Dalam mobil, Sofia sengaja duduk agak berjauhan dengan Samudera. Namun Samudera tahu apa yang sedang dilakukan istrinya itu. Samudera sengaja menggeser duduknya dan membuat Sofia terpojok.
"Kenapa duduk harus menjauh dari saya?"
"Lah emang harus deket- deketan?"
"Kamu istri saya, yah sudah seharusnya kamu duduk di sebelah saya."
Sofia merasa kalau dia menjawab lagi, pasti ga akan selesai. Makanya dia terdiam dan memandang jalanan yang mereka lalui.
"Trus kenapa sekarang diam?", Samudera malah memancing Sofia kembali. Jujur Samudera mulai menyukai perdebatan antara mereka.
"Mas, aku bingung.", Sofia duduk berbalik menghadap Samudera. Dan itu menjadi kesempatan untuk Samudera mengecup bibir Sofia lagi. "Masss!!!"
"Pegangan sama saya kalau kamu bingung."
"Mas bisa ga kalau ga m***m di tempat umum?"
"Berarti kalau dikamar saya harus mesumim kamu?"
Terdengar tawa ditahan yang keluar dari bibir asisten Samudera.
"Hendy, Maya, kalian tutup telinga dan mata kalian."
"Eh, nanti kita kecelakaan mas. Masa Mas Hendy juga disuruh tutup mata "
"Siapa yang suruh kamu panggil dia mas. Panggilan mas kamu hanya untuk saya.", sewot Samudera.
Dasar cowo m***m aneh!! Es batu gila!!
"Yah aku kan menghormati yang lebih tua."
"Panggil saya Hendy aja non."
"Siapa yang suruh kamu ngomong sama istri saya?", Samudera sudah mulai kesel dengan perbincangan ini.
"Sorry bos. Cuma menjawab pertanyaan istri bos."
"Lu kalau punya hati dan maksud terselubung, gua ceburin ke kali yang ada buaya.", ucap Samudera nonformal ke Hendy. Memang Samudera dan Hendy sudah seperti saudara. Mereka dekat dan sering bertukar pikiran.
"Santai bos. Gua ga mungkin pagar makan tanaman.", Hendy menjawab tanpa menoleh ke bosnya.
"Maya, kamu jagain ini si Hendy biar ga salah jalan selama saya pergi."
"Baik den."
Saat mobil mereka berhenti, Samudera turun dan satu tangannya langsung menggandeng tangan Sofia tanpa menoleh lagi ke belakang. Dan satu lagi menarik koper mereka masuk kedalam bandara.
"Kita mau kemana sih mas?"
"Honeymoon."
"Kemana?"
"Ke tempat yang cuma ada kita berdua."
"Lah gimana kita bisa makan kalau cuma berdua. Aku ga bisa masak loh mas. Mas bisa?"
"Bisa."
"Kenapa jadi es batu lagi sih?"
"Karena kita ada di depan umum. Kamu lupa, suami kamu ini pengusaha sukses yang banyak dicari beritanya dimana- mana."
"Dulu sama Cintia, tebar senyum mulu deh. Tiap foto sama Cintia itu senyum sumringah banget."
"Jadi kamu mau difoto dengan saya, lalu saya senyum odol?", Samudera berhenti sebentar menatap istrinya itu.
"Ga tahu ah. Mas bikin orang stres mulu!", Sofia langsung berjalan lagi dan dia ditarik Samudera masuk ke pelukannya.
"Saya ga suka ditinggal. Ingat itu.", desis Samudera. "Saya ingin menjaga kamu dari musuh- musuh saya. Saya tidak suka kalau kamu menjadi target mereka. Ngerti?"
"Lah sekarang, Mas meluk aku udah jadi target mereka donk?", Samudera menarik nafas panjang.
"Bicara sama kamu, emang butuh extra tenaga ya? Saya ga suka kamu jalan pergi tinggalin saya, saya juga ga suka kamu balas pertanyaan saya dengan pertanyaan. Kamu harus ingat itu."
"Iyah mas, iyah. Sofia bakal jadi boneka yang diem dan nurut aja "
"Kita bahas nanti saja. Kamu bisa buat saya menerkam kamu disini.", Samudera menggandeng tangan Sofia masuk ke dalam pesawat. Sebenarnya Samudera ingin naik pesawat jet pribadinya, namun entah mengapa terbesit untuk bisa liburan santai bersama istrinya itu. Menikmati perjalanan panjang di pesawat bersama istrinya itu.
***
"Jadi kita ke Maldives mas?", terlihat senyum di bibir Sofia. Entah sejak kapan, senyum itu sangat Samudera sukai.
"Hmmm."
"Mas yang pilih tempat ini?"
"Hmmm..", Samudera sudah mengambil posisi untuk tidur.
"Mas juga yang beli tiketnya?"
"Hmmm."
"Mas itu robot ya?"
"Hmmm.. Eh apa kamu bilang?", Samudera langsung membuka matanya saat sadar akan pertanyaan istrinya itu.
"Kan mas hem ham hem aja. Udah kaya robot, cuma jawab hmm. hmm. hmm ", Jawab Sofia sambil mencontoh gaya Samudera menjawab tadi.
"Kamu tahu, daritadi saya menahan diri saya untuk tidak mencium kamu. Rasanya saya menyesal, kenapa kita tidak naik pesawat pribadi saya untuk bisa menerkam kamu dalam pesawat ", bisik Samudera.
"Mas jangan m***m tempat umum.", Sofia mulai risih dengan kemesuman suaminya itu.
"Suami kamu normal, sayang. Kalau saya ga m***m sama kamu, lalu saya m***m sama siapa?"
"Mas Hendy."
"Saya sudah bilang panggilan mas hanya untuk saya."
"Maaf."
Setelah itu, Samudera hanya diam. Bahkan saat Sofia berceloteh, dia tetap diam dan pura- pura tidur.
Ini kenapa tiba- tiba diem seribu bahasa? Apa dia ngambek? Bodo ah. Mending aku tidur aja. Biar bangun- bangun sudah sampai disana.
***
"Aaaah, indahnya." , Sofia menatap hamparan air dihadapannya.
"Makasih ya mas "
"Hmmm."
"Jadi robot lagi?"
Samudera masuk ke hotel mewah yang dia pesan tanpa memperdulikan Sofia yang berceloteh memandang hamparan air dihadapannya.
"Dia ngambek beneran?", Akhirnya Sofia masuk dan mencari Samudera. Sofia menemukan Samudera di atas ranjang sedang tidur.
"Mas, kamu tidur?"
"Hmm."
"Kalau tidur itu ga bisa jawab orang mas."
"Hmm.."
"Mas, kenapa sih hem ham hem lagi?", tidak ada jawaban. Akhirnya Sofia ingin meninggalkan Samudera.
Mending ke depan menikmati indahnya dunia. Siapa tahu nanti ngambeknya hilang sendiri
Tapi baru berbalik tangan Samudera sudah menahan tangan Sofia.
"Mau kemana?"
"Mau ke depan aja. Daripada ngomong sama robot."
"Kalau orang ngambek itu dirayu Sofia. Bukan ditinggal."
"Oh jadi mas mau dirayu? Tapi aku bukan wanita perayu mas."
Samudera kayaknya kamu mesti siapin segudang sabar buat hadapi istri kamu ini.
"Merayu untuk saya tidak marah lagi."
"Aku tanya, mas marah kenapa?"
"Saya tidak mau, kamu membuat laki- laki lain menjadi spesial. Saya hanya ingin saya yang spesial."
"Mas, bukannya dari awal kita akan menjadi dua orang yang asing? Bukannya dari awal kita komitmen untuk saling tahu bahwa cinta itu tidak ada. Lalu kenapa sekarang seolah- olah mas menyukai aku. Kalau mas bersikap begini, aku bisa saja jatuh hati sama mas."
"Sofia, saat ini saya sedang mencoba membuka hati saya untuk kamu. Jadi buka hati kamu juga buat saya. Kamu mengerti?"
"Aku ..", Sofia menggigit bibir bawahnya dan Samudera tidak bisa melihat itu. Samudera menarik Sofia jatuh ke pelukannya. Samudera langsung mecium Sofia.
"Mas, sudah. Aku malu ah."
"Tidak ada siapa- siapa. Kamu malu sama siapa? Satu lagi kamu tidak boleh menggigit bibir kamu didepan laki- laki lain. Kamu mengerti?"
"Iyah mas. Jadi mas udah ga marah lagi?"
"Hmm."
"Tuh hem ham hem lagi "
"Iyah Sof, saya tidak marah lagi sama kamu."
"Makasih ya mas. Mas sudah ajak aku kesini."
"Cuma makasih aja?"
"Aku bukan orang kaya mas, aku ga bisa kasih apa- apa ke mas."
"Saya bukan minta kamu memberi saya benda atau uang Sofia. Saya hanya meminta kamu ini ", Samudera kembali mencium Sofia. Samudera meraih pinggang Sofia, menipiskan jarak mereka. Tangan Sofia yang awalnya di d**a Samudera, sekarang Sofia mengalungkan tangannya di leher Samudera. Setelah mereka kehabisan nafas, mereka melepas cumbuan mereka sambil terenggah- enggah.
"Kamu cepat belajar sayang."
"Mas, emang sayang sama aku? Toh kemarin aja...", ucapan Sofia terputus dengan ciuman Samudera kembali.
"Saya tadi susah bilang, saya sedang membuka hati saya buat kamu. Saya hanya ingin kamu bahagia, Saya ingin kamu menjadi istri saya yang bahagia. Tidak perlu pedulikan orang lain. Cukup kamu bahagia disamping saya. Itu sudah cukup buat saya."
"Cuma bisa kan mas ga pake m***m. Coba mas pikir ya, sudah berapa kali mas cium aku hari ini?"
"Bibir kamu manis, dia yang manggil- manggil saya untuk mencium kamu."
"Gimana ceritanya bibir aku manggil mas buat nyium?"
"Saya pria normal, Sofia. Saya akan tergoda kalau kamu goda."
"Aku ga pernah goda mas. Mas lupa, mas yang bilang, sayang dan cinta saya hanya buat....", Samudera kembali mencium Sofia.
"Iya saya salah. Saya mulai membuka hati saya buat kamu. Puas?", senyum malu Sofia mengembang.
"Jadi kapan kita malam pertama?"