Eps. 7 Perjalanan Pendekar

1074 Kata
Dalam tubuh seorang pendekar terdapat unsur yang berbeda. ‘ Unsur Yin dan unsur Yang’ . unsur Yin berarti dingin dan unsur Yang berarti panas. Kedua unsur dalam tubuh pendekar tersebut dinamakan ‘akar roh’. Akar roh bagi pendekar berguna untuk menapaki perjalanannya sebagai seorang pendekar. Keberadaan akar roh dalam tubuh pendekar berperan untuk penyerapan Chi dari alam yang kemudian diolah dalam tubuh menjadi tenaga dalam. Keberadaan akar roh ini pula yang membedakan seorang pendekar dengan manusia biasa. Manusia biasa terutama kaum wanita biasanya memiliki unsur Yin dalam tubuhnya dan kaum lelaki akan memiliki unsur Yang dalam tubuhnya. Namun pada kenyataannya setiap orang di dunia entah itu lelaki atau pun perempuan cuma memilki unsur ‘ Yang’, sedikit sekali wanita yang memiliki unsur ‘Yin’. Kualitas dari akar roh setiap pendekar berbeda-beda, setiap pendekar yang memilki akar roh yang berkualitas baik akan memiliki perkembangan yang mengerikan dalam menapaki perjalanannya sebagai seorang pendekar. Mereka yang memiliki kualitas akar roh yang buruk akan menghambat perkembangan tingkat dan tidak bisa menapaki jalan kultivasi ke tahap yang lebih tinggi. Karena kualitas akar roh setiap pendekar mempengaruhi jalan terbukanya meridian dalam tubuh, yang menyebakan sulitnya penyerapaan Chi dari alam. Hal tersebut berimbas pada sukarnya mengolah Chi menjadi tenaga dalam. Dengan kesulitan tersebut membuat setiap pendekar tidak akan mampu mengeluarkan potensi terbaiknya dalam pertarungan maupun kenaikan tingkat. Tingkatan pendekar: Pendekar tingkat rendah : Pendekar tingakat 3 Pendekar tingkat 2 Pendekar tingkat 1 Pendekar tingkat menengah: Pendekar ahli Pendekar bergelar Pendekar Raja Pendekar tingkat tinggi : Pendekar Suci gerbang 1-7 Pendekar legenda : Pendekar Suci tahap Bumi Pendekar Suci tahap langit Pendekar Suci tahap surga Puncak tertinggi “ Jalan keabadian” : Pendekar Kaisar Suci. Jumlah lingkaran tenaga dalam setiap pendekar : Pendekar kelas rendah memiliki 100-500 lingkaran tenaga dalam. Pendekar kelas menengah memilki 1000-5000 lingkaran tenaga dalam. Pendekar kelas tinggi memilki 6000- tidak terhingga lingkaran tenaga dalam. Setelah memeriksa ranah jiwa Dou Jin, sang ibu merasakan di dalam tubuh anaknya tidak terdapat akar roh. Hal tersebut tentu membuatnya sangat terkejut dan heran. Batu mutiara penguji akar roh yang ia miliki adalah alat ukur dan pendeteksi terbaik dari kekaisaran Tang. Melihat alat tersebut tidak menunjukan apa pun, Permaisuri terlihat pucat wajahnya, bingung dan terkejut secara bersamaan. Bagaimana tidak bingung, selama lima belas tahun ini ia mengira anaknya memiliki akar roh yang berkualitas tinggi. Dengan bukti penyerapan setiap sumber daya kelas tinggi yang dengan mudah dan dapat dicerna secara sempurana, sampai membuat anaknya sendiri memiliki fisik dan kekuatan fisik yang melebihi manusia normal pada umumnya. Sejak dari dulu memang sang ibu tidak memperhatikan ranah jiwa putranya. Percobaan penyerapan sumber daya kelas tinggi yang ia lakukan semenjak masih balita memberikan gambaran akan kualitas ranah jiwa yang akan dimiliki Dou Jin. Sebenarnya ia merasa sejak dari dulu kondisi anaknya sudah tidak wajar. Penyerapan sumber daya tingkat tinggi pada masa bayi dengan mudahnya ia lakukan. Walaupun mendapatkan banyak petunjuk dan arahan dari Kitab silat tanpa tanding yang ia miliki. Namun tetap sahaja untuk ukuran seseorang bayi yang belum genap dua tahun dengan mudahnya melakukan penyerapan sumber daya, itu tentu akan menjadi pertanyaan yang besar. Apakah bayi itu memilki kualitas akar roh yang bagus ataukah ada kelainan tertentu dalam tubuhnya yang membuat fungsi organ tubuhnya menjadi abnormal? Pertanyaan seperti itu dulu pernah terbesit dalam benak Permaisuri, akan tetapi dengan salah satu ramalan yang mengatakan putranya akan menjadi sosok Kaisar yang besar dimasa depan memberikan setimulan pada pikiran sang ibu untuk selalu berpikir positif, dan mengabaikan semua keganjalan yang ia rasakan. Dan sekarang kenyataan sebenarnya nampak di depan mata. Putranya yang sejak dari dulu menjadi harapan sekarang memberikan kekecewaan yang teramat dalam. Kenyataan pahit yang memberikan pandangan akan masa depan putranya, terasa seperti meruntuhkan ambisi besar dalam masa depan yang ia nantikan. Selesai memeriksa ranah jiwa putrannya dengan batu mutiara, Permaisuri menghela nafas berat. Rasa kecewa, kehilangan harapan dan impian yang sirna entah mengapa membuat salah satu sudut hatinya ingin berteriak sekeras mungkin untuk melampiaskan kekesalannya. Namun semua itu ia tahan dan ia salurkan kepada kedua alat penglihatannya, matanya yang semula melebar karena terkejut sekarang menjadi berlinang penuh dengan air mata yang perlahan menetes. Isak tangis tedengar sayup-sayup saat sang ibu sudah tidak kuat lagi menahan emosi. Melihat hal tersebut sudah tentu membuat Dou Jin merasakan salah satu sudut hatinya terasa sakit. Melihat ibunya sendiri menangis begitu pilu tepat di hadapan Dou Jin, membuatnya bertanya-tanya, penasaran dan bingung dalam waktu yang bersamaan. “ Ibu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” tanya Dou Jin bingung dan ikut merasakan kesedihan yang sama saat melihat ibunya menangis. “ Jin’er. Kau itu tidak memiliki akar roh.” jawab sang ibu yang masih mempertahankan wajah sedihnya dengan genangan air yang telah ia seka beberapa kali. “ Apa! Bagaimana bisa ?” Dou Jin yang tahu apa itu arti akar roh. Merasa seperti tersambar petir, ia semula percaya diri akan mampu melebihi ekspektasi ibunya dan mempu mewujudkan setiap ambisi yang diembannya. Sekarang kenyataan berkata lain, ia yang tau bahwa manusia yang tidak memilki akar roh berujung menjadi manusia bisa dan tidak bisa menapaki jalan menjadi seorang pendekar. Perasaannya saat ini tidak ubahnya seperti sang ibu. Sedih, kecewa, kesal dan tidak terima. Dalam keputusasaanya, Dou Jin melamunkan masa lalu, sejak ia masih dibawah umur sepuluh tahunan dan belum memilki semangat berlatih ilmu beladiri seperti sekarang ini. Dou Jin teringat kata-kata motivasi dari sang ibu untuk memicu semangat yang tiba-tiba kendor. ‘ JIka kau punya waktu untuk menyerah, mengapa kau tidak punya waktu untuk berjuang?’ ‘ Bila kau miliki waktu untuk berpikir buruk, mengapa kau tidak memilki waktu untuk berpikir baik.’ ‘ Kehidupan berisikan dua pilihan. Iya atau tidak, dingin atau panas dan mau bertahan untuk berjuang atau berhenti untuk menyerah.’ Pesan yang dulu ibunya sampaikan sekarang terkenang kembali, kata-kata tersebut seperti memberikan dorongan bagi Dou Jin untuk idak terpuruk dan percaya diri. Dengan ingatan tersebut Dou Jin mengingatkan ibunya “ Ibu apa kau lupa……..” Mendapatkan kata-kata mutira yang dulu sering ia ajarkan kepada anaknya, membuat sang ibu berhenti dari menangisnya dan memilih ‘iya’ diantara opsi pilihan ‘ iya atau tidak ‘. “ Iya Jin’er, ibu memilih iya. Ibu akan percaya dan tidak menyerah untuk melatihmu, medukungmu dan membantumu untuk mewujudkan impian Ibu.” seru sang ibu dengan menyeka air matanya dan menatap Dou Jin dengan sorot mata penuh keteguhan. “ Aku berjanji akan mewujudkan impian Ibu.” ucap Dou Jin dengan air mata mengalir, terharu karena teringat akan kondisinya yang mengecewkan ibunya. Padahal ia sudah bertekad untuk tidak sedikitpun mengecewakan ibunya sediki pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN