menelepon seseorang.
"Hallo Hen,"
"Hallo bos. Kenapa bos?"
"Istri gue ngambek nih "
"Trus kenapa ngomong ke gue? Lu mau gue yang baikin?"
"Mau gue pecat lu?"
"Trus mau ngapain telepon gue?"
"Kasih solusi lah."
"Kenapa istri lu ngambek?"
"Gara- gara tahu gue bayarin kuliah dia.", Samudera sengaja duduk di balkon sambil menikmati indahnya malam.
"Kan udah gue bilang, lu ga percaya. Dia kan bilang ga mau dibayarin. Lu ngotot. Yah rayulah istri lu."
"Gimana caranya woi?"
"Itu istri lu keles. Cari tahu apa yang buat dia bahagia. Bikin perusahaan sukses, cuma bikin hati istrinya bahagia ga bisa.", terdengar tawa dari Hendy.
"Kurang asem lu. Gini- gini gue bos lu."
"Kan gue lagi bebas tugas sampe lu pulang bos."
"Ah tahu bingung gue. Dulu kalau Cintia, gue tinggal ajak dia shopping beres, lah ini bukan tipe kayak gitu."
"Coba luluhkan hati dia, bos. Lu cari tahu apa yang buat dia bahagia. Sometimes, bukan dalam bentuk barang loh. Lu perhatian atau lu berbuat sesuatu yang dia suka aja bisa buat dia senang bos."
"Gatau gue pikirin dulu coba. Dia udah langsung tidur, gara- gara gue keceplosan ngomong tadi "
"Yaudahlah bos, lu itu di tempat yang romantis, pikirin gimana caranya. Gue sih berdoa, lu pulang udah bawa berita kalau ponakan gue udah jadi."
"Gila lu! nyentuh aja belum."
"Kan tinggal dirayu, dikurung kamar, masa ga bisa jadi?"
"Gue ga mau maksa dia. Kan emang awalnya gue belum mau ke arah sana."
"Tapi sekarang mau kan? Udah cium- cium terus kayaknya.", Hendy tertawa keras.
" Sial lu! Lihat aja pas gue pulang nanti. Udahlah, gue mau coba rayu dulu istri gue. Siapa tahu, jadi bikin ponakan lu."
Akhirnya Samudera mematikan ponselnya dan melangkah masuk. Dia masuk ke dalam kamar, dan Sofia masih dalam posisi sama.
Samudera naik ke kasur, dia memeluk Sofia dari belakang.
"Sofia, kamu sudah tidur?"
"Sudah Mas."
"Kalau sudah, kamu ga mungkin bisa jawab saya, Sofia."
Sofia diam saja, tidak menjawab suaminya lagi. Samudera sengaja mengeratkan pelukannya.
"Mas, jangan dekat- dekat."
"Kenapa, Sof? Kamu istri saya loh, kalau kamu lupa."
"Mas, aku lagi ngambek "
"Trus? Kan yang ngambek kamu, bukan saya. Kalau saya maunya dekat- dekat sama kamu."
"Ga tahu ah. Aku mau tidur mas."
"Saya ga larang kamu tidur, kamu mau yidur ya ga apa- apa. Tapi saya mau meluk kamu. Biar besok pagi kamu ga ngambek lagi.", senyum Samudera membuat Sofia makin kesal. Sofia berbalik kembali dan mencoba untuk tidur.
"Maaf kalau saya membayar kuliah kamu. Karena saya merasa itu tanggung jawab saya. Kalau kamu marah, saya minta maaf. Selanjutnya saya akan bertanya dulu sama kamu."
"Janji ya mas."
"Iyah sayang."
"Awas kalau mas ingkar janji.", Sofia sudah berbalik menghadap Samudera.
Entah mengapa, Sofia dan Samudera sudah tidak malu- malu lagi.
"Iyah. Asal kamu juga ga nakal ya."
"Yang nakal kan itu mas. Bukan aku. Yang m***m juga mas, bukan aku. Yang sok tahu juga mas, bukan aku. Sama yang kepo kan mas, bukan aku ", Sofia duduk bersila di hadapan Samudera. Sofia terdiam saat Samudera menatapnya.
"Saya ingin kamu tahu ini, jujur saat kamu menyetujui untuk menikah dengan saya, saya mencari tahu tentang kamu. Saya tahu bagaimana keluarga kamu memperlakukan kamu. Saya ga suka dengan itu, dan entah mengapa, saya jadi ingin melindungi kamu. Saya ingin membuat kamu bahagia."
"Jadi mas hanya kasihan sama aku?"
"Bukan Sofia, saya kalau merasa kasihan, saya tidak akan memperdulikan hidup kamu. Tapi saat saya peduli, berarti saya ingin kamu ada dalam hidup saya. Jadi saya minta kamu, jangan pergi. Apapun yang terjadi tetap bertahan. Kalau saya melakukan hal yang membuat kamu marah, katakan kepada saya. Kalau saya berpaling, buat saya untuk menatap kamu kembali. Karena dalam keluarga saya, tidak ada yang namanya perpisahan. Jadi saya mohon, kamu harus bisa bertahan di samping saya selamanya. Kamu mau kan?"
"Iyah mas. Aku hanya bisa tetap bertahan, tapi kalau saat mas yang meminta aku pergi, maka aku akan pergi dan menghilang dari hidup kamu mas."
"Karena itu, saya pinta kamu untuk tetap bertahan apapun yang terjadi."
"Kamu janji?"
"Iyah mas. Aku janji akan bertahan hingga batas kesabaranku ya mas. Ya sudah, sekarang aku boleh tidur mas. Aku ngantuk, aku lelah."
"Ayuk kita tidur. Besok kita bisa jalan- jalan selama disini, kamu tinggal pilih kamu mau melakukan apa."
Sofia tidak lagi menjawab Samudera. Karena dia sudah terlelap. Samudera tersenyum menatap istrinya.
***